Share

Bab 186

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-08-10 11:10:06

Pagi itu, Bita masuk ke ruang kelas dengan langkah yang sedikit lebih pelan dari biasanya.

Beberapa mahasiswa sudah mulai memenuhi bangku. Pandangannya berkeliling sampai akhirnya menemukan Dira yang duduk di pojok belakang dekat jendela, seperti biasa, dengan sebuah buku terbuka di hadapannya.

"Dira."

Dira mengangkat wajah dari bukunya. "Oh. Pagi, Bit."

"Pagi." Bita menarik kursi di sebelahnya, lalu menjatuhk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 193

    Vino turun dari motor. Setelah melepas helmnya, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, samar-samar suara tawa dan obrolan dari arah dapur mulai terdengar. Suara yang begitu familiar hingga tanpa sadar langkahnya semakin cepat. Sampai akhirnya ia berhenti di depan dapur. Di meja makan, Bita tengah mengobrol bersama Aksa dengan wajah yang begitu ceria. Tawa gadis itu kembali terdengar, membuat Vino berdiri mematung di tempatnya. "Ya nggak apa-apa bawa jaket bulu-bulu tebal. Terus sekop sekalian." Bita tampak serius membayangkan persiapannya. "Siapa tahu saljunya tiba-tiba turun. Lebih baik sedia sekop sebelum salju." Aksa terkekeh mendengar celotehannya. "Musim semi nggak akan ada salju, Ta. Kalau mau lihat salju, pas winter aja." "Loh, Mas juga mau bawa aku ke London pas winter juga?" Bita langsung menyambar. "Asiiik!" Tawa Aksa peca

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 192

    Suara Aksa pun terdengar semakin pelan ketika melanjutkan ceritanya.Meski sudah ditolak, Aksa masih berusaha mendekati Meta. Berusaha mengambil hatinya, berharap suatu hari perempuan itu akan melihatnya lebih dari sekadar teman.Namun kemudian Meta pindah ke luar negeri dan menetap di sana. Mereka tetap berkomunikasi. Setidaknya, Aksa yang terus berusaha menjaga komunikasi itu.Sayangnya, topik pembicaraan mereka tak pernah jauh dari kehidupan percintaan Meta.Tentang seseorang yang disukainya di sana. Lalu tentang pacarnya. Kemudian tentang bagaimana hubungan itu berakhir dan berubah menjadi kisah mantan. Setelah itu, muncul lagi nama baru. Lalu patah hati lagi. Begitu seterusnya.Seolah tanpa mengatakannya secara langsung, Meta sedang berusaha membuat Aksa mengerti bahwa ia seharusnya berhenti berharap.Namun Aksa tetap bertahan. Tetap menjadi tempat Meta bercerita. Tetap hadir ketika perempuan itu membutuhkan seseorang. Dan d

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 191

    Bita sebenarnya sudah berencana menghibur Aksa dan bahkan sempat memikirkan caranya. Namun, rencana itu hanya bertahan sekitar lima menit sebelum pikirannya kembali dipenuhi Vino. Dan baru teringat lagi ketika turun dari mobil Sasha yang mengantarnya pulang dan mendapati Aksa sedang menyirami tanaman serta bunga-bunga milik Mami yang tumbuh subur di pekarangan.Pemandangan yang cukup jarang. Biasanya, Aksa lebih memilih duduk tenang di teras dengan buku dan secangkir teh di tangannya."Lagi apa, Mas?" tanya Bita setelah memutuskan menghampirinya.Aksa tampak sedikit terkesiap sebelum menoleh. "Ini lagi nyiram bunga. Mami lagi sakit perut di dalam. Makanya Mas inisiatif nyiram bunganya."Bita mengangguk-angguk. Matanya tetap tertuju pada Aksa, mengamati wajah laki-laki itu yang kembali datar seperti biasa.Sekilas, pria itu memang terlihat baik-baik saja. Namun jika diperhatikan lebih saksama, sorot mata Aksa tampak kosong, seola

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 190

    "Aku penasaran deh. Kamu tuh sukanya sama Vino sejak kapan?" tanya Sasha sembari menyuapkan sepotong kuenya.Sepulang kuliah, seperti yang sudah mereka rencanakan, keduanya langsung menuju toko kue milik teman Mamanya yang baru saja dibuka.Niat awal mau beli beberapa kue, lalu pulang. Namun begitu melihat etalase kaca yang dipenuhi berbagai macam pastry dan dessert, niat sederhana itu langsung menguap entah ke mana.Bita bahkan sampai beberapa kali berpindah dari satu sisi etalase ke sisi lainnya, matanya berbinar setiap kali menemukan sesuatu yang terlihat menarik.Pada akhirnya, kue yang mereka bawa keluar dari kasir jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.Mereka pun memilih duduk sebentar di meja kecil yang disediakan di depan toko. Beberapa potong kue yang sengaja mereka pilih untuk dimakan di tempat sudah tersaji di atas meja, sementara paper bag berisi kue-kue lainnya menumpuk di bawah kursi.Namun, kesenangan ka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 189

    "Dari kemarin Bita emang murung, nggak tahu kenapa."Suara Anggun membuat Vino mengalihkan pandangan dari pintu toilet tempat Bita tadi menghilang."Tante tanya apa dia sakit, dia cuma geleng-geleng." Anggun masih menatap ke arah yang sama sebelum akhirnya menoleh kepada Vino. "Apa kamu tahu Bita kenapa, Vin?"Vino terdiam."Mungkin ada masalah di kampus? Barangkali dia cerita ke kamu." Anggun mengembuskan napas pelan. "Lihat Bita nggak semangat begitu, Tante jadi nggak tenang. Apalagi dia nggak mau cerita."Tatapan Anggun seolah menaruh harapan kepadanya. Vino hanya mampu menatap balik beberapa saat sebelum menjatuhkan pandangan ke meja makan kemudian menggeleng lemah.Anggun kembali menghela napas. "Ya, semoga aja nggak ada apa-apa. Semoga cuma karena mau datang bulan."Jari-jari Vino mengerat di sekitar sendok yang masih berada di tangannya. Ia hafal betul siklus menstruasi Bita. Dan kalau tidak terlambat, masih ada s

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 188

    "Lagi masak apa, Tan?""Ya ampun, Vin! Hih! Ngagetin aja!"Langkah Bita melambat saat menuruni anak tangga terakhir. Suara Vino dan Mamanya terdengar dari arah dapur, disusul tawa laki-laki itu yang langsung memenuhi telinganya.Bita menghela napas pelan. Seperti langkah kakinya yang terasa semakin berat, perasaannya pun ikut mengendap semakin dalam. Ia menyeret langkah menuju dapur, membiarkan suara percakapan mereka mengiringi setiap langkahnya."Aku kan cuma nanya, Tan.""Nanya, sih, nanya! Tapi nggak tiba-tiba juga. Mana Tante nggak tahu kamu ada di belakang."Anggun terkekeh kecil sebelum kembali mengaduk masakan di atas kompor. "Udah sarapan?""Belum lah. Makanya aku ke sini. Kali aja ada yang bisa dikunyah.""Yaudah, duduk dulu sana. Hampir matang nih sopnya."Bita baru saja melangkah masuk ketika mendapati Vino sedang menarik sebuah kursi. Gerakan laki-laki itu terhenti begitu tatapan keduanya b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status