Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Hari Libur yang Gerah

Share

Hari Libur yang Gerah

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-05-02 20:00:13

Hari Sabtu datang dengan suasana yang lebih pelan. Naomi masih mengenakan pakaian rumah ketika Leon bersiap keluar dari apartemen. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut dan menyemprotkan parfum secukupnya.

“Kamu mau keluar?” tanya Naomi dari sofa sambil membalik halaman majalah yang sebenarnya tidak ia baca.

Leon menoleh. “Iya. Ada janji dengan teman kantor satu tim.”

Naomi mengangguk singkat. “Maya?”

Leon tert

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Perhatian Seorang Kakak

    Vino tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan Naomi sejenak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Ia tahu ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum menjawab pertanyaan sederhana itu, terutama karena nama yang akan disebutnya bukanlah nama yang mudah diterima Naomi.Vino menghampiri adiknya dan mengecup ubun-ubun adiknya sebelum duduk di sebelahnya."Mengantar Alina."Naomi berkedip. Ekspresi Naomi tidak banyak berubah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali melihat televisi."Oh."Satu kata itu membuat Vino justru semakin memperhatikan adiknya. Dulu, mendengar nama Alina saja sudah cukup membuat Naomi kesal. Naomi merasa Alina mengambil kakaknya, mengubah kebiasaan mereka, dan membuat Vino tidak lagi selalu tersedia untuknya. Pertengkaran mereka mengenai hubungan itu pernah berlangsung cukup lama, sampai Vino harus berhati-hati setiap kali ingin menghabiskan waktu bersama Alina.Sekarang Naomi tidak lagi melarang mereka berpacaran.

  • Bilur Bulir Bertaut   Kembali Ke Rumah

    Paginya, Naomi bangun dengan suasana hati yang jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bahkan sebelum membuka mata sepenuhnya, ia sudah tersenyum sendiri. Ingatan tentang kejadian semalam datang begitu saja.Mareeq duduk di sampingnya, percakapan mereka tentang perasaan yang selama ini berusaha ia tahan, ciuman yang begitu tiba-tiba, hingga bagaimana mereka akhirnya terjatuh ke lantai bersama kepingan-kepingan puzzle yang berserakan. Dan tentu saja, pengakuannya sendiri.Mengingat semua itu, Naomi langsung menarik selimut sampai menutupi separuh wajahnya."Ya ampun..."Ia berguling ke sisi tempat tidur, lalu membenamkan wajah ke bantal. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu dengan begitu berani? Lebih memalukan lagi, ia bukan hanya mengatakannya sekali. Ia mengatakannya sambil memeluk Mareeq erat-erat, seolah pria itu bisa menghilang jika ia melepaskannya.Semakin Naomi berusaha menghilangkan rasa malu, semakin jelas pula ingatan tent

  • Bilur Bulir Bertaut   Langkah Selanjutnya

    Mareeq sempat berusaha menopang tubuhnya dengan satu tangan, tetapi gerakan Naomi yang begitu mendadak membuat mereka tetap terguling ke atas karpet. Beberapa kepingan puzzle terlempar dari meja. Ada yang meluncur ke bawah sofa, ada pula yang berserakan di sekitar mereka. Kotak puzzle terbalik. Gambar rumah kecil dengan taman bunga yang hampir selesai kini kehilangan susunannya, kepingan-kepingannya bertebaran di lantai.Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak. Mareeq terbaring telentang dengan Naomi memeluknya erat. Satu lengannya masih menyangga tubuh agar Naomi tidak terbentur meja. Sedangkan tangan lainnya secara refleks melingkari punggung perempuan itu."Aku menginginkanmu."Mareeq terdiam. Ia menunduk, mencoba melihat wajah Naomi yang tersembunyi di dekat bahunya. Naomi justru semakin erat memeluknya. Kemudian ia tersenyum kecil mendengar hal yang selama ini dia tunggu.Beberapa detik berlalu sebelum Naomi akhirnya mengangkat wajah. Rambutnya

  • Bilur Bulir Bertaut   Keputusan

    Mareeq menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.“Aku tidak merasa bersalah karena ingin menyentuh rambutmu,” lanjutnya. “Aku tidak merasa bersalah karena ingin duduk lebih lama di sini. Dan aku tidak merasa bersalah karena setiap kali melihatmu, aku ingin lebih dekat.”Naomi merasakan jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Naomi membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban. Ia bisa saja meminta Mareeq menjauh. Bisa saja mengakhiri percakapan ini sebelum dirinya semakin kehilangan kendali. Namun, ia tidak ingin Mareeq menjauh. Yang ia inginkan justru bertentangan dengan peringatannya sendiri.Naomi menunduk, memainkan ujung jarinya. Dia tidak bisa membairkan ini terlalu jauh. Dia juga menginginkannya, tapi dia juga takut."Kita tidak bisa melewati batas lagi." ujar Naomi kemudian.Mareeq terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Aku suka

  • Bilur Bulir Bertaut   Keberanian

    “Aku bahkan tidak melakukan apa-apa.” ujar Mareeq dengan tenang.Kali ini, Naomi membeku sesaat. Mareeq memperhatikan perubahan sikapnya, tetapi tidak berkomentar. Ia hanya kembali menyusun puzzle, membiarkan keheningan di antara mereka terasa nyaman.Mareeq kemudian menyandarkan satu tangan di atas meja dan menatap Naomi dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”Naomi langsung menyesali kalimatnya sendiri. Dia kembali menghadap meja. Ia meraih beberapa kepingan sekaligus, berharap Mareeq akan membiarkannya menyelesaikan puzzle dengan tenang. Namun, pria itu tampaknya belum berniat mengalah.“Naomi.” panggil Mareeq.“Apa?”“Bisakah kamu melihatku?” pinta Mareeq.Dengan enggan, Naomi menoleh. Mareeq menatapnya tanpa senyum kali ini. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Naomi mendadak lupa bahwa beberap

  • Bilur Bulir Bertaut   Konsentrasi

    Naomi masih duduk di lantai dengan kaki terlipat, rambut panjang bob-nya sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga. Di sebelahnya ada gelas minum, bungkus makanan, dan kotak puzzle yang tutupnya sudah miring. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara yang tidak benar-benar mereka tonton.Apartemen itu kecil. Tidak ada taman. Tidak ada teras dengan lampu kuning hangat. Tidak ada pintu melengkung atau pagar kayu yang tertutup tanaman merambat.Hanya sebuah ruang tamu sederhana, karpet, meja rendah, dan seorang perempuan yang sedang berdebat dengannya tentang kepingan puzzle. Anehnya, Mareeq tidak merasa kekurangan apa pun. Kontras dengan rumah impian yang dia ceritakan.Mareeq sudah terbiasa pulang ke tempat yang lebih luas, dengan perabot yang tertata rapi dan segala sesuatu berada di tempatnya. Namun, di tempat ini, ia tidak merasa harus memikirkan pekerjaan yang belum selesai, rapat besok pagi, atau keputusan orang lain yang harus ia

  • Bilur Bulir Bertaut   Awal Pertemuan

    Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status