LOGIN“Nanti aku pulangnya bareng Sasha,” ucap Bita setelah turun dari motor Vino dan melepas helmnya begitu mereka tiba di parkiran kampus.Gerakan Vino yang hendak melepas helmnya terhenti. Ia menatap Bita. “Emang kalian mau ke mana? Mau jajan bareng?”“Hafal banget, Bang? Perhatiin aku banget, ya?” goda Bita.Sejak mereka sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, Bita memang semakin sering menggoda Vino dengan kalimat-kalimat semacam itu. Dan bukannya terganggu, Vino justru menikmatinya.Vino tersenyum dari balik helmnya, lalu menjepit hidung Bita begitu saja. “Gimana nggak hafal? Pipi kamu aja udah kayak mochi saking seringnya jajan.”Bita segera menangkup kedua pipinya. “Aku kelihatan gendut?” Gadis itu bahkan sempat berkaca melalui spion motor Vino, memperhatikan kedua sisi wajahnya sebelum mendesah lesu. “Aku gendut.”Seketika tawa Vino membahana di parkiran. “Bercanda, Ta. Lagian pipi kamu dari dulu emang begitu.”“
Bita mendorong pintu rumah dan melangkah masuk sambil menenteng helm di tangannya. Baru beberapa langkah, pandangannya langsung tertuju pada Bram yang duduk di sofa ruang keluarga, membelakanginya. Bita berhenti sejenak, masih diam di tempat.“Kok pulangnya agak malam, Ta?”Anggun muncul dari arah dapur dan berjalan menghampirinya. Bersamaan dengan itu, Bram ikut menoleh ke belakang, menyadari kedatangan putrinya.“Tadi ada urusan bentar, Ma,” jawab Bita segera menyalim tangan mamanya, lalu beralih menghampiri Bram. “Pa.”Bram menyodorkan tangannya, dan Bita segera menyaliminya. Setelah itu, ia kembali berdiri, sementara Anggun mengapit lengannya.“Pulang-pulang lesu begini pasti lapar. Ayo, ke dapur. Mama temenin kamu makan. Papa sama Mama udah makan tadi.”Bita mengangguk.“Setelah makan, Papa mau bicara sama kamu.”Langkah Bita yang baru hendak bergerak langsung terhenti begitu Papanya berbicara santai. Gadis
Martin tertegun. Matanya membulat, jelas tak menyangka Jesika tahu tentang Bita. “Lo tahu dari mana soal Bita?” Jesika mendengus, lalu kembali bersidekap. “Nggak penting gue tahu dari mana soal cewek sialan itu. Yang penting sekarang kasih tahu gue Vino di mana.” Martin menatapnya tajam. “Jawab gue, atau gue panggil security buat ngusir lo.” Jesika mendecak. Tatapannya masih angkuh, tetapi akhirnya ia menjawab dengan enggan, “Gue tahu dari temen lo yang biasanya sama lo kalau ke bar. Sayang, servisnya nggak memuaskan. Lebih mending Vino setengah mampus, walaupun cuma ciuman doang. Daripada ngabisin semalam sama itu orang. Puas nggak capek iya.” Satu nama langsung terlintas di kepala Martin. “Galang?” “Iya kali. Nggak minat juga nginget namanya.” Jesika kembali celingukan, masih berusaha mencari keberadaan Vino. “Pokoknya yang gamon sama mantannya, mana pas sama gue manggil-manggil namanya lagi bikin gue ilfee
Vino menarik napas sebelum menggeleng pelan. “Aku belum bisa memastikan, Ta. Papa kamu cuma nyuruh aku buat fokus kuliah dulu.”“Digantungin gitu ceritanya?!" Bita menatapnya tak percaya, sebelum menyeru tak terima. "Ih, jahat banget Papa!” Vino seketika terkekeh. “Jangan gitu ngomongnya. Nggak baik.”“Habisnya tinggal direstuin aja, kenapa, sih?” Bita kembali menggerutu. “Kayak nyuruh Papa bikin candi aja. Lagian yang kamu minta cuma izin buat hubungan yang lebih serius. Bukan tiba-tiba minta izin buat besok nikahin aku.”“Pasti Om Bram punya banyak pertimbangan, Ta,” jawab Vino lembut.Tatapan teduhnya membuat Bita yang semula hendak menyela justru terdiam.“Ini bukan cuma tentang bagaimana putrinya yang sangat disayangi bisa bahagia,” lanjut Vino. “Tapi juga tentang bagaimana putrinya tetap aman.”Tangannya terangkat, merapikan sehelai rambut Bita yang terlepas dari ikatannya. “Mungkin kamu sendiri bisa mer
"Bita dicariin Vino." Bita baru saja membereskan buku-bukunya ketika salah satu teman sekelasnya berteriak dari arah pintu. Saat menoleh, ia mendapati Vino sudah berdiri di sana sambil melemparkan senyum kepadanya. Sasha langsung menyenggol lengannya. "Gercep banget. Baru aja dosen keluar, udah nongol aja di depan pintu," godanya sambil mengerling jahil. Bita tersenyum, meski rasa cemas masih menggelayut di matanya. "Aku temuin Vino dulu, ya. Kamu ke kantin dulu aja sama Dira." "Gampang. Sana, temuin Vino. Tuh, kayaknya udah nggak sabar nungguin." Bita menyelempangkan tasnya, lalu bangkit. "Dadah." Ia melambaikan tangan sebelum melangkah cepat menghampiri Vino. "Aku udah siap-siap nyamperin kamu, ternyata kamu udah di sini aja," ucap Bita begitu tiba di hadapannya. "Dosenku tadi lebih cepat mengakhiri kelas. Katanya ada kepentingan." Belum sempat Bita menjawab, seo
"Papa bilang apa sama kamu? Suruh nunggu aku?" Begitu menghampirinya, Bita langsung memberondong Vino dengan pertanyaan.Vino hanya tersenyum. Ia mengambil helm yang dibawa gadis itu, lalu memasangkannya di kepala Bita. "Aku kasih tahu setelah kamu kelas pagi nanti, ya?"Bita seketika mengerucutkan bibir. "Kenapa harus nunggu nanti, sih? Kan tinggal ngomong aja.""Biar nggak terburu-buru," sahut Vino.Bita memperhatikan Vino yang menunduk untuk memasangkan pengait helm. "Nggak dibolehin, ya, sama Papa?"Terdengar bunyi klik ketika pengait helm terpasang. Vino mengangkat wajahnya dan menatap Bita. Namun, bukannya menjawab, laki-laki itu hanya tersenyum sambil menepuk bagian atas helm gadis itu.Setelah itu, Vino berbalik menuju motor yang terparkir di pekarangan dan mengenakan helmnya sendiri. Ia kemudian menepuk jok belakang. "Ayo, naik."Bita masih berdiri di tempat, menatap sosok Vino dengan dahi berkerut. Ta
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung







