Share

Bab 185

Author: macaroonie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-09 19:08:59

Petang itu, Sasha sedang bersantai di ruang keluarga ketika suara pintu depan terdengar dibuka.

Tak lama kemudian, Mamanya muncul dari arah ruang depan dengan sebuah tas di tangan. Baru pulang dari arisan. "Sha."

Sasha mengangkat kepala dari ponselnya. "Iya, Ma?"

Mama berjalan mendekat, lalu menyerahkan sebuah brosur kecil kepadanya. "Nih. Tadi Mama dapat dari teman arisan."

Sasha menerimanya dan mengamati brosur tersebut. "Toko kue?"

"Iya. Katany
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 194

    Sebenarnya, Vino sudah mengetahui sejak bertahun-tahun lalu bahwa Bita menyimpan perasaan pada kakaknya. Pertama kali Vino menyadarinya adalah setelah kejadian ketika Aksa menggendong gadis itu. Waktu itu, setelah Vino tidak sengaja menjatuhkan Bita dari sepeda, gadis itu sempat mendiamkannya. Namun jangan panggil dia Vino kalau tidak bisa membujuk Bita kembali. Semangkuk es krim warna-warni sudah cukup untuk membuat gadis itu luluh dan mau bermain dengannya lagi. Mereka kembali bermain seolah hanya ada mereka berdua. Seolah tidak ada orang lain di dunia kecil mereka. Setidaknya, begitulah yang Vino rasakan. Sampai ia mulai melihat perubahan pada Bita. Setelah lutut gadis itu mengering dan Vino mengajaknya bermain bola di halaman, ia menyadari sendiri bagaimana mata Bita berkali-kali jatuh ke teras. Kepada Aksa yang sedang asyik membaca buku di kursinya. Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 193

    Vino turun dari motor. Setelah melepas helmnya, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, samar-samar suara tawa dan obrolan dari arah dapur mulai terdengar. Suara yang begitu familiar hingga tanpa sadar langkahnya semakin cepat. Sampai akhirnya ia berhenti di depan dapur. Di meja makan, Bita tengah mengobrol bersama Aksa dengan wajah yang begitu ceria. Tawa gadis itu kembali terdengar, membuat Vino berdiri mematung di tempatnya. "Ya nggak apa-apa bawa jaket bulu-bulu tebal. Terus sekop sekalian." Bita tampak serius membayangkan persiapannya. "Siapa tahu saljunya tiba-tiba turun. Lebih baik sedia sekop sebelum salju." Aksa terkekeh mendengar celotehannya. "Musim semi nggak akan ada salju, Ta. Kalau mau lihat salju, pas winter aja." "Loh, Mas juga mau bawa aku ke London pas winter juga?" Bita langsung menyambar. "Asiiik!" Tawa Aksa peca

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 192

    Suara Aksa pun terdengar semakin pelan ketika melanjutkan ceritanya.Meski sudah ditolak, Aksa masih berusaha mendekati Meta. Berusaha mengambil hatinya, berharap suatu hari perempuan itu akan melihatnya lebih dari sekadar teman.Namun kemudian Meta pindah ke luar negeri dan menetap di sana. Mereka tetap berkomunikasi. Setidaknya, Aksa yang terus berusaha menjaga komunikasi itu.Sayangnya, topik pembicaraan mereka tak pernah jauh dari kehidupan percintaan Meta.Tentang seseorang yang disukainya di sana. Lalu tentang pacarnya. Kemudian tentang bagaimana hubungan itu berakhir dan berubah menjadi kisah mantan. Setelah itu, muncul lagi nama baru. Lalu patah hati lagi. Begitu seterusnya.Seolah tanpa mengatakannya secara langsung, Meta sedang berusaha membuat Aksa mengerti bahwa ia seharusnya berhenti berharap.Namun Aksa tetap bertahan. Tetap menjadi tempat Meta bercerita. Tetap hadir ketika perempuan itu membutuhkan seseorang. Dan d

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 191

    Bita sebenarnya sudah berencana menghibur Aksa dan bahkan sempat memikirkan caranya. Namun, rencana itu hanya bertahan sekitar lima menit sebelum pikirannya kembali dipenuhi Vino. Dan baru teringat lagi ketika turun dari mobil Sasha yang mengantarnya pulang dan mendapati Aksa sedang menyirami tanaman serta bunga-bunga milik Mami yang tumbuh subur di pekarangan.Pemandangan yang cukup jarang. Biasanya, Aksa lebih memilih duduk tenang di teras dengan buku dan secangkir teh di tangannya."Lagi apa, Mas?" tanya Bita setelah memutuskan menghampirinya.Aksa tampak sedikit terkesiap sebelum menoleh. "Ini lagi nyiram bunga. Mami lagi sakit perut di dalam. Makanya Mas inisiatif nyiram bunganya."Bita mengangguk-angguk. Matanya tetap tertuju pada Aksa, mengamati wajah laki-laki itu yang kembali datar seperti biasa.Sekilas, pria itu memang terlihat baik-baik saja. Namun jika diperhatikan lebih saksama, sorot mata Aksa tampak kosong, seola

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 190

    "Aku penasaran deh. Kamu tuh sukanya sama Vino sejak kapan?" tanya Sasha sembari menyuapkan sepotong kuenya.Sepulang kuliah, seperti yang sudah mereka rencanakan, keduanya langsung menuju toko kue milik teman Mamanya yang baru saja dibuka.Niat awal mau beli beberapa kue, lalu pulang. Namun begitu melihat etalase kaca yang dipenuhi berbagai macam pastry dan dessert, niat sederhana itu langsung menguap entah ke mana.Bita bahkan sampai beberapa kali berpindah dari satu sisi etalase ke sisi lainnya, matanya berbinar setiap kali menemukan sesuatu yang terlihat menarik.Pada akhirnya, kue yang mereka bawa keluar dari kasir jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.Mereka pun memilih duduk sebentar di meja kecil yang disediakan di depan toko. Beberapa potong kue yang sengaja mereka pilih untuk dimakan di tempat sudah tersaji di atas meja, sementara paper bag berisi kue-kue lainnya menumpuk di bawah kursi.Namun, kesenangan ka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 189

    "Dari kemarin Bita emang murung, nggak tahu kenapa."Suara Anggun membuat Vino mengalihkan pandangan dari pintu toilet tempat Bita tadi menghilang."Tante tanya apa dia sakit, dia cuma geleng-geleng." Anggun masih menatap ke arah yang sama sebelum akhirnya menoleh kepada Vino. "Apa kamu tahu Bita kenapa, Vin?"Vino terdiam."Mungkin ada masalah di kampus? Barangkali dia cerita ke kamu." Anggun mengembuskan napas pelan. "Lihat Bita nggak semangat begitu, Tante jadi nggak tenang. Apalagi dia nggak mau cerita."Tatapan Anggun seolah menaruh harapan kepadanya. Vino hanya mampu menatap balik beberapa saat sebelum menjatuhkan pandangan ke meja makan kemudian menggeleng lemah.Anggun kembali menghela napas. "Ya, semoga aja nggak ada apa-apa. Semoga cuma karena mau datang bulan."Jari-jari Vino mengerat di sekitar sendok yang masih berada di tangannya. Ia hafal betul siklus menstruasi Bita. Dan kalau tidak terlambat, masih ada s

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status