LOGINMata Vino sontak membulat. "Lo nolak ajakan itu bocah?"
Bita mengangguk pelan. "Aku bilang, aku nggak bisa main ke rumahnya lagi." Seketika ingatan Bita kembali melayang ke rumah sakit beberapa jam yang lalu. "Aku nggak bisa main ke rumah kamu lagi." Kalimat itu membuat Fero yang semula tersenyum langsung terdiam. Bita masih ingat bagaimana laki-laki itu buru-buru mengulas senyum kecil sambil berkata tidak apa-apa, mes“Dasar bocah nakal! Nakal!” Vino seketika terlonjak dari tidurnya. Matanya mengerjap panik bergerak acak menatap meja belajar, buku-buku yang berserakan, lembaran kertas, lalu beralih pada wajah berang Mami di hadapannya. Belum sempat memahami apa yang terjadi, pukulan kembali mendarat di punggungnya. “Mami!” “Apa? Mau marah?” tantang Clara dengan dagu terangkat. Lengan bajunya bahkan sudah digulung sampai siku, sementara kedua tangannya berkacak pinggang. “Harusnya Mami yang marah karena bisa-bisanya kamu nyebur ke dunia hiburan tanpa bilang-bilang sama Mami?! Dasar bocah gemblung!” Pukulan berikutnya kembali melayang hingga rasa kantuk yang mendera Vino sepenuhnya menguap. Ia buru-buru mengangkat kedua tangan untuk melindungi diri. “Vino nggak sempat bilang, Mi!” jeritnya, berhasil menghentikan pukulan Clara. “Nggak sempat kamu bilang?!” Mata Clara melotot. “Sudah sebulan kamu
Vino mengetuk pintu sebelum membukanya setelah mendapat izin dari dalam. Namun langkahnya langsung terhenti sesaat ketika melihat siapa saja yang ada di dalam. Adrian ternyata tidak sendirian. Reynald duduk santai di salah satu sofa bersama Adrian, keduanya tampak sedang berbincang. Begitu melihat Vino masuk, Adrian langsung menoleh dan menunjuk ke arahnya. “Nah, tuh. Lihat sendiri anaknya.” Reynald ikut menoleh. “Ngapain ngejogrog di situ? Masuk," tegur Adrian. Vino menutup pintunya dan segera masuk. Ikut duduk bersama keduanya saat dipersilakan Adrian. "Capek?” tanya Reynald. Ada percik kekhawatiran yang Vino baca dari sorot matanya. “Lumayan, Om," jawab Vino sambil menyengir kuda. “Masih mau lanjut?” Vin
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita segera menyapa Vino sesaat setelah laki-laki itu memasuki gedung Apex dan berhenti di depan meja resepsionis. “Pagi. Saya Vino. Saya ada jadwal onboarding sebagai talent baru.” Resepsionis mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada layar komputer di hadapannya. “Alvino Kusuma Anggara?” “Benar.” “Baik, Mas Vino. Sebentar, ya. Saya hubungi tim Talent Management terlebih dahulu.” Vino mengangguk. Resepsionis kemudian meraih gagang telepon di samping monitor dan menekan beberapa tombol. Tak lama kemudian, ia mulai berbicara dengan seseorang di ujung sambungan. Beberapa saat kemudian, suara resepsionis kembali terdengar. “Mas Vino?” Vino segera menoleh. “Ya?” “Orang dari Talent Management-nya sedang
Bita bersenandung ringan ketika memasuki pekarangan rumah. Namun baru beberapa meter melaju, ia tiba-tiba memekik saat ban motor kesayangannya, si Pink, tak sengaja menginjak kotoran kucing.“Mama!”Tak berapa lama, Anggun keluar dari dalam rumah dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya langsung panik. “Kenapa, Ta? Habis nabrak pejalan kaki? Kucing yang nyelonong lewat? Atau habis jatuh di jalan? Ya ampun, mana yang sakit?”“Kucing Pak Wahyu kok dibiarin main di pekarangan rumah, sih, Ma? Tainya jadi ke mana-mana, tuh. Di situ juga ada!” Bita menunjuk beberapa titik di halaman yang dipenuhi kotoran kucing. Anggun langsung mengusap dada lega. “Mama kira apaan.” Lalu matanya beralih pada Bita yang meringis jijik. “Lha, wong kamu sendiri yang dulu sempat bawa kucingnya ke rumah buat diobatin. Jadinya sekarang dia tiap hari nyariin kamu. Udah sayang sama kamu, pengin main lagi pasti.”Bita menggersah kesal. “Sayang sih sayang. Tapi dia berak
Waktu terus bergerak maju, membawa Vino pada hal-hal baru, termasuk sesuatu yang kini memenuhi radar penglihatannya hingga membuatnya terperangah di tempat.Sedikit senggolan terasa di lengannya. Namun Vino masih tak berpaling sampai suara Martin meluncur, nyaris seperti bom kecil yang meledakkan kesadarannya.“Gue lihat-lihat Bita tambah beda, ya? Kayak makin cakep, manis, lucu—eh, maksud gue bersinar.” Martin spontan meralat ucapannya ketika melihat tatapan tajam Vino.“Gue tahu Bita beda, tapi apa hak lo muji dia tepat di depan mata gue?”Martin menelan ludah. “Sorry. Gue nggak ada maksud buat muji dia. Gue cuma—”“Bahahah!”Vino tiba-tiba meledakkan tawanya. Ia terbahak-bahak sambil menunjuk wajah Martin. “Komuk lo—hmfpt, bahahaha!”Ketegangan berubah menjadi kernyitan heran. Martin menatap Vino dengan alis memicing.“Gue cuma bercanda, Tin. Lo dan semua makhluk di muka bumi bebas muji Bita," ucap Vino setel
“Lo lihat, kan, tadi gimana reaksi Bita waktu gue beberin soal lo yang khawatir dia bakal berpaling?”Dengan ponsel menempel di telinga dan sepasang mata menatap langit-langit kamarnya, untuk entah keberapa kalinya Vino menghela napas.“Tin, lo udah ngomong ini berkali-kali. Gue—”“Aduhhhh! Lo aja tadi sok mengheningkan cipta mulu! Padahal lirik dikit juga nggak bakal bikin lo berdosa di mata Bram!” gerutu Martin tanpa memedulikan Vino. “Jadi nggak lihat gimana tercenungnya Bita. Gimana getar-getar cemas itu tumbuh di matanya. Dan gimana gue bisa lihat kalau Bita pasti greget banget pengin bilang lo nggak perlu khawatir karena dia bakal setia nungguin lo.”Martin tertawa lagi. “Duh, kisah kalian ini kalau difilmin bakalan booming, njir. Saking tragisnya! Bayangin aja, gimana ngenesnya kalian yang harus nahan diri buat nggak ngomong satu sama lain!”Tawa Martin kembali meledak.Seperti beberapa saat setelah mereka mening
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung







