공유

Asa 3

작가: Amih Lilis
last update 게시일: 2022-09-09 00:27:42

*Happy Reading*

Plak!

Nissa yang baru saja tiba di loby  tempat kerjanya. Terkejut dengan tamparan tiba-tiba, yang membuat wajahnya langsung terlempar ke samping.

Menahan panas yang menjalar di sebelah pipi akibat tamparan barusan, Nissa langsung mencari pelaku. Seorang wanita cantik nan seksi langsung di temukan matanya seketika.

'Apa lagi ini ya robb ...?' batin Nissa mendesah kesal. Namun, seakan sudah bisa menebak alasan wanita ini tiba-tiba menamparnya barusan.

Abyan! Siapa lagi?

"Heh, jalang! Gue peringatin sama lo, ya? Jauhin Abyan! Dia itu milik gue!" hardik wanita itu menunjuk wajah Nissa.

Kan? Apa Nissa bilang? Wanita seksi ini pastilah salah satu dari pacar-pacar Abyan.

"Ada apa ini? Mbak, mohon jaga sikap!"

Satpam yang bertugas di lobby pun segera menghampiri dan mencoba melerai keributan. Sebab kejadian barusan sontak membuat semua orang yang lewat menghentikan langkah dan akhirnya malah mengerumuni mereka dengan wajah penasaran luar biasa.

"Diem, lo!" salak wanita tadi dengan galak pada sang satpam yang mencoba melerai. "Gue gak ada urusannya sama lo, ya? Urusan gue cuma sama pelakor satu ini!" Kini gantian Nissa yang ditunjuknya lagi.

"Tapi ini kantor, Mbak. Jika memang ada urusan pribadi, mohon selesaikan di tempat lain." Sang satpam kembali menegur.

"Halah bacot! Gue gak peduli!" tukas wanita itu menyebalkan. "Mau kantor, kek. Pasar, kuburan, bahkan istana presiden sekalipun. Selama ada pelakor ini di sana. Pasti gue jabanin!" lanjutnya lagi sombong.

"Tapi--"

"Udah diem! Ngomong mulu lo, kek tukang obat. Dibilang urusan gue tuh bukan sama lo! Tapi sama pelakor ini!" sela wanita itu cepat, saat sang satpam kembali ingin menyahut.

"Tapi masalahnya kamu kayaknya salah sasaran. Karena saya bukanlah seorang pelakor." Mulai jengah dengan keadaan. Nissa pun akhirnya buka suara.

"Halah! Maling mana mau ngaku, sih? Jelas-jelas lo suka telepon-teleponin Abyan, kan? Kalau bukan buat menggoda dan merebut, lalu buat apa?" sahut si wanita kurang bahan bersikukuh.

"Tentu saja buat memberitahukan Abyan, jika undangan pernikahan kami sudah siap di sebar." Nissa menjawab jumawa. Si wanita kurang bahan itu pun seketika melotot horor.

"Apaan? Undangan pernikahan?" beonya dengan mata membulat.

Kiranya, hal itu akan membuat si wanita kurang bahan tersadar dan malu. Namun, yang ada dia malah tertawa keras setelahnya.

"Lo gila, ya? Undangan pernikahan apa? Jelas-jelas Abyan itu pacar gue. Ya kali malah nikahnya sama lo. Halu lo ketinggian, bitch!" Kini wanita itu malah menghina Nissa.

"Kenyataannya. Saya memang calon istrinya Abyan. Dan kami akan menikah kurang dari dua bulan lagi." Nissa pun berusaha memberi penegasan.

"Bohong!" sergah wanita itu keras. "Lo jangan bacot, ya? Abyan itu pacar gue. Jadi dia pasti hanya akan menikah sama gue."

"Bagaimana kalau kamu tanyakan langsung saja pada Abyan? Atau--"

Plak!

Belum selesai Nissa berkata. Sebuah tamparan kembali didapatkannya. Pelakunya masih orang yang sama. Si wanita kurang bahan yang terlihat tidak bisa menerima kenyataan yang ada.

"Dasar pelakor! Pakean doang muslim. Kelakuan kayak jalang. Dasar pecun!"

Tanpa diduga. Wanita itu malah menggila dan menyerang Nissa begitu saja. Mencoba menjambak rambut Nissa yang pagi ini ditutupi hijab coklat muda.

Tentu Nissa tak diam saja. Gadis berusia 23 tahun itu pun mencoba melawan dan melepaskan diri dari amukan si wanita kurang bahan.

Meski awalnya sulit karena wanita itu seperti kesetanan. Dengan sekuat tenaga akhirnya Nissa pun bisa melepaskan diri, bahkan mendorong wanita itu menjauh.

Niat Nissa sebenarnya hanya ingin melepaskan diri saja. Sayang, mungkin dorongannya terlalu kuat hingga akhirnya membuat si wanita jatuh tersungkur ke lantai. Namun, yang lebih parah dari itu adalah, kejadian itu bertepatan dengan hadirnya Abyan di sana.

Kebetulan, perusahaan tempat Nissa bekerja memang bekerja sama dengan tempat kerja Abyan. Hingga kadang, pria itu kerap datang untuk membahas kerja sama mereka.

"Nissa?! Keterlaluan kamu!"

Tak ayal, Abyan pun murka dan langsung melayangkan sebuah tamparan keras pada Nissa. Gadis berhijab itu pun seketika terpaku di tempatnya.

Kedua pipinya hari ini mendapat tamparan lebih dari dua kali. Rasanya tentu saja sakit. Tetapi, hal itu tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakannya saat ini.

Kenapa jadi Nissa yang di tampar? Jelas-jelas wanita itu yang salah, kan?

"Apa maksud kamu menyakiti dia seperti itu?" Tak hanya memberi sebuah tamparan. Abyan pun menambahkan dengan sebuah tuduhan asal.

"Aku menyakiti dia?" beo Nissa tak habis pikir "Kamu buta ya, Byan? Jelas-jelas dia duluan yang nampar aku dan ngehina aku." Nissa mencoba membela diri.

"Nggak! Aku gak gitu kok, Byan. Dia yang duluan." Bak rubah betina yang licik. Si wanita kurang bahan itu pun segera merubah drama dan playing victim. "Kamu kan tahu aku seperti apa? Mana bisa aku nyakitin orang," tambahnya lagi meraih tangan Abyan dan mengusapnya manja.

Nahasnya, Abyan sepertinya percaya begitu saja dengan drama si rubah kurang bahan. Buktinya, pria itu malah dengan senang hati mengusap tangan si rubah lembut sekali. Seakan menenangkan. Ini sungguh tidak adil!

"Kamu jangan sembarang tuduh, bisa? Jelas-jelas aku lihat kamu tadi mendorong Dita."

Ah, rubah itu ternyata punya nama ternyata.

"Itu karena dia menyerang aku dan nyakitin aku. Apa salah, kalau aku membela diri?" Nissa masih mencoba membela diri.

"Menyerang apa? Jelas-jelas Dita yang jatuh dan kesakitan. Lihat! Sikutnya sampai merah begini!"

Lalu bagaimana dengan wajah Nissa? Apa Abyan tidak bisa melihat semerah apa pipinya akibat tamparan wanita itu? Ditambah pula oleh dirinya sendiri.

"Tapi--"

"Sudah! Jangan bicara lagi. Pokoknya aku mau kamu minta maaf sama Dita sekarang!" titah Abyan tegas. Sengaja memangkas ucapan Nissa yang masih ingin membela diri.

"Kenapa jadi aku yang harus minta maaf? Jelas-jelas dia yang mulai duluan cari ribut sama aku!" Nissa mencoba mempertahankan harga dirinya.

"Jangan membantah Nissa! Aku bilang minta maaf, ya minta maaf. Cepat!" Abyan semakin menjadi.

"Aku tidak mau!" Nissa tetap menolak. "Aku gak salah dan aku--"

Plak!

Tanpa diduga. Abyan kembali melayangkan tamparan keras pada Nissa. Membuat hati Nissa lagi, lagi, dan lagi merepih sakit. Bukan karena tamparannya. Tetapi lebih kepada sikap pilih kasih dari Abyan.

"Minta maaf! Cepat!" titah Abyan lagi tegas. Menatap Nissa tajam sekali. Tak perduli saat ini mata Nissa sudah berkaca-kaca dan merah menahan tangis dan sakitnya hati akan perlakuan Abyan.

Sementara di samping Abyan, si rubah sudah tersenyum jumawa, menatap Nissa dengan penuh kemenangan.

"Aku tidak mau." Nissa masih bersikukuh.

"Nissa?!--"

"Cukup Abyan, cukup!" teriak Nissa tak kalah lantang dengan seruan Abyan tadi. "Aku mulai muak dengan semua ini."

Gadis itu menambahkan dengan pedih. Sebelum membalik badan dan berniat pergi. Namun, Abyan seakan tak perduli dan mencekal tangannya lagi.

"Mau ke mana kamu? Minta maaf dulu!" tukasnya kejam.

"Aku bilang, aku gak mau minta maaf!" jawab Nissa dengan berani seraya menghela tangan Abyan kasar.

"Nissa?!"

"Kecuali kamu berani melihat cctv pagi ini dan melihat langsung kejadian sebenarnya. Baru aku sudi meminta maaf pada gundikmu itu!" tunjuk Nissa tegas pada selingkuhan Abyan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Abyan....tega sekali kau menampar Nissa & lebih membela pacarmu...
goodnovel comment avatar
Sindy Septi
nahh makanya liat cctv dulu byan baru lu nyalahin nissa
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa terakhir

    Perlahan, luka yang dulu terasa menghancurkan akhirnya berubah menjadi kenangan pahit yang tak lagi terlalu menyiksa.Nissa dan Raid pun memutuskan kembali ke Indonesia setelah Naira melahirkan anak pertamanya. Berjenis kelamin laki-laki dan wajahnya ... plek ketiplek Darius. Bahkan warna matanya juga sama."Gak adil banget, deh. Padahal gue yang ngandung sampai sembilan bulan lebih, eh pas brojol malah mirip bapaknya. plek ketiplek! Ini sih namanya bukan lagi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tapi jatuhnya sa'akar-akarnya sampe kebonnya juga," keluh Naira sambil menjawil hidung putranya yang mancungnya sudah tidak diragukan lagi."Alhamdulilah. Masih untung mirip bapaknya, loh. Kalau mirip cowok lain kan berabe, Nai.""Gak gitu maksud gue. Tapi ya ... harusnya ada gitu satu bagian yang mirip gue. Ini gak ada satu pun. Kesel, deh.""Cengengnya mirip kamu," celetuk Raid asal, langsung di hadiahi delikan tajam Naira."Udah, udah. Gak usah sewot gitu ah. Namanya bayi baru brojol mukanya

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 142

    Asa 143“Cih!”Naira langsung berdecih begitu melihat Nissa dan Raid keluar bersama dari arah lorong kamar. Wanita hamil itu melipat tangan di dada dengan wajah sengaja dibuat keruh.Namun alih-alih terlihat menyeramkan, ekspresi Naira justru tampak lucu. Apalagi dengan pipi gembulnya yang makin bulat akibat kehamilannya saat ini. “Ini yang katanya masih trauma? Masih sakit hati? Gak mau lihat muka laki-laki itu masih butuh waktu entah sampai kapan?” omelnya sambil menyipit tajam ke arah Nissa. “Ujung-ujungnya luluh juga.”Nissa langsung salah tingkah.Sementara Raid di sampingnya malah tampak santai sekali. Bahkan pria itu tanpa rasa bersalah melingkarkan tangannya di pundak Nissa possessive. Seolah sengaja memperjelas jika ia telah memenangkan keadaan.Naira langsung mencibir.“Hih! Dasar bucin!”Raid tersenyum kecil penuh kemenangan. Nissa yang sadar sedang digoda langsung menyikut pinggang suaminya pelan.“Abang, ih.”“Abang kenapa? Abang diem aja kok,” jawab Raid santai, padahal

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 141

    Malam itu, setelah kejadian dengan Nichole, Nissa sama sekali tak bisa tidur.Ia berbaring menatap langit-langit, tapi yang terlihat justru wajah Raid — pria yang paling ingin ia lupakan, sekaligus yang paling tak bisa ia lepaskan.Suara tawa itu, cara Raid memanggil namanya dengan lembut, bahkan aroma tubuhnya yang dulu menenangkan… semuanya masih lekat, menolak pergi.Nissa menutup mata, menggigit bibir bawah, mencoba menahan sesak yang menumpuk di dada.“Kenapa sih aku masih begini…” bisiknya pelan.Ia memutar tubuh, tapi semakin mencoba melupakan, bayangan itu malah kian jelas. Pelukan yang dulu membuatnya tenang kini justru menjadi luka yang paling menyakitkan.Malam terasa panjang. Di tengah kesunyian, hanya satu kenyataan yang sulit ia tolak: ia merindukan suaminya.Dan rindu itu membuat dada terasa sesak — campuran antara cinta dan benci yang sama-sama menyiksa.Setiap kali mengingat tatapan penyesalan Raid di depan ruang rawat dulu, Nissa merasa seperti diremas dari dalam.Ia

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 140

    Raid keluar dari kamar rawat dengan langkah berat. Di luar, Darius dan Naira masih menunggu. Wajah Naira masih penuh amarah, tapi ia tidak mengatakan apa-apa."Kamu diusir?" tebak Darius, menepuk bahu Raid.Raid tidak menjawab, hanya mengangguk pelan."Bagus," Naira mendengus. "Harusnya dia usir kamu lebih jauh lagi."Raid mendongak, menatap Naira tajam. Tapi ia tidak dalam posisi untuk membalas. Apa pun yang dikatakan wanita itu benar."Aku akan menunggu." Hanya itu yang Raid ucapkan sebelum berjalan pergi.Naira mendengus muak. "Terserah."Hari-hari berikutnya, Raid tetap setia di rumah sakit. Ia tidak masuk ke kamar Nissa, tapi ia selalu ada di luar, setia menunggu. Setiap kali dokter atau perawat keluar dari kamar itu, Raid akan bertanya tentang kondisi istrinya itu dengan detail sekali. Sementara itu, seiring hari berganti Nissa sendiri semakin pulih secara fisik, tapi tidak untuk hatinya. Sebongkah daging dalam dadanya itu masihlah sangat terluka. Wanita itu masih belum bisa m

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 139

    Suara sirene ambulans memecah keheningan malam, membawa Nissa yang tak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat. Raid mengikuti dari belakang dengan perasaan kalut, bayangan Nissa yang terbaring berlumuran darah terus menghantuinya.Di ruang tunggu rumah sakit, Raid mondar-mandir dengan gelisah. Setiap detik terasa seperti siksaan, menunggu kabar dari tim medis yang tengah berjuang menyelamatkan istrinya. Pikirannya dipenuhi penyesalan; andai saja ia tidak asal tarik tadi, mungkin semua ini tak akan terjadi.Faktanya yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata. Raid yang tadi sedang menunggu Nissa di ruang vvip, tiba-tiba matanya ditutup sebuah tangan yang lembut. Raid kira itu Nissa, makanya dia main tarik saja tangan itu hingga jatuh dalam pangkuan. Raid pun syok saat akhirnya tau tangan tadi ternyata milik Nichole, bukan istrinya.Sialnya, Nissa malah datang di saat tidak tepat. Raid yang masih syok pun butuh beberapa detik menyadari kesalahpahaman itu hingga akhirnya gegas mengej

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 138

    "Sayang, hari ini Abang ada urusan di knightsbridge. Kamu mau ikut nggak?""Di mana itu, Bang? Jauh nggak dari sini?""Knightsbridge terletak di jantung kota London yang modis, menggabungkan jalur Hyde Park yang dilalui kuda, kedutaan besar Belgravia, museum Kensington, dan kediaman seniman Chelsea. Saat ini, lingkungan itu dipenuhi dengan berbagai toko, restoran, townhouse bersejarah kelas dunia, dan merupakan rumah bagi dua properti Jumeirah . Di sana, kita juga bisa melihat sejarah Knightsbridge dan bagaimana ia bisa mempertahankan reputasi yang dimilikinya saat ini." Raid menjelaskan dengan sabar dan panjang lebar. "Nggak tahu ah, Bang. Nggak ngerti juga. Udahlah, Abang aja yang pergi. Nissa lagi mager," sahut Nissa kemudian dengan malas. Raid mengerutkan keningnya bingung. Beberapa hari ini entah kenapa Nissa memang berubah jadi pemalas. Tak seperti biasanya yang selalu antusias jika di ajak ke tempat baru. Apa mungkin Nissa sudah bosan tinggal di sini? Akan tetapi, mereka baru

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 133

    "Papa?" beo Nissa refleks. "Iya, Papa kamu. Bule tadi. Itu papa kamu, kan?"Dilihat dari mana, ya ampun! Jelas-jelas wajah Raid bule banget, sementara Nissa sendiri khas asia. Nah, kok, bisa wanita ini menyangka Nissa dan Raid adalah anak dan ayah. Katarak atau gimana?Atau ... ah, jangan-jangan meman

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 132

    "Wah! Ini tempat siapa, Bang?" Nissa berseru takjub ketika akhirnya mobil yang mereka kendarai masuk ke sebuah pekarangan luas di depan sebuah bangunan yang menarik hati. Bukan bangunan itu yang membuat Nissa terpesona sebenarnya, tapi pekarangan asri dan sekitarnya yang sungguh memanjakan mata. Ade

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 134

    Brak!Nissa terkesiap kaget saat tiba-tiba saja Nita menggebrak meja. Wajahnya merah padam menatap Raid. Pasti dia sangat marah sekali saat ini. Tentu saja, ucapan Raid barusan memang terlalu kejam. Bahkan Nissa yang mendengarnya saja merasa sakit hati barusan. Ah, suaminya ini kalau sudah mode julid

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 126

    *Happy Reading*"Ada apa Darius? Kau tidak suka dengan kejutanku?" jawab Raid enteng. Seraya tersenyum miring di depan sana. Tetapi sambil menatap posisi Darius yang masih di liputi rasa tak percaya di tempatnya."...""Hey, Dude. Jangan men-judge ku seenak hati mu. Karna aku memang tidak seperti itu."

    last update최신 업데이트 : 2026-04-03
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status