LOGINUdara musim dingin di Istanbul menyambut Mareeq saat ia melangkah keluar bandara. Namun, tujuannya bukan untuk urusan bisnis semata. Dia akan menyelesaikan hal yang mengganjal dalam hatinya.
Mareeq berdiri tegak di depan pintu rumah yang elegan. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia muncul begitu saja. Saat pintu terbuka, sosok wanita cantik bernama Raya terpaku di tempat.
"Mareeq?" Raya menatap suaminya dengan mata terbelalak. "Kamu tidak memberi kabar kalau kamu akan datang. Jika
Pagi harinya, sebuah pesan dari Ami masuk ke ponselnya. Sahabat lamanya itu mengingatkan bahwa mereka seharusnya bertemu hari ini. Mereka sempat membicarakan kemungkinan bertemu di apartemen Naomi. Tetapi, karena Naomi sedang berada di rumah, akhirnya mereka sepakat bertemu di sana saja.Naomi sendiri tidak keberatan. Justru ada sesuatu yang terasa menyenangkan dari gagasan bertemu Ami di rumah masa kecilnya. Tempat itu menyimpan banyak kenangan mereka, sejak masa sekolah hingga sebelum Ami pergi ke luar negeri. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu secara langsung.Selama ini, mereka hanya mengandalkan pesan singkat dan panggilan video untuk bertukar kabar. Itu pun tidak selalu bisa dilakukan sesering yang mereka inginkan karena kesibukan dan perbedaan waktu. Karena itulah, ketika Ami mengatakan akan datang, Naomi tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Siang hari, bel rumah berbunyi. Naomi segera berjalan menuju pintu karena tahu siapa yang akan datang. Beg
Naomi mengaduk kuah udonnya perlahan, meskipun ia belum berniat mengambil suapan berikutnya. Dia masih mempersiapkan keberaniannya untuk cerita selanjutnya. Dia harus mengatakan tentang rencana Mareeq mengajaknya ke Turki. Naomi ingin kakaknya tahu semuanya."Mareeq mengajakku pergi ke Turki." ujar Naomi kemudian.Vino menghentikan gerakan tangannya."Turki?""Iya." Naomi mengangguk.Vino tidak langsung memberikan tanggapan. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi."Kenapa dengan Turki?""Di sana anak dan istrinya tinggal." jawab Naomi."Kamu mau pergi?" tanya Vino penasaran.Pertanyaan itu membuat Naomi terdiam."Nona belum tahu."Apa tujuannya mengajakmu pergi ke negara di mana istri dan anaknya tinggal?" tanya Vino. "Dia tidak sedang menjadikanmu tameng untuk mengakhiri hubungannya dengan istrinya bukan?" ujar Vino memastikan.Naomi sedikit membelalak. Dia tampak terkejut deng
Vino mengamati wajah adiknya. Ia bisa melihat bahwa Naomi tidak sedang mencari pembenaran atas hubungannya dengan Mareeq. Justru sebaliknya, Naomi tampak terus mencari kemungkinan terburuk, seolah ia harus memastikan tidak ada seorang pun yang terluka sebelum mengizinkan dirinya sendiri bahagia."Kamu tidak bisa mencari pria lain?"Naomi menggeleng. "Mareeq ayah dari anak yang pernah Nona kandung."Vino kini mengerti. Dia pria yang sama yang pernah Naomi ceritakan. Bahwa dia mencintai orang lain ketika dia berpacaran dengan Leon."Apakah istri Mareeq tahu hubungan kalian?" tanya Vino.Naomi mengangguk. "Mereka tinggal di luar negeri.""Kamu yakin dia tidak sedang menipumu bukan?" pertanyaan Vino penuh kekhawatiran.Naomi menggeleng. Tapi tidak ada penjelasan lain.Vino terdiam sejenak. Ia ingin mengatakan bahwa Naomi tidak perlu takut, bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi ia tahu ucapan seperti itu tidak akan menyelesaika
"Bagaimana pekerjaanmu? Kapan kamu akan kembali ke kantor?" tanya Vino kemudian.Vino berusaha membuat suasana seperti biasanya. Ia tidak ingin Naomi merasa bahwa ajakan itu muncul karena dirinya baru saja menyebut nama Alina. Namun, ia juga tidak ingin membiarkan adiknya sendirian dengan pikiran-pikiran yang mungkin muncul setelah percakapan tadi."Lancar." jawab Naomi singkat. "Bahkan jika Nona dipecat, Nona akan cari tempat kerja lain." lanjutnya."Benci sekali kamu dengan kantor yang menghasilkan uang untuk kakak?""Nona nggak benci ya!" sanggah Naomi. "Jika Nona masih dapat aliran dana dari situ dengan tidak bekerja, kenapa Nona harus repot-repot bekerja di sana?""Kenapa repot-repot menghasilkan uang untuk perusahaan lain daripada perusahaan sendiri?" Vino berusaha membalik kata-kata adiknya.Naomi merasa tidak mampu membalas. Dia hanya memajukan bibirnya dengan kesal. Vino pun mengusap kepala adiknya."Kakak tidak akan memaksam
Vino tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan Naomi sejenak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Ia tahu ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum menjawab pertanyaan sederhana itu, terutama karena nama yang akan disebutnya bukanlah nama yang mudah diterima Naomi.Vino menghampiri adiknya dan mengecup ubun-ubun adiknya sebelum duduk di sebelahnya."Mengantar Alina."Naomi berkedip. Ekspresi Naomi tidak banyak berubah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali melihat televisi."Oh."Satu kata itu membuat Vino justru semakin memperhatikan adiknya. Dulu, mendengar nama Alina saja sudah cukup membuat Naomi kesal. Naomi merasa Alina mengambil kakaknya, mengubah kebiasaan mereka, dan membuat Vino tidak lagi selalu tersedia untuknya. Pertengkaran mereka mengenai hubungan itu pernah berlangsung cukup lama, sampai Vino harus berhati-hati setiap kali ingin menghabiskan waktu bersama Alina.Sekarang Naomi tidak lagi melarang mereka berpacaran.
Paginya, Naomi bangun dengan suasana hati yang jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bahkan sebelum membuka mata sepenuhnya, ia sudah tersenyum sendiri. Ingatan tentang kejadian semalam datang begitu saja.Mareeq duduk di sampingnya, percakapan mereka tentang perasaan yang selama ini berusaha ia tahan, ciuman yang begitu tiba-tiba, hingga bagaimana mereka akhirnya terjatuh ke lantai bersama kepingan-kepingan puzzle yang berserakan. Dan tentu saja, pengakuannya sendiri.Mengingat semua itu, Naomi langsung menarik selimut sampai menutupi separuh wajahnya."Ya ampun..."Ia berguling ke sisi tempat tidur, lalu membenamkan wajah ke bantal. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu dengan begitu berani? Lebih memalukan lagi, ia bukan hanya mengatakannya sekali. Ia mengatakannya sambil memeluk Mareeq erat-erat, seolah pria itu bisa menghilang jika ia melepaskannya.Semakin Naomi berusaha menghilangkan rasa malu, semakin jelas pula ingatan tent
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.







