FAZER LOGINPagi itu, suite hotel Four Seasons terasa lebih hening dari biasanya. Nadia dan Aurelia duduk di sofa ruang tamu suite Nadia-Dava dengan wajah pucat dan mata sembab. Dava masih tidur di kamar dalam, kelelahan setelah revisi deadline semalaman. Reza masuk dari suite sebelah, membawa dua cangkir kopi takeaway untuk mereka berdua. Reza duduk di sebelah Aurelia, tangannya menyentuh punggung Aurelia pelan. “Lia… Nadia… kalian sudah putuskan?” Aurelia mengangguk pelan, suaranya serak. “Kita nggak lanjut lagi. Project sudah selesai kemarin, tapi kami nggak nyaman. Ada sesuatu yang tak bisa kami ceritakan. Kami mau pulang hari ini juga.” Nadia menatap lantai, jarinya memilin ujung dress. “Kami nggak mau ambil risiko lagi. Kami cuma mau pulang.” Reza menatap mereka berdua lama. Matanya penuh tekad. “Aku yang bayar penalty-nya.” Nadia dan Aurelia menoleh kaget. “Reza…?” Reza mengangguk. “Aku sudah punya tabungan dari job-job sebelumnya. Sudah cukup untuk nutup penalty kalian berdua. Aku n
Pagi berikutnya di Milan seharusnya menjadi hari puncak shoot rooftop di Porta Nuova. Tapi dari pagi, Dava dan Reza sudah terjebak di suite masing-masing. Dava mendapat telpon darurat dari klien utama di Indonesia: revisi total campaign harus selesai hari ini juga, deadline jam 5 sore WIB. “Dav, kalau nggak masuk hari ini, kontrak bisa dicabut. Kamu harus online full day.” Dava terpaksa duduk di meja kecil suite Nadia-Dava, tablet dan laptop menyala bersamaan, mata tidak bisa lepas dari layar. Reza juga dapat kabar buruk: server cloud tim edit crash parah. “Mas Reza, file RAW shoot kemarin hilang sementara. Harus recover manual hari ini, kalau nggak corrupt total.” Reza langsung buka laptop keduanya di suite Aurelia, jari menari di keyboard, call dengan teknisi sampai tenggorokan kering. Aurelia dan Nadia harus berangkat sendirian dengan van brand. Nadia memegang tangan Aurelia erat sepanjang perjalanan. “Lia… Dava sama Reza nggak bisa ikut lagi. Aku takut hari ini.” Aurelia meng
Setelah sesi shoot ketiga selesai lebih awal dari jadwal, Marco memberi kabar baik: dua hari ke depan adalah libur penuh sebelum shoot besar di rooftop dan kanal Navigli. “Kalian kerja keras sekali. Ambil waktu istirahat, jelajahi Milan. Senin pagi kita mulai lagi jam 8.” Kabar itu seperti hembusan angin segar. Nadia langsung memeluk Dava di lobi hotel, matanya berbinar. “Dav… dua hari bebas! Kita jalan-jalan yuk!” Dava tersenyum, mencium kening Nadia. “Mau ke mana aja, sayang. Kamu pilih.” Aurelia dan Reza saling pandang sekilas—senyum kecil yang hanya mereka pahami. “Kita juga mau jalan-jalan,” kata Aurelia santai. “Mungkin ke arah berbeda biar nggak berdesakan.” Nadia mengangguk antusias. “Oke! Besok pagi kita sarapan bareng dulu ya, trus masing-masing jalan.” Hari Pertama – Nadia & Dava Pagi itu Nadia dan Dava memilih ke Parco Sempione dan Castello Sforzesco. Taman kota yang luas itu penuh pohon rindang, danau kecil, dan orang-orang lokal yang jogging atau piknik. Nadia meme
Suite hotel Four Seasons terasa lebih tegang dari biasanya. Nadia duduk di sofa dengan mata sembab, memeluk bantal erat-erat. Dava berdiri di depan jendela menghadap Duomo, tangannya mengepal. Aurelia duduk di sebelah Nadia, memegang tangannya sambil menatap Reza yang sedang membaca balasan email terakhir dari Marco di laptopnya. Reza menutup laptop pelan, wajahnya serius. “Marco baru kirim addendum kontrak yang mereka kirim kemarin malam. Aku baca detailnya. Kalau kita mundur sepihak sekarang—setelah fitting dan test shoot sudah jalan—ada penalty besar.” Dava menoleh tajam. “Berapa?” Reza menarik napas dalam. “Hampir 1 miliar rupiah per model. Total sekitar 2 miliar kalau kita berdua mundur. Itu klausul ‘breach of contract after commencement of production phase’. Mereka bilang kita sudah ‘commence’ karena sudah fitting, test shoot, dan foto test dikirim ke klien.” Nadia membeku. “1 miliar? Lia… aku nggak punya uang segitu. Keluarga kita nggak punya.” Aurelia menelan ludah.
Pagi berikutnya di Milan terasa lebih berat dari biasanya. Nadia bangun dengan mata sembab, tubuhnya masih terasa tidak nyaman setelah kejadian kemarin. Aurelia sudah bangun lebih dulu, duduk di sofa suite sambil memegang ponsel—ia sudah menulis draft email laporan ke Marco dan Sofia sejak subuh. Dava duduk di sebelah Nadia, memeluk bahunya pelan, wajahnya tegang tapi berusaha tenang. Reza masuk suite Nadia-Dava dengan kopi takeaway untuk semua orang. Ia langsung duduk di sebelah Aurelia, tangannya menyentuh punggung Aurelia sekilas—gerakan kecil yang hanya mereka pahami. “Lia sudah kirim laporan?” tanya Reza pelan. Aurelia mengangguk. “Baru draft. Aku mau baca dulu ke kalian semua sebelum kirim.” Nadia menghela napas. “Baca aja, Lia. Aku mau ini selesai. Aku nggak mau lagi ke sana kalau mereka nggak minta maaf atau ganti model prianya.” Aurelia membuka laptop kecilnya, membaca draft email dengan suara jelas: Subject: Laporan Ketidaknyamanan Selama Sesi Shoot – Lia & Nadia Dear
Hari ketiga di Milan terasa lebih panas—bukan karena suhu udara, tapi karena intensitas shoot dan tatapan para model pria Italia yang semakin tak terkendali. Luca, Matteo, dan Giovanni sudah tidak lagi menyembunyikan kekaguman mereka. Setiap kali Aurelia atau Nadia masuk ruang set, ketiga pria itu langsung berbisik dalam bahasa Italia, mata mereka menelusuri tubuh kedua wanita itu tanpa malu-malu. Pagi itu jadwal shoot duo lagi: tema “Forbidden Shadows”. Aurelia dipasangkan dengan Luca, Nadia dengan Matteo. Giovanni membantu Sofia sebagai asisten pose. Dava dan Reza seharusnya menunggu di ruang tunggu seperti biasa, tapi pagi itu mereka berdua harus menyelesaikan pekerjaan mendadak di kamar hotel. Reza mendapat email dari Marco: “Reza, aku butuh final edit 3 set foto test untuk presentasi ke klien sore ini. Kirim sebelum jam 3 siang Milan time.” Reza langsung bekerja di suite-nya, laptop terbuka penuh file RAW. Dava juga dapat pesan dari klien desainnya di Indonesia: “Dav, revisi l







