登入Dahil sa isang aksidente, nalaglag ang dinadala ni Aeris na siyang dahilan kung bakit naging impyerno ang kanyang buhay-may asawa. Sa kamay pa lamang ng kanyang byenan, lalo na sa kanyang asawang si Flyn. Lahat na yata ng klase ng pang-aabuso ay naranasan niya, at tinanggap niya iyon dahil naniwala siyang kaparusahan iyon sa kanyang ginawa. Hanggang sa dumating ang tiyuhin ni Flyn na si Lucien, na tila ba handa siyang iligtas sa buhay na ayaw niyang iwanan. Dumating ang araw na desidido na si Aeris na tumakas at sumama na lamang kay Lucien, ngunit agad na naglaho ang kanyang mga pangarap nang bigla niyang masaksihan ang sikretong nag uugnay sa kanilang dalawa ng lalaki. Handa ba siyang maranasan muli ang kalupitan na minsan na niyang tinakasan sa kamay ng lalaking naging dahilan kung bakit niya piniling mabuhay?
查看更多Aroma keringat bercampur dengan parfum mawar samar memenuhi udara kamar pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu, kulit Sella berkilap peluh, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan amarah tertahan.
“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya. Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia. Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?” “Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kesal setelah Bimo melepaskan penyatuan berdua. “Aku iri mendengar cerita temanku yang baru menikah dengan suami bulenya di Australia itu! Setiap hari temanku selalu mendapatkan kepuasan dari suaminya!” “Maafkan aku, Sella. Aku sudah berusaha melakukan apa saja agar bisa memuaskanmu di atas ranjang. Aku sudah minum obat kuat dan melakukan gym dua minggu sekali di tengah kesibukan pekerjaanku yang lumayan padat. Aku…” Belum selesai Bimo bicara, Sella sudah lebih dulu menyelanya. “Aku capek, Mas! Milikmu selalu loyo dan lemas sebelum aku dapat meraih puncak! Masih mendingan aku main sama timun dan terong sekalian!“ hina Sella sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu tidur dengan posisi berbalik memunggunginya. Bimo hanya bisa terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah dan malu setelah mendengar keluhan istrinya. Dengan langkah gontai, ia turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya dengan cepat sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar. Bimo berjalan menuju ruang tamu dengan langkah berat. Ia memilih untuk menghidupkan laptopnya demi mengalihkan rasa malunya karena gagal memberikan kepuasan pada istrinya. Sebenarnya, pikirannya benar-benar kacau dan ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi mengingat pertengkarannya dengan Sella barusan. Namun, ia tidak bisa menunda pekerjaannya karena besok adalah deadline tugas kantornya. Baru saja layar laptopnya menyala, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang mendekat dari arah dapur. “Bimo, kamu belum tidur, Nak?” suara lembut itu memecah kesunyian. Mayang, mama mertuanya, muncul sambil membawa secangkir kopi hangat yang aromanya langsung tercium oleh Bimo. Fokus Bimo seketika teralihkan pada kemolekan tubuh Mayang yang menggoda. Meskipun sudah berkepala empat, mertuanya itu terlihat seperti wanita umur 30-an. Darahnya berdesir ketika melihat dua tonjolan yang tercetak sempurna di balik daster mini yang dipakai wanita itu. Bimo bisa menebak bahwa Mayang tidak memakai bra sama sekali. Saat sang mertua menunduk meletakkan kopi di atas meja, dia dapat melihat bukit kembarnya dari balik kerah daster yang terbuka. Bukit ranumnya terlihat sangat besar dan menantang, lebih besar dari milik istrinya—ukurannya diperkirakan 38 cup D. Rasa bersalah langsung menyergapnya. Dia lekas memalingkan pandangannya ke arah lain, tidak seharusnya dia menatap mertuanya seperti tadi. “Te… terima kasih, Ma,” ucap Bimo dengan suara tergagap. Mayang tersenyum lembut. “Iya, sama-sama, Nak. Apa kamu habis bertengkar lagi dengan Sella?” Pertanyaan dari Mayang itu membuat Bimo ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Apakah Mayang mendengar pertengkaran mereka barusan? Harga dirinya benar-benar runtuh di hadapan mama mertuanya itu. Mayang kemudian melangkah perlahan ke belakang Bimo dan mulai menyentuh pundaknya. “Kamu kelihatannya sangat capek dan tertekan, Bimo. Sini, biar Mama bantu pijat sedikit supaya pikiranmu bisa lebih rileks. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan Sella, mungkin dia hanya sedang lelah.” “Ti… tidak usah, Ma, aku tidak apa-apa kok. Lagian ini sudah malam, Mama istirahat saja,” tolak Bimo dengan suara bergetar karena gugup. Dia merasa kurang pantas jika mama mertuanya itu memijatnya di tengah malam begini. Namun, Mayang seolah tidak menerima penolakan tersebut dan tetap mulai memijat punggung Bimo dengan gerakan yang mantap namun lembut. Tangan Mayang terasa begitu halus, namun setiap sentuhannya membuat seluruh tubuh Bimo bergetar karena rasa tak nyaman. “Gimana, Nak Bimo? Pijatan Mama terasa enak, kan?” tanya Mayang dengan nada yang sangat pelan dan menenangkan di telinga Bimo saat pijatannya sudah merambat ke area punggungnya. “Iya, Ma… enak sekali,” jawab Bimo lirih, pijatannya memang nikmat hanya saja dia kurang menikmatinya lantaran yang memijatnya adalah mama mertuanya sendiri. Ia mencoba fokus pada layar laptop, namun pikirannya sudah tidak berada di sana lagi. “Mama punya cara supaya Sella berhenti marah,” bisik Mayang pelan di sela pijatannya. “Kalau kamu mau… Mama bisa membantumu agar Sella puas di atas ranjang.”Jack, sa tabi ko, nakangiti lang, pero may intensity sa tingin. Parang sinasabi niya: Good. But don’t forget who’s watching you.Kallum, nakatayo sa kabilang side, walang ekspresyon, pero ramdam ko ang analytical tension sa aura niya. He’s judging me. Both of them. Just… don’t break. Don’t break. Don’t.Ang mga minutes na yun, parang eternity. Halos hindi ko mapigilan ang katawan ko na mag-react—ang kamay ko nanginginig, ang lalamunan ko parang natutuyo, at ang utak ko nagkakagulo sa takot at pressure.Ngunit
Umaga na, pero hindi pa rin ako makapag-concentrate.Ang office ko, tahimik, ang mga ilaw ng computer screens ang tanging gumagalaw sa paligid. Pero kahit gaano ako ka-focused, may presensya pa rin sa utak ko: Jack. At Kallum.Hindi pa tapos ang tension kagabi. At ngayon, may dagdag pang pressure—si Eleanor Ward at Nathan Hale, ang bagong investors.Pumasok si Yara, ang assistant ko, dala ang coffee at schedule sheets. “Morning, Ms. Reed. Crosswell is arriving in fifteen. Do you want to review the presentation before?”“Tara, Yara. Let’s check the slides. Make sure everything is airtight,” sagot ko, pilit maayos ang tono, pero ang dibdib ko mabilis pa rin tumibok.Habang nagta-type ako sa laptop, pumasok si Jack sa office, casual na nakaharap sa akin. “Morning,” bati niya, parang walang nangyari kagabi. Pero ramdam ko ang init ng tingin niya sa akin—hindi casual, hindi friendly. Parang warning.“Morning,” sagot ko, diretso sa trabaho. Hindi ko kaya ang tension kung magsasama kami ng e
Pero alam ko, kahit pilit kong itanggi, hindi ako okay. Hindi ako okay dahil sa dalawang lalaki na nakakaapekto sa bawat galaw ko—si Jack at si Kallum. At sa kabila ng lahat ng sinabi ko sa sarili ko, alam ko na hindi ko sila kayang ihiwalay sa buhay ko, kahit pilit kong umiwas.“I won’t let myself fall for this,” bulong ko, pero ramdam ko ang kabigatan sa dibdib ko.At habang ang taxi ay umuusad sa kalsada, alam ko sa sarili ko: hindi lang trabaho ang pinaglalaban ko ngayon. May mas mahirap akong tinatangkang kontrolin: ang sarili ko.Kinaumagahan, pagdating ko sa office, tahimik ang lobby. Malamig ang aircon, pero parang hindi sapat para palamigin ang init sa dibdib ko.Pinilit kong huminga nang malalim bago pumasok sa cubicle. Binuksan ko ang laptop at nag-setup para sa mga emails at tasks, pero kahit gaano ko pilitin, ang utak ko ay paulit-ulit bumabalik sa kagabi—kay Jack, kay Kallum, sa tingin nila, sa init ng kanilang presence.“Focus, Crecia. Focus,” bulong ko sa sarili ko,
Tahimik silang dalawa. Binuksan ko ang folder sa harap ko. “We’re here because of the project. Not because of last night.”Tumingin sa akin si Kallum. “Then let’s talk about the project.”Tumingin din si Jack sa akin. “Fine.”Pero kahit bumalik kami sa mga documents at numbers, ramdam ko pa rin ang tingin nila sa isa’t isa. Parang hindi natapos ang usapan. Parang lumipat lang ng lugar. At sa gitna nilang dalawa, ako ang nakaupo.Trying to pretend this is just business. When I know it’s not.Jack slammed the folder on the table, tumigil ang lahat sa paligid namin.“Why is he here?” boses niya, mababa pero matalim. Tumingin si Kallum sa kanya, malamig at walang galaw.“I’m here because this is a business matter,” sagot niya, diretsong tumingin sa Jack. “Business?” Jack laughed, sarcastic, parang gusto niyang paluin ang mesa. “You call stalking her last night ‘business’?”Kumuha ako ng sipi mula sa folder at pilit pinipigilan ang sarili ko na hindi tumayo. “Jack—”“Don’t, Crecia,” sag
Napailing ako. "You can't tell me what to do.""I can warn you.""And what if I don't listen?"Tumingin siya sa labi ko bago bumalik sa mata ko."Then you'll make this harder."Para sa aming dalawa. Hindi ko alam kung sino ang unang gumalaw. Basta bigla na lang kaming naging masyadong magkalapit."
"Really? I didn't see any friendship between the two of you earlier. If you could just see how he looks at you and how you look at him," patutsada niya pa saka hinila ako palapit sa mga iilang nagkukumpulan doon. "Anyway, the Riofloridas are here. Just act natural. Hindi naman kailangang maging swe
"Bukas ang day off ko. Wala naman akong gagawin kaya ayos lang. I'll see you tomorrow then," agad na pagsang-ayon ko sa kaniya na tila ikinagulat niya.Kinagat ko ang ibabang labi ko at sumakay na sa kotse ko. Nakatanaw pa rin siya sa 'kin habang malawak ang ngiti. He's fucking cute when he's shy.
"Huwag kang mag-alala, wala ka namang kaagaw sa 'kin." He cut me off."Ang kapal!" Usal ko at inirapan siya. Narinig ko ang ngisi niya."Ako, maraming kaagaw sa 'yo panigurado." He mutters. "Matulog ka na. Hihintayin kong makatulog ka bago ako umalis."I bit my lip and stares at him. Can you stay?






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
評論