Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Cheese Cake dari Meja Sebelah

Share

Cheese Cake dari Meja Sebelah

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-03-28 20:00:40

“Nona mau steak. Ini.” Naomi menunjuk ke arah buku menu, tapi tatapannya tidak lepas dari kakaknya.

Vino melirik ke arah menu yang dia pilih. Menu dengan tulisan Japanese Wagyu A5, dengan tulisan Premiun yang lebih besar. Dia menatap lagi ke arah adiknya. Tatapannya seolah ingin mengatakan ini pembalasan untuk apa yang Vino katakan.

Vino pun menghela nafas. Dia lalu mengangkat tangan memanggil pelayan. Beberapa menit kemudian pesanan mereka dicatat dan pelayan pergi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Tamu di Lobby

    Rahaal lalu mengalihkan pandangannya dan melihat ke meja Claudia.“Claudia.” panggilnya pelan tapi mampu membuat semua orang menoleh.Wanita itu langsung berdiri dari kursinya. “Ya?”“Saya butuh laporan proyek minggu lalu. Versi yang sudah direvisi.”Claudia mengangguk dan segera membuka folder di komputernya. Rahaal berdiri di sana menunggu beberapa saat. Namun, tanpa sadar pandangan Rahaal kembali melirik ke arah meja Naomi.Naomi masih sama. Fokus, tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan. Rahaal menarik napas pelan, lalu menerima berkas dari Claudia.“Terima kasih,” katanya singkat.Setelah itu ia kembali berjalan ke ruangannya. Ketika pintu tertutup, Rahaal duduk di kursinya dan secara refleks melirik ke sisi meja. Di sana, tumbler merah edisi Natal miliknya masih berada di tempat yang sama. Rahaal menatapnya beberapa detik. Lalu, tanpa sadar, senyum tipis yang sama kembali munc

  • Bilur Bulir Bertaut   Tumbler

    Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di depan kaca kafe terpajang tulisan “Christmas Special” dengan hiasan daun pinus dan lampu kecil yang berkelap-kelip. Aroma kopi dan susu hangat langsung menyambut begitu ia membuka pintu. Di dalam, suasana masih cukup sepi, anya suara mesin espresso dan denting sendok di cangkir.Naomi berdiri di depan kasir. Naomi sebenarnya hanya ingin membeli matcha dan latte untuk Rahaal. Dia harus membalas untuk cheese cake kemarin.“Matcha latte satu,” katanya setelah melihat menu beberapa detik. Lalu ia menambahkan, sedikit lebih pelan, “Dan satu café latte.”Barista mencatat pesanannya. Saat itu Naomi melihat rak kecil di samping mesin kopi

  • Bilur Bulir Bertaut   Meja Sebelah

    Naomi menatap cheesecake itu beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan garpunya kembali di piring. Ia tidak memakannya lagi. Sebaliknya, ia meraih gelas minumnya dan meneguk sedikit."Kakak.""Hmm"“Cepat habiskan makanannya.” pinta Naomi. "Kita ke tujuan selanjutnya."Vino mengangkat alis. "Kamu buru-buru sekali. Biasanya juga nongkrong dulu bukan?Naomi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap piringnya sebentar, lalu berkata dengan nada yang dibuat santai, "Nona nggak nyaman."Vino memperhatikannya. Vino tidak perlu melihat ke mana pun untuk tahu apa maksudnya. Ia melirik sekilas ke arah meja Rahaal.Pria itu sedang duduk dengan dua rekannya, tampak seperti sedang bercakap santai. Namun Vino juga memperhatikan sesuatu yang lain. Setiap beberapa saat, pandangan pria itu kembali ke meja mereka.Vino tidak memaksa lagi. Ia mengambil potongan terakhir makanannya dan menghabiskannya dengan cepat.Naomi sudah le

  • Bilur Bulir Bertaut   Cheese Cake dari Meja Sebelah

    “Nona mau steak. Ini.” Naomi menunjuk ke arah buku menu, tapi tatapannya tidak lepas dari kakaknya.Vino melirik ke arah menu yang dia pilih. Menu dengan tulisan Japanese Wagyu A5, dengan tulisan Premiun yang lebih besar. Dia menatap lagi ke arah adiknya. Tatapannya seolah ingin mengatakan ini pembalasan untuk apa yang Vino katakan.Vino pun menghela nafas. Dia lalu mengangkat tangan memanggil pelayan. Beberapa menit kemudian pesanan mereka dicatat dan pelayan pergi meninggalkan meja."Nona belum mau mengenalkannya pada kakak karena Nona sendiri belum yakin padanya." ujar Naomi kemudian."Kalian sudah lama bersama bukan?" tanya Vino."Hmm" gumam Naomi. Dia mulai memandang ke luar jendela. "Dia baik. Dia memperlakukan Nona dengan baik. Tapi, Nona selalu merasa dia bukan orang yang tepat untuk diajak serius.""Kenapa masih bertahan?" tanya Vino ingin tahu.Naomi menoleh pada kakaknya. "Lalu bagaimana Nona harus mengakhiri ji

  • Bilur Bulir Bertaut   Kencan Setelah Natal

    Udara kota masih terasa seperti sisa-sisa liburan Natal. Banyak orang masih berjalan santai di pusat perbelanjaan, membawa tas belanja atau sekadar menikmati hari libur yang belum sepenuhnya berakhir. Naomi duduk di kursi penumpang mobil sambil memainkan ponselnya ketika sebuah klakson pendek terdengar.“Kalau kau tidak masuk sekarang, aku pergi sendiri.”Naomi mendongak dan melihat kakaknya, Vino, bersandar di mobil dengan ekspresi sabar yang dibuat-buat. Naomi langsung tertawa kecil dan keluar dari apartemen.“Kau baru datang dua menit,” protesnya.Vino membuka pintu mobil untuknya. “Dua menit itu lama kalau aku menunggu orang yang selalu telat.”Naomi masuk ke mobil sambil memutar mata. “Lebih baik kakak bersyukur adek kakak ini masih mau jalan denganmu.”Vino menyalakan mobil sambil tertawa. “Kau yang mengajakku.”“Itu fitnah.”Naomi menyandarkan kepala

  • Bilur Bulir Bertaut   25 Desember

    Naomi terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Dia melihat ke jendela kamar, matahari sudah sangat terik. Dia melihat ke arah jam di dinding, pukul 10.30. Dia terlalu lama tidur.Tubuhnya terasa berat. Taman hiburan, perjalanan malam, tangisan yang akhirnya keluar. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ia hampir tidak ingat kapan tepatnya ia terlelap.Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka sedikit. “Naomi.” Suara Leon pelan membangunkannya. Naomi menggeliat kecil di bawah selimut.“Hmm…” gumamnya.“Bangun. Sarapan sudah siap.” tuturnya.Naomi membuka mata setengah saja. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih penuh rasa kantuk. Naomi mengerang pelan dan menarik selimut sampai dagu.Leon tertawa kecil dari pintu kamar. Beberapa detik kemudian Naomi akhirnya duduk juga di tempat tidur, mengusap wajahnya pelan. Tubuhnya terasa… pegal. Terutama kakinya.Naomi berjalan keluar kamar dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status