Share

Bab 191

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-08-12 15:14:37

Bita sebenarnya sudah berencana menghibur Aksa dan bahkan sempat memikirkan caranya. Namun, rencana itu hanya bertahan sekitar lima menit sebelum pikirannya kembali dipenuhi Vino.

Dan baru teringat lagi ketika turun dari mobil Sasha yang mengantarnya pulang dan mendapati Aksa sedang menyirami tanaman serta bunga-bunga milik Mami yang tumbuh subur di pekarangan.

Pemandangan yang cukup jarang. Biasanya, Aksa lebih memilih duduk tenang di teras dengan buku dan secangkir teh di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kokom Komariah
tambah dong ka.baru satu bab
goodnovel comment avatar
Hadi Sugiarto
aku suka, akhirnya aksa ngobrol sm bita.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 327

    “Mas, kalau mau keluar, cepat keluar. Jangan menghalangi jalan,” tegur seorang ibu-ibu yang hendak meninggalkan minimarket. Pria berhoodie itu tersentak. Ia buru-buru menoleh ke belakang, seolah baru menyadari bahwa dirinya masih berdiri di ambang pintu. “Maaf, Bu,” ucapnya cepat sembari menggeser tubuh untuk memberi jalan. Sementara itu, Bita masih berdiri mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya mengerjapkan mata dan melangkah masuk ke minimarket, berusaha mengabaikan tatapan pria berhoodie itu yang masih tertuju kepadanya. Namun, baru beberapa langkah memasuki minimarket, Bita sudah menabrak seseorang di dekat rak. “Eh, maaf, Mbak,” ucapnya buru-buru. Bita kembali berjalan, kali ini lebih berhati-hati dan fokus. Setidaknya, begitulah niatnya. Sebab ketika sampai di salah satu rak, tangannya justru bergerak mengambil sebungkus obat nyamuk. Bita menatap benda di tangannya sebelum dengan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 326

    Awalnya, Anggun bukan orang yang langsung menyetujui keputusan Bita untuk pindah ke Jakarta. Membayangkan putrinya harus tinggal di kota lain saja sudah membuatnya khawatir, apalagi jika harus sendirian di sana.Namun Bita berusaha meyakinkan bahwa kepindahan itu justru bisa menjadi kesempatan besar untuk mengembangkan kariernya. Toh, Bekasi dan Jakarta tidak terlalu jauh. Ia masih bisa pulang setiap akhir pekan jika pekerjaannya memungkinkan.Bram juga ikut menenangkan Anggun. Jika Bita tidak sempat pulang, mereka masih bisa mengunjunginya di Jakarta.Perlahan, Anggun akhirnya melunak. Ia mengerti bahwa putrinya perlu diberi kesempatan untuk berkembang dan menjalani kehidupannya sendiri, meskipun menerima kenyataan itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.Sampai hari kepindahan Bita tiba. Anggun yang sejak awal berusaha terlihat tegar justru menangis sesenggukan ketika melihat koper putrinya sudah siap dibawa pergi. Bita sampai h

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 325

    Setelah kembali dari Bandung, kehidupan Bita kembali berjalan seperti biasa.Pagi datang ke kantor, membuka laptop, memeriksa working paper, mengejar dokumen dari klien, lalu menghabiskan sebagian besar waktu di depan layar.Dira kembali duduk di sebelahnya dengan rutinitas yang sama.Derby juga kembali menjadi Derby. Senior yang entah bagaimana selalu punya pekerjaan tambahan untuk juniornya.“Ta, working paper yang kemarin udah selesai?”Bita mengangkat wajah dari layar. “Belum, Mas. Tinggal bagian rekonsiliasinya.”“Kenapa belum?”“Datanya baru dikirim klien tadi pagi.”“Oh.” Derby mengangguk santai. “Berarti sekarang tinggal dikerjain.”Bita menatapnya datar. “Mas kalau ngomong gampang banget.”“Memang gampang. Kan kamu yang ngerjain."Dira yang mendengar percakapan itu langsung menahan tawa.Derby tiba-tiba menoleh ke arah Dira. “Dir.”Dira yang semula masih ters

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 324

    "Vino! Ayo lari! Keburu lo dikeroyok!” Bita masih terdiam, setengah tidak percaya pada sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya, ketika laki-laki yang dulu sempat ia lihat menenteng barang berjalan bersama Vino mendadak menariknya. Namun Vino pun tampaknya masih sama terkejutnya. Tatapannya tidak beranjak dari wajahnya. “Vin, ayo!” Vino masih tidak bergerak membuat laki-laki di sampingnya menghela napas kesal, lalu menariknya lagi dengan lebih kuat. “Vino, jalan! Jangan bengong!” Vino akhirnya sedikit terseret, tetapi langkahnya kembali terhenti ketika matanya sekali lagi jatuh pada Bita. Seolah masih ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya itu benar-benar Bita. “Vino! Tunggu! Kita cuma mau minta foto! Vino!” Teriakan beberapa perempuan terdengar semakin dekat. Vino mengangkat pandangan ke depan. Matanya langsung membulat ketika melihat kerum

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 323

    Keesokan harinya mereka bertiga turun ke lobi dengan koper masing-masing. Derby langsung menuju meja resepsionis untuk mengurus proses check-out. Prosesnya ternyata sedikit lebih lama dari yang mereka kira karena ada beberapa hal yang perlu dikonfirmasi. Sementara Derby masih sibuk di depan, Bita dan Dira berdiri beberapa langkah di belakangnya. Keduanya meletakkan koper di sisi masing-masing sambil asyik membicarakan rencana mereka untuk menghabiskan setengah hari tambahan di Bandung. Dira bahkan sudah membuka ponselnya dan menunjukkan layar kepada Bita. “Kalau ke Braga dulu berarti dari hotel tinggal pesan taksi online. Paling sekitar lima belas menit kalau jalanan nggak terlalu macet. Keliling sebentar, foto-foto, terus baru lanjut ke Dago.” Bita mendekat untuk melihat rute yang ditunjukkan Dira. "Nah, dari Braga ke Dago-nya kita naik taksi online lagi aja biar nggak ribet. Paling sekitar dua puluh sampai

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 322

    Hari kedua dan ketiga tidak jauh berbeda dari hari pertama.Bita dan Dira kembali menjalani rutinitas yang sama: berangkat pagi dari hotel, menghabiskan sebagian besar waktu di kantor klien, lalu baru kembali ketika pekerjaan hari itu benar-benar selesai.Namun semakin mendekati akhir penugasan, pekerjaan justru terasa semakin padat.Beberapa dokumen yang mereka butuhkan baru diterima menjelang siang. Ada pula data yang tidak langsung sesuai dengan pencatatan di sistem sehingga harus ditelusuri kembali satu per satu. Beberapa kali Bita dan Dira harus bolak-balik meminta klarifikasi kepada PIC klien, sementara Derby terus mengejar mereka untuk memastikan working paper segera diperbarui.Jam makan siang pun beberapa kali terlewat begitu saja.Bahkan pada hari terakhir, mereka masih sempat dibuat panik ketika menemukan beberapa transaksi yang membutuhkan pemeriksaan ulang. Bita dan Dira kembali membuka dokumen, mencocokkan angka, mencari buk

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status