LOGIN"Syukurlah. Lukanya sudah menyatu dengan baik." Dokter tersenyum sambil mengamati telapak kaki Bita yang terangkat di atas bed periksa. "Berarti hari ini jahitannya bisa kita lepas."
Mata Bita langsung berbinar. "Serius, Dok?" "Iya." Dokter mengambil baki kecil berisi pinset, gunting jahit, kasa steril, dan cairan antiseptik. Ia mengenakan sarung tangan sebelum menarik kursinya lebih dekat. "Nanti mungkin terasa sedikit nyut-nyutan wMelihat wajah Bita yang mendadak berkali-kali lipat lebih tegang, Vino mengernyit. "Kenapa, Ta? Ada masalah?"Bita tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit pelan bibir bawahnya sebelum akhirnya berucap lirih, nyaris seperti berbisik. "Fero... dia ngundang aku ke ulang tahun Mamahnya."Vino terdiam.Nama itu kembali mengingatkannya pada hari ketika laki-laki itu terang-terangan mengatakan tak akan berhenti mendekati Bita.Jadi, inikah langkah berikutnya?Tanpa sadar, jemari Vino mengencang menggenggam sumpit. Rahangnya pun ikut mengeras. Namun hanya sesaat. Sebelum Vino kembali memasang wajah setenang sebelumnya."Katanya Mamanya yang pengen aku datang," lanjut Bita hati-hati. Tatapannya terus mencari reaksi Vino. Semakin lama tak mendapat jawaban, wajahnya semakin gelisah. "Tapi... kalau kamu nyuruh aku nggak datang, aku nggak bakal datang, kok."Pandangan Vino perlahan beralih kepada Bita. Dilihatnya wajah gadis itu
Bita duduk di kursi pengunjung, tepat di samping Vino. Sejak tadi, jemari laki-laki itu tak pernah benar-benar rileks. Sesekali mengepal, lalu mengendur lagi.Bita menoleh pelan. Vino membalas tatapannya dengan senyum tipis yang dipaksakan.Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua orang berdiri. Sidang pun dimulai.Sidang pertama berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Bita.Hakim membuka persidangan, memeriksa identitas kedua belah pihak, lalu memberi kesempatan kepada keduanya untuk menempuh mediasi sesuai prosedur.Namun keputusan mereka tetap sama. Papa dan Mami tetap pada pendirian masing-masing. Mediasi dinyatakan tidak mencapai kesepakatan.Majelis hakim kemudian menetapkan jadwal sidang berikutnya sebelum akhirnya mengetukkan palu. "Sidang ditutup."Ruangan perlahan kembali dipenuhi suara kursi yang bergeser dan langkah kaki orang-orang yang mulai meninggalkan tempatnya.
Vino sebenarnya sudah menduga Bita tidak akan puas hanya berkeliling kompleks. Dan dugaannya tepat. Setiap kali ia hendak memutar balik motornya, Bita selalu menggeleng sambil menunjuk ke depan. "Sedikit lagi." Vino menurut. Beberapa menit kemudian ia kembali memperlambat motor, berniat berbalik. Namun lagi-lagi Bita menggeleng. "Sedikit lagi." Sedikit demi sedikit itu akhirnya membawa mereka keluar dari kompleks, menyusuri jalanan kota tanpa tujuan yang jelas. Tanpa terasa, sore hampir habis. Langit yang semula hanya mendung kini benar-benar menggelap. Rintik pertama jatuh di kaca spion. Lalu disusul rintik kedua. Hingga dalam hitungan detik hujan turun semakin deras. Vino secepatnya membelokkan motor menuju satu-satunya bangunan yang terlihat di sepanjang jalan. Sebuah toko kecil, dan saayangnya toko itu sudah tutup. Motor berhenti tepat di depan t
"Syukurlah. Lukanya sudah menyatu dengan baik." Dokter tersenyum sambil mengamati telapak kaki Bita yang terangkat di atas bed periksa. "Berarti hari ini jahitannya bisa kita lepas." Mata Bita langsung berbinar. "Serius, Dok?" "Iya." Dokter mengambil baki kecil berisi pinset, gunting jahit, kasa steril, dan cairan antiseptik. Ia mengenakan sarung tangan sebelum menarik kursinya lebih dekat. "Nanti mungkin terasa sedikit nyut-nyutan waktu benangnya ditarik. Tapi nggak akan lama." "Iya, Dok." Di samping bed, Anggun langsung menggenggam lengan putrinya. "Kalau sakit bilang ya. Mama takut nanti kamu nangis." Bita langsung mendesah. "Aku nggak bakal nangis, Ma. Aku kan kuat." Anggun menatap putrinya penuh sangsi. "Kuat?" ulangnya pelan. "Dulu disuntik imunisasi aja nangis sampai satu puskesmas dengar." "Itu SD, Ma!" protes Bita. "Sekarang Bita u
Setelah mengantar Martin ke stasiun untuk pulang kampung selama liburan, Vino langsung bergegas pulang. Vino turun dari motor dan melepas helmnya. Ia melangkah memasuki rumah sambil merapikan rambutnya. Entah kenapa, yang pertama kali terlintas di kepalanya justru kamar sebelah rumahnya. Kamar Bita. Tadi Vino terpaksa meninggalkan gadis itu yang masih tertidur pulas dalam pelukannya setelah Martin menelepon, meminta diantar ke stasiun. Ia bahkan hanya sempat meninggalkan pesan singkat sebelum berangkat. Senyum tipis terbit di wajah Vino. Entah Bita sedang apa sekarang. Memikirkan itu saja sudah cukup membuat langkahnya tanpa sadar semakin cepat. Namun langkah itu mendadak terhenti saat memasuki ruang keluarga. "Mas mau ngobrol bentar sama kamu." Suara Aksa terdengar tenang. Pria itu duduk membelakangi Vino di sofa sambil membaca buku. Meski mereka sudah sempat men
Vino terkekeh pelan. "Nggak diusir? Biasanya lo langsung nyuruh gue keluar."Lalu menirukan suara Bita dengan nada yang dibuat cempreng. "Jangan ganggu aku!"Bita langsung menggersah kesal. "Kamu tuh ya. Baru ketemu udah nyebelin." Ia mendongak menatap Vino. "Mau aku usir beneran?"Vino buru-buru menggeleng sambil tertawa. "Nggak."Kemudian kembali merengkuh Bita lebih erat. Aroma sampo stroberi yang samar menguar dari rambut perempuan itu membuatnya tanpa sadar menghirup napas pelan. "Gini aja."Sementara Bita kembali menyandarkan kepalanya di dada Vino, mengabaikan detak jantung laki-laki itu yang berdentum cukup keras hingga bisa ia rasakan."Lo nggak penasaran kenapa gue bisa di sini?"Bita langsung mengangkat kepalanya. "Emang gimana? Kok bisa?""Kemarin malam gue mutusin buat pulang."Mata Bita langsung membulat. "Kemarin? Berarti kamu udah di rumah dari semalam, tapi baru ke sini siang ini?" Bibi
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa