Accueil / Urban / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 134: Pulang dan Rencana Baru

Partager

BAB 134: Pulang dan Rencana Baru

Auteur: Benduls
last update Date de publication: 2026-03-18 02:13:21

Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap lembut ke apartemen. Nadia sudah bangun sejak subuh, duduk di sofa dengan tanktop putih tipis dan celana pendek denim. Rambutnya dikuncir tinggi, matanya berbinar penuh harap. Ia sudah mandi, memakai parfum favoritnya, dan sesekali melirik pintu dengan senyum kecil.

Aurelia duduk di meja makan kecil, memegang secangkir teh hangat. Ia tersenyum melihat Nadia yang gelisah tapi bahagia. “Kamu kelihatan cantik banget hari ini,” kata Aurelia pelan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 218: Darah, Pengkhianatan, dan Pelangi Abadi

    Aurelia berlari tanpa arah di kegelapan malam, air matanya bercampur keringat dan debu jalanan. Lututnya yang terluka terasa perih setiap kali kakinya menyentuh tanah, tapi ia tidak berhenti. Suara tembakan masih bergema di belakangnya, membuat hatinya semakin hancur. “Dav… tolong selamat…” gumamnya sambil terisak. Ia sampai di pinggir sungai yang airnya mengalir deras. Aurelia bersembunyi di balik semak tebal, napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian, ia melihat Dava muncul dari gang gelap, tubuhnya tertatih-tatih. Bahu dan pahanya berdarah banyak, tapi ia masih berusaha berjalan. “Dav!” Aurelia langsung keluar dari persembunyian dan memeluknya. Dava hampir pingsan saat jatuh di tepi sungai. “Lari… sendiri… aku tahan mereka…” Tapi sudah terlambat. Budi dan anak buahnya muncul dari kegelapan, pistol teracung. Budi tersenyum sinis. “Romantis sekali. Sayang sekali harus berakhir begini.” Tiba-tiba sirine polisi mendekat dengan cepat. Tim Budi yang masih setia datang. Tembakan

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 217: Malam Darah dan Pengkhianatan

    Malam itu terasa seperti pisau yang menggantung di leher mereka. Dava dan Aurelia buru-buru mengemasi tas ransel di apartemen kecil yang kini terasa seperti jebakan. Lampu dimatikan, hanya cahaya ponsel yang menerangi ruangan. “Kita nggak bisa nunggu pagi,” kata Dava sambil memasukkan pistol kecil yang dipinjam dari Budi ke pinggangnya. “Reinhart nggak main-main. Laser tadi bukti dia sudah siap bunuh kita.” Aurelia mengangguk, wajahnya pucat tapi matanya penuh tekad. “Kita ke mana, Dav?” “Budi bilang ada safe house di luar kota. Kita harus sampai sana sebelum subuh.” Mereka keluar apartemen lewat pintu belakang, bergerak diam-diam menyusuri tangga darurat. Udara malam terasa dingin dan berat. Baru beberapa meter dari gedung, Dava mendengar suara langkah di belakang mereka. “Jalan terus, Lia. Jangan berhenti,” bisik Dava sambil menarik tangan Aurelia. Tapi konflik meledak lebih cepat dari yang mereka duga. Tiba-tiba dari balik mobil parkir, dua pria berpakaian hitam muncul. Sala

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 216: Bayang Hitam di Balik Jendela

    Malam semakin larut di apartemen kecil yang menjadi persembunyian mereka. Lampu hanya menyala temaram di sudut ruangan, menciptakan suasana yang sekaligus intim sekaligus mencekam. Dava berdiri di depan jendela, tirai tipis hanya ditutup setengah. Matanya menyapu kegelapan jalanan di bawah sana. Aurelia mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya erat.“Dav… kamu dari tadi gelisah,” bisik Aurelia, dagunya bertumpu di punggung Dava.“Aku nggak suka suasana ini. Terlalu sepi,” jawab Dava pelan. “Mobil hitam itu tadi sore masih parkir di ujung jalan. Sekarang sudah hilang, tapi aku yakin mereka masih mengawasi.”Aurelia memeluknya lebih erat. Tubuhnya yang hanya memakai kaos oversized Dava terasa hangat. “Kalau gitu… buat aku lupa sebentar. Aku butuh kamu malam ini.”Dava berbalik. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Aurelia yang penuh kerinduan dan ketakutan. Tanpa banyak kata, ia mengangkat dagu Aurelia dan menciumnya dalam-dalam. Ciuman itu penuh desakan — campuran antara cinta, a

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 215: Pelarian Cinta di Bayang-Bayang Reinhart

    Pagi berikutnya menyapa kamar hotel dengan cahaya matahari yang redup menyusup lewat tirai tipis. Dava terbangun lebih dulu, tubuhnya masih terasa pegal karena memar lama dan aktivitas semalam. Aurelia masih tertidur pulas di pelukannya, tubuh telanjangnya menempel hangat di dada Dava, napasnya pelan dan teratur. Dava menatap wajah Aurelia yang damai meski masih ada bekas memar samar di lehernya. Ia mengusap punggung telanjang Aurelia dengan lembut, jarinya menelusuri lekuk pinggulnya. Malam tadi terasa seperti mimpi di tengah badai — penuh gairah, penebusan, dan keputusasaan yang berubah menjadi kehangatan. Aurelia menggeliat pelan, matanya terbuka perlahan. Begitu melihat Dava, ia tersenyum malu-malu, pipinya memerah mengingat betapa liarnya ia semalam. “Pagi, sayang…” bisik Aurelia, suaranya masih serak. Ia mendekat, mencium bibir Dava dengan lembut, tangannya menyusup ke dada Dava. “Pagi, Lia. Kamu… luar biasa semalam,” jawab Dava sambil tersenyum tipis, tangannya meremas p

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 214: Tebusan Malam yang Penuh Rindu

    Malam itu hotel kecil di pinggiran kota terasa sangat sunyi. Lampu kamar hanya menyala redup, cahaya kuning lembut menerangi dua orang yang saling memeluk di ranjang. Dava dan Aurelia berbaring saling menempel, tubuh mereka masih penuh memar dan luka, tapi pelukan itu adalah satu-satunya tempat mereka merasa aman. Aurelia mengangkat wajahnya dari dada Dava. Matanya masih merah karena menangis, tapi ada tekad yang berbeda di sana. Ia menatap Dava lama, tangannya mengusap pipi Dava yang memar dengan sangat lembut. “Dav…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Aku sudah salah. Aku pergi ke Reinhart tanpa bilang kamu. Aku bikin kamu khawatir… bikin kamu terluka lagi. Aku mau menebus kesalahanku malam ini.” Dava menggeleng pelan, tangannya mengusap rambut Aurelia. “Lia, kamu nggak salah. Kamu lakukan itu karena takut kehilangan aku. Aku yang seharusnya lindungin kamu.” Aurelia meletakkan jari di bibir Dava, menghentikan kata-katanya. “Malam ini biarkan aku yang kasih kamu semua yang aku pun

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 213: Titik Lemah yang Terungkap

    Dava dan Aurelia berdiri di kamar hotel yang sempit, napas mereka tersengal karena ketegangan. Ponsel Aurelia masih hangat di tangan setelah panggilan Reinhart yang mengancam. Waktu yang tersisa hanya sekitar 25 menit sebelum batas akhir yang Reinhart berikan. Dava memandang Aurelia dengan mata penuh tekad meski tubuhnya masih sakit. “Kita nggak boleh menyerah, Lia. Aku punya satu harapan terakhir.” Ia mengambil ponselnya sendiri dan mencari nomor lama di daftar kontak. Nama yang muncul: Budi Santoso — teman lamanya yang sekarang menjadi polisi berpangkat inspektur di kepolisian kota. Dava pernah menolong Budi bertahun-tahun lalu ketika masih bekerja di dunia bawah tanah. Ia berharap hutang itu masih bisa ditagih. Telepon diangkat setelah nada dering ketiga. “Dav? Lama banget lo nggak telepon,” suara Budi terdengar surprise di seberang. “Budi, aku butuh bantuan lo sekarang. Darurat,” kata Dava cepat, suaranya tegang. “Reinhart kembali. Dia ancam bunuh aku dan ambil Aurelia.

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 66: Kunjungan yang Tak Terduga

    Sore itu, Dava duduk di ruang kerja kecil, menatap layar laptop tanpa benar-benar bekerja. Pikirannya melayang ke Nadia—bukan hanya tubuhnya, tapi cerita ibunya yang sakit, adiknya yang masih sekolah, rumah sederhana yang ia lihat dengan mata kepala sendiri. Nadia bukan monster. Nadia adalah manusi

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 59: Hotel yang Menjebak

    Mobil hitam itu berhenti pelan di depan sebuah hotel bintang empat yang letaknya agak tersembunyi di pinggir jalan utama. Bangunan modern dengan lampu-lampu kuning hangat di lobi, tapi tidak terlalu mencolok—tempat yang pas untuk orang yang ingin “istirahat” tanpa banyak pertanyaan. Nadia membantu

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 52: Pertemuan yang Tak Direncanakan

    Aurelia duduk di lantai dapur, punggung bersandar ke lemari bawah, ponsel tergeletak di sampingnya dengan layar masih menyala. Video itu sudah selesai diputar untuk ketiga kalinya, tapi suara desahannya sendiri—suara yang memanggil nama Adit dengan penuh kerinduan—masih bergema di kepalanya seperti

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 45: Keraguan yang Merayap

    Hujan akhirnya reda menjelang siang, meninggalkan udara yang lembap dan aroma tanah basah yang menyusup lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Apartemen terasa lebih sunyi setelah pagi yang panas dan penuh gairah tadi. Aurelia duduk di meja kerjanya, mesin jahit sudah diam, tapi tangannya masih

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status