로그인Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang.
"B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket kulit, dengan celana jeans. Tampan, namun tersirat mata yang tajam. Pria ini bernama Bara, tangan kanan Arga. Tanpa membuang waktu, Bara berjalan mendekati meja besar. Brak! Ia mengempaskan sebuah koper kulit berukuran kecil ke atas meja kayu tersebut. Klek. Koper itu terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai dalam pecahan ratusan ribu yang sangat tebal. "Hak atas kepemilikan gadis ini dan seluruh surat utang ayahnya sudah berpindah tangan," ucap Bara dengan suara bariton yang berat. "Mulai detik ini, dia resmi menjadi milik Tuan kami." Milik Tuan kami? Jantungku seakan berhenti berdetak. Kata-kata itu menghantam dadaku hingga membuatku sesak napas. "T-tentu saja, Tuan. Tentu saja," jawab Bos Rentenir itu sambil membungkuk, memeluk koper uangnya dengan serakah. Wajahnya pucat pasi. "Silakan bawa gadis itu. Kami bersumpah demi Tuhan, kami sama sekali belum menyentuhnya seujung kuku pun sejak dia dibawa ke mari. Transaksi kita selesai." Bara membalikkan tubuhnya perlahan, mengarahkan sepasang mata elangnya tepat ke arahku. "Nona Luna, mari ikut kami. Jangan membuat keributan jika Anda masih sayang dengan nyawa Anda." "Nggak! Aku nggak mau!" teriakku panik. Air mataku kembali tumpah. Aku mencoba melangkah mundur, menjauh dari kedua pria berjas hitam itu. "Lepaskan aku! Siapa Tuan kalian?! Siapa yang sudah membeli aku?! Aku bukan barang!" teriakku sekuat tenaga. "Bawa dia," perintah Bara pada rekannya, sama sekali tidak memedulikan makianku. Wajahnya tetap datar. "Lepaskan! Jangan sentuh aku! Tolong!" teriakku saat lengan kekar salah satu dari mereka mencengkeram lenganku dengan kuat, memaksaku berdiri tegak lalu menyeret tubuh lemasku keluar dari ruangan. "Diamlah, Nona, jika Anda tidak ingin kami bertindak kasar," desis pria berjas itu. "Kalian jahat! Kejam! Katakan siapa bos kalian! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?!" teriakku lagi, suaraku menggema di sepanjang lorong-lorong gelap gudang tua yang lembap. Namun, tidak ada satu pun anak buah rentenir di lorong itu yang berani bergerak menolongku. Mereka hanya berdiri berjejer di sepanjang dinding, menundukkan kepala saat kami lewat. "Tugas kami hanya menjemput Anda, Nona Luna. Sebaiknya simpan energi Anda untuk bertemu dengan Tuan kami nanti," sahut Bara tanpa menoleh ke belakang. "Aku tidak mau bertemu dengan monster itu! Lebih baik aku mati daripada harus dijual lagi seperti ini!" bentakku di sela tangisan, menahan langkah kaki sekuat tenaga. "Pilihan hidup Anda bukan lagi urusan kami. Tuan kami sudah membayar sangat mahal demi menembus Anda," jawabnya dingin. Mendengar itu, duniaku runtuh. Keluar dari sarang rentenir kecil, kini aku masuk ke dalam cengkeraman "Tuan" misterius yang entah siapa dan seperti apa wujudnya? Apakah dia seorang bos mafia perdagangan manusia? Pengusaha tua bangka yang mesum? Membayangkannya saja membuat seluruh persendianku lemas. Di tengah keputusasaanku, memoriku tentang Arga berputar dalam pikiran. 'Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Kenapa justru kau berubah pikiran?' suara Arga seolah berbisik di telingaku. 'Tempat aman bukan berarti aku harus mengikuti Kak Arga. Aku ingin keluar dari rumah itu dengan rasa hormat. Bukan mengikuti preman kayak Kakak!' Aku memejam pasrah. Ketakutan yang menjalar tubuhku seolah tak ada gunanya. Hidupku sudah diambang kehancuran. Arga, sosok pria yang baik justru ku anggap penjahat. "Maaf, Kak Arga... maaf..." bisikku lirih dengan bibir gemetar, menyadari bahwa kemungkinan besar aku tidak akan pernah bisa melihat preman jalanan itu lagi. "Jalan lebih cepat, Nona. Mobil sudah siap di depan," perintah pria berjas itu, membuyarkan lamunanku saat tubuh lemasku akhirnya tiba di pintu keluar gudang. Udara malam pinggiran kota sangat dingin langsung menusuk pori-pori kulitku. Salah satu pria berjas membukakan pintu belakang dengan cekatan. "Silakan masuk, Nona." "Aku bukan Nona kalian!" jawabku ketus, lalu menatap mereka, "Aku tidak akan pernah memaafkan kalian... dan bos kalian yang brengsek itu," desisku dengan tatapan penuh kebencian sebelum tubuhku didorong masuk ke dalam kursi belakang yang dilapisi kulit premium yang empuk. Brak! Pintu mobil ditutup dengan dentuman keras. "Jalan," ucap Bara, setelah duduk di kursi depan di samping pengemudi. Mobil melaju membelah jalan. Aku hanya bisa menyandarkan dahi ke kaca jendela mobil yang begitu dingin. Mataku menatap kosong ke luar, menyaksikan lampu-lampu jalanan yang dengan genangan air mata yang tak kunjung berhenti. Wajah Arga terbayang saat aku melihat jalanan. "Mungkinkah dia akan menolongku? jika aku menyebutnya?" batin kecilku bertanya. Tapi itu rasanya tidak mungkin. Pasti saat ini Arga sudah terlelap di kasurnya. Sementara Bara hanya melihat Luna dari spion kaca. Sebenarnya, ia tidak tega melihat keadaan gadis itu. Tapi ia tak bisa berbuat banyak karena perintah Arga yang tak ingin identitasnya terungkap. "Sebaiknya usap air matamu itu!" pinta Bara menyerah tisu padaku. "Tak perlu." Aku membuang tisu itu ke bawah tanpa memperdulikan kebaikannya. "Tuan kami pasti marah besar jika melihat penampilanmu yang seperti orang tertindas. Bisa-bisa kami bertiga dibunuh hidup-hidup. Apa kau tega melihat pembunuhan didepan matamu?" Bara sengaja menakuti Luna agar gadis itu luluh. Aku tertegun sejenak. Jika anak buahnya bisa dibunuh hidup-hidup karena hal ini, bagaimana dengan aku yang menolak perintahnya. Aku berteriak, "Kak Arga, tolong aku!" "Percuma kau berteriak. Kak Argamu tidak akan datang," jelasnya diiringi gelak tawa mereka. "Kalian enggak tahu Kak Arga itu seperti apa?" Aku merasa kesal, lalu memandangi pria di depanku itu yang seperti sibuk dengan ponselnya. Mobil berbelok memasuki sebuah penthose mewah. Ketakutanku semakin menjadi ketika Mobil berhenti di sana. "Keluar!" pinta Bara menarik tanganku dengan kasar. Cengkeramannya begitu kuat. Membuatku tak punya pilihan selain melangkah keluar dari mobil mewah itu. Di hadapanku, sebuah gedung pencakar langit berdiri megah, dan lift pribadi langsung membawa kami menuju penthouse yang berada di lantai paling atas. Pintu lift terbuka secara otomatis, menampilkan ruangan yang sangat luas dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana. Tempat ini begitu mewah, namun bagiku tak ubahnya seperti sangkar emas yang menakutkan. Bara melepaskan tanganku dengan sentakan pelan, lalu berjalan menuju sofa kulit hitam di tengah ruangan. Ia melipat tangan, lalu menatap raut wajahku yang lelah tapi penuh kekesalan. "Mulai malam ini, ini rumahmu," ucap Bara. Ia berdiri, lalu berbalik menatapku dengan tajam. "Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, kalo kau masih ingin selamat. Tuan kami bukan orang sembarangan. Jika sekali saja kau membuat masalah, bisa-bisa kau... " Bara tidak melanjutkan kata. Ia hanya memperlihatkan jari telunjuknya yang menempel di leher disertai lidah yang menjulur kebawah.Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala
Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k
Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken
Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang
Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci
"Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me







