LOGINGema tepuk tangan riuh masih terdengar di dalam ballroom Seasons Hotel saat Stella menuruni anak tangga panggung utama. Plakat kristal dan piala penghargaan bernuansa emas berada dalam pelukannya. Fokus seluruh isi ruangan masih tertuju pada sosok wanita yang baru saja dinobatkan sebagai peneliti terbaik tahun ini.
Julian yang menunggunya di bawah panggung menyambut Stella dengan raut bangga. Tanpa membuang waktu, Julian membimbing Stella menuju jajaran tamu VIP di sisi kanan ballroom, tempat para petinggi industri medis dan investor internasional berkumpul. “Kamu memang sangat mengagumkan, Stella,” bisik Julian rendah dengan senyum tipis. “Mari, beberapa pimpinan konsorsium internasional ingin mendiskusikan implementasi paten formulamu secara langsung.” “Julian, aku tidak menyangka, kamu masih mencantumkan namaku di sana. Aku bahkan sudah melupakannya.” Bisik Stella dengan mata berkaca-kaca terharu. “Tentu, itu adalah hasil kerja kerasmu. Dan kamu berhak mendapatkan tepuk tangan semeriah tadi, Stella.” ”Terima kasih, Julian. Kamu membuatku tersadar lagi,” sahut Stella tenang, menjaga ritme napasnya agar tetap stabil. ”Menyadarkanmu?” Julian menautkan dahi, tapi dia tak bisa melanjutkan, karena dalam hitungan detik, Stella telah dikerumuni oleh jajaran pebisnis kelas dunia. Suasana di sekitar mereka diisi oleh diskusi teknis tingkat tinggi. Stella merespons setiap pertanyaan dengan artikulasi yang sangat tertata, memperlihatkan kecerdasan intelektual yang selama dua tahun ini tersembunyi di balik rutinitas rumah tangganya. Kemampuan komunikasinya yang sangat luwes memancarkan pesona seorang profesional sejati, membuat para mitra investor berkali-kali mengangguk kagum. Sementara itu, suara pembawa acara kembali terdengar melalui pengeras suara ballroom, mengalihkan perhatian publik untuk agenda berikutnya. “Selanjutnya, mari kita sambut perwakilan dari investor utama Konsorsium Pengembangan Farmasi Terpadu, Chief Executive Officer dari Anderson Group, Tuan Sean Anderson, untuk memberikan sambutan resmi!” Dari barisan kursi VIP terdepan, Chelsea berdiri dengan anggun. Dengan gerakan yang teratur, ia menggandeng lengan Sean, mendampinginya hingga ke batas tangga panggung. Jemari Chelsea sesekali mengusap bagian perut bawahnya, sebuah gestur terselubung untuk menunjukkan kehamilannya kepada publik. Keharmonisan yang ditunjukkan di hadapan banyak pasang mata itu seketika memicu diskusi pelan di antara para tamu undangan. “Bukankah Tuan Anderson tampak sangat protektif terhadap wanita di sampingnya?” bisik seorang undangan kepada rekannya. “Benar, mereka terlihat sangat serasi. Nona Chelsea berasal dari keluarga pengusaha, bukan? Melihat caranya memegang perut, sepertinya ia sedang mengandung,” timpal rekannya. “Tuan Anderson kan memang sangat tertutup soal kehidupan pribadinya. Ternyata istrinya cantik sekali dan sedang hamil muda.” “Pantas saja dia menyembunyikan istrinya dari media selama ini, ternyata menjaga wanita seanggun itu!” Komentar-komentar salah kaprah itu mengalir begitu saja di antara para undangan yang tidak mengetahui fakta sebenarnya. Sean sama sekali tidak berniat untuk memberikan klarifikasi. Pria itu menepuk pelan punggung tangan Chelsea dengan jemarinya yang hangat sebelum melangkah naik ke panggung. Namun, Stella tidak memiliki minat untuk mendengarkan pidato tersebut. Saat Sean memegang mikrofon di atas panggung dan mengedarkan pandangan matanya yang tajam ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaannya, Stella justru memutar tubuhnya. Tanpa ragu, dia melangkah keluar dari ballroom megah tersebut, meninggalkan atmosfer yang dipenuhi oleh kebohongan pria yang masih berstatus sebagai suaminya. Ponsel di dalam tas genggam Stella bergetar halus. Sebuah nama tertera di layar. Stella segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya saat melintasi koridor sunyi menuju area lobi bawah hotel. “Selamat malam, Pak Adnan,” sapa Stella tenang. “Selamat malam, Stella,” suara mantap sang pengacara senior terdengar dari seberang garis. “Saya sudah berada di area lounge lantai dasar Seasons Hotel. Seluruh berkas gugatan perceraian telah siap.” “Baik, Pak. Saya menuju ke bawah sekarang.” Lima menit kemudian, Stella telah duduk di sebuah ruang privat di sudut lounge yang tenang. Di hadapannya, Pak Adnan menyerahkan sebuah map tebal berwarna cokelat tua. Di dalamnya, tertata dokumen-dokumen resmi yang mencantumkan gugatan perceraian atas nama Stella Syailendra terhadap Sean Anderson. “Seluruh poin tuntutan telah disesuaikan,” jelas Pak Adnan secara profesional seraya menyerahkan sebuah pulpen. “Semua akan mudah, karena kamu tidak mengajukan tuntutan harta gono-gini dari Anderson Group. Begitu dokumen ini ditandatangani oleh Anda dan Tuan Sean, saya dapat segera mendaftarkannya ke pengadilan.” Stella menatap lembaran kertas putih itu sejenak. Tidak ada keraguan atau getaran di jemarinya. Dengan gerakan mantap dan tegas, ia membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Tanda tangan itu menjadi pernyataan resminya untuk mengakhiri ikatan pernikahan yang selama dua tahun ini menyiksanya. “Begitu Sean tanda tangan, saya ingin proses secepat mungkin,” ujar Stella halus, menyerahkan kembali pulpen tersebut. “Tentu. Jika Tuan Sean bersedia tanda tangan, proses perceraian ini akan selesai dalam waktu singkat,” tegas Pak Adnan seraya merapikan berkas tersebut. Tepat saat berkas disimpan, ponsel Stella di atas meja kembali bergetar. Layar ponsel menyala terang, memunculkan nama Sean. Stella menatap layar yang berkedip itu dengan pandangan dingin. Dia memberikan isyarat sopan kepada Pak Adnan untuk menunggu sejenak, lalu mengangkat panggilan tersebut. “Halo?” suara Stella mengalir datar. “Di mana?” Suara Sean terdengar dari seberang telepon. Nada suara bariton yang dingin, berat, dan memancarkan wibawa yang menekan, sebuah intonasi maskulin yang memperlihatkan kejengkelan yang tersaring dengan amat teratur. “Aku bertanya di mana posisimu, Stella,” ujar Sean lagi, menahan emosinya agar tetap berada di bawah kendali aura tampannya. “Apa maksudmu datang ke acara ini tanpa konfirmasi? Kapan kamu mau bersikap dewasa?” Stella tidak terintimidasi oleh nada tegas pria itu. Tatapannya tetap tertuju pada map dokumen perceraian di tangan pengacaranya. Senyum tipis yang dingin terulas di bibirnya. “Justru aku sedang bersikap dewasa, Kak Sean.” sahut Stella pelan namun penuh penekanan. “Hentikan omong kosong ini, Stella. Temui aku di lobi.” perintah Sean tajam dan dingin. “Kita bahas di rumah.” “Tidak perlu,” sela Stella cepat, memotong ucapan Sean dengan ketegasan yang belum pernah pria itu dengar sebelumnya. “Kebetulan aku juga ingin menemuimu.” Stella menarik napas panjang, memantapkan keputusannya. “Aku menunggu di lounge lantai dasar. Datanglah sendiri, karena ada dokumen penting yang harus kamu tanda tangani.” Sebelum Sean sempat membalas, Stella langsung mengakhiri sambungan telepon tersebut secara sepihak. Ia membalikkan ponselnya di atas meja, lalu menatap pengacaranya dengan pandangan yang tenang. “Pak Adnan, mohon siapkan kembali dokumennya,” ujar Stella tenang. “Pihak bersangkutan akan segera datang.”"Nyonya Muda... minum air hangat ini dulu," panggil Dokter Maria lembut seraya menyodorkan cangkir keramik beruap tipis.Stella mengangguk pelan. Tangan kirinya yang tak lagi terpasang selang infus menerima cangkir tersebut dengan gerakan perlahan. Tatapannya hangat menatap wanita yang pernah menjadi dokter pribadinya itu, sebelum mengembuskan napas lega."Jangan panggil aku Nyonya lagi, Dokter Maria," panggil Stella lembut namun penuh penekanan. "Aku bukan nyonyamu lagi. Lagipula, kamu juga penyelamat hidupku. Aku gak nyangka bisa ada di titik ini, bisa menyelamatkan anakku dari lingkungan toxic."Dokter Maria tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ketegasan dan kepasrahan wanita di hadapannya. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan selimut tipis yang melapisi kaki Stella."Baiklah... Stella," sahut Dokter Maria lembut. "Yang penting sekarang kamu dan bayimu sudah aman. Secara hukum, secara media, bahkan di mata keluarga Anderson, kamu dinyatakan telah meninggal dunia da
"Bagaimana situasi di dasar jurang?" tanya kasat lantas ke salah satu anggota Unit Laka Lantas yang baru saja memanjat naik dengan pakaian penuh jelaga dan tanah."Medan sulit dijangkau, Ndan." Jawabnya pelan. "Tapi tadi team masih terus mencoba turun ke bawah, Ndan, setelah bantuan datang." Iptu Satria Wardhana Danubaya mengalihkan pandangannya dari kobaran api yang mulai mereda di bawah sana, menatap anggota dengan raut wajah tenang namun tegas. "Kumpulkan semua sisa material yang bisa diidentifikasi. Pastikan tim forensik mencatat kendaraan terbakar habis bersama penumpang di dalamnya.""Siap, Ndan! Tim forensik Polres sudah bergerak menuju lokasi untuk pembuatan laporan resmi," jawab anggota tersebut sebelum kembali bergabung dengan jajaran personel yang sibuk mengamankan perimeter.Kasat Lantas berpangkat AKP yang berdiri di samping Satria menghembuskan napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepulan asap tebal yang masih membumbung. "Laka tunggal yang parah banget, Sat
Kepanikan hebat melanda ruang kabin helikopter yang masih melayang di udara. Tubuh jangkung Sean rubuh menghantam lantai kabin, tak sadarkan diri dengan wajah sepucat mayat. Napasnya tersengal parah akibat syok berat yang menghantam mentalnya secara mendadak."Sean! Sean, bangun!" teriak Samuel histeris sambil menahan tubuh sahabat karibnya itu agar tidak bergeser dihantam angin kencang. Wajah Samuel sendiri sudah dipenuhi peluh dingin, matanya bergetar menatap lurus ke luar pintu helikopter.Di bawah sana, di balik rimbunnya pepohonan pinus, kobaran api merah kehitaman masih melahap habis kerangka SUV hitam di dasar jurang. Asap hitam pekat membumbung tinggi, mencemari langit pagi yang semula tenang."Bro! Sadar, Bro!" Samuel menepuk-nepuk pipi Sean dengan kencang, namun pria keturunan asing itu tetap tak bergeming.Samuel memutar kepalanya ke arah saluran interkom dengan napas memburu. Tim pengawal Anderson Group di bawah juga sedang dalam kondisi ketakutan setengah mati. Muka para
"Bukan mengungkit, Ste. Itu fakta," kekeh Satria ringan di tengah guncangan mobil yang makin hebat. "Kalau dulu kamu tidak nekat mengoperasi bahuku yang kena tembak di klinik kecil itu tanpa melaporkannya ke dinas, mungkin aku sudah mati kehabisan darah atau dipecat."Stella menghembuskan napas panjang, sedikit terhibur oleh kenangan masa lalu itu. Namun, keheningan singkat itu mendadak pecah ketika raungan mesin di belakang mereka terdengar makin memekakkan telinga.Di atas udara, baling-baling helikopter hitam milik Anderson Group menciptakan pusaran angin kencang yang menerbangkan dedaunan kering. Dari kabin utama yang terbuka, Sean berdiri mencengkeram erat pegangan pintu. Wajah pria keturunan asing itu pucat pasi, kemeja mewahnya kusut, dan matanya yang memerah menatap lurus ke arah SUV hitam yang meliuk-liuk di jalanan perbukitan."Jangan terlalu rapat! Tahan posisi kalian!" bentak Sean histeris melalui saluran radio interkom kepada seluruh armada pengawalnya di bawah. Suaranya
"Perutmu aman, Ste?" tatapnya sambil memainkan persneling dengan kaki lincah pada pedal gas dan rem. Tangan pria berbadan tegap itu tampak sudah terlatih pada setir kemudi."Aman, Mas. Kamu fokus saja ke jalanan, Mas. Jangan sampai fokusmu terpecah," bisik Stella yang tampak sedikit tegang sambil memegangi perutnya."Wajah kamu tampak tegang banget, apa kita coba istirahat dulu di salah satu rumah warga?""Nanti terlacak lagi, Mas.""Emang sebelumnya kita yang salah, kita mengurusi semuanya dari ponsel di lokasi kita menginap. Aku gak nyangka Sean-mu itu bakalan seliar ini. Aku pikir dia gak akan ngejar, soalnya info yang aku dapatkan ada wanita lain di rumah itu," ucap pria itu dengan mata yang waspada. Kelincahannya mengemudi mengingatkan pada aksi di film Fast & Furious."Iya, Mas. Aku juga gak nyangka dia bakalan se-effort ini nyariin aku. Aku pikir dia bakalan cuek gitu," jawab Stella sambil menatap ke arah pria itu."Makanya itu, untungnya aku juga udah siapin beberapa plan. Nah
"Suara apa itu?"Gelas teh hangat yang dipegang Stella mendadak bergetar hebat hingga cairan manis di dalamnya terpercik mengenai jemari lenturnya. Wajah cantiknya seketika pucat pasi, matanya membelalak menatap langit-langit plafon rumah sewa yang bergetar seiring gemuruh angin kencang yang menghantam atap.Pria berjas kasual di hadapan Stella langsung berdiri sigap. Sorot matanya yang tenang mendadak berubah tajam dan penuh kewaspadaan. Ia menyibak sedikit tirai jendela, mengintip ke arah langit pagi yang kini tertutup bayangan hitam helikopter berlogo Anderson Group yang sedang bersiap mendarat di lapangan terbuka tak jauh dari tempat mereka."Sialan! Bagaimana bisa pria berengsek itu menemukan tempat ini sejauh dan secepat ini?!" umpat sang penyelamat seraya berbalik cepat, mencengkeram lembut kedua bahu Stella untuk menangkas rasa paniknya. "Stella, dengarkan aku. Sean sudah ada di sini. Kita harus pergi lewat pintu belakang sekarang juga!""T-tapi... bagaimana dengan papa?" bisi







