Share

Bab 4

Author: Jin
"Diva, kamu nggak apa-apa? Dia nggak melukaimu, 'kan?"

Air mata Diva mengalir, tubuhnya yang tampak lemah itu terlihat seolah mau pingsan.

"Jangan salahkan dia, ini salahku. Tadi waktu aku keluar, aku nggak sengaja lihat dia begitu dekat dengan pria ini. Karena takut dia khilaf dan ngelakuin hal yang bakal bikin kamu kecewa, aku coba ingatkan baik-baik. Tapi, aku nggak nyangka dia malah nggak terima dan menuduhku sok ikut campur."

Diva memasang ekspresi yang sangat sedih.

"Aku nggak masalah dia menyakitiku, aku cuma takut nanti kamu sedih."

Rasa dingin langsung menjalar dari kepala sampai ke jantungku. Aku hendak bicara.

Akan tetapi, si asisten langsung menyela, "Tadi aku sudah mau jemput Nyonya sesuai perintah Anda, tapi Nyonya bersikeras mau pergi sama laki-laki ini, jadi ...."

Diva langsung berseru kaget, "Kenapa dia harus cari laki-laki itu? Terus anak yang dikandungnya ...."

Dia sengaja menahan ucapannya, lalu meminta maaf dengan raut wajah penuh penyesalan, "Maaf, Maya. Aku nggak bermaksud ngomong begitu."

Di luar dugaan, Juna sama sekali tidak marah. Dia hanya menatapku dengan dingin.

"Aku percaya anak yang kamu kandung itu anakku. Tapi, harusnya kamu nggak menyakiti Diva, dia itu kakakmu."

Anak?

Aku tersenyum sinis.

"Juna, apa kamu benaran menginginkan anak dari hubungan kita?"

Wajah Juna seketika kaku, lalu dia kembali mengalihkan pembicaraan ke kejadian tadi.

"Aku begitu memercayaimu, tapi kamu malah nggak percaya sama aku?"

"Bawa dia pulang. Tanpa perintahku, dia nggak boleh keluar rumah."

Setelah mengatakan itu, dia bergegas pergi sambil menggendong Diva.

Arya seketika mengubah ekspresi wajahnya. Dia berdiri di hadapanku dan bicara dengan nada dingin, "Dia menyuruhku membawamu pulang. Sayang sekali, kamu tahu terlalu banyak. Hari itu kamu juga ada di depan pintu, 'kan? Aku menemukan barangmu. Mau gimana lagi, tiap orang pasti mementingkan diri sendiri, jadi sekalian saja aku habisi kamu. Siapa suruh kamu dengar semuanya."

Dia berjalan ke mobil dan mengambil tongkat kayu yang sudah disiapkan.

Pria di sampingnya dengan sigap menahanku.

Seiring dengan ayunan tongkat itu, tulang kaki dan tanganku hancur total. Aku terkapar di tanah seperti anjing, sekarat.

Saat terbangun, hari sudah malam. Aku dibawa ke tempat penuh penghinaan itu lagi, leherku diikat dengan rantai.

Setiap hari Arya memutar video tentang keadaan Juna dan Diva saat ini.

Tentang kemesraan mereka dan bagaimana Juna memanjakannya.

Berbeda denganku yang hanya diberi benda-benda mati, Juna menemani Diva belanja, memasak untuknya, hingga memakaikan sepatu. Dia mengurus segala hal tentang Diva, bahkan menyayangi anak Diva dan berjanji akan menyembuhkan penyakitnya.

Awalnya, aku merasa tenang, lalu menjadi mati rasa, sampai tidak ada lagi air mata yang bisa kuteteskan.

Arya akhirnya kehilangan minat. Dia dengan baik hati melemparkan ponsel itu ke tanganku, bersiap untuk mengakhiri hidupku.

Lokasi yang dia pilih adalah laut lepas, yang juga merupakan jalur yang harus dilewati untuk pulang.

Dia bahkan sudah menyiapkan alasannya. Aku bunuh diri melompat ke laut karena tidak tahan menerima tekanan.

Aku tidak melawan, hanya mendekati ponsel itu perlahan, membuka kunci dengan wajahku, lalu menggunakan lidah untuk mengirimkan lokasiku.

Mereka tidak tertarik sedikit pun pada tindakanku. Mereka menganggap aku sudah tidak berdaya dan tidak akan bisa melakukan apa-apa.

Bagi mereka, melihatku meronta sebelum mati justru terasa menghibur.

Setelah sampai di laut lepas, mereka berdua bekerja sama membuangku ke laut.

Rasa sesak mulai menyerang, aku memejamkan mata, tapi tubuhku tiba-tiba terasa ringan.

Orang yang datang menyelamatkanku memindahkanku ke atas kapal. Dia mengambil ponselku yang basah, tetapi terus berdering, mengangkatnya, lalu menempelkannya ke telingaku.

"Maya, aku beri kamu satu kesempatan lagi. Asal kamu mau minta maaf baik-baik pada Diva, aku akan pulang untuk menemanimu dan anak kita."

Rasa asin air laut bercampur bau amis darah menusuk hidungku. Dengan suara serak, aku berucap perlahan, "Juna, mulai sekarang, hidup atau mati, kita nggak akan pernah bertemu lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 10

    Tentu saja, yang paling mengejutkan adalah nasib dari dalang di balik semua ini, Juna.Dia menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui semua kejahatan yang pernah dia lakukan padaku, termasuk semua hal dia lakukan selama bertahun-tahun ini.Sebelum mendekam di penjara, dia menyumbangkan seluruh harta kekayaan Grup Mahendra.Dia tidak membawa apa-apa, hanya memegang medali, sambil berlutut setiap hari dan berdoa, berharap orang yang dicintainya akan hidup damai dan bahagia selamanya."Dia benar-benar pria yang sangat setia. Di hari dia ditangkap, dia cuma mengucapkan satu kalimat di depan kamera. 'Maya, utangku padamu, nggak akan pernah sanggup aku bayar lagi.'""Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengabulkan keinginanmu, yaitu membuatmu nggak perlu melihatku lagi selamanya.""Duh, kenapa ya aku nggak pernah ketemu cowok ganteng, kaya, dan setia kayak gitu? Idaman banget, asli!" Rekanku berkata dengan ekspresi penuh kekaguman, seolah sedang menonton drama romantis.Aku melir

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 9

    "Orang ini gila! Bu Maya jangan takut. Bu Maya sudah baik kepada kami, sekarang kami yang akan melindungi Bu Maya!"Anak yang biasanya paling nakal di kelas, berteriak memanggil orang-orang sambil menangis.Suasana seketika menjadi sangat kacau.Aku merasa tak berdaya melihat tingkah mereka, lalu segera angkat bicara, "Nggak apa-apa, kalian kembalilah ke kelas. Bu Maya mengenal orang ini.""Benarkah?"Murid yang tadi terisak segera menyeka air matanya.Setelah aku meyakinkan mereka berkali-kali, anak-anak itu akhirnya pergi, meski mereka terus menoleh ke belakang untuk memastikan keadaanku.Juna berdiri mematung untuk waktu yang cukup lama."Sayang, anak kita ...."Suaranya terdengar sangat getir dan parau. Aku hanya mencibir dingin."Anak? Bukannya bagimu anak itu cuma sebuah wadah untuk menyelamatkan putra dari kekasihmu?"Kelugasanku menghantamnya, membuatnya mundur dengan ekspresi penuh kebingungan, tidak tahu harus berbuat atau berkata apa lagi."Bukan begitu, Sayang. Bukan sepert

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 8

    Semua penderitaan itu adalah akibat perbuatannya sendiri.Satu hari telah berlalu.Juna terus menatap ponsel di depannya dengan mata yang merah penuh urat darah.Saat senja tiba, telepon itu kembali berdering.Suara penuh penyesalan terdengar dari seberang telepon."Pak Juna, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Istrimu sudah dipukuli dan disiksa, lalu dibuang ke laut. Saat berhasil ditarik ke atas, dia sudah hampir nggak bernapas. Lagi pula, saat aku meneleponmu waktu itu, kamu sendiri yang bilang mainkan saja sesukamu.""Saat aku terpikir untuk menyelamatkannya, semuanya sudah terlambat. Dia sudah mati. Tapi, tenang saja, abu kremasi istri dan anakmu akan kukirimkan kepadamu, seharusnya sebentar lagi sampai. Jangan lupa ditandatangani.""Oh, satu lagi. Permintaan terakhir istrimu sebelum mati cuma satu, yaitu bercerai darimu. Aku merasa harus mengabulkan wasiat orang yang meninggal, jadi ingatlah untuk menandatangani surat cerainya."Juna duduk termenung di sofa. Lama sekali, sampai

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 7

    "Bohong! Aku nggak melakukan apa-apa. Kamu bohong! Aku ... aku akan membunuhmu!"Diva seperti kehilangan kendali, dia bangkit dan berkelahi dengan Arya.Yang satu punya tenaga yang besar, sementara yang lainnya benar-benar sudah gila. Tak butuh waktu lama, tubuh keduanya sudah dipenuhi dengan berbagai luka.Sisa rahasia yang masih tersimpan pun akhirnya terbongkar habis tanpa sisa.Begitu mendengar kabar bahwa Maya telah dibuang ke laut lepas, Diva mendongak dan tertawa melengking dengan sangat tajam."Bagus kalau dia mati! Bagus sekali! Aku memang nggak tahan melihatnya. Atas dasar apa dia punya nasib sebaik itu? Orang tuanya kaya raya dan dia punya tunangan dari keluarga terpandang. Bahkan kamu, salah satu putra bangsawan dari sepuluh keluarga terkaya di Cimayang, jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya cuma karena sebutir permen dan sebuah tarian! Di bagian mana aku kalah darinya? Aku memang ingin dia mati! Aku ingin dia digilir ribuan pria! Dia itu cuma wanita murahan dan wani

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 6

    "Cepat selidiki! Lebih baik pakai nama Juna untuk memberitahunya kalau Maya, si jalang itu, sama sekali nggak berharga.""Kalau nanti dia sampai mati tersiksa di tangan orang itu, kita jadi punya alasan bagus untuk membebaskanmu dari hukuman.""Intinya, jangan biarkan Maya kembali dalam keadaan hidup, kalau nggak kita semua akan mati.""Jangan lupa, dulu kamu yang menerima suap dariku dan membantuku berbohong. Sekarang, kamu juga yang membantuku menjebak Maya. Kita ini berada di kapal yang sama!""Apa kamu bilang?"…Pintu terbuka. Juna berdiri di sana sambil membawa semangkuk mie kuah bening dengan tatapan mata yang sangat dingin.Dia hampir mengira dirinya berhalusinasi saat kembali untuk mengambil ponselnya.Suap, jebakan, bahkan menyingkirkan orang …. Bagaimana mungkin itu keluar dari mulut malaikat kecil yang selama ini dia lihat? "Apa yang sudah kamu lakukan pada Maya?"Teringat akan nada bicara yang begitu kejam dalam panggilan telepon tadi, tubuh Juna gemetar hebat. Dia melemp

  • Biarkan Angin yang Akan Memaafkanmu   Bab 5

    …Di sisi lain.Ponsel Juna jatuh ke lantai.Kata-kata penuh kebencian itu terus terngiang di benaknya, seolah-olah sebuah kutukan.Dia mencoba menenangkan diri dan memijat pelipisnya. Saat baru saja hendak bicara lagi, terdengar suara operator yang dingin dari seberang telepon."Sialan."Jantungnya berdegup kencang tak terkendali, seakan ada sesuatu yang akan terjadi.Setelah berpikir sejenak, dia bangkit mengambil jaket dan berjalan ke arah pintu.Diva yang sedang berbaring di tempat tidur segera membuka mata. Dia turun dari ranjang dan memeluk pinggang Juna dari belakang."Juna, kamu mau ke mana? Jangan pergi, aku takut sendirian."Juna mengernyit tidak sabar, tetapi kekesalan itu langsung sirna begitu mendengar isak tangis di belakangnya.Dia berbalik, lalu dengan lembut menyeka air mata Diva."Maya sedang merajuk, aku harus pulang mengeceknya. Bagaimanapun, nyawa anak kita bergantung pada janin di rahimnya."Diva menyembunyikan rasa iri dan bencinya, lalu bicara dengan nada lemah,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status