Se connecterMereka keluar hampir bersamaan. Mereka berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Mereka sama-sama diam.
Begitu keluar dari lift, Naomi berjalan menuju lobi. Suara langkah kaki lain terdengar mengikuti di belakangnya. Ini seperti mereka akan pulang bersama. Tidak. Naomi tidak ada rencana itu.Akhirnya Naomi berhenti mendadak. Mareeq yang berada beberapa langkah di belakang ikut berhenti. Naomi berbalik sambil menghela napas.
"Kamu jalan duluan."
"Kenapa? Kamu ingin ke
Meeting selesai menjelang siang. Semua mulai merapikan dokumen dan laptop. Naomi sengaja sedikit memperlambat gerakannya.Biasanya setelah rapat, Rahaal akan menunggu Naomi bicara dengan kakaknya. Hari ini, dia bergegas merapikan dokumen. Ia melewati belakang kursi Naomi dengan menjaga jarak beberapa langkah, lalu langsung keluar ruangan bersama supervisor lain.Naomi hanya memperhatikannya sekilas. Ia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu lama. Seperti biasanya, setelah rapat gabungan selesai, ia menyempatkan diri menemui Vino sebelum sang kakak kembali ke kantor Gigantic."Naomi, ayo kembali." ajak Claudia."Kamu duluan saja. Aku akan mampir ke tempat lain sebentar.""Oke. Aku duluan." ujar Claudia lalu pergi meninggalkan ruangan.Vino baru saja memasukkan beberapa map ke dalam tas kerjanya ketika melihat Naomi menghampirinya."Kak."Vino menoleh dan tersenyum. Dia melihat adiknya dengan seksama. Kali ini Naomi tampak jau
"Naomi!" panggil Flora.Naomi mendekat. "Wah, rame banget.""Rujakan!" Flora menunjuk baskom besar berisi aneka buah. "Mau?"Naomi belum sempat menjawab. Flora menepuk jidatnya. "Kamu jangan makan nanas. Makan saja apa yang ada di mejamu.""Mejaku?" tanya Naomi bingung. Dia pun berjalan menuju mejanya.Naomi melihat sekotak besar buah-buahan potong. Tidak satu macam, tapi berbagai macam. Jelas ini bukan buah untuk rujak. isinya buah yang lebih premium.Flora menghampiri sahabatnya itu. "Kamu dapat yang berbeda. Mareeq perhatian sekali."Claudia yang sejak tadi ikut menikmati rujak menghentikan aktivitasnya. Tatapannya berpindah pada kedua sahabat yang asik memperhatikan sesuatu di meja Naomi. Claudia yang penasaran pun menghampiri mereka."Buah yang berbeda. Lebih mahal." ujar Claudia.Naomi dan Flora reflek menoleh ke belakang."Ya kan nggak apa. Berarti Mareeq tahu Naomi tidak boleh makan nanas." bela Flora.
"Kamu mau makan ini?"Naomi menggeleng. "Belum.""Kenapa beli? Ibu hamil tidak boleh makan nanas kan?"Naomi duduk di sofa. "Tadi di jalan ada ibu-ibu jualan nanas."Leon mendengarkan."Aku kasihan. Sore-sore gerimis masih jualan."Leon mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang. "Oh."Leon membuka mika, lalu menatap Naomi. "Kamu tahu, ibu hamil katanya nggak boleh makan nanas."Naomi menghela napas. "Aku tidak tahu itu cuma mitos atau memang harus dihindari.""Biar aku aja yang makan."Naomi terkekeh. "Yam baiklah."Leon mengambil sepotong nanas lalu memasukkannya ke mulut. Matanya langsung sedikit membesar."Manis.""Serius?" tanya Naomi.Leon mengangguk sambil mengunyah. Naomi memperhatikan dengan penasaran."Jangan tergoda." Leon mengingatkan."Aku tidak." bantah Naomi.Hanya dalam beberapa suapan nanas itu habis dilahap Leon. Leon menutup mika nanas yang sudah kos
Tangan Mareeq yang sudah berada di tuas transmisi langsung berhenti. Ia menoleh cepat ke arah Naomi. Pikirannya lebih dulu dipenuhi kecemasan. Naomi berkali-kali mengatakan belum siap menjadi ibu. Belum siap memiliki bayi. Kini, tiba-tiba ia bilang ingin beli nanas, buah yang sering dikaitkan masyarakat dengan mitos bisa memicu keguguran."Nanas? Kenapa tiba-tiba ingin beli?"Naomi masih melihat ke arah luar. "Ibu itu kasihan."Mareeq melihat ke arah pandang Naomi."Aku pengin beli dagangannya. Tapi, aku ragu boleh makan atau tidak."Beberapa detik, Mareeq hanya terdiam. Lalu ia mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya yang semula tegang perlahan melunak."Aku salah paham."Naomi memandangnya beberapa saat, lalu terkekeh pelan. "Salah paham kenapa?"Kemudian Naomi menyadari apa yang sedang dipikirkan Mareeq. Dia sudah bisa menebak salah paham apa yang dimaksud Mareeq.Tanpa berkata apa-apa, Mareeq kembali mematikan mesi
Mereka keluar hampir bersamaan. Mereka berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Mereka sama-sama diam.Begitu keluar dari lift, Naomi berjalan menuju lobi. Suara langkah kaki lain terdengar mengikuti di belakangnya. Ini seperti mereka akan pulang bersama. Tidak. Naomi tidak ada rencana itu.Akhirnya Naomi berhenti mendadak. Mareeq yang berada beberapa langkah di belakang ikut berhenti. Naomi berbalik sambil menghela napas."Kamu jalan duluan.""Kenapa? Kamu ingin kembali ke atas?""Bukan. Tujuan kita beda. Kamu pergi duluan.""Kenapa?""Kita tidak bisa pulang bersama.""Kenapa? Kamu dijemput? Pulang bersama Leon?""Tidak." jawab Naomi. "Jika aku pulang bersamamu maka banyak hal yang perlu dibahas dan biasanya berakhir aku menangis. Aku sedang tidak ingin menangis."Mareeq menatapnya cukup lama. Dia mengerti ini. Dia juga sudah berjanji untuk tidak mendesaknya."Aku hanya akan mengantarmu. Tidak ada obrolan a
"Tidak ingin." jawab Naomi singkat. "Aku mau ke toilet." kemudian berjalan ke arah toilet wanita.Mareeq mengeluarkan ponselnya. Dia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu memasukkannya kembali ke saku seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, jelas dia sedang merencanakan sesuatu.Naomi kembali ke mejanya dengan pikiran yang masih penuh dengan croffle. Karena Mareeq, dia lupa untuk memfoto pamflet itu atau sekadar mencatan nomor untuk memesan. Dia pun mendengus dengan kesal."Kenapa?" tanya Flora.Naomi menoleh ke arah Flora. "Oh? Hmm... Aku lapar.""Lapar lagi?""Sebenanya bukan lapar. Aku ingin croffle." ujar Naomi. "Ada pamflet di papan pengumuman dekat toilet, tapi aku lupa mencatat nomornya." jelasnya."Minta saja sama Leon. Kirim pesan sekarang." saran Flora.Naomi menggelengkan kepala. Karena dia tahu makanan-makanan itu dari Mareeq bukan dari Leon. Leon juga tidak akan mau repot-repot seperti itu."Besok sajalah... Udah
Ruangan Rahaal terasa seperti kotak kaca yang kedap suara, di mana waktu seolah dipaksa untuk berjalan lebih lambat dan teratur. Berbeda dengan ruangan Mareeq yang hangat, penuh dengan tumpukan kertas yang agak berantakan dan aroma kopi yang ramah, ruangan Rahaal adalah definisi dari minimalisme
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du
Naomi melangkah masuk ke ruangan, atmosfer berat menyergapnya. Aroma cuka beras yang tajam bercampur dengan kesegaran ikan mentah langsung memenuhi indra penciumannya. Di meja tengah, dokumen-dokumen yang biasanya berserakan telah disingkirkan, digantikan oleh parade sushi mewah yang tertata sang