Masuk"Pria itu siapapun dia? Aku yakin dia seorang yang ahli, orang yang sudab biasa bermain soalnya dia sangat paham lokasi CCTV dan cara mengelabuinya?" dahi Sean bertaut erat sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan jarinya. Jelas sudah jika CEO muda itu sedang berpikir sangat keras, merajut setiap kepingan teka-teki yang terasa begitu janggal."Kenapa Stella justru menumbalkan Maria?" gumam Sean lagi dengan nada dingin penuh keyakinan, tatapannya menerawang jauh. "Artinya Maria orang yang mudah di manipulasi dan Maria adalah orang dekat yang mungkin bisa kembali mendekat dengaku sengaja mengaburkan semuanya agar konsenku hilang. Lalu, kapan Stella berkomunikasi dengan pria itu? Si penyelamat? Apakah dia mantan agent? Sehingga pekerjaannya begitu rapi?"Ste, seberat itu ternyata hidup bersamaku? Aku benar-benar se bajingan itu, Ste. Beruntungnya aku dulu saat koma bisa bertemu denganmu. Dan itu artinya kita memang berjodoh, Ste. Kau adalah jodohku selamanya...."Di tengah lam
Dua hari kemudian, kesibukan senyap mulai terlihat di salah satu sudut kota. Nyonya Selvie Anderson dan Jessica bergerak cepat tanpa membuang waktu. Sesuai dengan rencana yang telah mereka matangkan, keduanya tidak menggunakan nama besar Anderson sama sekali agar tidak memicu kecurigaan sang kepala keluarga maupun membuat Stella merasa terancam.Sebagai gantinya, mereka mendirikan sebuah yayasan amal berskala mikro di atas kertas atas nama sahabat akrab Jessica seorang wanita bernama Manohara yang sengaja dipinjam identitas legalnya untuk mendaftarkan yayasan sosial tersebut. Yayasan yang dinamai Pertiwi Kasih Bunda itu bergerak murni di bidang kesehatan ibu dan anak, menyasar klinik-klinik bersalin kecil, posyandu terpencil, serta panti asuhan di berbagai daerah pinggiran.Di sebuah ruangan rapat minimalis yang disewa secara rahasia, Nyonya Selvie dan Jessica tampak sibuk menata berkas proposal dan jadwal blusukan pertama tim lapangan."Semua perizinan dan administrasi lainnya sudah
Langkah awal dari sebuah perburuan senyap telah resmi dimulai di balik dinding-dinding megah kediaman keluarga Anderson. Malam yang tadinya dipenuhi isak tangis penyesalan kini bergeser menjadi markas strategi penuh perhitungan matang.Di bawah pimpinan Sean, didukung tekad bulat Nyonya Selvie dan ide cemerlang Jessica, mereka menyusun strategi berlapis untuk menemukan Stella tanpa memicu kecurigaan sang kepala keluarga besar."Kita tidak boleh gegabah," ujar Sean sambil melipat kedua tangannya di atas meja kerja pribadinya, sorot matanya tajam menatap ibu dan adiknya. "Jika kita menggunakan yayasan atau instansi yang terlalu besar, informasi pergerakan kita pasti akan tercium oleh anak buah Papa nanti papa murka. Kita butuh sesuatu yang organik, kecil, dan murni bergerak atas nama kemanusiaan."Jessica mengangguk setuju. "Benar, Kak. Seperti yang kubilang tadi, kita dirikan sebuah yayasan amal berskala mikro yang sama sekali baru. Tanpa embel-embel Anderson, tanpa donatur korporat ra
Kata-kata Jessica bekerja bagaikan hantaman palu godam yang menghancurkan seluruh pertahanan rasional di kepala Sean. Dinding ketenangan yang selama ini ia bangun di hadapan publik dan keluarganya runtuh tanpa sisa dalam hitungan detik.Bayangan Stella tersenyum manis pada pria lain, bayangan tangan mungil Liam yang digandeng oleh lelaki asing, serta bayangan suara kecil putranya yang memanggil orang lain dengan sebutan 'Papa' mendadak berputar hebat di ingatannya. Keringat dingin bercucuran di pelipis sang CEO. Dadanya sesak luar biasa, seolah pasokan udara di dalam ruangan mewah itu mendadak diisap habis.Sean mundur dua langkah, mencengkeram tepi meja marmer di dekatnya dengan buku-buku jari yang memutih sempurna. Tubuhnya yang tinggi tegap bergetar hebat akibat kombinasi emosi antara cemburu membara, ketakutan mendalam, dan penyesalan yang membakar jiwa."Tidak... tidak boleh..." gumam Sean parau, suaranya serak dan hampir tak terdengar. Matanya yang memerah menatap kosong ke la
Suasana ruang keluarga kediaman utama keluarga Anderson masih diselimuti sisa-sisa isak tangis haru. Nyonya Selvie dan Jessica duduk berdampingan di sofa beludru merah, merumuskan rencana rahasia untuk berkeliling Indonesia dengan kedok bakti sosial tanpa membawa nama besar keluarga Anderson demi mencari Stella."Jadi fix ya, Ma? Kita gunakan jaringan arisan sosialita Mama untuk blusukan ke panti-panti asuhan dan pelosok daerah tanpa embel-embel Anderson," bisik Jessica penuh semangat, maniknya menyala oleh secercah harapan.Nyonya Selvie mengangguk mantap. "Mama setuju, Jes. Kita mulai susun jadwalnya besok pagi..."Suara pintu utama yang dibuka dengan kasar menghentikan kalimat Nyonya Selvie seketika. Langkah kaki tegas bernada dingin terdengar menggema di lorong marmer, mendekat ke arah ruang keluarga. Belum sempat ibu dan anak itu menoleh sepenuhnya, sosok Sean Anderson sudah berdiri di ambang pintu.Pria itu mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku, dasinya sed
Suasana di ruang keluarga kediaman utama keluarga Anderson yang megah mendadak terasa begitu haru dan hening. Pintu utama terbuka lebar, memperlihatkan sosok Jessica Anderson yang melangkah masuk dengan koper di tangannya. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum kini pucat, sembab, dan menyuratkan kepedihan mendalam setelah perjalanan panjang dari luar negeri.Nyonya besar Anderson yang sedang duduk di sofa utama langsung terperanjat bangkit dari duduknya. Namun bukannya wajah angkuh yang terlihat, raut wajah sang ibu kini justru penuh dengan beban penyesalan yang teramat berat. Sejak kebenaran tentang manipulasi licik Chelsea terbongkar, hidup Nyonya Anderson tak pernah tenang. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari sebelumnya."Jessica...? Kamu sudah pulang, Nak?" bisik sang ibu dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menatap putri bungsunya.Jessica berjalan mendekat, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping sang ibu. Tanpa kata-kata pembuka yang dingin, kedua wanita itu saling memanda







