เข้าสู่ระบบPintu Asteria Café terbuka, Vino melangkah pelan memasuki kafe dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Pandangannya sempat menyapu ke sekeliling. Kondisi kafe yang tidak terlalu ramai membuatnya cukup mudah menemukan sosok yang ia cari. Tamara duduk di salah satu sudut kafe. Begitu menyadari kedatangannya, perempuan itu langsung melambaikan tangan ke arahnya. Vino segera menghampirinya. “Udah lama nunggunya?” tanyanya begitu mengambilUntungnya, Sasha langsung menuju tempat yang disebut Vino.Begitu sampai, ia benar-benar menemukan Bita di bawah pohon beringin. Tidak sedang menangis seperti yang sempat ia bayangkan sampai membuat Sasha mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila. Bita justru terlihat tenang duduk di bawah pohon sambil mengorek-ngorek tanah dengan sebatang ranting, seolah tidak terjadi apa-apa.Sasha seketika mengembuskan napas lega. “Kamu bikin aku panik banget tau nggak, Ta? Untung aja ketemu," ungkapnya sembari melangkah menghampiri Bita, lalu duduk di sampingnya.Bita tidak menoleh sedikit pun. Tangannya masih sibuk mengorek tanah di hadapannya.“Ta?” panggil Sasha pelan.Awalnya tidak ada respons. Namun, tepat sebelum Sasha kembali membuka suara, Bita akhirnya berkata lirih.“Aku ... aku berhak buat cemburu, kan, Sa?” Suaranya nyaris seperti bisikan.Sasha terkekeh kecil. “Ya boleh, lah. Justru aneh kalau kamu nggak cemburu.”
Vino seketika menyentakkan tubuhnya bangkit dari kursi, mengejar Bita yang sudah mundur dan berbalik berlari keluar dari kafe.Jantungnya berpacu semakin cepat, seiring rasa takut yang ikut membesar dalam dirinya. Langkahnya melebar saat ia mendorong pintu kafe dan mendapati Bita sudah berada di atas motornya dengan Sasha yang berusaha menahannya.“Bita! Kamu mau ke mana?! Bita!”Seakan tuli, Bita langsung menarik gas motornya dan meninggalkan kafe. Ia tidak peduli pada Sasha yang berteriak mengejarnya, bahkan helm yang terlempar begitu saja dari atas motornya.Langkah Vino terhenti. Tubuhnya terpaku menyaksikan helm yang ia belikan untuk Bita terlempar dan menghantam paving kafe dengan cukup keras.Salah satu telinga kucing pada helm itu patah seketika. Helm tersebut kemudian masih sempat menggelinding beberapa kali di atas paving sebelum akhirnya berhenti tepat di ujung sepatu Vino.Vino menatapnya nanar. Helm dengan telinga ku
Pintu Asteria Café terbuka, Vino melangkah pelan memasuki kafe dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Pandangannya sempat menyapu ke sekeliling. Kondisi kafe yang tidak terlalu ramai membuatnya cukup mudah menemukan sosok yang ia cari. Tamara duduk di salah satu sudut kafe. Begitu menyadari kedatangannya, perempuan itu langsung melambaikan tangan ke arahnya. Vino segera menghampirinya. “Udah lama nunggunya?” tanyanya begitu mengambil tempat duduk di hadapan Tamara. Tamara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Nggak lama. Baru empat puluh tujuh menit.” Hampir satu jam. Waktu yang sebenarnya cukup untuk membuat Tamara hampir mati bosan. Ia bahkan sempat beberapa kali menyandarkan tubuh ke kursi, memainkan ponselnya tanpa tujuan, sampai hampir tertidur karena terlalu lama menunggu. Belum lagi waktu yang terbuang itu sudah pasti membuatnya terlambat datang ke lokasi sy
"Oke. Kalau gitu besok kita ketemu di Asteria Café aja ya jam sebelas. See you.” Setelah sambungan terputus, Tamara masih menatap layar ponselnya dengan senyum lebar yang belum juga hilang. Tak lama kemudian, pintu ruang makeup terbuka. Asistennya masuk sambil membawa segelas kopi yang sejak tadi diminta Tamara untuk dipesankan. “Ini kopinya.” Tamara menerima gelas tersebut. “Thanks, La." Lala memperhatikan Tamara yang kini menyesap kopinya dengan senyum yang tak juga luntur. “Ngapain kamu senyum-senyum? Kesambet?” Meski Tamara memang memiliki wajah cantik yang bisa dengan mudah membuat banyak laki-laki jatuh hati sejak detik pertama melihatnya, apalagi setelah penampilannya dipoles sedemikian rupa, dengan rambut panjang yang ditata bergelombang lembut, makeup soft glam yang semakin menonjolkan mata abu-abu terangnya, serta gaun hitam elegan yang membalut tubuhnya, untuk menghadiri Ardelle Fashion Night beber
Adrian menghela napas. “Saya paham kenapa kamu ingin melakukan itu. Tapi kamu juga harus memahami posisi kamu sekarang.”Kelopak mata Vino mengerjap. “Nama kamu memang sedang naik. Tapi jangan berpikir semua perhatian yang kamu dapatkan sekarang semata-mata karena orang melihat potensi kamu. Sebagian besar momentum kamu saat ini datang dari iklan itu. Dan di dalam iklan itu ada Tamara.”Adrian berhenti sejenak, memberikan waktu Vino meresapi ucapannya. “Kamu talent baru. Sementara Tamara sudah punya nama jauh sebelum kamu muncul. Dia sudah punya basis penggemar, sudah dikenal publik, dan ketika kalian muncul bersama di iklan, responsnya ternyata sangat besar. Publik menyukai kalian sebagai pasangan di iklan. Itu yang kemudian membuat nama kamu ikut terangkat.”Adrian kembali membuka laptopnya, lalu memutar layar sedikit ke arah Vino. Beberapa daftar pekerjaan dan permintaan kerja sama terlihat di sana. “Lihat ini.”Vino menoleh
Saat memasuki lobi agensi, Vino kembali merasakan beberapa pasang mata yang mengarah kepadanya. Hal seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak resmi menjadi talent di agensi ini, sesekali Vino memang mendapati orang-orang memperhatikannya. Entah karena mengenali wajahnya sebagai talent baru, sekadar penasaran, atau mungkin karena penampilannya yang memang cukup mudah menarik perhatian. Namun, hari ini rasanya sedikit berbeda. Beberapa orang yang sedang berbincang di dekat area lounge sempat menoleh ke arahnya. Ada yang hanya memandang sekilas, ada pula yang tampak membisikkan sesuatu kepada rekannya. Vino tidak terlalu memedulikannya. Ia sudah terbiasa diperhatikan. Hanya saja, ketika langkahnya semakin mendekati meja resepsionis, samar-samar telinganya menangkap satu nama yang beberapa kali disebut dalam bisikan itu. Tamara. Vino sempat menghela napas pelan sebelum memilih tidak menoleh dan teru
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung







