เข้าสู่ระบบClaudia berjalan menghampiri mereka berdua dan bergabung untuk makan. "Kalian sudah selesai?" Tanyanya.
"Iya, kami baru saja selesai. Tapi jika kamu ingin kami menunggu, kami akan tunggu." ujar Flora tanpa berpikir panjang.
"Naomi," panggil Claudia, suaranya sedikit meninggi agar terdengar oleh Naomi.
"Ya?" Sahut Naomi.
"Aku dan Mareeq tadi membeli minuman untuk anak-anak," ujar Claudia, "Bisakah kamu mengambilnya? Ada di mobil Mareeq. Kamu bisa mengajak anak cowok
Mareeq tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Naomi sekali. "Jaga diri."Naomi mengangguk. "Terima kasih sudah datang.""Aku pergi dulu, Leon."Mareeq tersenyum tipis. Kemudian ia berjalan keluar bersama Claudia. Begitu pintu kamar tertutup, Mareeq mengembuskan napas panjang. Claudia berjalan di sampingnya."Mareeq, Terima kasih sudah menawarkan tumpangan.""Sama-sama."Mereka berjalan menuju lift.Leon masih berdiri di sana, di samping Naomi. Kemudian dia duduk di kursi di samping tempat tidur. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam. Leon menatap wajah Naomi yang pucat."Dokter bilang kamu harus banyak istirahat."Tangannya perlahan meraih tangan Naomi yang terletak di atas selimut. Naomi membiarkannya."Aku tahu kamu pasti sedih."Naomi menatap jemari mereka. Leon menggenggam tangannya lebih erat."Ini bukan salah kamu."Naomi menahan air mata. Leon mengusap punggung tanganny
"Kamu mungkin belum sempat melakukan banyak hal untuk Nunu. Tapi, kamu sudah membawanya sampai sejauh ini. Itu bukti kamu menyayanginya." Mareeq memeluknya lebih erat.Naomi menangis dalam diam. Mareeq membiarkannya.Tidak ada kalimat yang bisa mengembalikan Nunu. Tidak ada pelukan yang bisa menghapus rasa kehilangan itu. Tetapi untuk saat itu, Mareeq hanya ingin Naomi tahu satu hal. Ia tidak perlu melewati kesedihan itu sendirian.Di luar kamar, lorong rumah sakit masih cukup sepi. Claudia berdiri beberapa meter dari pintu. Awalnya ia datang karena ingin mengikuti Mareeq.Dan tanpa sengaja, Claudia mendengar percakapan mereka. Claudia membeku. Ia menatap pintu. Jadi Naomi keguguran.Untuk sesaat, perasaan Claudia benar-benar berubah. Ia merasa prihatin.Bagaimanapun, kehilangan seorang bayi bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh. Terlebih dari suara Naomi yang terdengar begitu hancur, jelas perempuan itu sangat terpukul.Namun bebe
Air mata mulai memenuhi mata Naomi. Napas Naomi tersendat.Dokter menjelaskan bahwa benturan yang dialami Naomi bisa menjadi salah satu faktor, tetapi penyebab keguguran pada usia kehamilan dini tidak selalu dapat dipastikan hanya dari satu kejadian. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.Namun Naomi hampir tidak mendengar penjelasan itu. Tangannya bergerak ke perutnya. Yang dia tahu hanya satu. Hilang. Dia kehilangan Nunu."Nunu..." Nama itu keluar begitu pelan. Seolah ia takut kalau mengucapkannya terlalu keras, kenyataan akan menjadi semakin nyata.Beberapa saat kemudian, seorang pria masuk dengan langkah cepat."Nona."Naomi menoleh ke sumber suara. Matanya yang sejak tadi kosong langsung berubah. Vino segera menghampiri tempat tidur. Begitu melihat wajah Vino, pertahanan Naomi runtuh."Kakak..." Air matanya langsung mengalir deras."Kakak di sini." Vino meraih tubuh adiknya dan memeluknya.Naomi langsung membalas pe
Menjelang siang, Naomi mulai merasa haus. Ia melihat gelas di mejanya yang sudah kosong. Naomi menghela napas."Harus beli minum."Kebetulan ada sebuah kafe tidak jauh dari gedung kantor. Naomi mengambil dompet dan ponselnya, kemudian berjalan keluar. Udara siang terasa cukup panas.Ia berjalan menyusuri trotoar sambil melihat-lihat kendaraan yang berlalu-lalang. Ketika hampir sampai di depan kafe, Naomi tiba-tiba melihat seorang anak kecil berlari keluar dari sisi trotoar."Hei!" teriak Noami.Anak itu tidak menyadari ada seseorang yang sedang mendorong troli besar berisi barang dari arah berlawanan. Semua terjadi sangat cepat. Naomi spontan berlari.Ia meraih tubuh anak itu dan memeluknya. Namun Naomi tidak sempat menghindar. Troli itu menghantam sisi tubuhnya. Beberapa barang di atas troli bergeser. Orang yang mendorong troli langsung menghentikannya."Mbak! Maaf! Mbak nggak apa-apa?"Naomi menahan napas. Pinggangnya terkena
"Leon, kamu di sini?"Pria itu berjalan menghampirinya."Kamu kelihatan sibuk banget."Leon berdiri di depan Naomi, kemudian tanpa banyak bicara membungkuk sedikit dan mengecup kening Naomi. Naomi tersenyum kecil. Kebiasaan itu sudah sangat familiar baginya.Namun setelah itu, tangan Leon turun dan mengusap pelan perut Naomi. Gerakannya lembut. Sangat hati-hati.Naomi spontan menunduk melihat tangan Leon. Perutnya masih rata. Namun sentuhan itu tetap membuat sesuatu terasa menghangat di dalam dirinya."Jangan terlalu capek," kata Leon."Baiklah.""Sudah makan?""Sudah."Leon mengusap perutnya sekali lagi sebelum menarik tangannya. Naomi menatapnya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak beberapa hari terakhir."Leon.""Hm?""Kamu sekarang..." Naomi sedikit ragu. "jarang kelihatan sama Maya."Ekspresi Leon berubah sedikit. "Maya?"Naomi mengangguk. "Iya." Ia berusaha terdengar b
Senin pagi, Naomi kembali ke rutinitasnya. Komputer menyala di atas meja. Beberapa dokumen memenuhi layar. Segelas susu yang sudah hampir dingin berada di sebelah tangannya, sementara Naomi terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.Naomi memeriksa daftar pekerjaannya satu per satu. Ia ingin menyelesaikan semuanya. Bukan karena pekerjaannya mendesak. Tapi karena ia tahu setelah ini ia harus mulai mengurangi beban kerjanya. Ia tidak bisa terus berlari dari kenyataan.Menjelang siang, Naomi keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas. Ia berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Naomi masuk.Baru ketika pintunya hampir tertutup, sebuah tangan menahannya. Pintu kembali terbuka. Mareeq masuk."Kebetulan."Naomi tersenyum kecil. Pintu lift tertutup. Mereka hanya berdua. Beberapa detik pertama terasa sunyi.Beberapa detik pertama terasa sunyi. Naomi memandang angka lantai yang terus berubah."Bukankah hari ini kamu
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.







