Share

Bab 8

Author: Rafansya
last update publish date: 2026-09-29 15:33:52

Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat.

"Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 8

    Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 7

    Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 6

    Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 5

    Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 4

    Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 3

    "Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status