MasukAwalnya Angelica mengira semuanya sudah berakhir.Namun setelah Anthony siuman, dia tetap tidak bersedia kembali ke tanah air.Entah dari mana dia mendapatkan alamat Angelica. Setelah lukanya sudah mulai pulih, dia pun muncul di hadapan Angelica.Luka di bagian samping pinggang Anthony masih belum sembuh total. Ketika berdiri di tempat, dia bahkan kelihatan agak mengenaskan.Angelica tidak menemuinya. Dia berencana untuk membiarkannya selama beberapa hari. Anthony pasti akan mundur dengan sendirinya. Namun, dia sudah merendahkan keteguhan Anthony.Anthony meminta seseorang untuk mengantar sebuah kotak perhiasan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung model eksklusif dari merek terkenal, kemudian ada juga selembar kartu yang ditulis tangan. Di atasnya tertera satu baris tulisan.[Maaf, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi.]Angelica menatap kartu itu selama tiga detik.Kemudian, dia membuka pintu dan langsung membanting kuat kotak perhiasan di hadapan Anthony.Kotak terpental hingga terb
Feodora menunduk untuk menatap pisau di tangannya. Dia pun merasa kaget."Aku … aku bukan …." Sekujur tubuh Feodora gemetar. Dia terus melangkah mundur. "Kak Anthony, aku bukan sengaja …. Aku nggak kepikiran …."Anthony menatap Angelica yang sedang duduk di atas tanah.Darah tidak berhenti mengalir dari samping pinggang. Wajahnya juga sudah kelihatan pucat. Sudut keningnya dipenuhi dengan keringat dingin. Namun, tatapannya ketika menatap Angelica malah terlihat lembut."Kamu nggak terluka, ‘kan?" tanya Anthony.Suara terdengar sangat lirih, seolah telah menguras seluruh tenaganya.Angelica terbengong di tempat. Matanya terbelalak. Ketika melihat warna darah terus menyebar di atas kemeja Anthony, pikirannya menjadi hampa.Anthony berjalan maju satu langkah ke sisi Angelica. Lututnya terasa lemas, seketika setengah berlutut di atas tanah."Angelica …."Anthony mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Angelica. Namun, jari tangannya malah berhenti di udara.Dia tersenyum getir, kemudi
Angelica menatap Andrew sekilas dengan tidak berdaya.Dia tahu kenapa Andrew berbuat seperti ini. Sepertinya Andrew ingin dia sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lalunya.Belum sempat Angelica mengatakan sesuatu, Anthony sudah berjalan maju dengan langkah besar.Langkah kaki Anthony sangat cepat. Dia kelihatan begitu buru-buru. Namun ketika berjalan ke hadapan Angelica, dia segera berhenti, seolah-olah tidak tahu bagaimana mendekati Angelica."Angelica." Suara Anthony terdengar serak. "Aku sudah mencarimu begitu lama …. Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan sama sekali? Kenapa kamu nggak bersedia memberi tahu masalah itu kepadaku?"Anthony mengulurkan tangannya ingin menyentuh pundaknya.Angelica langsung mundur selangkah.Tangan Anthony terkaku di udara. Tatapannya seketika menjadi suram.Angelica menatapnya dengan ekspresi tenang."Jangan berpura-pura seolah merasa terharu.""Apa aku nggak pernah beri tahu kamu? Aku sudah beri tahu semuanya kepadamu.""Saat aku hamil, aku sudah m
Feodora duluan mengalihkan pandangannya. Dia melirik sekilas Andrew yang berada di sisi Angelica, lalu bergegas berjalan maju dan berbicara dengan nada rendah."Kak Angel, bisakah kita bicara sebentar?"Belum sempat Angelica membalas, Feodora sudah berbalik berjalan ke gang sebelah, seolah-olah yakin Angelica akan menyusul langkahnya.Kening Andrew berkerut. Dia memiringkan kepalanya untuk menatap Angelica.Angelica menggeleng padanya, lalu berdiri dan mengikuti langkah Feodora.Suasana di dalam gang sangat hening. Cahaya matahari dihalangi oleh bangunan di dua sisi. Hanya tersisa sedikit cahaya yang jatuh di atas permukaan lantai.Feodora membalikkan tubuhnya, lalu berkata dengan terus terang."Kak Angel, kenapa kamu bisa berdua dengan orang itu?" Nada bicara Feodora terdengar sedikit menyalahkan. "Apa kamu sudah mengkhianati Kak Anthony?"Angelica tidak berbicara, melainkan menatapnya dengan tenang.Ketika Feodora menyadari Angelica tidak menjawab, dia pun kembali berkata dengan pani
Satu bulan kemudian.Angelica sudah jarang memikirkan masalah itu lagi.Mimpi buruk yang sebelumnya datang setiap malam kini hanya sesekali saja. Saat bangun, dia juga tidak berkeringat dingin lagi.Angelica mulai bisa tidur dengan nyenyak. Kini, dia terbangun di pagi hari karena sinar matahari, bukan lagi karena mimpi buruk. Selama sebulan ini, Andrew memperlakukannya dengan sangat baik.Angelica sempat berkomentar bahwa kopi di tempat ini terlalu pahit. Keesokan harinya, Andrew langsung mempekerjakan barista terbaik dari dalam negeri.Dia berkata ingin makan hotpot, tetapi tidak ada restoran hotpot di sekitar sana. Keesokan harinya, sebuah restoran hotpot bahkan dibuka di dekat tempat mereka.Suatu hari, Angelica sempat memandangi toko bunga di bawah dari balkon beberapa kali. Ketika pulang di sore hari itu, sudah ada sebuket bunga lisianthus putih di kamarnya.Andrew tidak pernah sengaja mengungkit jasanya, juga tidak pernah mengungkit semua hal itu, seolah-olah semuanya memang sud
Di negara lain.Pemandangan asing terbentang di luar jendela. Angin di negara asing membawa aroma air laut dan garam berembus masuk, menggerakkan tirai putih yang tipis.Angelica terbangun dari mimpi buruk dengan keringat dingin memenuhi punggungnya.Mimpi itu lagi.Angelica meringkuk di dalam selimut sambil memeluk lututnya. Dia sedang menunggu detak jantungnya perlahan kembali tenang.Setelah itu, sebuah tangan hangat menyentuh punggung Angelica, lalu menepuknya dengan perlahan, seolah-olah sedang menenangkan seekor binatang yang sedang terkejut."Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."Suara rendah itu terdengar di dalam kegelapan, sedikit serak, tetapi memberikan rasa tenang.Angelica memalingkan kepalanya. Dia melihat orang yang duduk di samping ranjang dengan bantuan cahaya rembulan yang memancar dari luar jendela.Orang itu bernama Andrew Chanata. Dia adalah musuh bebuyutan Anthony.Andrew sedang mengenakan pakaian rumahan berwarna gelap dan bersandar di kursi di sisi tempat tidur. Di sa







