Mag-log in"Aku pikir Rahaal hanya berusaha melindungi rumah tangga saudaranya. Dia tidak sedang menjahatimu, dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan." ucap Killa, suaranya tenang namun tajam.
Kata-kata Killa menghujam tepat di titik yang selama ini Naomi coba abaikan. Di hadapan kejujuran Killa yang brutal, Naomi menyadari bahwa kegalauannya bukan sekadar karena kerinduan pada Mareeq, melainkan karena ia sedang berdiri di atas fondasi yang salah. Selama ini ia menganggap Rahaal sebagai peng
Keesokan paginya, Naomi siap dengan hari kerja pertama di tahun itu. Dia sengaja datang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, lalu duduk dengan punggung tegak sambil menatap layar yang belum sepenuhnya menyala.Pikirannya sudah berjalan lebih cepat dari perangkat di depannya. Hari ini ada rapat dengan Gigantic. Moodnya sedikit buruk. Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena satu orang yang selalu memaksanya berurusan dengan Gigantic. Rahaal.Naomi mengambil napas pelan, lalu membuka agenda kerja di layar. Ia mencoba fokus pada catatan presentasi, jadwal, dan dokumen yang harus dibawa. Tapi pikirannya tetap tahu bahwa cepat atau lambat, pria itu akan muncul dari ruangannya.Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja di belakang meja kerjanya terbuka. Rahaal keluar sambil merapikan lengan kemejanya. Langkahnya tenang, wajahnya seperti biasa. Terlalu tenang untuk seseorang yang sering mengacaukan suasana tanpa
Makan siang itu akhirnya mencapai ujungnya tanpa benar-benar selesai. Piring-piring mulai kosong. Percakapan mereda dengan sendirinya, seperti sesuatu yang tidak ingin dipaksakan.Naomi menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja sebentar. Leon mengambil gelasnya, menghabiskan sisa minuman. Mareeq tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya memanggil pelayan.Begitu pelayan datang, Mareeq berkata pelan."Bisa minta tagihannya?" pinta Mareeq."Baik. Mohon tunggu sebentar."Pelayan pun pergi dari meja mereka. Tak berapa lama pelayan kembali membawakan sebuah kotak kayu tertutup berisi rincian tagihan. Dia meletakkannya di atas meja dan hendak meninggalkan mereka. Seolah tidak ingin bertele-tele, Mareeq langsung mengeluarkan kartunya dan meletakkan di atas tagihan.Naomi mengangkat wajahnya sedikit. "Kami yang akan bayar... ”Mareeq menatap ke arah Naomi dan tersenyum, lalu menatap ke arah pelayan. Dia mengisyratakan untuk segera
Siang itu turun dengan tenang, seperti halaman pertama yang tidak ingin terburu-buru dibaca. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela besar, jatuh lembut di atas meja yang belum benar-benar berantakan. Piring dan gelas masih tersusun rapi di meja. Percakapan yang mengalir pelan tanpa arah yang jelas.Di antara suara sendok yang sesekali bersentuhan dengan piring dan dengung halus dari sekitar, Naomi duduk di sana. Tidak terburu-buru. Tidak juga benar-benar diam.Makan siang yang sudah dijanjikan. Di tempat yang tidak terlalu ramai, bersama seseorang yang sudah mengisi ruang di hidupnya. Tidak ada rencana besar. Tidak ada ekspektasi berlebih. Hanya waktu yang berjalan sebagaimana mestinya.Sampai ponselnya bergetar di atas meja. Getaran itu singkat. Namun cukup untuk menarik perhatian Naomi dari pikirannya sendiri. Layarnya menyala. Satu nama muncul di sana, Mareeq.Naomi menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah memberi wak
Malam datang perlahan. Apartemen terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu menyala hangat, meja dipenuhi camilan, termasuk kardus wafer yang kini sudah terbuka dan berkurang beberapa.Leon berdiri di depan kulkas yang ada di dapur kecil. Dia mengambil dua kaleng minuman dan membuka keduanya. “Kamu yakin nggak mau keluar?” tanyanya.Naomi duduk di sofa, kaki dilipat santai, satu kaleng wafer di tangan. “Nggak. Di sini aja.”Leon berjalan mendekat, menyerahkan satu kaleng ke Naomi. “Baiklah. Tahun baru versi hemat energi.”Naomi mendengus kecil. “Hmm. Memang itu tujuanku."Leon duduk di sebelahnya, cukup dekat tanpa benar-benar menyentuh. Suara TV menyala, tapi tidak benar-benar mereka perhatikan. Countdown acara tahun baru mulai terdengar samar. Naomi melirik jam di layar.“Hampir.”Leon mengangguk, lalu berdiri. “Ayo ke balkon.”Naomi ikut bangkit, masih membawa mi
Pagi berikutnya datang tanpa banyak tanda. Naomi sedang duduk santai di apartemennya ketika ponselnya bergetar. Nama Mareeq muncul. Ia menatap layar itu sebentar.Mareeq mengatakan sedang ada di tempat parkir apartemen. Naomi mengerutkan kening, kenapa dia tiba-tiba ada di bawah. Bukankah seharusnya dia liburan bersama Raya dan Freya. Tanpa banyak pikir, Naomi bangkit, mengambil jaket tipisnya, dan keluar dari apartemen.Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di area parkiran. Mobil Mareeq terlihat dari kejauhan. Naomi berjalan mendekat, membuka pintu penumpang, lalu masuk tanpa banyak bicara. Ia duduk. Menutup pintu. Hening.Mareeq ada di kursi pengemudi, seperti biasa tenang, seolah tidak sedang melakukan sesuatu yang aneh. Padahal datang ke apartemen Leon adalah hal yang tidak wajar.Naomi melirik sekilas. “Kamu ke sini pagi-pagi cuma buat nyuruh aku turun?”Tidak ada jawaban langsung, Mareeq hanya menatap Naomi dengan senyuman. Ma
Naomi langsung melepas sendok yang masih digigitnya. Naomi akhirnya menarik sendok itu keluar, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil.“Kebiasaan jelek.”Tersenyum malu karena dimarahi Mareeq seperti itu. Dia serasa menjadi Freya. Perhatian kecil dari Mareeq yang seperti iniyang dia sukai.Hening sebentar. Naomi menutup kotak es krim yang kini kosong. Ia menyandarkannya ke samping. Beberapa detik berlalu. Mobil terus berjalan.“Kamu tadi beneran kecewa ya,” kata Mareeq tiba-tiba, masih menatap jalan.Naomi tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap ke depan.“Sedikit,” jawabnya akhirnya. “Cuma wafer.”Hening lagi. Hingga mobil akhirnya berbelok menuju apartemen Naomi. Perjalanan yang tadi terasa tanpa arah kini perlahan menemukan ujungnya.Naomi masih diam di kursi penumpang. Kotak es krim kosong sudah tergeletak di samping, dan sendok plastik di
Usai makan siang, mereka ke rumah papa. Suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Begitu pintu utama terbuka, aroma pengharum ruangan vanilla. Suara televisi dari ruang tengah memecah keheningan.Khaza duduk dengan santai di sofa panjang, sebuah remot di satu tangan. Ia tampak sedang menon
Papa berhenti merapikan serbetnya. Ada jeda singkat, hampir tak terlihat. Namun, cukup untuk membuat Naomi menyadarinya. Papa mengangkat wajah, senyumnya tetap tenang.“Ada orang lain yang akan bersama kita”.Kalimat itu menggantung di udara. Vino melirik Naomi sekilas, lalu kembali
Aroma kopi hangat memenuhi rumah ketika Naomi melangkah keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, terurai tanpa usaha, daster tidurnya jatuh longgar mengikuti tubuh, tampilan pagi yang jujur dan apa adanya. Ia berhenti mendadak di ambang ruang makan.Kakaknya ada di sana. Dudu
Mareeq memecah keheningan dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Seolah kalimat itu hanya ditujukan untuk ruang kecil di antara mereka.“Aku sudah dengar,” katanya perlahan, “kalau kamu ngotot mempertahankan proyekku. Sampai akhirnya dipilih.” Ia menatap Naomi dengan sungguh-sungguh







