Share

Croffle

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-08-06 10:00:36

"Tidak ingin." jawab Naomi singkat. "Aku mau ke toilet." kemudian berjalan ke arah toilet wanita.

Mareeq mengeluarkan ponselnya. Dia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu memasukkannya kembali ke saku seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, jelas dia sedang merencanakan sesuatu.

Naomi kembali ke mejanya dengan pikiran yang masih penuh dengan croffle. Karena Mareeq, dia lupa untuk memfoto pamflet itu atau sekadar mencatan nomor untuk memesan. Dia pun mendengus dengan kesal.

"Ken

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Meeting yang Aneh

    "Naomi!" panggil Flora.Naomi mendekat. "Wah, rame banget.""Rujakan!" Flora menunjuk baskom besar berisi aneka buah. "Mau?"Naomi belum sempat menjawab. Flora menepuk jidatnya. "Kamu jangan makan nanas. Makan saja apa yang ada di mejamu.""Mejaku?" tanya Naomi bingung. Dia pun berjalan menuju mejanya.Naomi melihat sekotak besar buah-buahan potong. Tidak satu macam, tapi berbagai macam. Jelas ini bukan buah untuk rujak. isinya buah yang lebih premium.Flora menghampiri sahabatnya itu. "Kamu dapat yang berbeda. Mareeq perhatian sekali."Claudia yang sejak tadi ikut menikmati rujak menghentikan aktivitasnya. Tatapannya berpindah pada kedua sahabat yang asik memperhatikan sesuatu di meja Naomi. Claudia yang penasaran pun menghampiri mereka."Buah yang berbeda. Lebih mahal." ujar Claudia.Naomi dan Flora reflek menoleh ke belakang."Ya kan nggak apa. Berarti Mareeq tahu Naomi tidak boleh makan nanas." bela Flora.

  • Bilur Bulir Bertaut   Perhatian Leon

    "Kamu mau makan ini?"Naomi menggeleng. "Belum.""Kenapa beli? Ibu hamil tidak boleh makan nanas kan?"Naomi duduk di sofa. "Tadi di jalan ada ibu-ibu jualan nanas."Leon mendengarkan."Aku kasihan. Sore-sore gerimis masih jualan."Leon mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang. "Oh."Leon membuka mika, lalu menatap Naomi. "Kamu tahu, ibu hamil katanya nggak boleh makan nanas."Naomi menghela napas. "Aku tidak tahu itu cuma mitos atau memang harus dihindari.""Biar aku aja yang makan."Naomi terkekeh. "Yam baiklah."Leon mengambil sepotong nanas lalu memasukkannya ke mulut. Matanya langsung sedikit membesar."Manis.""Serius?" tanya Naomi.Leon mengangguk sambil mengunyah. Naomi memperhatikan dengan penasaran."Jangan tergoda." Leon mengingatkan."Aku tidak." bantah Naomi.Hanya dalam beberapa suapan nanas itu habis dilahap Leon. Leon menutup mika nanas yang sudah kos

  • Bilur Bulir Bertaut   Salah Paham

    Tangan Mareeq yang sudah berada di tuas transmisi langsung berhenti. Ia menoleh cepat ke arah Naomi. Pikirannya lebih dulu dipenuhi kecemasan. Naomi berkali-kali mengatakan belum siap menjadi ibu. Belum siap memiliki bayi. Kini, tiba-tiba ia bilang ingin beli nanas, buah yang sering dikaitkan masyarakat dengan mitos bisa memicu keguguran."Nanas? Kenapa tiba-tiba ingin beli?"Naomi masih melihat ke arah luar. "Ibu itu kasihan."Mareeq melihat ke arah pandang Naomi."Aku pengin beli dagangannya. Tapi, aku ragu boleh makan atau tidak."Beberapa detik, Mareeq hanya terdiam. Lalu ia mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya yang semula tegang perlahan melunak."Aku salah paham."Naomi memandangnya beberapa saat, lalu terkekeh pelan. "Salah paham kenapa?"Kemudian Naomi menyadari apa yang sedang dipikirkan Mareeq. Dia sudah bisa menebak salah paham apa yang dimaksud Mareeq.Tanpa berkata apa-apa, Mareeq kembali mematikan mesi

  • Bilur Bulir Bertaut   Nanas

    Mereka keluar hampir bersamaan. Mereka berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Mereka sama-sama diam.Begitu keluar dari lift, Naomi berjalan menuju lobi. Suara langkah kaki lain terdengar mengikuti di belakangnya. Ini seperti mereka akan pulang bersama. Tidak. Naomi tidak ada rencana itu.Akhirnya Naomi berhenti mendadak. Mareeq yang berada beberapa langkah di belakang ikut berhenti. Naomi berbalik sambil menghela napas."Kamu jalan duluan.""Kenapa? Kamu ingin kembali ke atas?""Bukan. Tujuan kita beda. Kamu pergi duluan.""Kenapa?""Kita tidak bisa pulang bersama.""Kenapa? Kamu dijemput? Pulang bersama Leon?""Tidak." jawab Naomi. "Jika aku pulang bersamamu maka banyak hal yang perlu dibahas dan biasanya berakhir aku menangis. Aku sedang tidak ingin menangis."Mareeq menatapnya cukup lama. Dia mengerti ini. Dia juga sudah berjanji untuk tidak mendesaknya."Aku hanya akan mengantarmu. Tidak ada obrolan a

  • Bilur Bulir Bertaut   Croffle

    "Tidak ingin." jawab Naomi singkat. "Aku mau ke toilet." kemudian berjalan ke arah toilet wanita.Mareeq mengeluarkan ponselnya. Dia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu memasukkannya kembali ke saku seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, jelas dia sedang merencanakan sesuatu.Naomi kembali ke mejanya dengan pikiran yang masih penuh dengan croffle. Karena Mareeq, dia lupa untuk memfoto pamflet itu atau sekadar mencatan nomor untuk memesan. Dia pun mendengus dengan kesal."Kenapa?" tanya Flora.Naomi menoleh ke arah Flora. "Oh? Hmm... Aku lapar.""Lapar lagi?""Sebenanya bukan lapar. Aku ingin croffle." ujar Naomi. "Ada pamflet di papan pengumuman dekat toilet, tapi aku lupa mencatat nomornya." jelasnya."Minta saja sama Leon. Kirim pesan sekarang." saran Flora.Naomi menggelengkan kepala. Karena dia tahu makanan-makanan itu dari Mareeq bukan dari Leon. Leon juga tidak akan mau repot-repot seperti itu."Besok sajalah... Udah

  • Bilur Bulir Bertaut   Makanan yang Berdatangan

    Keesokan paginya, Naomi datang lebih awal dari biasanya. Lift baru saja terbuka ketika aroma kopi memenuhi lorong kantor. Ia melangkah pelan menuju mejanya sambil memegang tas dan map presentasi.Namun langkahnya berhenti. Di atas mejanya sudah ada sebuah kotak bening berisi puding karamel dengan lapisan saus gula yang mengilap. Di sampingnya terdapat sebotol susu stroberi dingin yang masih dipenuhi embun. Tidak ada nama pengirim.Naomi menghela napas pelan. Ia tahu siapa pengirimnya. Tentu saja bukan Leon, karena dia berangkat bersama Naomi.Flora yang baru datang langsung menghampiri. "Wah... ada yang perhatian nih."Naomi hanya tersenyum tipis. "Mungkin salah kirim."Flora mengambil puding karamel itu sebentar. "Mana mungkin. Ini jelas ditaruh di mejamu."Beberapa karyawan lain mulai melirik sambil tersenyum iseng."Naomi lagi dimanja.""Ih, romantis juga."Naomi memilih duduk dan menyalakan komputer, berusaha mengaba

  • Bilur Bulir Bertaut   Saling Percaya

    Naomi langsung melepas sendok yang masih digigitnya. Naomi akhirnya menarik sendok itu keluar, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil.“Kebiasaan jelek.”Tersenyum malu karena dimarahi Mareeq seperti itu. Dia serasa menjadi Freya. Perhatian kecil dari Mareeq yan

  • Bilur Bulir Bertaut   Ruang yang Masih Ada

    Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menata

  • Bilur Bulir Bertaut   Meja di Sudut Kafe

    Setelah pelayan pergi, hening sebentar turun di antara mereka. Tidak canggung. Tapi tidak sepenuhnya ringan juga. Raya menatap Naomi. Lebih lama dari sebelumnya.“Kamu pasti mikir aku aneh ya,” katanya tiba-tiba.Naomi mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”

  • Bilur Bulir Bertaut   Ambisi dalam Genggaman

    Naomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal."Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status