Share

Julian

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-07-13 19:09:05

Sean tidak memberikan bantahan atas pernyataan Samuel. Pria itu hanya mengulas senyum tipis di bibirnya yang tampan, sebuah senyuman berwibawa yang penuh karisma, memancarkan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang mendalam.

“Sudahlah. Kita ke dalam,” kata Sean dengan nada suara bariton lembut—sangat berbeda dari intonasi dingin dan berjarak yang selalu ia gunakan saat berbicara dengan Stella. “Tidak baik bagi Chelsea berdiri terlalu lama.”

Stella baru tahu Sean bisa bicara selembut itu. Selama ini, Stella berpikir cara bicaranya yang dingin itu memang sudah menjadi kepribadiannya. Ternyata, sikapnya juga tergantung pada siapa dia berbicara.

Dari balik pilar marmer, Stella mengamati bagaimana jemari Sean yang kokoh memegang siku Chelsea dengan penuh hati-hati. Sikap protektif berkarisma dari pria tampan itu, sesuatu yang tidak pernah Stella dapatkan selama dua tahun menjalankan peran sebagai istri, kini diberikan sepenuhnya kepada wanita lain.

Pikiran Stella bekerja dengan sangat cepat. Berbagai hal yang selama ini membingungkan baginya kini mulai terurai secara jelas.

Dalam empat bulan terakhir, Sean sangat sering melakukan perjalanan bisnis ke kota Averton, sebuah kota pelabuhan modern yang Stella ketahui sebagai tempat tinggal Chelsea setelah kembali dari luar negeri.

Alasan mengenai rapat mendadak, negosiasi ekspansi, hingga penundaan penerbangan, semuanya kini terbukti sebagai kebohongan yang tersusun rapi.

‘Jadi, anak yang dikandung Chelsea adalah anakmu, Kak Sean?’ batin Stella.

Sebuah fakta yang sangat ironis. Sangat wajar jika Nyonya Anderson dan keluarga besar begitu menolak berita tentang kehamilannya. Sangat wajar pula jika Sean tidak heran ibunya meminta Stella menggugurkan kandungan jika ada janin di dalam rahimnya.

Bukan karena keluarga Anderson belum siap menyambut keturunan baru. Namun karena di mata mereka, hanya wanita dari latar belakang konglomerat seperti Chelsea yang layak melahirkan penerus nama besar keluarga.

Rahim Stella, yang mereka anggap hanya sebagai pelayan gratisan, tidak diberikan hak untuk menghadirkan seorang anak bagi keluarga tersebut.

Dada Stella sempat terasa sesak. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama. Binar matanya kembali mendingin. Tekanan yang diterimanya sejak semalam telah membentuk ketahanan mental yang tidak lagi mudah tergoyahkan.

‘Jika anak itu memang keturunanmu, itu bukan lagi urusanku,’ bisik Stella dalam hati. ‘Kalian memang pasangan yang serasi. Dan aku… akan benar-benar menyelesaikannya hari ini.’

Stella memutar tubuhnya membelakangi kerumunan tersebut, menolak untuk memperhatikan mereka lebih lama.

“Stella?”

Sebuah suara bernada rendah dan hangat menyapa pendengarannya. Stella mendongak dan mendapati Julian berdiri beberapa langkah di depannya dengan senyum ramah.

“Maaf membuatmu menunggu,” ujar Julian lembut. “Ayo, kita ke aula utama di lantai. Acara akan segera dimulai.”

“Acara?”

“Maaf, aku tidak jujur, sebenarnya selain berniat mengenalkan kamu ke investor, aku juga ingin kamu langsung tampil, agar mereka tahu bahwa kepala tim riset kita sehebat ini.”

“Tampil apa, Julian?”

“Nanti kamu akan tahu, ayo.”

Namun, pergerakan Stella dan Julian ternyata menarik perhatian seseorang di sudut atrium.

Leonel, yang secara tidak sengaja mengarahkan pandangannya ke arah tangga utama, mendadak menghentikan langkahnya. Matanya memicing.

“Sean, bukankah itu Stella?” tunjuk Leon heran.

Sean mengalihkan pandangannya. Alis tebalnya menyatu tajam saat mata elangnya menangkap keberadaan istrinya yang berdiri berdampingan dengan Julian.

Ekspresi Sean terlihat amat memikat saat dahinya berkerut sedikit, memancarkan kejengkelan yang amat dingin. Dia sangat mengenali Julian, CEO muda berprestasi dari Lian Farma. Namun, dia tidak memahami alasan Stella berada di tempat berkelas tersebut bersama pria seperti Julian.

Samuel menggeleng pelan dengan senyum tipis. “Ternyata kamu benar, Sean. Dia berusaha mati-matian untuk menarik perhatianmu.”

“Tindakan yang sangat mudah ditebak,” timpal Leon seraya memperhatikan dari kejauhan.

“Sengaja berjalan di area ini bersama pria lain agar kamu merasa cemburu.”

Chelsea, yang masih memegang lengan Sean, mempererat genggamannya pada kain jas mahal pria itu. Wajah cantiknya langsung menunjukkan ekspresi serba salah dengan pandangan yang tampak khawatir.

“Sean… apakah istrimu merasa tidak nyaman karena perhatian yang kamu berikan padaku?” bisik Chelsea dengan nada halus. “Aku jadi tidak enak dengannya… Apakah aku harus meminta maaf dan berlutut padanya, agar kalian tidak bertengkar?”

Sean menatap punggung Stella yang berjalan menjauh bersama Julian. Tatapannya mendingin, dihiasi keangkuhan seorang pria berkuasa yang memandang istrinya terlalu sepele.

“Abaikan saja,” jawab Sean dingin, datar, namun penuh karisma kepemimpinan. “Dia hanya ingin mencari perhatianku. Apa pun yang dia lakukan tidak akan berdampak padaku.”

Dengan ketenangan dan wibawa yang luar biasa, Sean mendampingi Chelsea bersama Samuel dan Leonel melangkah menuju ballroom utama tempat Annual Medical & Pharmacological Award diselenggarakan.

Ballroom Seasons Hotel dipenuhi oleh jajaran pebisnis kelas atas, akademisi ternama, serta perwakilan dari investor kesehatan internasional.

Sean dan rombongannya mengambil tempat di jajaran kursi VIP depan. Postur Sean yang tegap dan wajahnya yang tampan rupawan menarik perhatian banyak wanita di sekitarnya, mengingat Anderson Group merupakan salah satu investor utama dalam proyek konsorsium tersebut.

Beberapa kali Sean mengarahkan pandangannya yang tajam ke area VIP khusus undangan riset di sisi kiri. Di sana, Stella duduk dengan sangat tenang di samping Julian.

Wanita itu tampak sangat anggun, mendengarkan pemaparan pembuka dengan raut wajah cerdas dan berwibawa, sosok yang sangat berbeda dari Stella yang biasanya hanya menghabiskan waktu di dapur rumah mereka.

Setelah beberapa sambutan formal selesai dibacakan, pembawa acara melangkah ke tengah panggung, memegang mikrofon dengan raut penuh penghormatan.

“Hadirin yang terhormat,” suara pembawa acara mengudara tajam melalui pengeras suara.

“Penghargaan tertinggi malam ini diberikan kepada sosok yang secara mandiri telah mematenkan delapan formula obat penyakit langka dan menjadi pengarah utama di balik keberhasilan proyek medis Lian Farma…”

Sean menyandarkan punggungnya pada kursi dengan sikap yang teramat tenang dan teratur. Dalam pemikirannya, penerima penghargaan tersebut pastilah salah satu akademisi senior dari lembaga internasional yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.

“Mari kita sambut, Kepala Tim Riset Utama Konsorsium sekaligus Penasihat Ahli Lian Farma… Dr. Stella Syailendra!”

Tepuk tangan riuh seketika memecah keheningan ruangan. Cahaya spotlight putih yang terang benderang meluncur dari atap ballroom, mengunci tepat pada tubuh wanita berblazer putih gading tersebut.

Stella sedikit kebingungan, tapi Julian membisikinya.

“Pergilah ke atas panggung. Berdiri dengan tegak di sana. Ini adalah penghargaan yang sempat tertunda untukmu karena kau menikah dulu.”

Stella sedikit ragu, tapi anggukan Julian membuatnya bangkit dan melangkah ke atas panggung dengan senyum penuh percaya diri.

Sebelum menikah dan ketika masih menjadi dokter, Stella sebenarnya sudah bergabung dengan tim riset Lian Group. Melalui kerjanya di sana, dia berhasil menemukan beberapa formula baru di dunia medis.

Sayangnya, dia belum sempat melanjutkan proses karena sudah terlanjur menerima ajakan menikah Sean. Ia akhirnya mempercayakan penemuannya itu pada Lian Farmasi, melepaskan namanya sebagai penemu untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Sean.

Tapi, ternyata Julian diam-diam masih mencantumkan namanya di hak paten. Ia menyamarkannya di bawah naungan Lian Farmasi.

Dan saat ini, Stella dengan begitu cantik dan percaya diri berdiri di atas panggung yang megah itu dengan kepala tegak. Siapa yang menyangka, wanita yang selama dua tahun ini dianggap hanya sebagai sosok penurut yang tidak memiliki pengaruh, kini berdiri tegak di bawah kilatan cahaya kamera, menerima kembali kehormatan profesinya yang telah lama ditanggalkannya.

Di barisan kursi VIP depan, pegangan jemari berurat milik Sean pada gelas kristalnya mengeras seketika.

Sean terdiam sepenuhnya. Mata elangnya yang biasanya selalu memancarkan kendali penuh, kini menatap lurus ke depan dengan raut terkejut yang sangat mendalam, sebuah ekspresi yang membuat wajah tampannya justru terlihat semakin menawan dan bernyawa.

Di sampingnya, Samuel dan Leonel menatap tidak percaya, sementara Chelsea terkejut dengan wajah yang perlahan pucat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (68)
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
gmna Sean ? wanita yg kau anggap layknya smpah kini berdiri tegap di hadapan banyak psng mata melihat dan mengakui kehebatannya
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
baru segini aja udah syok dan pucat klian ,gmna klu klian tau sehebat apa stella apa nggak kejang" Klian ......makanya jngn suka menjudge orng hanya melihat covernya tanpa tau isi nya
goodnovel comment avatar
𝙽𝚊𝚟𝚎𝚍
𝚠𝚊𝚊𝚊𝚑𝚑 𝚑𝚎𝚋𝚊𝚝 𝚋𝚐𝚝 𝚔𝚊𝚞 𝚂𝚝𝚎𝚕𝚕𝚊, 𝚝𝚛𝚗𝚢𝚝𝚊 𝚙𝚊𝚜 𝚋𝚕𝚖 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚔𝚊𝚑 𝚍𝚐 𝚂𝚎𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚞 𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚓𝚍 𝚔𝚎𝚙𝚊𝚕𝚊 𝚛𝚒𝚜𝚎𝚝 𝚍𝚒 𝚙𝚎𝚛𝚞𝚜𝚊𝚑𝚊𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚛𝚖𝚊𝚜𝚒 𝚢𝚗𝚐 𝙹𝚞𝚕𝚒𝚊𝚗 𝚢𝚊. 𝚑𝚎𝚋𝚊𝚝 𝚒𝚗𝚒 𝚜𝚒 𝙹𝚞𝚕𝚒𝚊𝚗 𝚐𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚗𝚐 𝚗𝚊𝚖𝚊 𝚂𝚝𝚎𝚕𝚕𝚊
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Stella!

    "Bukan mengungkit, Ste. Itu fakta," kekeh Satria ringan di tengah guncangan mobil yang makin hebat. "Kalau dulu kamu tidak nekat mengoperasi bahuku yang kena tembak di klinik kecil itu tanpa melaporkannya ke dinas, mungkin aku sudah mati kehabisan darah atau dipecat."Stella menghembuskan napas panjang, sedikit terhibur oleh kenangan masa lalu itu. Namun, keheningan singkat itu mendadak pecah ketika raungan mesin di belakang mereka terdengar makin memekakkan telinga.Di atas udara, baling-baling helikopter hitam milik Anderson Group menciptakan pusaran angin kencang yang menerbangkan dedaunan kering. Dari kabin utama yang terbuka, Sean berdiri mencengkeram erat pegangan pintu. Wajah pria keturunan asing itu pucat pasi, kemeja mewahnya kusut, dan matanya yang memerah menatap lurus ke arah SUV hitam yang meliuk-liuk di jalanan perbukitan."Jangan terlalu rapat! Tahan posisi kalian!" bentak Sean histeris melalui saluran radio interkom kepada seluruh armada pengawalnya di bawah. Suaranya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pelarian

    "Perutmu aman, Ste?" tatapnya sambil memainkan persneling dengan kaki lincah pada pedal gas dan rem. Tangan pria berbadan tegap itu tampak sudah terlatih pada setir kemudi."Aman, Mas. Kamu fokus saja ke jalanan, Mas. Jangan sampai fokusmu terpecah," bisik Stella yang tampak sedikit tegang sambil memegangi perutnya."Wajah kamu tampak tegang banget, apa kita coba istirahat dulu di salah satu rumah warga?""Nanti terlacak lagi, Mas.""Emang sebelumnya kita yang salah, kita mengurusi semuanya dari ponsel di lokasi kita menginap. Aku gak nyangka Sean-mu itu bakalan seliar ini. Aku pikir dia gak akan ngejar, soalnya info yang aku dapatkan ada wanita lain di rumah itu," ucap pria itu dengan mata yang waspada. Kelincahannya mengemudi mengingatkan pada aksi di film Fast & Furious."Iya, Mas. Aku juga gak nyangka dia bakalan se-effort ini nyariin aku. Aku pikir dia bakalan cuek gitu," jawab Stella sambil menatap ke arah pria itu."Makanya itu, untungnya aku juga udah siapin beberapa plan. Nah

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pengepungan

    "Suara apa itu?"Gelas teh hangat yang dipegang Stella mendadak bergetar hebat hingga cairan manis di dalamnya terpercik mengenai jemari lenturnya. Wajah cantiknya seketika pucat pasi, matanya membelalak menatap langit-langit plafon rumah sewa yang bergetar seiring gemuruh angin kencang yang menghantam atap.Pria berjas kasual di hadapan Stella langsung berdiri sigap. Sorot matanya yang tenang mendadak berubah tajam dan penuh kewaspadaan. Ia menyibak sedikit tirai jendela, mengintip ke arah langit pagi yang kini tertutup bayangan hitam helikopter berlogo Anderson Group yang sedang bersiap mendarat di lapangan terbuka tak jauh dari tempat mereka."Sialan! Bagaimana bisa pria berengsek itu menemukan tempat ini sejauh dan secepat ini?!" umpat sang penyelamat seraya berbalik cepat, mencengkeram lembut kedua bahu Stella untuk menangkas rasa paniknya. "Stella, dengarkan aku. Sean sudah ada di sini. Kita harus pergi lewat pintu belakang sekarang juga!""T-tapi... bagaimana dengan papa?" bisi

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pinggiran Kota

    "Siapkan helikopter pribadi sekarang juga dan perketat radius penjagaan!" bentak Sean dengan suara serak yang memecah keheningan koridor utama Mansion Anderson.Pria itu melangkah lebar menembus pintu kaca besar, mengabaikan lengannya yang terbalut perban bersimbah darah segar. Deru mesin helikopter yang mendarat di helipad halaman belakang mansion menyambut penampilannya yang kacau. Rambutnya berantakan, kemeja mewahnya kusut, namun kilat mata merahnya memancarkan obsesi gila yang tak tergoyahkan."Sean, tunggu! Kamu tidak bisa bertindak gegabah seperti ini!" teriak Samuel seraya berlari menyusul dari belakang, berusaha mengimbangi langkah lebar sahabatnya. "Tim pengawal di rumah sakit baru saja mengonfirmasi bahwa permohonan pemindahan ayah Stella diajukan secara daring menggunakan identitas dan tanda tangan digital resmi milik Stella!"Langkah Sean terhenti mendadak. Pria itu berbalik cepat, mencengkeram kerah kemeja Samuel dengan satu tangan yang gemetar hebat."Apa katamu?! Tand

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Dosa

    Tak menungu wakatu lama, Sean langsung bangkit dan melangkah panjang menuju lantai bawah mencari ibunya dengan mata memerah dan nafas tak teratur.“Mama!!” Teriak Sean menggelegar memenuhi seisi ruangan.“Mamaaa!! Mama dimana?!!” Teriaknya lagi mencari ibunya berjalan mondar mandir, sampai dia menemukan ibunya di dalam kamar dan keluar.“Ada apa, Sean?” Tanya ibunya dengan suara parau sambil berjalan dan duduk di sofa menatap anaknya."Mama sadar apa yang udah Mama lakukan?!"Teriakan menggelegar Sean memecah keheningan ruang keluarga utama Mansion Anderson. Pria itu berdiri bagai iblis yang bangkit dari neraka, melemparkan ponsel pintar milik Stella ke atas meja kaca hingga berdering nyaring dan retak di permukaannya.Nyonya Anderson yang duduk terpekur di sofa mewah tersentak hebat. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, matanya sembap dipenuhi penyesalan mendalam. Sejak kebenaran terungkap bahwa Stella adalah sosok penolong nyawa Sean di masa lalu, Nyonya Anderson tak pernah bisa

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Diary

    "Stella... keluar, Sayang... Aku tahu kamu cuma sembunyi," racau Sean dengan suara parau yang menyayat hati.Pria itu bertekuk lutut di samping ranjang, mencengkeram sprei sutra yang dingin dan sepi di dalam kamar lantai tiga Mansion Anderson. Kemeja mewahnya kusut berantakan, dan perban di tangan kanannya telah mengering dipenuhi noda darah kehitaman. Pria yang biasanya memancarkan dominasi mutlak itu kini tampak hancur, meraba-raba sisi tempat tidur yang biasa diduduki istrinya tanpa arah.Tidak ada jawaban. Tidak ada aroma harum melati. Hanya keheningan mencekam yang menyapa indranya.BUGH!Sean menghantamkan kepalannya ke atas kasur dengan penyesalan membakar dada. Binar obsesi gila dan keputusasaan menyatu di dalam matanya yang merah menyala akibat tidak tidur semalaman."Aku tahu aku salah... tapi jangan siksa aku begini, Stella!" raung Sean menengadahkan kepalanya yang terasa mau pecah, menatap langit-langit kamar yang hampa.Tok, tok, tok."Sean," panggil Samuel yang melangkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status