LOGINAksa tidak tahu seberapa cepat mobil teman Maminya melaju membawa sang Mami. Sampai ketika ia tiba di rumah, Mami sudah terlihat keluar dari rumah sebelah.
Aksa segera turun dari sedannya dan menghampiri sang Mami dengan mata masih membelalak mendapati Mami membawa sapu, disusul sahabat di belakangnya yang menenteng pengki. “Mami apain Om Bram?” tanya Aksa, sempat mengintip ke dalam rumah Bita yang tampak kosong. Tidak ada tanda-tanda sempat terjadi huru-hara di"Kamu udah janji ke Papa untuk makan teratur kalau Papa mengizinkan kamu berhubungan sama Vino," tegur Bram setelah cukup lama memperhatikan Bita yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya dengan pandangan melamun.Bita menghela napas. "Tapi Bita pengen ngerawat Vino, Pa."Sebelum mereka bertandang ke rumah Vino, Papa sudah mengungkapkan syarat tentang mahar lima ratus juta itu beserta syarat lainnya: Bita tidak boleh berhubungan dengan Vino selama syarat pertama belum terpenuhi.Bita menyanggupi. Daripada tidak diizinkan melihat Vino lagi, ia memilih menerima semuanya.Namun, setelah kembali melihat keadaan Vino, rasanya Bita tidak sanggup meninggalkan laki-laki itu dalam kondisi seperti itu. Ia ingin merawatnya. Menemaninya sampai sembuh."Gimana kalau syaratnya berlaku setelah Vino udah sembuh? Jadi selama dia masih sakit, Bita boleh berhubungan sama Vino dulu?" tawar Bita.Bita langsung merasakan perubahan aura sang Papa.
"Gila kamu, Bram!"Clara menarik lengan baju Bram agar pria itu menghadap kepadanya. Ia menatap tajam dengan dagu terangkat. "Maksud kamu apa ngasih syarat segitu nggak ngotaknya?! Setengah miliar?! Kamu benar-benar nggak punya otak!"Napas Clara tersendat-sendat. "Kalau kamu nggak mau ngerestui, ngomong! Nggak usah mempersulit hidup anakku!" teriak Clara tepat di depan wajah Bram. Luntur sudah kesabarannya."Ra, tenang." Reynald berhasil menarik Clara menjauh dari Bram meski tatapan wanita itu masih menyalak marah."Setengah miliar? Bahkan orang yang sudah bekerja pun butuh waktu bertahun-tahun buat mengumpulkan uang sebanyak itu!" Dada Clara naik turun menahan emosi. "Gimana anak aku yang masih kuliah? Selain nggak punya otak, kamu juga nggak punya hati!""Aku memberikan syarat itu karena aku percaya Vino bisa." Pandangan Bram terlempar ke arah Vino yang masih mematung, seolah masih membutuhkan waktu untuk mencerna semua yang baru saja
"Gawat! Gawat! Perang Dunia Ketiga bakalan meletus!" Aksa yang baru saja menyelimuti adiknya langsung menoleh ke arah pintu. Rani muncul sambil membanting pintu dengan raut panik. "Hah? Yang bener, Tan?" Vino sampai bangkit dari posisi berbaringnya. Dapat restu Bram saja belum, masa dunia mau berakhir? "Suer!" Rani segera duduk di karpet. Napasnya tampak ngos-ngosan. "Negara mana sama negara mana yang mulai duluan?" "Mami kamu sama Pria Busuk." Vino mengerjapkan mata, tak paham. Sementara Aksa langsung memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum ikut duduk di karpet. "Pria Busuk siapa sih, Tan? Ini perang dunia beneran apa gimana, sih?" tanya Vino dengan kening berkerut. "Mami kamu sama mantan besannya, itu lho! Kamu ngorok di IGD, sih, jadi nggak tahu ceritanya!" Rani membongkar kresek yang dibawanya, mengambil susu pisang, lalu menyesapnya se
Mobil putih milik Tante Rani perlahan memasuki kompleks perumahan. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan Vino mulai bisa melihat rumahnya sendiri, dan juga rumah Bi— Tubuh Vino tiba-tiba tersentak. Ia segera menegakkan badan. Clara yang duduk di sampingnya langsung menoleh dan ikut menegakkan badan, menatapnya khawatir. “Ada apa, Vin?” Vino menggelengkan kepalanya. Tatapannya masih tertuju pada sosok Bita yang ia lihat duduk di teras bersama kedua orang tuanya. Tatapan Vino tak berkedip ketika Bita langsung berdiri sesaat setelah mobil yang ditumpanginya memasuki pekarangan. Sepasang mata bulat gadis itu memancarkan kecemasan saat menatap ke arahnya. Aksa mematikan mesin mobil dan mencabut kuncinya sebelum menyerahkannya kepada Rani. Wanita itu langsung meraup kunci yang disodorkan Aksa, sekalian menggenggam tangannya sesaat. “Makasih, ganteng,” ucap Rani dengan senyum manis.
Sudah lebih dari satu jam berlalu, tetapi Bita tak juga berpindah dari posisinya. Ia masih meringkuk di atas sofa yang menempel pada dinding di samping jendela kamar tamu, dengan pandangan terlempar kosong ke luar. Jendela itu menghadap ke halaman samping rumah yang dipenuhi pepohonan dan tanaman hijau. Beberapa ranting bergerak pelan tertiup angin, sementara cahaya sore menyusup di antara sela-sela dedaunan dan jatuh samar ke lantai. Kamar ini sendiri terasa begitu asing baginya. Berbeda dengan kamarnya di lantai atas yang selama ini sudah begitu ia kenal. Kamar yang jendelanya menghadap langsung ke kamar seseorang yang kini terus berdesakan memenuhi isi kepalanya. Vino. Papa menyuruhnya pindah ke kamar tamu setelah kamar itu selesai dibereskan. Bahkan barang-barangnya sudah dipindahkan. Pakaian, beberapa buku, hingga barang-barang kecil yang biasa ia gunakan sehari-hari telah dimasukkan ke dalam lemari.
“Gimana, Bita? Mau makan, kan?” tanya Bram saat Anggun memasuki dapur. Anggun menggelengkan kepalanya, kemudian meletakkan piring yang dibawanya di atas meja makan. “Masih utuh. Mama bujuk pakai cara apa pun, Bita tetap nggak mau makan.” Wanita itu duduk di samping suaminya. Matanya sempat melirik piring milik Bram yang sebelumnya sudah ia ambilkan lauk, tetapi masih terlihat belum tersentuh. Bram justru tampak melamun. Helaan napas keluar dari celah bibir Anggun. “Apa nggak sebaiknya kita perbaiki semua kekacauan ini, Pa? Dengan meminta maaf kepada Vino dan Clara. Selain karena ancaman Clara, Mama tahu Papa juga merasa bersalah sama Vino.” “Clara aja nggak meminta maaf sama Papa karena udah gagal mendidik Vino dan bikin Bita kena imbas pengaruh buruknya. Kenapa Papa harus meminta maaf?” balas Bram datar. Untuk kesekian kalinya, Anggun menghela napas. “Pa, kalau nggak ada yang mengalah dan menurunkan ego, hub
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu







