Share

Bab 6

Author: Do
Orang-orang dari pihak yang bekerja sama dengan buru-buru maju untuk mencairkan suasana. Pria paruh baya yang berdiri paling depan tersenyum sambil melambaikan tangannya.

"Pak Anthony, nggak perlu berbuat seperti ini. Lagi pula, hanya masalah kecil. Kami yakin dia nggak sengaja melakukannya. Bu Feodora ketakutan, sebaiknya bawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa terlebih dahulu."

Namun, Anthony malah tidak mau mengalah.

"Nggak bisa." Nada bicara Anthony terdengar dingin dan ketus, seolah-olah tidak ada ruang untuk berdiskusi. "Istriku sudah melakukan kesalahan. Dia nggak boleh dimanjakan begitu saja. Masalah ini cukup serius. Kalau sampai tersebar, Keluarga Leonardo nggak sanggup menanggung malu. Dia harus meminta maaf."

Angelica berdiri di tempat. Saat mendengar ucapannya, dia merasa tidak ada lagi sisa kehangatan di hatinya.

Dia mengangkat kepalanya. Matanya terlihat sedikit memerah. Akhirnya terdengar sedikit amarah yang terpendam di dalam suaranya.

"Hanya karena dia mengatakan semua ini perintahku dan menangis, jadi kamu nggak memeriksa dan nggak banyak bertanya lagi, langsung menyalahkanku?"

Angelica menatap mata Anthony. Setiap katanya dilontarkan dengan sakit hati. "Aku nggak ingin bertengkar, tapi kamu malah lanjut menghinaku?"

Anthony malah tersenyum sinis.

"Kalau bukan perbuatanmu, kenapa kamu malah minta maaf?"

Angelica tertegun.

Feodora mengambil kesempatan untuk berbicara. Dia menyeka air matanya, lalu berkata dengan nada bicara kesal, "Kak Angel, kamu jangan marah … anggap saja aku nggak pernah mengatakannya."

"Sebelumnya, Kak Anthony selalu beri tahu aku, emosimu nggak begitu stabil. Gara-gara aku, kamu selalu bertengkar dengannya …. Aku percaya kali ini kamu bukan sengaja. Aku sudah memaafkanmu."

Beberapa kalimat ringan itu seolah langsung menimpakan semua kesalahan kepadanya.

Emosinya tidak stabil. Selalu bertengkar. Bukan sengaja.

Angelica merasa lucu.

Anthony malah memberi tahu semua masalah yang seharusnya diselesaikan mereka berdua kepada Feodora.

Bagi orang di luar sana, Angelica telah menjadi sosok wanita yang kehilangan akal sehat dan suka cemburu.

Amarah seketika membara di dalam hatinya.

Angelica berjalan maju selangkah, lalu tersenyum paksa. "Sudahlah. Berhubung kalian sudah berbicara seperti ini, bukankah rugi kalau aku nggak benar-benar melakukannya?"

Begitu selesai berbicara, Angelica mengangkat tangan dan menampar wajah Feodora dengan keras.

Feodora sampai terjatuh terduduk di lantai akibat tamparan itu. Bahkan sebelum sempat bangkit, dia ditindih Angelica di atas lantai.

Angelica membungkukkan tubuhnya dan menarik gaun Feodora dengan kuat.

"Ahh! Kak Anthony, tolong aku!" jerit Feodora sembari melindungi gaunnya dengan kuat.

Satu detik kemudian, bagian perut Angelica mendapat tendangan kuat.

Angelica langsung terjatuh di lantai. Belakang kepalanya membentur lantai marmer. Pandangannya seketika menggelap.

"Sudah cukup, belum?"

Suara dingin dan penuh rasa benci Anthony terdengar dari atas kepala.

Anthony berjongkok untuk melindungi Feodora di dalam pelukannya.

Dua orang pengawal berpakaian hitam segera melangkah maju.

"Kamu sudah mempermalukan Feodora di depan banyak orang. Aku juga nggak perlu memberimu muka lagi." Anthony menunduk menatap Angelica yang terjatuh di atas lantai. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di dalam matanya. "Robek pakaiannya."

Pupil mata Angelica langsung menyusut.

Pengawal mengangkat tangannya untuk menarik kerah pakaian Angelica. Suara robek kain langsung terdengar menusuk telinga.

"Jangan! Jangan sentuh aku!"

Angelica berusaha untuk meronta dan menjerit. Sepasang tangannya terus melindungi bagian depan dadanya.

Namun, tentu saja dia tidak bisa mengalahkan pria yang sudah dilatih secara profesional. Tangannya berhasil ditarik dengan gampang. Seiring dengan suara robek pakaian, tubuhnya pun terpampang jelas di depan semua orang.

Ada yang mendengus dingin. Ada yang memalingkan kepalanya. Namun, kebanyakan dari mereka mengangkat ponsel mereka untuk mengarahkan tepat ke diri Angelica.

Suara bisik-bisik dan kilatan lampu kamera seolah menenggelamkannya. Bahkan tenaga terakhir untuk mempertahankan harga dirinya pun sudah tidak tersisa.

Menghadapi penghinaan seperti itu, dia akhirnya tidak mampu menahan diri dan menangis tersedu-sedu.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Anthony mengangkat tangannya. "Cukup. Lepaskan dia."

Pengawal melepaskan tangan mereka, lalu mundur ke samping.

Anthony merapikan manset kemejanya, lalu memandang ke sekeliling. Bahkan di wajahnya masih terpasang ekspresi meminta maaf yang sopan.

"Maaf sudah membuat semuanya terganggu hari ini. Ini hanya masalah Keluarga Leonardo yang nggak ditangani dengan baik. Semuanya silakan lanjutkan acaranya."

Setelah berkata demikian, Anthony merangkul Feodora dan berjalan keluar, kemudian dia meninggalkan satu kalimat tanpa menoleh sedikit pun, "Bawa dia keluar, jangan sampai mengganggu orang-orang di sini."

Pengawal segera maju untuk membopong Angelica. Dia seperti sepotong kain usang yang diseret ke sisi pintu sebelah.

Pintu sebelah terbuka. Dia pun dibuang ke luar.

Lututnya terbentur anak tangga, membuatnya meringis menahan sakit.

Di jalanan di luar, orang-orang berlalu-lalang. Keributan itu menarik perhatian para pejalan kaki. Tatapan mereka bagai jarum yang menusuknya saja.

Angelica menunduk. Dia merapatkan pakaian yang robek untuk menutupi tubuhnya, berdiri dengan sempoyongan, lalu segera bersembunyi di dalam gang.

Namun, tidak peduli ke mana perginya Angelica. Tatapan aneh orang-orang bagai bayangan yang terus mengikutinya.

Dia mencari sebuah toko kecil di sudut jalan dan membeli satu set pakaian untuk mengganti pakaiannya.

Saat berdiri di pinggir jalan, angin awal musim gugur berembus. Tubuhnya masih terus gemetar.

Saat itu, ponselnya berdering. Angelica menunduk dan mengangkatnya.

"Aku sudah sampai." Suara pria dari ujung telepon terdengar rendah dan magnetis. "Kirimkan titik lokasimu. Aku pergi jemput kamu."

Setelah Angelica mengirim titik lokasi, dia langsung memblokir semua kontak Anthony.

Angelica mengakhiri hubungan lima tahun yang selama ini mereka jalani dengan tangannya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 14

    Awalnya Angelica mengira semuanya sudah berakhir.Namun setelah Anthony siuman, dia tetap tidak bersedia kembali ke tanah air.Entah dari mana dia mendapatkan alamat Angelica. Setelah lukanya sudah mulai pulih, dia pun muncul di hadapan Angelica.Luka di bagian samping pinggang Anthony masih belum sembuh total. Ketika berdiri di tempat, dia bahkan kelihatan agak mengenaskan.Angelica tidak menemuinya. Dia berencana untuk membiarkannya selama beberapa hari. Anthony pasti akan mundur dengan sendirinya. Namun, dia sudah merendahkan keteguhan Anthony.Anthony meminta seseorang untuk mengantar sebuah kotak perhiasan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung model eksklusif dari merek terkenal, kemudian ada juga selembar kartu yang ditulis tangan. Di atasnya tertera satu baris tulisan.[Maaf, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi.]Angelica menatap kartu itu selama tiga detik.Kemudian, dia membuka pintu dan langsung membanting kuat kotak perhiasan di hadapan Anthony.Kotak terpental hingga terb

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 13

    Feodora menunduk untuk menatap pisau di tangannya. Dia pun merasa kaget."Aku … aku bukan …." Sekujur tubuh Feodora gemetar. Dia terus melangkah mundur. "Kak Anthony, aku bukan sengaja …. Aku nggak kepikiran …."Anthony menatap Angelica yang sedang duduk di atas tanah.Darah tidak berhenti mengalir dari samping pinggang. Wajahnya juga sudah kelihatan pucat. Sudut keningnya dipenuhi dengan keringat dingin. Namun, tatapannya ketika menatap Angelica malah terlihat lembut."Kamu nggak terluka, ‘kan?" tanya Anthony.Suara terdengar sangat lirih, seolah telah menguras seluruh tenaganya.Angelica terbengong di tempat. Matanya terbelalak. Ketika melihat warna darah terus menyebar di atas kemeja Anthony, pikirannya menjadi hampa.Anthony berjalan maju satu langkah ke sisi Angelica. Lututnya terasa lemas, seketika setengah berlutut di atas tanah."Angelica …."Anthony mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Angelica. Namun, jari tangannya malah berhenti di udara.Dia tersenyum getir, kemudi

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 12

    Angelica menatap Andrew sekilas dengan tidak berdaya.Dia tahu kenapa Andrew berbuat seperti ini. Sepertinya Andrew ingin dia sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lalunya.Belum sempat Angelica mengatakan sesuatu, Anthony sudah berjalan maju dengan langkah besar.Langkah kaki Anthony sangat cepat. Dia kelihatan begitu buru-buru. Namun ketika berjalan ke hadapan Angelica, dia segera berhenti, seolah-olah tidak tahu bagaimana mendekati Angelica."Angelica." Suara Anthony terdengar serak. "Aku sudah mencarimu begitu lama …. Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan sama sekali? Kenapa kamu nggak bersedia memberi tahu masalah itu kepadaku?"Anthony mengulurkan tangannya ingin menyentuh pundaknya.Angelica langsung mundur selangkah.Tangan Anthony terkaku di udara. Tatapannya seketika menjadi suram.Angelica menatapnya dengan ekspresi tenang."Jangan berpura-pura seolah merasa terharu.""Apa aku nggak pernah beri tahu kamu? Aku sudah beri tahu semuanya kepadamu.""Saat aku hamil, aku sudah m

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 11

    Feodora duluan mengalihkan pandangannya. Dia melirik sekilas Andrew yang berada di sisi Angelica, lalu bergegas berjalan maju dan berbicara dengan nada rendah."Kak Angel, bisakah kita bicara sebentar?"Belum sempat Angelica membalas, Feodora sudah berbalik berjalan ke gang sebelah, seolah-olah yakin Angelica akan menyusul langkahnya.Kening Andrew berkerut. Dia memiringkan kepalanya untuk menatap Angelica.Angelica menggeleng padanya, lalu berdiri dan mengikuti langkah Feodora.Suasana di dalam gang sangat hening. Cahaya matahari dihalangi oleh bangunan di dua sisi. Hanya tersisa sedikit cahaya yang jatuh di atas permukaan lantai.Feodora membalikkan tubuhnya, lalu berkata dengan terus terang."Kak Angel, kenapa kamu bisa berdua dengan orang itu?" Nada bicara Feodora terdengar sedikit menyalahkan. "Apa kamu sudah mengkhianati Kak Anthony?"Angelica tidak berbicara, melainkan menatapnya dengan tenang.Ketika Feodora menyadari Angelica tidak menjawab, dia pun kembali berkata dengan pani

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 10

    Satu bulan kemudian.Angelica sudah jarang memikirkan masalah itu lagi.Mimpi buruk yang sebelumnya datang setiap malam kini hanya sesekali saja. Saat bangun, dia juga tidak berkeringat dingin lagi.Angelica mulai bisa tidur dengan nyenyak. Kini, dia terbangun di pagi hari karena sinar matahari, bukan lagi karena mimpi buruk. Selama sebulan ini, Andrew memperlakukannya dengan sangat baik.Angelica sempat berkomentar bahwa kopi di tempat ini terlalu pahit. Keesokan harinya, Andrew langsung mempekerjakan barista terbaik dari dalam negeri.Dia berkata ingin makan hotpot, tetapi tidak ada restoran hotpot di sekitar sana. Keesokan harinya, sebuah restoran hotpot bahkan dibuka di dekat tempat mereka.Suatu hari, Angelica sempat memandangi toko bunga di bawah dari balkon beberapa kali. Ketika pulang di sore hari itu, sudah ada sebuket bunga lisianthus putih di kamarnya.Andrew tidak pernah sengaja mengungkit jasanya, juga tidak pernah mengungkit semua hal itu, seolah-olah semuanya memang sud

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 9

    Di negara lain.Pemandangan asing terbentang di luar jendela. Angin di negara asing membawa aroma air laut dan garam berembus masuk, menggerakkan tirai putih yang tipis.Angelica terbangun dari mimpi buruk dengan keringat dingin memenuhi punggungnya.Mimpi itu lagi.Angelica meringkuk di dalam selimut sambil memeluk lututnya. Dia sedang menunggu detak jantungnya perlahan kembali tenang.Setelah itu, sebuah tangan hangat menyentuh punggung Angelica, lalu menepuknya dengan perlahan, seolah-olah sedang menenangkan seekor binatang yang sedang terkejut."Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."Suara rendah itu terdengar di dalam kegelapan, sedikit serak, tetapi memberikan rasa tenang.Angelica memalingkan kepalanya. Dia melihat orang yang duduk di samping ranjang dengan bantuan cahaya rembulan yang memancar dari luar jendela.Orang itu bernama Andrew Chanata. Dia adalah musuh bebuyutan Anthony.Andrew sedang mengenakan pakaian rumahan berwarna gelap dan bersandar di kursi di sisi tempat tidur. Di sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status