공유

Bab 12

작가: macaroonie
last update 게시일: 2026-05-27 21:00:23

"Aku harus mencium kamu?" Bita membeo.

Berada di atas Vino, telapak tangan Bita bertumpu pada dada laki-laki itu yang terasa liat.

Dipandanginya pahatan sempurna wajah Vino. Tulang hidung tinggi, rahang yang tegas, sepasang mata yang selalu mahir mengintimidasi dan tahu cara merayu, serta alis tebal rapi. Lengkap dengan napas yang berembus berat dan keringat yang membanjiri pelipis, Vino terlihat berkali-kali lipat jantan.

Dan semua itu tersaji tepat dibawahnya.

Vino merengkuh Bita nyaman dan p
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 216

    “Nanti aku pulangnya bareng Sasha,” ucap Bita setelah turun dari motor Vino dan melepas helmnya begitu mereka tiba di parkiran kampus.Gerakan Vino yang hendak melepas helmnya terhenti. Ia menatap Bita. “Emang kalian mau ke mana? Mau jajan bareng?”“Hafal banget, Bang? Perhatiin aku banget, ya?” goda Bita.Sejak mereka sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, Bita memang semakin sering menggoda Vino dengan kalimat-kalimat semacam itu. Dan bukannya terganggu, Vino justru menikmatinya.Vino tersenyum dari balik helmnya, lalu menjepit hidung Bita begitu saja. “Gimana nggak hafal? Pipi kamu aja udah kayak mochi saking seringnya jajan.”Bita segera menangkup kedua pipinya. “Aku kelihatan gendut?” Gadis itu bahkan sempat berkaca melalui spion motor Vino, memperhatikan kedua sisi wajahnya sebelum mendesah lesu. “Aku gendut.”Seketika tawa Vino membahana di parkiran. “Bercanda, Ta. Lagian pipi kamu dari dulu emang begitu.”“

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 215

    Bita mendorong pintu rumah dan melangkah masuk sambil menenteng helm di tangannya. Baru beberapa langkah, pandangannya langsung tertuju pada Bram yang duduk di sofa ruang keluarga, membelakanginya. Bita berhenti sejenak, masih diam di tempat.“Kok pulangnya agak malam, Ta?”Anggun muncul dari arah dapur dan berjalan menghampirinya. Bersamaan dengan itu, Bram ikut menoleh ke belakang, menyadari kedatangan putrinya.“Tadi ada urusan bentar, Ma,” jawab Bita segera menyalim tangan mamanya, lalu beralih menghampiri Bram. “Pa.”Bram menyodorkan tangannya, dan Bita segera menyaliminya. Setelah itu, ia kembali berdiri, sementara Anggun mengapit lengannya.“Pulang-pulang lesu begini pasti lapar. Ayo, ke dapur. Mama temenin kamu makan. Papa sama Mama udah makan tadi.”Bita mengangguk.“Setelah makan, Papa mau bicara sama kamu.”Langkah Bita yang baru hendak bergerak langsung terhenti begitu Papanya berbicara santai. Gadis

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 214

    Martin tertegun. Matanya membulat, jelas tak menyangka Jesika tahu tentang Bita. “Lo tahu dari mana soal Bita?” Jesika mendengus, lalu kembali bersidekap. “Nggak penting gue tahu dari mana soal cewek sialan itu. Yang penting sekarang kasih tahu gue Vino di mana.” Martin menatapnya tajam. “Jawab gue, atau gue panggil security buat ngusir lo.” Jesika mendecak. Tatapannya masih angkuh, tetapi akhirnya ia menjawab dengan enggan, “Gue tahu dari temen lo yang biasanya sama lo kalau ke bar. Sayang, servisnya nggak memuaskan. Lebih mending Vino setengah mampus, walaupun cuma ciuman doang. Daripada ngabisin semalam sama itu orang. Puas nggak capek iya.” Satu nama langsung terlintas di kepala Martin. “Galang?” “Iya kali. Nggak minat juga nginget namanya.” Jesika kembali celingukan, masih berusaha mencari keberadaan Vino. “Pokoknya yang gamon sama mantannya, mana pas sama gue manggil-manggil namanya lagi bikin gue ilfee

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 213

    Vino menarik napas sebelum menggeleng pelan. “Aku belum bisa memastikan, Ta. Papa kamu cuma nyuruh aku buat fokus kuliah dulu.”“Digantungin gitu ceritanya?!" Bita menatapnya tak percaya, sebelum menyeru tak terima. "Ih, jahat banget Papa!” Vino seketika terkekeh. “Jangan gitu ngomongnya. Nggak baik.”“Habisnya tinggal direstuin aja, kenapa, sih?” Bita kembali menggerutu. “Kayak nyuruh Papa bikin candi aja. Lagian yang kamu minta cuma izin buat hubungan yang lebih serius. Bukan tiba-tiba minta izin buat besok nikahin aku.”“Pasti Om Bram punya banyak pertimbangan, Ta,” jawab Vino lembut.Tatapan teduhnya membuat Bita yang semula hendak menyela justru terdiam.“Ini bukan cuma tentang bagaimana putrinya yang sangat disayangi bisa bahagia,” lanjut Vino. “Tapi juga tentang bagaimana putrinya tetap aman.”Tangannya terangkat, merapikan sehelai rambut Bita yang terlepas dari ikatannya. “Mungkin kamu sendiri bisa mer

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 212

    "Bita dicariin Vino." Bita baru saja membereskan buku-bukunya ketika salah satu teman sekelasnya berteriak dari arah pintu. Saat menoleh, ia mendapati Vino sudah berdiri di sana sambil melemparkan senyum kepadanya. Sasha langsung menyenggol lengannya. "Gercep banget. Baru aja dosen keluar, udah nongol aja di depan pintu," godanya sambil mengerling jahil. Bita tersenyum, meski rasa cemas masih menggelayut di matanya. "Aku temuin Vino dulu, ya. Kamu ke kantin dulu aja sama Dira." "Gampang. Sana, temuin Vino. Tuh, kayaknya udah nggak sabar nungguin." Bita menyelempangkan tasnya, lalu bangkit. "Dadah." Ia melambaikan tangan sebelum melangkah cepat menghampiri Vino. "Aku udah siap-siap nyamperin kamu, ternyata kamu udah di sini aja," ucap Bita begitu tiba di hadapannya. "Dosenku tadi lebih cepat mengakhiri kelas. Katanya ada kepentingan." Belum sempat Bita menjawab, seo

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 211

    "Papa bilang apa sama kamu? Suruh nunggu aku?" Begitu menghampirinya, Bita langsung memberondong Vino dengan pertanyaan.Vino hanya tersenyum. Ia mengambil helm yang dibawa gadis itu, lalu memasangkannya di kepala Bita. "Aku kasih tahu setelah kamu kelas pagi nanti, ya?"Bita seketika mengerucutkan bibir. "Kenapa harus nunggu nanti, sih? Kan tinggal ngomong aja.""Biar nggak terburu-buru," sahut Vino.Bita memperhatikan Vino yang menunduk untuk memasangkan pengait helm. "Nggak dibolehin, ya, sama Papa?"Terdengar bunyi klik ketika pengait helm terpasang. Vino mengangkat wajahnya dan menatap Bita. Namun, bukannya menjawab, laki-laki itu hanya tersenyum sambil menepuk bagian atas helm gadis itu.Setelah itu, Vino berbalik menuju motor yang terparkir di pekarangan dan mengenakan helmnya sendiri. Ia kemudian menepuk jok belakang. "Ayo, naik."Bita masih berdiri di tempat, menatap sosok Vino dengan dahi berkerut. Ta

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status