Share

Couple

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-09-05 19:44:00

"Jangan, Ca!" potong Nyonya Anderson cepat, menahan bahu Clarissa dan menatapnya tajam dengan binar kepanikan yang tersembunyi manis di balik wajah ibunya yang lembut. "Papamu itu sedang mengurus bisnis di luar negeri. Kalau kita adukan sekarang tanpa bukti yang cukup padat, Sean pasti bisa dengan mudah mengarang cerita buat membela Stella."

Chelsea melangkah mendekat, duduk di sisi lain kasur seraya membelai rambut Clarissa dengan penuh simpati yang dibuat-buat. "Benar kata Mama, Ca. Papamu it
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (26)
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
Sean banr" egois dan slalunya mau menang sndri Tampa mau mendengar keluhan stella
goodnovel comment avatar
Sri Yati
jadi takut dengan emosi Clarissa.. abg memang labil..
goodnovel comment avatar
Sri Yati
sudahlah stella , susah ngomong sama orang yang lagi on gitu. lebih baik nikmati saja ML dengan sean
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Parah

    Pagi berganti siang, tetapi kehangatan di pekarangan klinik Pedalaman Aldenia Barat itu seakan tak luntur terkikis sang surya. Kapten Irvan dan Iptu Nathan akhirnya pamit undur diri untuk kembali ke markas masing-masing setelah memastikan situasi keamanan di sekitar wilayah perbatasan sungai aman terkendali.Sebelum beranjak, Nathan sempat menepuk bahu Satria pelan seraya berbisik, "Jaga dia baik-baik, Sat. Senyum wanita itu mahal harganya, jangan sampai ada air mata lagi yang jatuh di tanah Aldenia ini."“Siap bapak Kapolsek!” Canda Satria, melepas keberangkatan dua perwira sahabatnya itu hingga bayangan tubuh tegap mereka menghilang di balik rimbunnya pepohonan jalan setapak.Begitu ua perwira itu menjauh, Satria mengalihkan pandangannya ke dalam klinik. Antrean warga desa yang berkunjung sejak pagi kini mulai terlihat. Stella terlihat sedang mengemas beberapa sisa perban, merapikan stetoskop, dan mengelap meja kayunya dengan kain bersih. Senyum tak pernah lepas dari wajah cantiknya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kunjungan

    pagi itu, Stella sedikit terlambat bangun, tapi Satria sudah menyiapkan sarapan, sampai dirinya merasa terkejut dan tak enak hati."Mas, kok jadi kamu yang masak? Astaga maaf aku telat bangun...""Udah, nyantai aja lagi. Aku udah biasa dulu waktu di dinas jauh..." jawabnya santai sambil mengangkat nasi goreng ke atas meja. "Konon katanya ini nasi goreng terenak se angkatan. Coba deh sini..." "Oh, ya?" Stella mulai luwes dan terlihat jauh lebih segar."Iya. Ini tuh andalan banget dulu, sini deh..." ajaknya sambil duduk."Aku mandi dulu deh, Mas. Takutnya lagi santai-santai ada pasien lagi..."sahut Stella."Oke, pelan-pelan, ya, kamar mandi nya belum sempet ganti keramik, soalnya gak tekejar waktu nya kemarin...""Aman, Mas." Stella berjalan ke kamar mandi, sedangkan perwira polisi itu tampak membereskan rumah sampai suara langkah kaki dengan tawa yang sangat dia kenal mendekat. Iptu Satria melepaskan celemek dan langsung menyambut kedua tamu yang memang senagaja dia undang."Akhirnya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Lahiran

    Tepat pukul sepuluh malam, dentang lonceng besi di balai desa bergema tiga kali, disusul suara mendengung halus dari gardu umum yang perlahan mati. Dalam hitungan detik, seluruh penerangan di sudut-sudut desa padam total. Kegelapan pekat yang dingin membungkus pemukiman kayu di kaki gunung tersebut, menyisakan kerlip bintang di langit malam dan cahaya remang rembulan yang menembus sela-sela pepohonan rindang.Di dalam rumah kayu, Stella yang sedang merapikan beberapa botol vitamin di ruang praktik mendadak menghentikan gerakannya. Ruangan yang tadinya terang oleh dua bohlam redup kini berubah gelap gulita. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut-sahutan dan deru lembut aliran sungai dari kejauhan."Stella? Jangan panik, ini aku. Kamu harus membiasakan diri juga di situasi kaya gini sendirian nantinya..." Suara berat dan tenang milik Satria terdengar dari arah teras, disusul langkah kaki yang teratur mendekati pintu depan. Tak lama kemudian, berpendar cahaya kuning hangat dari lentera

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Grand Opening

    "Beri waktu dua minggu. Kalau dalam dua minggu Sean masih seperti mayat hidup begitu, kita sendiri yang bakal turun tangan ambil alih pencarian ini, Bro."Suara berat Leonel memecah keheningan kafe eksklusif di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Pria itu menyesap espresso-nya santai, menatap Samuel yang duduk di hadapannya dengan wajah lelah dan lingkaran hitam tebal di bawah mata. Di luar jendela, hujan gerimis mengguyur jalanan ibu kota yang mulai senggang."Nenek sudah tanda tangan surat kontrak kerja sama khusus buat kita berdua, Leon," ujar Samuel seraya menggeser map kulit hitam ke atas meja. "Kita dikasih wewenang penuh buat mengawasi semua pergerakan Sean, sekalian menyaring informasi apa pun dari tim detektif swasta Swiss itu. Nenek jujur trauma, takut Sean bertindak bodoh lagi seperti di awal yang mau bunuh diri, itu bakalan bikin hancur nama Anderson Group."Leonel membuka map tersebut, memindai lembaran dokumen dengan tatapan tenang namun terukur. "Trus, gimana sama Julia

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kabar

    "Introspeksi diri? Di saat istri dan calon anakku dibawa kabur oleh pria lain?!"Suara berat Sean terdengar bergetar menahan ledakan amarah yang luar biasa di dalam ruang VIP Anderson Hospital. Napasnya memburu, matanya merah menyala menatap sang nenek yang duduk kokoh di kursi roda. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, melangkah maju-mundur di atas lantai marmer yang dingin."Aku memperlakukannya dengan cara terbaik yang kubisa, Nek! Aku memberinya segalanya! Nama keluarga Anderson, kemewahan, perlindungan…”"Perlindungan atau kurungan, Sean?!" potong Nyonya Besar dengan bentakan tegas yang menggema di seluruh ruangan. Sang matriarch menatap cucu kesayangannya itu tanpa gentar sedikit pun. "Kamu mengurungnya seperti burung dalam sangkar emas! Kamu mencurigai setiap langkahnya, mengawasinya seperti pergerakannya, bahkan tidak membiarkannya bernapas lega! Apakah itu yang kamu sebut sebagai perlindungan?!"Sean bungkam. Bibirnya terkunci rapat, namun dadanya naik turun meluapkan kek

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Nenek

    “Sudah lama kita tidak menyelidiki tentang transaksi ilegal di pelabuhan dan bandara.” Suara bariton Iptu Satria Wardhana Danubaya tanpa memperlihatkan kepentingan pribadinya. “Jika ada pergerakan mencurigakan tanpa barang bukti, wajib selidiki dan pantau ketat.”“Siap, Ndan!”“Kalau perlu minta devisi IT kerja sama.”“Siap, Komandan.”Langkah catur yang dimainkan oleh keluarga Anderson sudah diperhitungkan oleh Satria sejak awal. Ketika pihak Anderson memilih jalur detektif swasta internasional dan mengabaikan laporan resmi kepolisian, Satria tidak panik. Sebagai perwira intelijen yang berdedikasi melatih keahliannya bertahun-tahun, ia tahu persis bahwa kekuatan sejati seorang pemburu terletak pada ketenangan saat mangsanya mulai bertindak gegabah.Satria menyesap kopi hitam dingin di atas mejanya, menatap berkas rekapitulasi data lalu lintas udara. Kehadiran tim detektif swasta asal Swiss di dasar jurang memang sempat memberi secercah harapan palsu bagi Sean, namun di situlah letak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status