Share

Bab 3

Author: Jin
Belum sempat pengasuh itu bicara, Juna melambaikan tangannya. Pengawal di belakangnya langsung menyeret orang itu keluar.

Terdengar teriakan menyakitkan dari luar dan aku refleks gemetar.

"Itu bukan salahnya. Di awal kehamilan memang wajar kalau merasa agak nggak enak badan ...."

Belum sempat aku selesai bicara, dia sudah menyela, "Nggak usah dibelain. Kalau dia nggak bisa jagain kamu dengan benar, itu kesalahan dia."

Inilah calon pewaris Keluarga Mahendra.

Aku sadar, kalau aku menyembunyikan kebenaran tentang kehamilanku ini, nasibku tidak akan jauh lebih baik dari pengasuh di luar sana.

Dia bisa menghancurkanku sekali saat hari pertunanganku dulu, maka dia juga punya seribu cara lain untuk memaksaku melahirkan anak ini.

Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.

Memikirkan hal itu, aku berpura-pura nakal dan merebut ponselnya seolah-olah ingin memeriksa isinya.

Juna tertawa sambil menyentil pelan keningku.

"Periksa saja, Sayang. Periksa sepuasnya."

Aku tahu ponsel ini hanyalah pengalihan yang sengaja dia siapkan untuk membohongiku.

Juna tidak menaruh curiga padaku, jadi dengan sangat mudah aku mendapatkan kontak WhatsApp musuh bebuyutannya. Lewat ponselku sendiri, aku langsung menyimpan nomornya dan mengiriminya pesan.

Pihak lawan membalas dengan cepat. Aku pun mencari alasan untuk menyuruh Juna pergi.

Begitu dia pergi, aku langsung mengirim pesan lagi pada musuh bebuyutannya itu: [Mau proyek besar nggak?]

[Bantu aku pergi lima hari lagi. Imbalannya tanah di wilayah utara kota.]

Keesokan harinya, Juna sengaja membatalkan semua rapat demi menemaniku periksa kandungan.

Di tengah jalan, dia melihat ponselnya sebentar lalu buru-buru menyuruh sopir untuk menepi.

"Sayang, di kantor ada urusan mendadak yang nggak bisa ditinggal. Nanti asistenku yang atur orang buat nemenin kamu periksa, ya?"

Aku mengangguk, lalu turun dari mobil.

Mobil itu melaju pergi, meninggalkanku yang berdiri sendirian menunggu di pinggir jalan.

Sudah lebih dari setengah jam berlalu, tiba-tiba mulutku dibekap seseorang dan aku diseret paksa masuk ke mobil.

Ingatan yang selama ini sengaja kulupakan mendadak muncul kembali. Aku gemetar hebat dan napasku terasa sesak.

Begitu sampai di tujuan, seorang pria melemparkanku dengan kasar ke tanah, lalu menepuk-nepuk pipiku.

"Ck ck, kamu sudah lupa ya sama aku? Tapi, aku masih ingat banget sama kamu. Lekuk tubuhmu itu, sensasinya ...."

Tiba-tiba Arya muncul dari samping.

Melihatku yang begitu menyedihkan, dia mengeluarkan ponsel dan menyodorkan sebuah video tepat di depan wajahku.

Ternyata itu video Juna. Urusan kantor mendadak yang dia maksud adalah bergegas pergi untuk menenangkan Diva dan anaknya.

Di video itu, mata Juna tampak merah. Dia memeluk Diva erat-erat.

"Diva, kamu harus jaga kesehatanmu. Bagiku, nggak ada yang lebih penting daripada kamu."

"Lihat sendiri, 'kan?" ucap Arya.

Arya tertawa sinis, matanya dipenuhi ejekan.

"Kamu nggak mungkin masih berharap Juna nemenin kamu periksa kandungan, 'kan? Jangan bercanda."

Dia menjambak rambutku, menyeretku ke mobil, lalu membawaku ke area belakang gedung rumah sakit.

Begitu turun, belum sempat aku berdiri tegak, dia menendang lututku dengan keras.

Aku tersungkur berlutut di tanah. Saat aku mendongak, kulihat Diva berjalan mendekat dengan sepatu hak tingginya sambil tersenyum sinis.

Dia mengangkat kakinya, lalu menginjak punggungku dengan kuat.

"Barang bekas kayak kamu, yang sudah entah berapa kali dimainkan orang, benaran mikir Kak Juna bakal tertarik sama kamu?"

"Asal kamu tahu ya, setiap kali dia bergairah, dia selalu bilang padaku betapa jijiknya dia hidup bersamamu. Demi anak ini, setiap habis berhubungan sama kamu, dia pasti datang mencariku dan mandi berkali-kali sampai kulitnya mau mengelupas saking bencinya."

Jantungku rasanya seperti diremas kuat-kuat oleh tangan raksasa. Rasa sakitnya sampai membuatku mual.

Diva tertawa puas.

"Perempuanmu sudah ada di depan mata, nggak mau menyapanya?"

Diva memberi isyarat pada sopir di dalam mobil.

Seketika bau tubuh orang asing mendekat, memicu semua memori menjijikkan dan traumatis menyerang otakku dengan gila.

Aku membuka mulut, menggigit pria itu sekuat tenaga, lalu bangkit dan menerjang Diva. Aku mencekik lehernya kuat-kuat, persis seperti hantu yang menagih nyawa.

Raut wajah Diva berubah dari ketakutan menjadi tersenyum tipis, dan berakhir dengan tangisan yang sangat malang.

"Kak Juna ...."

Bersamaan dengan teriakannya, tubuhku tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan menghantam dengan keras ke dinding. Rasanya separuh tubuhku remuk seketika.

Juna yang bergegas datang, dengan sisa ketakutan langsung menariknya ke dalam pelukan untuk melindunginya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 10

    Tentu saja, yang paling mengejutkan adalah nasib dari dalang di balik semua ini, Juna.Dia menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui semua kejahatan yang pernah dia lakukan padaku, termasuk semua hal dia lakukan selama bertahun-tahun ini.Sebelum mendekam di penjara, dia menyumbangkan seluruh harta kekayaan Grup Mahendra.Dia tidak membawa apa-apa, hanya memegang medali, sambil berlutut setiap hari dan berdoa, berharap orang yang dicintainya akan hidup damai dan bahagia selamanya."Dia benar-benar pria yang sangat setia. Di hari dia ditangkap, dia cuma mengucapkan satu kalimat di depan kamera. 'Maya, utangku padamu, nggak akan pernah sanggup aku bayar lagi.'""Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengabulkan keinginanmu, yaitu membuatmu nggak perlu melihatku lagi selamanya.""Duh, kenapa ya aku nggak pernah ketemu cowok ganteng, kaya, dan setia kayak gitu? Idaman banget, asli!" Rekanku berkata dengan ekspresi penuh kekaguman, seolah sedang menonton drama romantis.Aku melir

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 9

    "Orang ini gila! Bu Maya jangan takut. Bu Maya sudah baik kepada kami, sekarang kami yang akan melindungi Bu Maya!"Anak yang biasanya paling nakal di kelas, berteriak memanggil orang-orang sambil menangis.Suasana seketika menjadi sangat kacau.Aku merasa tak berdaya melihat tingkah mereka, lalu segera angkat bicara, "Nggak apa-apa, kalian kembalilah ke kelas. Bu Maya mengenal orang ini.""Benarkah?"Murid yang tadi terisak segera menyeka air matanya.Setelah aku meyakinkan mereka berkali-kali, anak-anak itu akhirnya pergi, meski mereka terus menoleh ke belakang untuk memastikan keadaanku.Juna berdiri mematung untuk waktu yang cukup lama."Sayang, anak kita ...."Suaranya terdengar sangat getir dan parau. Aku hanya mencibir dingin."Anak? Bukannya bagimu anak itu cuma sebuah wadah untuk menyelamatkan putra dari kekasihmu?"Kelugasanku menghantamnya, membuatnya mundur dengan ekspresi penuh kebingungan, tidak tahu harus berbuat atau berkata apa lagi."Bukan begitu, Sayang. Bukan sepert

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 8

    Semua penderitaan itu adalah akibat perbuatannya sendiri.Satu hari telah berlalu.Juna terus menatap ponsel di depannya dengan mata yang merah penuh urat darah.Saat senja tiba, telepon itu kembali berdering.Suara penuh penyesalan terdengar dari seberang telepon."Pak Juna, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Istrimu sudah dipukuli dan disiksa, lalu dibuang ke laut. Saat berhasil ditarik ke atas, dia sudah hampir nggak bernapas. Lagi pula, saat aku meneleponmu waktu itu, kamu sendiri yang bilang mainkan saja sesukamu.""Saat aku terpikir untuk menyelamatkannya, semuanya sudah terlambat. Dia sudah mati. Tapi, tenang saja, abu kremasi istri dan anakmu akan kukirimkan kepadamu, seharusnya sebentar lagi sampai. Jangan lupa ditandatangani.""Oh, satu lagi. Permintaan terakhir istrimu sebelum mati cuma satu, yaitu bercerai darimu. Aku merasa harus mengabulkan wasiat orang yang meninggal, jadi ingatlah untuk menandatangani surat cerainya."Juna duduk termenung di sofa. Lama sekali, sampai

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 7

    "Bohong! Aku nggak melakukan apa-apa. Kamu bohong! Aku ... aku akan membunuhmu!"Diva seperti kehilangan kendali, dia bangkit dan berkelahi dengan Arya.Yang satu punya tenaga yang besar, sementara yang lainnya benar-benar sudah gila. Tak butuh waktu lama, tubuh keduanya sudah dipenuhi dengan berbagai luka.Sisa rahasia yang masih tersimpan pun akhirnya terbongkar habis tanpa sisa.Begitu mendengar kabar bahwa Maya telah dibuang ke laut lepas, Diva mendongak dan tertawa melengking dengan sangat tajam."Bagus kalau dia mati! Bagus sekali! Aku memang nggak tahan melihatnya. Atas dasar apa dia punya nasib sebaik itu? Orang tuanya kaya raya dan dia punya tunangan dari keluarga terpandang. Bahkan kamu, salah satu putra bangsawan dari sepuluh keluarga terkaya di Cimayang, jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya cuma karena sebutir permen dan sebuah tarian! Di bagian mana aku kalah darinya? Aku memang ingin dia mati! Aku ingin dia digilir ribuan pria! Dia itu cuma wanita murahan dan wani

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 6

    "Cepat selidiki! Lebih baik pakai nama Juna untuk memberitahunya kalau Maya, si jalang itu, sama sekali nggak berharga.""Kalau nanti dia sampai mati tersiksa di tangan orang itu, kita jadi punya alasan bagus untuk membebaskanmu dari hukuman.""Intinya, jangan biarkan Maya kembali dalam keadaan hidup, kalau nggak kita semua akan mati.""Jangan lupa, dulu kamu yang menerima suap dariku dan membantuku berbohong. Sekarang, kamu juga yang membantuku menjebak Maya. Kita ini berada di kapal yang sama!""Apa kamu bilang?"…Pintu terbuka. Juna berdiri di sana sambil membawa semangkuk mie kuah bening dengan tatapan mata yang sangat dingin.Dia hampir mengira dirinya berhalusinasi saat kembali untuk mengambil ponselnya.Suap, jebakan, bahkan menyingkirkan orang …. Bagaimana mungkin itu keluar dari mulut malaikat kecil yang selama ini dia lihat? "Apa yang sudah kamu lakukan pada Maya?"Teringat akan nada bicara yang begitu kejam dalam panggilan telepon tadi, tubuh Juna gemetar hebat. Dia melemp

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 5

    …Di sisi lain.Ponsel Juna jatuh ke lantai.Kata-kata penuh kebencian itu terus terngiang di benaknya, seolah-olah sebuah kutukan.Dia mencoba menenangkan diri dan memijat pelipisnya. Saat baru saja hendak bicara lagi, terdengar suara operator yang dingin dari seberang telepon."Sialan."Jantungnya berdegup kencang tak terkendali, seakan ada sesuatu yang akan terjadi.Setelah berpikir sejenak, dia bangkit mengambil jaket dan berjalan ke arah pintu.Diva yang sedang berbaring di tempat tidur segera membuka mata. Dia turun dari ranjang dan memeluk pinggang Juna dari belakang."Juna, kamu mau ke mana? Jangan pergi, aku takut sendirian."Juna mengernyit tidak sabar, tetapi kekesalan itu langsung sirna begitu mendengar isak tangis di belakangnya.Dia berbalik, lalu dengan lembut menyeka air mata Diva."Maya sedang merajuk, aku harus pulang mengeceknya. Bagaimanapun, nyawa anak kita bergantung pada janin di rahimnya."Diva menyembunyikan rasa iri dan bencinya, lalu bicara dengan nada lemah,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status