Share

Pamit

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-09-18 21:31:27

Syahnaz mengangguk patuh tanpa banyak bertanya, meski rasa cemas masih terpancar samar di matanya. "Baik, Nyonya Muda. Saya akan berjaga tepat di depan pintu bersama para pengawal."

Stella menatap pintu kayu jati tebal bertuliskan nomor VIP 01 di hadapannya. Sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, ia memutar tubuhnya perlahan, menyapu jajaran pengawal tegap bersetelan jas hitam yang berdiri kaku di sepanjang lorong steril rumah sakit. Tatapan mata Stella yang begitu dingin, tajam, dan merenda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Tina Tinul
kirain perginya kamu sama ayah kamu barengan Ste
goodnovel comment avatar
Tina Tinul
lah masa kaburnya sendiri dulu baru nanti di jemput ayahmu Stella nanti kalau Sean menggila terus ayah kamu diapa-apain atau ayah kamu disandra sama Sean gimana
goodnovel comment avatar
ganispgr57
semoga aja ya Stella semua rencana mu harus berjalan dengan lancar, pokoknya kamu harus bahagia Stella untuk kali ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kehangatan Terakhir Malam Ini

    Kecupan hangat bibir Sean yang menempel pada dahi sang istri terus turun ke mata dan ke pipi.“I love you, Sayang…”bisik Sean, kalimat yang bahkan hampir tak pernah dia ucapakan selama pernikahan mereka, dan saat itu seketika jantung Stella kembali berdesir lembut, walau bagaimanapun Sean adalah cinta pertamanya.“Sshhh…Sean…” desis Stella ketika jemari tangan Sean mulai berselancar melepaskan gaun Stella dan pengait bra yang dikenakan Stella, seketika tersembul kedua gunung kembar Stella yang terlihat mengencang dan menantang. Tak menunggu lama, bibir Sean sudah mendarat ke atasnya, lidahnya bermain pada putig payudara milik sang istri dengan satu tangan lagi meremas sebelanya.“Ahhh! Stella…nikmat sekali sayangg…milikmu masih sangat kencang sekali…” bisik Sean sambil memainkan lidahnya, matanya menatap lurus ke arah sang istri yang tampak menengadahkan wajahnya ke atas.“Ngghh…Sean…puaskan aku malam ini…” bisik Stella dengan kedua tangan meremas kepala sang suami yang masih menikma

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Hanya Kamu

    Keheningan di kamar utama terasa begitu menekan. Sean memegang kedua bahu Stella, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan binar memohon yang amat dalam."Tolong jadilah Stella yang dulu, yang selalu menurut padaku. Aku hanya ingin itu darimu, aku tak menuntut lebih, Stella," bisik Sean, merendahkan intonasi suaranya hingga terdengar amat parau.Stella menghela napas panjang, mencoba mengimbangi drama yang sedang dimainkan suaminya. Menguras emosi saat ini hanya akan merusak rencana besarnya lusa nanti."Baiklah, Sean. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan," sahut Stella tenang, mengulas senyum tipis yang sengaja dibuat sesempurna mungkin.”Tpi tidak denganku…” imbuhnya dalam hati.Sean menatap istrinya sejenak dengan raut tak percaya. Ia sempat menduga akan menghadapi penolakan keras atau amukan heboh malam ini, namun perubahan sikap Stella yang mendadak melunak dan penurut membuat sudut hatinya dipenuhi pendar kelegaan yang luar biasa.Tanpa membuang waktu, Sean merengk

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pelayanan Terakhir

    "Nyonya Muda, bekal ini mau saya taruh di mana?" tanya Syahnaz pelan sewaktu mereka berdua melangkahkan kaki menyusuri lorong lantai tiga menuju kamar utama.Stella menghentikan langkahnya sebentar di depan pintu kayu tebal kamar mereka. Ia melirik kotak bekal eksklusif yang dibawanya bolak-balik sejak siang tadi, lalu menggeleng pelan."Buang saja ke tempat sampah bawah, Syahnaz," sahut Stella datar tanpa ekspresi. "Lagian, dari tadi aku nyuruh buang kenapa malah di bawa ke rumah?!”"Tapi Nyonya, ini kan masakan untuk...""Lakukan saja yang aku perintahkan," potong Stella halus namun tak tertahan. "Dan setelah ini kamu bisa istirahat.""Baik, Nyonya Muda."Syahnaz membungkuk pamit seraya membawa pergi kotak bekal dingin itu. Stella menarik napas panjang, memutar gagang pintu kamar dengan niat ingin segera berbaring melepas lelah di atas kasur. Tubuhnya terasa begitu berat, bukan cuma karena kehamilannya yang kian membesar, tapi juga rasa lelah membatin menanggung semua sandiwara ini.

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pamit

    Syahnaz mengangguk patuh tanpa banyak bertanya, meski rasa cemas masih terpancar samar di matanya. "Baik, Nyonya Muda. Saya akan berjaga tepat di depan pintu bersama para pengawal."Stella menatap pintu kayu jati tebal bertuliskan nomor VIP 01 di hadapannya. Sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, ia memutar tubuhnya perlahan, menyapu jajaran pengawal tegap bersetelan jas hitam yang berdiri kaku di sepanjang lorong steril rumah sakit. Tatapan mata Stella yang begitu dingin, tajam, dan merendahkan membuat dua pengawal yang semula berniat melangkah mendekat langsung membeku di tempat."Kalian tetap berdiri di lorong ini," tegas Stella dengan nada tinggi yang mengintimidasi, menekankan otoritasnya tanpa celah. "Ini ruang perawatan intensif Papaku, bukan markas keamanan atau area patroli kalian. Syahnaz ada di luar untuk menungguku, jadi tidak ada alasan sedikit pun bagi kalian untuk ikut campur atau mencoba melangkah masuk ke dalam."Pengawal tegap yang memimpin rombongan menunduk kaku

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Rumah Sakit

    Langkah kaki Stella bergema dingin di sepanjang lorong marmer lantai eksekutif. Langkahnya tegas dan terukur, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan pasca mendapati kenyataan pahit di kantor suaminya. Saat pintu lift khusus berdenting dan terbuka, Stella langsung melangkah masuk, disusul oleh Syahnaz yang sibuk menundukkan kepala seraya memeluk kotak bekal.Di dalam ruang lift yang berdinding cermin mengilat, Stella menatap bayangan dirinya sendiri. Tidak ada lagi raut wajah ratapan atau sudut mata yang membasah. Yang tersisa hanyalah tatapan sehitam jelaga, dingin dan penuh tekad yang mengeras. Kecewa yang berulang telah menempa jiwanya menjadi besi baja."Nyonya Muda..." panggil pengawal pribadi yang bertugas memimpin rombongan begitu mereka keluar dari pintu lift di area lobby utama. Pria berbadan tegap itu membungkuk pelan dengan raut wajah penuh tanya. "Apakah kita langsung kembali ke mansion?"Stella menghentikan langkahnya tepat di tengah lobby. Ia memutar tubuhnya perlahan, me

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pasrah

    Iring-iringan mobil sedan hitam berkaca gelap meluncur membelah padatnya lalu lintas pusat kota. Stella duduk tenang di kursi belakang, menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk seraya menatap ke luar jendela. Di sampingnya, Syahnaz memangku kotak bekal eksklusif buatan Fiona dengan sikap serba canggung."Nyonya Muda, apakah tidak apa-apa kalau Tuan Sean nantinya marah karena kita menggunakan namanya di hadapan Nyonya Besar?" bisik Syahnaz lirih, tak mampu menyembunyikan getaran cemas di suaranya.Stella menyunggingkan senyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari deretan gedung bertingkat. "Biarkan saja. Kalaupun Sean murka, dia tidak akan melimpahkannya padamu atau para pengawal. Dia hanya akan menganggap aku sedang bertindak kekanak-kanakan karena terbakar cemburu."Mobil akhirnya berbelok memasuki pelataran megah Anderson Group, sebuah pencakar langit berlantai lima puluh yang menjadi simbol kekuasaan mutlak keluarga Anderson. Begitu kendaraan berhenti tepat di depan l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status