LOGIN"Bagaimana?Kalian sudah melakukannya?" tanya Mas Azzam di telepon.
"Sudah," jawabku pendek. "Kalau begitu bagaimana hasilnya? Kamu beli tespek, kan?" tanya Mas Azzam lagi. "Belum," jawabku malas. "Tunggu apa lagi! Beli sekarang di apotek!" perintah suamiku di telepon. "Oke." Aku pun mengakhiri telepon. Malam-malam suamiku sudah menggangguku. Aku merasa Mas Azzam itu bodoh, misal aku melakukannya dengan Fikar tidak mungkin juga sehari langsung ada garis merahnya. Bodo amat! Lama-lama tahu begini dia jadi makin enggan pulang ke rumah. Pria itu makin lama makin gila saja. "Ada apa Kak? Mengapa Kakak cemberut?" tanya Fikar. "Tidak ada apa-apa, kamu tidur saja," jawabku. "Kak, kita ini teman. Kakak tidak boleh menyimpan masalah sendiri. Sekarang Kakak punya teman cerita yaitu aku. Aku tidak akan membiarkan Kak Airin tenggelam dalam kesedihan sendirian," ucap Fikar. Aku terdiam sejenak. Kata-kata Fikar membuat dadaku terasa hangat, tapi sekaligus perih. Aku tak terbiasa ada seseorang yang peduli padaku seperti itu. Selama ini, rasa sepi dan luka selalu ku tanggung sendirian. Aku menghela nafas.“Fikar, kamu masih muda. Jangan terlalu memikirkan urusanku. Aku takut membebani kamu." Fikar menggeleng mantap. “Tidak ada kata beban kalau kita tulus, Kak. Aku ingin Kak Airin tahu… aku ada di sini. Aku nggak akan pergi.” Aku kembali menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak hatinya. 'Andai saja aku bisa benar-benar percaya… sayangnya ... Mas Azzam telah membuatku tidak percaya kalau cinta itu bukan untukku. Aku hanya di takdirkan menderita,' batinku. "Oh, ya Kak Airin pasti lelah akibat aku ajak jalan-jalan tadi. Sini aku pijit kaki Kakak agar tidak kaku," tawar Fikar. Aku tersentak kecil mendengar tawaran itu.“Tidak usah, Fikar. Aku baik-baik saja,” ucapku buru-buru sambil menggeleng. Namun Fikar tetap menatapku dengan tatapan tulus, tanpa ada maksud lain. “Aku serius, Kak. Aku cuma ingin membantu. Kak Airin jangan sungkan. Aku tahu Kakak pasti capek.” Aku terdiam, bimbang. Hatinya hangat sekaligus canggung. Selama ini, tak pernah ada yang menawarkan perhatian sekecil apa pun padanya, apalagi hal sederhana seperti ini. Aku pun akhirnya tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa kikuk. “Kalau begitu… duduk saja di sampingku. Temanin ngobrol, itu sudah cukup.” Fikar pun menurut, duduk di sampingnya dengan wajah berbinar, seolah merasa diberi kehormatan besar. Malam itu terasa berbeda. Lobi hotel yang biasanya sepi kini dipenuhi suara obrolan ringan mereka. Sesekali Fikar tertawa kecil, membuat suasana terasa menghangat. Mataku menengadah menatap langit, bintang-bintang berkelip indah di atas sana. Namun tanpa sadar, pandangannya justru bergeser ke arah Fikar. Dari samping, wajah pemuda itu terlihat begitu tenang. Garis rahangnya tegas, matanya berkilat penuh semangat muda, dan senyumnya… ah, senyum itu ternyata menawan sekali. Aku tersentak dalam hati. Kenapa aku baru menyadari ketampanannya sekarang? gumamnya pelan. Ada sesuatu di dadanya yang bergetar, perasaan asing yang menyelinap di hatinya. Fikar menyadari tatapan itu dan menoleh. “Kenapa, Kak? Ada yang aneh di wajahku?” tanyanya polos sambil menyentuh pipinya sendiri. Airin buru-buru menggeleng, wajahnya merona. “Nggak… nggak ada apa-apa. Aku cuma… lihat bintang jatuh barusan,” kilahnya cepat. Fikar tersenyum cerah, menatap langit penuh antusias. “Kalau gitu, ayo kita sama-sama berdoa. Siapa tahu doa Kakak terkabul malam ini.” Aku terdiam, menunduk. Dalam hati berbisik, andai saja kebahagiaan itu bisa benar-benar datang padaku. Rasanya tak mungkin. Mas Azzam sudah berhasil mengubah persepsiku mengenai kebahagiaan. Lalu ku lirik Fikar tampak serius berdoa. "Apa yang kamu panjatkan di doamu?" tanyaku kepo. Fikar membuka mata perlahan, menoleh pada Airin dengan senyum kecil yang misterius. “Kalau aku kasih tahu, nanti doanya nggak terkabul, Kak,” jawabnya ringan. Aku mendengus pelan, pura-pura kesal. “Halah, itu cuma mitos. Aku penasaran, Fikar. Bilang aja, apa sih?” Fikar tertawa kecil melihat sikapku yang tiba-tiba kepo ingin tahu. Ia menggaruk tengkuknya, lalu menunduk sebentar sebelum berani menjawab. “Ya udah… aku cuma minta semoga aku bisa mendampingi Kakak seterusnya," jawabnya. Aku menoleh mataku membesar tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Jantungku berdegup kencang, seolah ada sesuatu yang menohok langsung ke relung hatiku. Mas Azzam saja ingin menyimgkirkanku. Tapi pemuda ini ...? “F-Fikar… kamu tahu kan, hubungan kita ini hanya sementara,” ucapku terbata, mencoba menegaskan batas yang sejak awal sudah ditetapkan. Namun Fikar tetap menatapnya dengan ketulusan yang membuat Airin semakin sulit bernapas. “Aku tahu, Kak. Tapi… bukan berarti aku nggak boleh berharap, kan?” katanya pelan, suaranya jujur dan lembut. Aku terdiam. Kata-kata itu membuat dadaku terasa penuh. Ada rasa hangat, tapi juga rasa takut. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Aku merasa diperjuangkan, meski hanya dengan sebuah harapan sederhana dari seorang pemuda yang seharusnya bukan miliknya. "Yuk, masuk ke dalam ini sudah terlalu malam," ajakku. Namun baru saja melangkah Aku merasa sakit di kaki. Dan Fikar tahu, ada yang tidak beres dari raut wajahku yang menahan sakit. "Kenapa Kak?" tanya Fikar. "Nggak tahu, tiba-tiba kakiku sedikit sakit." Tanpa menunggu lama Fikar segera membopongku. Membuatku terkejut ketika tubuhku tiba-tiba sudah di angkat Fikar. Matamu terbelalak kaget, kedua tanganku refleks berpegangan pada bahu Fikar. “F-Fikar! Turunin Kakak, nanti orang-orang lihat!” kataku panik. "Aku cuma ingin bantu Kakak ke tempat tidur," ucapnya pelan. Aku tak ada pilihan lain terpaksa mengalungkan kedua tangan di leher Fikar. Perasaannya campur aduk, yang jelas jantungku berdebar-debar aneh. Fikar pun merebahkan Airin di ranjang. Ia kemudian meluruskan kakiku. "Kakak tengkurap dulu. Untuk kali ini Kakak tidak boleh protes. Aku akan pijit kaki Kakak," kata Fikar sedikit memerintah. Aku cukup segan, akhirnya tengkurap. Perlahan kurasakan telapak tangan Fikar merayap di kakiku. Memijitnya perlahan-lahan. Aku menggenggam seprai erat, rasa canggung menyeruak dalam hatiku. Sentuhan itu lembut, penuh kehati-hatian, berbeda jauh dari yang ia bayangkan. Tidak ada maksud lain di baliknya selain ketulusan untuk membuatnya merasa lebih baik. “Gimana, Kak? Masih sakit?” tanya Fikar pelan, suaranya serius, seolah benar-benar khawatir. Aku menggeleng meski wajahku tertutup bantal. “Sudah agak mendingan… kamu pintar juga pijitnya,” jawabku lirih, berusaha terdengar tenang. "Hehehe ...." jawab Fikar tersenyum tipis. Tangan Fikar kembali memijit ke arah punggung. Namun yang di rasakan Airin justru lain. Tubuhnya menegang manakala tangan kekar itu mengusap punggungku perlahan. Jantungku berdegup tak karuan saat merasakan telapak tangan Fikar bergerak perlahan di sepanjang punggungnya. Itu bukan lagi pijatan biasa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat tubuhnya merespons tanpa bisa di kendalikan. “Fi ...Fikar…” suaraku terdengar pelan, nyaris bergetar. “Cukup sampai sini, ya…” Fikar menghentikan gerakannya seketika. Ia terdiam, lalu menarik napas panjang. “Maaf, Kak. Aku… nggak bermaksud bikin Kak Airin nggak nyaman,” ucapnya dengan nada menyesal. Aku mengambil posisi telentang, ia menatap ke arah Fikar. "Tidak, pijitan kamu enak kok. Hanya saja ini sudah terlalu malam. Kita istirahat dulu. Lagian aku juga sudah ngantuk." Ia takut kalau keterusan akan merembet ke yang lainnya. Jujur ia sempat terbuai dengan pijitan Fikar. Tapi ia segera mengendalikan situasi agar tidak terbawa perasaan. "Oh, ya. Kalau begitu aku tidur di sofa saja. Kak Airin santai saja. Aku tidak akan ganggu." Aku langsung menoleh, menatap Fikar yang sudah bangkit dan berjalan ke arah sofa. Ada rasa aneh menyelinap di hati sedikit lega namun… kecewa. “Kamu nggak usah tidur di sofa, Fikar. Kasur ini kan luas,” ucapku cepat, meski nada suaranya terdengar canggung. Fikar berhenti, menoleh dengan senyum tipis. “Aku tahu, Kak. Tapi aku nggak mau bikin Kak Airin nggak nyaman. Lagipula, aku janji akan jaga jarak.” “Ya sudah terserah kamu deh. Tapi jangan salahkan aku kalau besok badan kamu pegal-pegal karena tidur di sofa.” Fikar tersenyum tipis. Ia lalu mengambil satu bantal dan tidur di sofa tak jauh dari ranjang. Dan entah kenapa aku merasa malu tadi menawarkan Fikar tidur di sebelahku. Hanya karena tadi dia sudah memijitku. Apakah benar aku memang begitu merindukan sentuhan gara-gara Mas Azzam sama sekali tidak pernah menyentuhku.Saat Airin pamit ke toilet dia tidak tahu letak toiletnya. Monika pura-pura baik mengantarkan Airin ke toilet. Namun begitu mereka berhenti tepat di depan pintu toilet, langkah Monika mendadak terhenti. Senyum di wajahnya memudar, digantikan sorot mata dingin yang tak lagi berusaha disembunyikan."Kamu pikir dengan punya anak dari Fikar kamu bisa jadi Nyonya di sini!" sindir Monika.Monika melangkah lebih dekat, suaranya direndahkan namun justru semakin menusuk.“Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kamu cuma perempuan yang datang membawa masa lalu. Istana ini bukan tempatmu.”Airin menelan ludah. Ia menatap Monika dengan tajam. "Kupikir kau nenjadi istri Tuan Ghani itu tulus. Nyatanya yang kau ributkan hanya posisimu. Aku jadi sanksi apakah kamu mencintai Tuan Ghani atau tidak."Monika tidak menyangka Airin berani menjawabnya dengan perkataan yang pedas. Airin orang baru, tapi berani mengatainya.Amarah Monika bergejolak. Rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh kebencian.“Berani sekal
"Kita mau kemana Ma?" tanya Varo yang sudah berpakaian rapi."Mama juga tidak tahu Sayang. Kata Papa ini kejutan," ucap Airin melirik suaminya di samping. Sementara sopir pribadinya fokus menyetir.Varo terpesona ketika mobilnya memasuki halaman yang luas dan taman indah.Matanya langsung disuguhi hamparan taman indah dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga berwarna cerah yang tertata rapi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya."Rumah ini seperti istana. Memangnya ini rumah siapa Pa?" tanya Varo.Fikar tersenyum tipis. "Rumah ini rumah kakeknya Varo. Dulu Papa besar di sini."Airin terkesiap mendengar pernyataan Fikar. Berarti Fikar sudah jadi anak orang kaya sejak dulu. Lalu kenapa dia memilih hidup di luar sebagai mahasiswa biasa waktu itu? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.Fikar menggenggam tangan Airin. Pelan tapi cukup membuyarkan lamunannya. "Bersiaplah, kita sudah sampai," ucap Fikar.Airin bingung, Fikar tidak mengatakan dari awal kalau ak
Kejadian yang menimpa Airin membuat Fikar gerah. Kalau di biarkan berlanjut terus-terusan Airin yang akan jadi korban gosip. Fikar tidak mau terkena musibah lagi."Umumkan semua divisi berkumpul di ruang utama!" perintah Fikar."Baik Pak."Tak lama kemudian, sebuah pengumuman mendadak tersebar ke seluruh divisi. Seluruh karyawan diminta berkumpul di aula utama. Suasana kantor yang biasanya sibuk berubah tegang dan penuh tanda tanya.Fikar berdiri di depan, wajahnya dingin dan berwibawa. Airin berdiri di sampingnya, sedikit menunduk, tangannya masih dibalut kompres dingin.“Saya minta perhatian semuanya,” ucap Fikar tegas, suaranya menggema di ruangan. “Hari ini saya perlu meluruskan satu hal penting.”Ia menoleh sekilas ke arah Airin, lalu kembali menatap para karyawan.“Airin bukan hanya karyawan di perusahaan ini. Dia adalah istri saya.”Ruangan langsung riuh. Bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut. Wajah-wajah terkejut saling berpandangan, sebagian menoleh ke arah Airin dengan e
"Mas, pintunya belum di tutup, gimana kalau ada orang lewat?" ucap Airin merengsek turun dari pangkuan suaminya. “Tenang saja, Sayang. Ini masih jam istirahat. Lagipula siapa juga yang berani masuk tanpa mengetuk,” ujarnya santai. Airin menghela napas, tetap menarik tangannya hingga lepas. Ia merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut, wajahnya memerah. “Aku cuma nggak mau jadi bahan omongan orang kantor,” katanya lirih. Mereka tidak tahu kalau ada satu orang karyawan yang tadinya mau masuk, tidak jadi karena melihat adegan ciuman. "Tidak ku sangka Airin yang kelihatannya polos dan baik itu berani menggoda Pak Fikar," ucap Hilda geleng-geleng kepala dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Ia sudah membayangkan cerita apa yang akan beredar di kantor nantinya. Sekilas ia tersenyum licik. Sementara di dalam ruangan, Fikar berdiri dan menutup pintu rapat-rapat. Ia menatap Airin dengan sorot mata lembut. “Kamu terlalu memikirkan orang lain, Rin. Yang penti
"Bukan begitu ...," kata Airin segera merapatkan kimononya. Lalu dia melipat mukenanya dan menaruhnya di tempatnya. "Tapi aku sudah terlanjur tergoda," kata Fikar menarik Airin di atas pangkuannya. "Mas, jangan begini ... gimana kalau tiba-tiba ada Varo." Pipi Airin memerah, karena tangan Fikar tidak berhenti bergerilya. "Kalau ada Varo aku tinggal bilang lagi usaha buatin adek baru untuknya," jawab Fikar asal. "Ah, Mas ini," kata Airin malu-malu. Ia membiarkan Fikar mengambil jatah susu paginya. Untung saha Varo sudah di sapih. Kalau tidak mungkin bisa rebutan sama anaknya. "Mas ... udah belum. Geli ... tau. Aku mau ke dapur juga buat sarapan," kata Airin Airin sambil berusaha menepis tangan Fikar yang sedari tadi tak mau diam. Fikar terkekeh pelan. “Sebentar. Ini terakhir, sumpah. Rasanya jauh lebih nikmat kalau tiap pagi begini." "Iya, tapi kalau kalamaan keburu Varo bangun tidur, Mas," jawab Airin. Padahal sebenarnya seluruh tubuh Airin merinding merasakannya.
"Maaf Mas, waktu itu aku pikir bisa mempertahankan pernikahanku dengan Mas Azzam. Karena Mas Azzam berjanji menerimaku apa adanya. Dia juga menganggap bayi Varo adalah anaknya. Aku nggak tega ... dan akhirnya aku memilih diam. Tidak mengatakan yang sebenarnya padamu. Karena ku pikir kamu juga sudah punya kehidupan baru dengan wanita lain," terang Airin panjang lebar. Wajahnya tertunduk setelah mengatakannya."Kamu tidak tega dengan Azzam? Sementara kamu tega denganku Rin. Kamu tega memisahkanku dari putra kandungku sendiri. Kamu tidak tahu Rin ... aku hampir gila mencarimu!" Fikar meluapkan amarahnya pada Airin. Andai saja wanita di hadapannya ini waktu itu tegas memilih dirinya mingkin hubungannya dengan Azzam tidak akan berlarut-larut."Maafkan aku Mas ... aku tahu aku salah," mohon Airin. Perempuan cantik itu menangis terisak-isak. Tangis Airin menyadarkan Fikar bahwa semua kemarahan yang di luapkannya hari ini sia-sia. Toh sekarang Tuhan justru memgembalikan Varo lewat tangan Ai







