تسجيل الدخولDengan suaranya yang masih penuh kehati-hatian, Vino melanjutkan, "Terus soal gue yang tetap nggak ngasih tahu lo dengan alasan takut ngeganggu liburan lo, padahal itu bisa aja bikin lo punya alasan buat pulang..."
Ia berhenti sejenak, menatap mata Bita yang masih dipenuhi air mata."Soalnya lo pernah cerita kalau Tante jarang liburan dan lo nggak tega maksa dia pulang. Kalau lo pulang, otomatis mau nggak mau Tante juga bakal pulang. Gue tentunya nggak mau hal itu terjadi."Bita melempar novel yang sedang dibacanya ke samping sambil mendecak pelan. Ia turun dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu balkon. Begitu pintu itu dibuka, angin malam langsung berembus masuk. Bersamaan dengan itu, Vino yang sedari tadi duduk di balkon segera berdiri sambil meregangkan badan. "Setelah melewati seribu purnama, akhirnya tuan putri yang dingin luluh juga," cengirnya lebar. Tanpa menunggu jawaban, Vino melangkah masuk mengikuti Bita. Hebatnya, setelah tega membiarkannya menunggu hampir setengah jam di balkon, Bita justru kembali naik ke atas ranjang seolah tak terjadi apa-apa. Gadis itu meraih lagi novel yang tadi ia lempar, lalu melanjutkan membaca dengan santainya. Vino hanya bisa menggeleng geli. Sebelum melempar tubuhnya ke atas kasur, dan berbaring tepat di sisi Bita. Kepalanya dimiringkan, memandangi gadis yang sedang tengkurap dengan buku di tangannya. Bagi orang lain mungkin Bita tampa
"Jadi kita mau ke mana?" tanya Sasha sembari memasang seatbelt. "Nanti juga lo tahu," jawab Vino singkat. Laki-laki itu langsung melajukan Toyota sedan keluar dari pekarangan rumah. Di dalam mobil, keheningan perlahan mengisi ruang. Sasha menatap lurus ke depan. Sesekali sudut matanya melirik ke arah Vino yang fokus mengendalikan setir. Jantungnya berdegup lebih cepat. Bukan hanya karena sosok laki-laki itu yang terlihat begitu menawan di balik kemudi. Tetapi juga karena untuk pertama kalinya mereka berada berdua di dalam satu mobil. Meski tujuan mereka hanyalah membelikan sesuatu untuk Bita, entah mengapa, Sasha tetap merasa senang. Setidaknya, ia memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan Vino. Namun, bagaimana ia harus memulai percakapan? Bukankah ini kesempatan yang baik untuk sedikit lebih dekat dengannya? Sasha menarik napas pelan, lalu memberanikan diri membuka suara. "Be
Dengan suaranya yang masih penuh kehati-hatian, Vino melanjutkan, "Terus soal gue yang tetap nggak ngasih tahu lo dengan alasan takut ngeganggu liburan lo, padahal itu bisa aja bikin lo punya alasan buat pulang..."Ia berhenti sejenak, menatap mata Bita yang masih dipenuhi air mata."Soalnya lo pernah cerita kalau Tante jarang liburan dan lo nggak tega maksa dia pulang. Kalau lo pulang, otomatis mau nggak mau Tante juga bakal pulang. Gue tentunya nggak mau hal itu terjadi." Vino tersenyum tipis. "Makanya gue nahan buat nggak ngasih tahu lo."Senyum tipis itu semakin melembut. Tangannya terangkat, mengusap pelan anak-anak rambut yang menempel di pipi gadis itu."Gue juga mau banget lo ada di setiap momen penting gue. Tapi kali ini gue mencoba buat nggak egois." Tatapannya turun pada air mata yang kembali mengalir di pipi Bita. Jemarinya bergerak menyekanya dengan hati-hati. "Tapi meski begitu, pilihan gue tetap aja bikin lo nangis begini." Vino ter
Tak seorang pun menyangka mata Bita sampai berkaca-kaca. Suasana yang semula hangat mendadak membeku. Clara yang sejak tadi mendekapnya langsung memeluk gadis itu semakin erat."Sayang..." Suaranya melembut, berusaha menenangkan. "Nggak begitu. Vino sebenarnya mau ngasih tahu kamu. Cuma karena kamu lagi liburan, dia nggak mau bikin kamu kepikiran. Makanya dia milih nyimpen semuanya sampai kamu pulang."Anggun ikut mendekat. Jemarinya mengusap pelan rambut putrinya. "Iya, Ta. Masa kamu sengaja nggak dikasih tahu tanpa alasan? Ya nggak mungkinlah."Namun Bita tetap menggeleng. "Ya tapi seenggaknya biarin aku tahu."Tatapannya perlahan bergeser kepada Sasha. Lalu kembali berhenti pada Vino yang masih berdiri membisu. Dadanya kembali berdenyut nyeri.Ini bukan lagi sekadar tentang sidang yang sengaja disembunyikan Vino darinya. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa bahkan Sasha mengetahui semuanya. Sampai bisa ikut mendampingi mereka
Bita kembali masuk ke dalam taksi dengan segelas Americano di tangannya."Yang ngantri lama ya, Ta?" tanya Anggun begitu mobil kembali melaju meninggalkan coffee shop. "Kok sampai hampir setengah jam.""Banyak banget, Ma," keluh Bita. "Sampai pegel kaki aku ngantri."Anggun menyipitkan mata menatap putrinya. "Biasanya kalau disuruh ngantri lama kamu udah ngedumel mulu. Ini kok malah senyum-senyum? Mana rela ngantriin kopi buat Vino, bukan buat diri sendiri."Bita nyengir lebar. "Senyum itu kan ibadah, Ma. Biar perjalanannya jadi berkah.""Dasar." Anggun terkekeh geli sambil menggeleng pelan.Bita kembali menunduk memandangi gelas Americano di genggamannya. Entah kenapa, saat melihat coffee shop tadi, ia mendadak ingin membelikannya satu untuk Vino.Sudah terbayang di kepalanya bagaimana ia akan muncul begitu saja di depan pintu kamar Vino sambil membawa kopi itu.Membayangkan ekspresi terkejut laki-laki itu memb
Lorong di depan ruang sidang sudah dipenuhi orang-orang yang menunggu giliran perkara mereka dipanggil.Kursi-kursi panjang berjajar di sepanjang dinding lorong. Clara duduk di tengah, diapit Vino dan pengacaranya. Sementara Aksa memilih duduk di kursi tepat di samping pengacara, sesekali ikut mendengarkan penjelasan singkat mengenai jalannya sidang.Pengacara Clara tampak sesekali membuka berkas lalu berbicara pelan kepadanya. Di seberang lorong, beberapa meter dari mereka, Seno duduk seorang diri di deretan kursi yang berbeda. Pengacaranya berdiri di samping sambil memeriksa berkas perkara. Tak ada satu pun percakapan yang terjadi di antara kedua belah pihak. Hanya suara langkah kaki, pintu ruang sidang yang sesekali terbuka, dan panggilan nomor perkara yang bergema dari dalam gedung.Vino tanpa sadar melirik ke arah papanya. Seno sedang duduk sendiri sambil menatap lantai.Untuk sesaat, Vino ingin menghampiri.Ingin bertanya apakah pap
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu







