Share

Kakek?

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-11-04 10:45:15

"Kalau kau mau membuka butik atau klinik kecantikan, atau bisnis apapun itu, aku siap mendukungmu. Atau, kau mau kembali praktek sebagai dokter. Aku memberimu waktu beraktivitas di luar di jam kami juga di luar. Terserah apapun itu kegiatanmu selama positif aku akan mendukung," tegas Sean membuat Stella menelan ludahnya.

Ia mengalihkan pandangan sejenak, meresapi setiap baris kalimat yang diucapkan suaminya. Dukungan itu terdengar teramat tulus, kontras dengan perlakuan posesif yang pernah ia t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
roso wulan
semoga saja kakek mu lekas sadar Liam dan bisa mengajak kamu bermain
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Trik

    Ruang kerja Sean yang temaram hanya diterangi oleh pantulan cahaya dari layar komputer jinjing di atas meja mahoni. Pria itu menempelkan ponsel pintar di telinganya dengan erat, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan ritme lambat yang menandakan ia sedang berpikir keras menyusun kepingan teka-teki masa lalu.Di seberang sana, sambungan telepon dengan Samuel masih terhubung dengan baik, menemani malam yang semakin larut."Kamu ingat gaya Julian ketika Stella hilang dan dia datang padaku ketika aku sedang di rumah sakit?" tanya Sean membuka percakapan dengan nada suara yang begitu serius dan sarat akan selidik.Samuel mendengus pelan di ujung telepon, mencoba mengingat-ingat kembali kejadian menegangkan beberapa tahun silam. "Ya. Dia histeris seperti kehilangan sosok yang sangat berharga," jawab Samuel mengenang kepanikan Julian saat itu."Ya, betul sekali," timpal Sean cepat, matanya menyipit tajam dalam kegelapan ruang kerjanya.Samuel terdiam sejenak, lalu me

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Analisa

    Suasana di dalam mobil mewah bernuansa serba hitam itu terasa hening dan canggung. Sinar lampu jalanan malam Jakarta bersahut-sahut memantul di kaca jendela, menerangi rahang Sean yang masih mengetat. Tangan pria itu mencengkeram lingkar kemudi dengan erat, mencoba mengendalikan sisa-sisa amarah yang memuncak pasca bentrok dengan Julian di jamuan makan malam tadi.Sean menghentikan mobilnya di balik lampu merah. Pria itu menghela napas panjang, lalu memiringkan duduknya menghadap Stella yang berada di kursi penumpang. Sorot matanya yang semula tajam mendadak melunak, dipenuhi rasa penyesalan mendalam. Ia meraih jemari dingin istrinya, menggenggamnya penuh kehati-hatian."Maaf ya, Sayang. Aku tadi lepas kendali dan sedikit tidak bisa mengontrol emosiku melihat orang di masa lalumu," ucap Sean parau, menatap manik mata Stella yang bening.Stella mengalihkan pandangannya dari balik jendela menuju wajah suaminya. Raut kaku di wajah cantiknya mengendur tipis, menyuarakan pemahaman. "Aku pa

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Julian

    "Stella, benarkah itu kamu?"Langkah tegap Julian mendadak terhenti begitu jarak di antara mereka terpangkas. Matanya menatap sosok di hadapannya dengan binar tak percaya, seolah ia sedang bermimpi di tengah keramaian ballroom mewah tersebut. Seketika itu juga, Sean menoleh dengan tatapan tajam bagai elang, dan tanpa ragu langsung merangkul pinggang istrinya posesif, menarik tubuh Stella agar berdiri lebih rapat ke sisi tubuhnya, seolah memagari wanita itu dari jangkauan siapa pun."Julian? Kamu di sini juga?" sapa Stella pura-pura ramah. Nada suaranya terdengar kaku, sementara senyuman di bibirnya terasa dipaksakan untuk menutupi kecanggungan luar biasa yang mendadak melanda dadanya. Jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari normal, mencemaskan bagaimana reaksi suaminya yang terkenal protektif jika berhadapan langsung dengan pria dari masa lalunya."Ste, kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tak pernah menghubungiku?" desak Julian dengan nada penuh emosi, sepenuhnya mengabaikan ke

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Lian Group

    Keesokan paginya, suasana di lantai atas mansion Anderson terasa hidup. Liam sudah siap dengan seragam sekolah barunya yang rapi, mengenakan ransel kecil di punggung dengan mata berbinar penuh semangat. Di sisi lain, Sean tampak sangat karismatik dalam balutan setelan jas formal, siap untuk kembali memimpin perusahaan keluarga setelah sekian lama vakum."Mama, Liam berangkat sekolah dulu ya!" pamit Liam riang sambil mencium punggung tangan Stella yang mengantar mereka sampai ke teras depan."Iya, Sayang. Belajar yang rajin, jangan nakal, dan selalu dengar kata pengasuh," pesan Stella dengan nada lembut, mengusap puncak kepala putranya penuh kasih.Sean yang berdiri di samping Liam turut menunduk, mengecup singkat kening istrinya. "Aku berangkat ke kantor ya, Sayang. Jaga dirimu kalau ada apa-apa kabari aku cepat. Nanti malam aku pastikan pulang tepat waktu," bisik Sean hangat.Stella mengangguk kaku. "Hmm, hati-hati di jalan."Setelah mengantar Liam ke sekolah barunya yang memiliki fa

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kakek?

    "Kalau kau mau membuka butik atau klinik kecantikan, atau bisnis apapun itu, aku siap mendukungmu. Atau, kau mau kembali praktek sebagai dokter. Aku memberimu waktu beraktivitas di luar di jam kami juga di luar. Terserah apapun itu kegiatanmu selama positif aku akan mendukung," tegas Sean membuat Stella menelan ludahnya.Ia mengalihkan pandangan sejenak, meresapi setiap baris kalimat yang diucapkan suaminya. Dukungan itu terdengar teramat tulus, kontras dengan perlakuan posesif yang pernah ia terima di masa lalu."Aku akan memikirkannya nanti. Tapi, terima kasih atas dukunganmu," sahut Stella perlahan, membatasi emosi yang berkecamuk di dalam dadanya."Kali ini aku ingin kau nyaman di sini sebagai nyonya Sean Anderson. Dan aku berencana akan membuat syukuran kecil-kecilan atas kepulanganmu dan Liam. Teman-temanku yang ikut mencarimu sangat ingin bertemu denganmu," tegas Sean lagi dengan sorot mata penuh determinasi dan kehangatan.Stella menghela napas panjang. Pikirannya melayang pad

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Izin Kerja

    Pagi itu di mansion mewah Anderson yang disiapkan khusus oleh Sean untuk keluarga kecilnya, suasana terasa tenang dan hangat. Sinar matahari keemasan menyeruak masuk melalui celah jendela tinggi berukir indah, memantul elegan di atas lantai marmer yang bersih.Sean baru saja selesai mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dua kancing atas yang terbiar terbuka, memberikan kesan lebih rileks. Pria itu berdiri diam di tepi ranjang, memperhatikan Stella yang baru saja melangkah masuk setelah merapikan pakaian Liam di kamar sebelah."Stella..." panggil Sean lembut, suaranya terdengar amat berhati-hati seolah takut memecah ketenangan pagi itu. "Bisakah aku minta waktumu sebentar? Ada hal penting yang ingin kubahas."Stella menghentikan langkahnya di dekat meja rias. Ia menatap suaminya dengan ekspresi datar namun sarat bertanya, sambil merapikan gaun rumahan yang dikenakannya. "Soal apa, Sean?" tanyanya kaku, memasang benteng pertahanan diri yang menjadi ciri khasnya.Sean menarik nap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status