ログイン*Happy Reading*
Nissa [Asalamualaikum, By.]Abyan [WaalaikumsalamAku lagi sibuk. Jangan ganggu!!]Nissa [Sibuk apa?Kencan di Foodcourt, ya?]Nissa melihat Abyan menoleh ke kanan dan kiri sejenak. Sebelum terpaku beberapa detik saat menemukan keberadaannya di luar jendela, tak jauh dari sana. Kemudian pria itu pun langsung menghela napas panjang di sana. Bukan menghela napas panjang sih, tepatnya. Tetapi mendengus malas.Lalu, Abyan pun terlihat mengetik di ponselnya, dan ....Tring!Sebuah notifikasi chat langsung muncul di ponsel Nissa.Abyan [Tenang aja, dia cuma pacar aku!!]Selalu! Itu terus yang Abyan katakan, tiap kali Nissa memergokinya kencan dengan seorang perempuan. Atau, saat Nissa melaporkan labrakan wanita-wanitanya.Nissa bahkan sudah tidak bisa menghitung lagi, berapa banyak luka yang ada di hatinya, akibat ulah Abyan.Tring!Belum sempat Nissa membalas lagi. Sebuah chat dari Abyan kembali dia dapatkan.Abyan [Awas kamu kalo coba-coba bikin drama di sini!! Lebih baik kamu Pulang, sana!!]Kemudian, luka hati Nissa pun kembali bertambah untuk kesekian kalinya, dengan keacuhan Abyan padanya.Padahal, tak sampai dua bulan lagi. Mereka akan menikah. Tetapi .... sepertinya Abyan benar-benar tidak bisa berubah sama sekali. Bahkan, semakin menjadi tiap harinya. Membuat Nissa makin ragu pada harapannya untuk bisa mengubah Abyan kelak.Sayangnya, sesakit dan seragu apapun Nissa pada pernikahan ini. Nissa tetap tidak bisa melawan. Ataupun membatalkannya. Karena, kesehatan ayahnya akan terpengaruh dengan keputusannya nanti.Karena itulah, kembali menelan luka di hatinya. Nissa menghela napas berat satu kali lagi. Guna meredakan sesak di dadanya yang kian menghimpitnya.Setelahnya, Nissa pun beranjak pergi dari tempat di mana dia kembali menciduk sang calon suami yang lagi, lagi, dan lagi selingkuh.Namun kali ini, sudah tidak ada Air mata pada Nissa. Karena mungkin Nissa sudah mulai kebal akan sikap Abyan padanya. Atau, mungkin malah air matanya yang sudah kering.Entahlah yang mana yang lebih tepat. Yang jelas, untuk saat ini Nissa hanya bisa menahannya, dan ... memaafkan Abyan. Lagi.******"Assalamualaikum, Nissa pulang," seru Nissa dengan riang, sesampainya di Apartemennya.Ah ralat, bukan Apartmennya, tapi lebih tepatnya Apartement sahabatnya, Naira. Sejak lulus kuliah dan mulai bekerja, Naira memang sudah keluar dari rumah orang tua tirinya, dan memilih hidup mandiri. Sambil menampung Nissa.Kenapa menampung? Ya ... karena Nissa tinggal di Apartement ini tanpa harus bayar sama sekali. Bahkan, dibebaskan dari segala biaya yang ada. Pokoknya semua ditanggung Naira.Baik hati sekali ya, Naira? Memang! Nissa tidak akan memungkiri itu. Karena kenyataannya, sahabatnya itu memang seperti malaikat untuk Nissa."Waalaikumsalam. Loh, Nisa? Kok, lo udah pulang?" Naira menjawab salam Nissa, seraya muncul sambil menenteng sepatu kets kesayangannya. Sepertinya Naira mau pergi main ke luar."Iya, gue gak jadi nyari barang. Lagi males," jawab Nissa, berbohong. Sambil menghempaskan tubuhnya disamping Naira.Ya! Tadi Nissa memang berpamitan pada Naira akan ke Mall, untuk membeli barang perlengkapan pernikahannya. Tetapi, siapa sangka? Sampai di sana, Nissa malah dapet jackpot. Memergoki calon suaminya selingkuh lagi, untuk kesekian kalinya.Akan tetapi, walau begitu Nissa tidak punya keinginan sedikit pun untuk bercerita pada Naira. Karena Nissa tahu. Bahwa Naira sendiri juga punya masalah pelik yang selalu membuatnya pusing.Apalagi kalau bukan rongrongan ibu dan adik tirinya, yang masih tak mau menerima kenyataan status Naira yang sebenarnya."Lo sendiri tumben udah rapih. Mau kemana lo?" tanya Nissa. Sengaja mengalihkan topik. Sambil memindai tampilan Naira yang sangat ... cantik.Pantas dua bule London itu klepek-klepek. Naira emang terlalu sayang sih, kalah di lewatkan. Batin Nissa berbisik"Mau jalan gue," jawab Naira sambil memakai sepatu kesayangannya.Nah, kan? Bener dugaan Nissa."Kemana?" tanya Nissa lagi."Gak tau. Raid sih, yang ngajakin tadi."Degh!Seketika, Nissa pun menyesal telah bertanya pada Naira. Karena, diakui atau tidak. Jawaban Naira tadi membuat sudut hatinya tiba-tiba kembali merepih sakit.Kali ini bukan karena kekecewaan. Melainkan karena kecemburuan. Kecemburuan yang sering hadir dengan kurang ajarnya."Eh, atau ... gimana kalo kita jalan bertiga aja? Mayan kan, buat ngilangin suntuk di weekend gini. Sekalian ngerjain Raid. Gimana? Udah lama nih, gak ngerjain tuh bule," usul Naira riang. Karena menyadari perubahan mimik wajah Nissa tadi."Gila lo!! Ya gak bisa, lah! Yang di ajak kan, elo. Ngapa jadi ngajak gue juga? Sengaja ya, lo? mau bikin gue kaya nyamuk, nanti di sono?" tolak Nissa. Seraya sedikit berkelakar. Berusaha sekuat mungkin menyembunyikan luka hatinya."Ck, kaya sama siapa aja dah lo, Nis? Lo kan tau hubungan kami kaya gimana? Dia gak suka sama gue Nissa. Gak percayaan banget sih, jadi orang." Naira berdecak kesal. Sekaligus memberi bantahan keras."Dia yang gak suka sama lo? Atau lo gak suka sama dia?" Pancing Nissa."22-nya. Lo tau kan hati gue udah dimiliki siapa?""Gak tahu gue.""Iihhh elo mah," cebik Naira. Membuat Nissa langsung tergelak renyah."Ya, lagi, gue tuh gemes tahu sama lo! Udah tahu yang di sono udah gak bisa diraih. Masih aja ngarepin. Giliran ada yang tulus di depan mata. Malah lo cuekin. Kejam, tau gak sih, elo tuh! Bae-bae kena karma lo!" ucap Nissa dengan enteng, yang langsung membuat Naira cemberut sambil mengedikan bahu acuh."Namanya juga hati, Niss. Mana bisa gue atur-atur. Apalagi gue paksa. Kalo hati ibarat ponsel. Udah dari kapan tahu kali, gue instal ulang. Terus gue ganti sama yang lain. Lo pikir hidup kaya gini tuh enak? Repot tau!" balas Naira kemudian. Membuat Nissa akhirnya hanya bisa tersenyum miris melihat Naira.Karena Nissa paham betul apa yang Naira rasakan saat ini. Juga, sebenarnya itu pula yang Nissa rasakan saat ini terhadap Raid.Ya!! Kadang takdir memang selucu ini. Kita cintanya sama siapa? Tetapi yang kita cintai malah mencintai orang lain. Parahnya, orang lain itu juga mencintai orang lain lagi. Membuat kisah percintaan Naira dan Nissa bagai rantai makanan di ilmu biologi.Atau, bagaimana kalo kita sebut saja ini rantai cinta? Soalnya, tautannya mirip banget seperti rantai makanan?Gimana? Setuju, kan?Walaupun begitu. Nissa tetap berdoa, kok. Semoga suatu hari Naira bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.Entah itu dengan Raid, atau dengan si orang asing-- yang namanya tidak boleh Nissa sebut-- pokoknya siapapun itu. asal Naira bahagia. Nissa juga akan ikut bahagia.Sementara untuk dirinya sendiri. Nissa tidak berani berharap lebih. Karena jujur saja, Nissa sudah hilang harapan pada Abyan. Yang sepertinya tak akan pernah bisa berubah lagi.Miris, ya?Perlahan, luka yang dulu terasa menghancurkan akhirnya berubah menjadi kenangan pahit yang tak lagi terlalu menyiksa.Nissa dan Raid pun memutuskan kembali ke Indonesia setelah Naira melahirkan anak pertamanya. Berjenis kelamin laki-laki dan wajahnya ... plek ketiplek Darius. Bahkan warna matanya juga sama."Gak adil banget, deh. Padahal gue yang ngandung sampai sembilan bulan lebih, eh pas brojol malah mirip bapaknya. plek ketiplek! Ini sih namanya bukan lagi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tapi jatuhnya sa'akar-akarnya sampe kebonnya juga," keluh Naira sambil menjawil hidung putranya yang mancungnya sudah tidak diragukan lagi."Alhamdulilah. Masih untung mirip bapaknya, loh. Kalau mirip cowok lain kan berabe, Nai.""Gak gitu maksud gue. Tapi ya ... harusnya ada gitu satu bagian yang mirip gue. Ini gak ada satu pun. Kesel, deh.""Cengengnya mirip kamu," celetuk Raid asal, langsung di hadiahi delikan tajam Naira."Udah, udah. Gak usah sewot gitu ah. Namanya bayi baru brojol mukanya
Asa 143“Cih!”Naira langsung berdecih begitu melihat Nissa dan Raid keluar bersama dari arah lorong kamar. Wanita hamil itu melipat tangan di dada dengan wajah sengaja dibuat keruh.Namun alih-alih terlihat menyeramkan, ekspresi Naira justru tampak lucu. Apalagi dengan pipi gembulnya yang makin bulat akibat kehamilannya saat ini. “Ini yang katanya masih trauma? Masih sakit hati? Gak mau lihat muka laki-laki itu masih butuh waktu entah sampai kapan?” omelnya sambil menyipit tajam ke arah Nissa. “Ujung-ujungnya luluh juga.”Nissa langsung salah tingkah.Sementara Raid di sampingnya malah tampak santai sekali. Bahkan pria itu tanpa rasa bersalah melingkarkan tangannya di pundak Nissa possessive. Seolah sengaja memperjelas jika ia telah memenangkan keadaan.Naira langsung mencibir.“Hih! Dasar bucin!”Raid tersenyum kecil penuh kemenangan. Nissa yang sadar sedang digoda langsung menyikut pinggang suaminya pelan.“Abang, ih.”“Abang kenapa? Abang diem aja kok,” jawab Raid santai, padahal
Malam itu, setelah kejadian dengan Nichole, Nissa sama sekali tak bisa tidur.Ia berbaring menatap langit-langit, tapi yang terlihat justru wajah Raid — pria yang paling ingin ia lupakan, sekaligus yang paling tak bisa ia lepaskan.Suara tawa itu, cara Raid memanggil namanya dengan lembut, bahkan aroma tubuhnya yang dulu menenangkan… semuanya masih lekat, menolak pergi.Nissa menutup mata, menggigit bibir bawah, mencoba menahan sesak yang menumpuk di dada.“Kenapa sih aku masih begini…” bisiknya pelan.Ia memutar tubuh, tapi semakin mencoba melupakan, bayangan itu malah kian jelas. Pelukan yang dulu membuatnya tenang kini justru menjadi luka yang paling menyakitkan.Malam terasa panjang. Di tengah kesunyian, hanya satu kenyataan yang sulit ia tolak: ia merindukan suaminya.Dan rindu itu membuat dada terasa sesak — campuran antara cinta dan benci yang sama-sama menyiksa.Setiap kali mengingat tatapan penyesalan Raid di depan ruang rawat dulu, Nissa merasa seperti diremas dari dalam.Ia
Raid keluar dari kamar rawat dengan langkah berat. Di luar, Darius dan Naira masih menunggu. Wajah Naira masih penuh amarah, tapi ia tidak mengatakan apa-apa."Kamu diusir?" tebak Darius, menepuk bahu Raid.Raid tidak menjawab, hanya mengangguk pelan."Bagus," Naira mendengus. "Harusnya dia usir kamu lebih jauh lagi."Raid mendongak, menatap Naira tajam. Tapi ia tidak dalam posisi untuk membalas. Apa pun yang dikatakan wanita itu benar."Aku akan menunggu." Hanya itu yang Raid ucapkan sebelum berjalan pergi.Naira mendengus muak. "Terserah."Hari-hari berikutnya, Raid tetap setia di rumah sakit. Ia tidak masuk ke kamar Nissa, tapi ia selalu ada di luar, setia menunggu. Setiap kali dokter atau perawat keluar dari kamar itu, Raid akan bertanya tentang kondisi istrinya itu dengan detail sekali. Sementara itu, seiring hari berganti Nissa sendiri semakin pulih secara fisik, tapi tidak untuk hatinya. Sebongkah daging dalam dadanya itu masihlah sangat terluka. Wanita itu masih belum bisa m
Suara sirene ambulans memecah keheningan malam, membawa Nissa yang tak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat. Raid mengikuti dari belakang dengan perasaan kalut, bayangan Nissa yang terbaring berlumuran darah terus menghantuinya.Di ruang tunggu rumah sakit, Raid mondar-mandir dengan gelisah. Setiap detik terasa seperti siksaan, menunggu kabar dari tim medis yang tengah berjuang menyelamatkan istrinya. Pikirannya dipenuhi penyesalan; andai saja ia tidak asal tarik tadi, mungkin semua ini tak akan terjadi.Faktanya yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata. Raid yang tadi sedang menunggu Nissa di ruang vvip, tiba-tiba matanya ditutup sebuah tangan yang lembut. Raid kira itu Nissa, makanya dia main tarik saja tangan itu hingga jatuh dalam pangkuan. Raid pun syok saat akhirnya tau tangan tadi ternyata milik Nichole, bukan istrinya.Sialnya, Nissa malah datang di saat tidak tepat. Raid yang masih syok pun butuh beberapa detik menyadari kesalahpahaman itu hingga akhirnya gegas mengej
"Sayang, hari ini Abang ada urusan di knightsbridge. Kamu mau ikut nggak?""Di mana itu, Bang? Jauh nggak dari sini?""Knightsbridge terletak di jantung kota London yang modis, menggabungkan jalur Hyde Park yang dilalui kuda, kedutaan besar Belgravia, museum Kensington, dan kediaman seniman Chelsea. Saat ini, lingkungan itu dipenuhi dengan berbagai toko, restoran, townhouse bersejarah kelas dunia, dan merupakan rumah bagi dua properti Jumeirah . Di sana, kita juga bisa melihat sejarah Knightsbridge dan bagaimana ia bisa mempertahankan reputasi yang dimilikinya saat ini." Raid menjelaskan dengan sabar dan panjang lebar. "Nggak tahu ah, Bang. Nggak ngerti juga. Udahlah, Abang aja yang pergi. Nissa lagi mager," sahut Nissa kemudian dengan malas. Raid mengerutkan keningnya bingung. Beberapa hari ini entah kenapa Nissa memang berubah jadi pemalas. Tak seperti biasanya yang selalu antusias jika di ajak ke tempat baru. Apa mungkin Nissa sudah bosan tinggal di sini? Akan tetapi, mereka baru
*Happy Reading*"Mohon maaf, Ustad. Tapi ... kalau boleh tahu ... ada keperluan apa ya, Ustad ingin bertemu orang tua saya?" tanya Nissa akhirnya setelah beberapa saat terdiam. Bukan Nissa sok polos atau tidak mengerti maksud Ustad Darul menanyakan orang tuanya. Namun, Nissa hanya tak ingin terlalu p
*Happy Reading*Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. PCOS ditandai dengan gangguan menstruasi dan kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan.Hormon androgen yang berlebihan pada penderita PCOS da
*Happy Reading*Menanggapi ucapan Ustad Abdul, Raid tetap mencoba tenang. Meski tentu saja berbanding terbalik dengan kondisi hatinya. Ada gemuruh tak suka hadir tanpa bisa ia cegah. Bagaimana tidak? Pujaannya sendiri dilamar orang di depan hidungnya! Apa mungkin hatinya akan baik-baik saja? Jelas ti
*Happy Reading*"Sialan kau, Raid! Kenapa tak kau bunuh aku saja?! Aku tidak terima kau perlakukan seperti ini!" teriak seorang wanita dengan amarah yang tampak jelas di matanya.Raid menyeringai iblis, "Padahal aku baik loh, Anjani. Ingin mengobati lukamu," ucapnya tanpa dosa. Padahal, 'mengobati' ya







