Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Dua Cup Amerikano

Share

Dua Cup Amerikano

Author: NaoMiura
last update publish date: 2025-12-23 20:00:21

Claudia berjalan menghampiri mereka berdua dan bergabung untuk makan. "Kalian sudah selesai?" Tanyanya.

"Iya, kami baru saja selesai. Tapi jika kamu ingin kami menunggu, kami akan tunggu." ujar Flora tanpa berpikir panjang.

"Naomi," panggil Claudia, suaranya sedikit meninggi agar terdengar oleh Naomi.

"Ya?" Sahut Naomi.

"Aku dan Mareeq tadi membeli minuman untuk anak-anak," ujar Claudia, "Bisakah kamu mengambilnya? Ada di mobil Mareeq. Kamu bisa mengajak anak cowok

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Konsentrasi

    Naomi masih duduk di lantai dengan kaki terlipat, rambut panjang bob-nya sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga. Di sebelahnya ada gelas minum, bungkus makanan, dan kotak puzzle yang tutupnya sudah miring. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara yang tidak benar-benar mereka tonton.Apartemen itu kecil. Tidak ada taman. Tidak ada teras dengan lampu kuning hangat. Tidak ada pintu melengkung atau pagar kayu yang tertutup tanaman merambat.Hanya sebuah ruang tamu sederhana, karpet, meja rendah, dan seorang perempuan yang sedang berdebat dengannya tentang kepingan puzzle. Anehnya, Mareeq tidak merasa kekurangan apa pun. Kontras dengan rumah impian yang dia ceritakan.Mareeq sudah terbiasa pulang ke tempat yang lebih luas, dengan perabot yang tertata rapi dan segala sesuatu berada di tempatnya. Namun, di tempat ini, ia tidak merasa harus memikirkan pekerjaan yang belum selesai, rapat besok pagi, atau keputusan orang lain yang harus ia

  • Bilur Bulir Bertaut   Kepingan Puzzle Di Malam Hari

    Naomi masih memiliki banyak ketakutan. Ia belum tahu bagaimana perpisahan Mareeq dan Raya akan berlangsung. Bagaimana Freya akan menerima perubahan itu. Apakah dirinya benar-benar siap memasuki kehidupan yang selama ini hanya berani ia bayangkan.Namun, malam itu, setidaknya ia mulai memahami satu hal. Mareeq tidak sedang memintanya menghancurkan kehidupan yang pernah ia bangun. Ia sedang berusaha menyelesaikan kehidupan itu dengan bertanggung jawab, sebelum memulai sesuatu yang baru bersama Naomi.Mareeq membiarkan Naomi mengambil bagian dari rumah masa depannya. Merencanakan masa depan bersama. Meskipun dia belum berani menyebutnya rumah mereka.Naomi masih bersandar di sisi Mareeq ketika percakapan mereka perlahan mereda. Tangisnya sudah berhenti, meskipun matanya masih sedikit basah. Ia mengambil tisu dari meja, mengusap sudut matanya, lalu berusaha mengalihkan perhatian pada sisa makanan pasar malam yang mulai dingin.Mareeq tidak mengatakan apa-apa

  • Bilur Bulir Bertaut   Ketakutan

    Mareeq melirik meja di hadapan mereka, tempat sisa makanan pasar malam dan kotak puzzle masih tergeletak. Memperlihatkan sisa-sisa kebersamaan mereka malam ini. Tidak. Seharian ini karena di tempat kerja mereka juga bersama.“Aku membayangkan rumah itu ketika aku memikirkanmu.” ujarnya.Mareeq menatap Naomi lurus-lurus.“Aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu menjalani hidup dengan keputusan yang tidak sepenuhnya kuinginkan. Sekarang, ketika aku tahu apa yang kuinginkan, aku tidak ingin terus menundanya.” Ia berhenti sebentar.Mareeq mengusap punggung tangan Naomi dengan ibu jari.“Aku tahu kita tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam satu malam. Aku juga tahu masih ada banyak hal yang harus kuurus sebelum aku bisa mengajakmu memikirkan rumah itu dengan serius.”Naomi menunduk. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayai semua itu begitu saja. Ingin membiarkan dirinya membayangkan rumah yang suatu ha

  • Bilur Bulir Bertaut   Bayangan Masa Depan

    “Di samping jalan setapak itu, aku ingin lavender dan rosemary. Mungkin beberapa bunga kecil lainnya. Tanaman yang membuat halaman terlihat hidup.” papar Mareeq sambil membayangkan."Kamu suka bunga?" tanya Naomi."Bunga karena kamu yang akan tinggal di sana. Aku suka alam."Naomi mengangguk. Rupanya Mareeq memikirkan dirinya. "Baiklah. Lanjutkan."“Pintu utama juga terbuat dari kayu, tapi warnanya sedikit lebih terang daripada gerbang. Di dekatnya ada jendela dengan bingkai kayu. Mungkin bentuknya melengkung di bagian atas, mengikuti gaya rumahnya.”“Dan ada teras?”“Ada. Aku ingin teras di bagian depan, cukup luas untuk dua kursi dan sebuah meja kecil.”"Kita pernah membahas kursi kita ketika sedang mencari hadiah pernikahan salah satu anggota tim." ujar Naomi mengingatkan."Ya. Aku akan membeli yang itu." jawab Mareq berencana menepati janji.“Kita juga butuh lampu

  • Bilur Bulir Bertaut   Deskripsi

    Mareeq membiarkannya. Jika Mareeq memaksa Naomi memperlihatkan wajahnya mungkin dia akan menangis. Mareeq pun menyenderkan punggungnya dan menatap televisi di depannya.Beberapa saat kemudian, pria itu kembali berbicara."Aku suka bagaimana kamu cemburu."Naomi tersentak dan dan menyingkirkan bantal itu dari kepalanya. Naomi duduk dan menatap Mareeq tajam. Ia memukul pelan lengan pria itu dengan bantal.“Mareeq!”Mareeq menangkap bantal itu di pukulan yang kedua. Naomi gagal untuk memberikan pukulan yang ketiga. Mareeq meletakkan bantal itu di samping, lalu menatap Naomi dengan ekspresi datar yang justru membuat gadis itu semakin salah tingkah.“Aku tidak cemburu,” gumam Naomi, kali ini jauh lebih pelan.Mareeq mengangguk seolah menerima jawabannya. “Baik.”Pria itu kembali menghadap televisi. Naomi menatapnya selama beberapa detik, tidak yakin apakah harus merasa lega atau kesal karena pria

  • Bilur Bulir Bertaut   Seberapa Cepat?

    Naomi seharusnya sudah tahu. Namun, entah mengapa, mendengar jawaban itu secara langsung membuat dadanya terasa sedikit sesak. Bodoh sekali. Ia sendiri yang bertanya. Lalu sekarang ia justru tidak menyukai jawabannya."Ini seperti aku datang terlambat ke dalam hidupmu." gumam Naomi.Naomi buru-buru meraih minumannya. Tenggorokannya terasa kering, padahal ia baru saja minum beberapa menit lalu.Mareeq memperhatikannya dari sudut mata. Perubahan itu kecil. Naomi tidak mengeluh, tidak memasang wajah kesal, bahkan masih berusaha terlihat biasa saja. Namun, Mareeq sudah cukup mengenalnya untuk menyadari bahwa gadis itu mendadak menjadi lebih pendiam.Saat hendak mengambil minumannya, tangan Naomi tanpa sengaja menyentuh saus takoyaki yang menempel di wadah. Sedikit saus berwarna kecokelatan berpindah ke pergelangan tangannya.“Ah.” seru Naomi.Ia mengangkat tangannya, memperhatikan noda itu, lalu hendak meraih tisu yang terletak di de

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

  • Bilur Bulir Bertaut   Awal Pertemuan

    Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status