INICIAR SESIÓNVino tiba di Apex kurang dari tiga puluh menit setelah menerima telepon dari Naya.
Begitu memasuki gedung, Vino segera menuju lantai tempat ruang kerja Naya berada. Beberapa staf yang berpapasan dengannya sempat menyapa, tetapi Vino hanya membalas seperlunya.Pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Tamara. Vino bahkan belum tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki keadaan dengan Bita. Namun sekarang, ketika Naya memintanya datang karena ada sesuatu yang penting, VinoClara menaikkan kedua kakinya ke atas meja. Pandangannya tak beralih dari layar televisi yang menampilkan berita terbaru seputar para aktris, sementara tangannya sibuk menyendok greek yogurt dengan potongan buah di dalam mangkuk kecil yang ia dekap.Sorot mata Clara berubah sinis. Dengusan kecil keluar dari bibirnya ketika layar televisi menampilkan seorang aktor yang sedang terjerat kasus KDRT setelah terbukti melakukan kekerasan terhadap istrinya. “Laki-laki sekarang nggak bisa banget ngendaliin emosinya. Sukanya main tangan,” cibirnya.Berita kembali berganti. Suara pembawa acara mulai terdengar dari televisi.“Baik, kita beralih ke kabar terbaru dari dunia entertainment. Nama aktris cantik Tamara Isabelle Adinata kembali menjadi perbincangan setelah kabar terbaru mengenai proyek yang akan dibintanginya mulai beredar.”Gerakan mengunyah Clara perlahan melambat. Ia cukup mengenal nama Tamara. Bagaimanapun, perempuan itu merupakan lawan main Vino
Vino tiba di Apex kurang dari tiga puluh menit setelah menerima telepon dari Naya.Begitu memasuki gedung, Vino segera menuju lantai tempat ruang kerja Naya berada. Beberapa staf yang berpapasan dengannya sempat menyapa, tetapi Vino hanya membalas seperlunya.Pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Tamara. Vino bahkan belum tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki keadaan dengan Bita. Namun sekarang, ketika Naya memintanya datang karena ada sesuatu yang penting, Vino hanya bisa berharap urusan itu tidak semakin menambah masalahnya.Sesampainya di depan ruangan Naya, Vino mengetuk pintu dua kali sampai suara Naya terdengar dari dalam.“Masuk.”Vino membuka pintu dan mendapati Naya sedang duduk di balik meja kerjanya. Beberapa berkas dan sebuah tablet tergeletak di hadapannya. “Duduk dulu, Vin,” suruh Naya tanpa mengangkat pandangan.Vino menarik kursi di depan meja Naya lalu duduk. “Ada apa, Mbak? Hari ini saya bu
Sekeluarnya dari ruang dosen, Vino segera menyusul Martin yang sudah lebih dulu berada di kantin. Namun langkahnya terhenti di lorong ketika dari kejauhan ia melihat Bita berjalan menuju ruang dosen seorang diri. Tubuh Vino seketika diam. Pandangannya mengikuti Bita yang berjalan sambil sibuk mengutak-atik ponsel. Dari cerita Martin, gadis itu memang sedang disibukkan dengan berbagai tugas yang cukup menyita waktunya. Vino tidak tahu apakah Bita sedang mengerjakan salah satu tugasnya, membalas pesan anggota kelompok, atau sekadar mencari sesuatu di ponselnya. Ia hanya berharap gadis itu tidak tiba-tiba tersandung atau menabrak seseorang karena terlalu fokus pada layar. Jarak di antara mereka semakin menipis. Bita tinggal beberapa langkah lagi darinya. Namun Vino tetap berdiri di tempat. Sampai akhirnya— Bruk! Bita menabrak tubuhnya. Gadis itu langsung terhuyung mundur. “Maaf! Maaf! Aku—” Kalim
Tamara tersenyum lebar ke arah kamera sambil mengoleskan serum ke wajahnya. “Baru selesai syuting, guys. Hari ini panjang banget. Aku bahkan baru bisa pulang sekarang.”Perempuan itu memang sengaja menyalakan live sosial medianya sesampainya ia di apartemen. Dan kurang dari semenenit, komentar mulai memenuhi layar.'Kak Tamara cantik banget!''Baru pulang syuting ya, Kak?''Kak, kapan main film lagi?''Kak Tamara skincare-nya apa aja? Spill dong!'Tamara terkekeh pelan. “Pelan-pelan, dong. Komentarnya banyak banget.”Matanya menyapu layar, membaca satu per satu komentar yang terus bergerak. Sampai sebuah komentar membuat gerakan tangannya berhenti.'Kak, sekarang masih sering bareng Vino nggak?'Tamara terdiam selama beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat. “Oh... Vino?”Nada suaranya terdengar santai, seolah nama itu sama sekali bukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Padah
Untungnya, Sasha langsung menuju tempat yang disebut Vino.Begitu sampai, ia benar-benar menemukan Bita di bawah pohon beringin. Tidak sedang menangis seperti yang sempat ia bayangkan sampai membuat Sasha mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila. Bita justru terlihat tenang duduk di bawah pohon sambil mengorek-ngorek tanah dengan sebatang ranting, seolah tidak terjadi apa-apa.Sasha seketika mengembuskan napas lega. “Kamu bikin aku panik banget tau nggak, Ta? Untung aja ketemu," ungkapnya sembari melangkah menghampiri Bita, lalu duduk di sampingnya.Bita tidak menoleh sedikit pun. Tangannya masih sibuk mengorek tanah di hadapannya.“Ta?” panggil Sasha pelan.Awalnya tidak ada respons. Namun, tepat sebelum Sasha kembali membuka suara, Bita akhirnya berkata lirih.“Aku ... aku berhak buat cemburu, kan, Sa?” Suaranya nyaris seperti bisikan.Sasha terkekeh kecil. “Ya boleh, lah. Justru aneh kalau kamu nggak cemburu.”
Vino seketika menyentakkan tubuhnya bangkit dari kursi, mengejar Bita yang sudah mundur dan berbalik berlari keluar dari kafe.Jantungnya berpacu semakin cepat, seiring rasa takut yang ikut membesar dalam dirinya. Langkahnya melebar saat ia mendorong pintu kafe dan mendapati Bita sudah berada di atas motornya dengan Sasha yang berusaha menahannya.“Bita! Kamu mau ke mana?! Bita!”Seakan tuli, Bita langsung menarik gas motornya dan meninggalkan kafe. Ia tidak peduli pada Sasha yang berteriak mengejarnya, bahkan helm yang terlempar begitu saja dari atas motornya.Langkah Vino terhenti. Tubuhnya terpaku menyaksikan helm yang ia belikan untuk Bita terlempar dan menghantam paving kafe dengan cukup keras.Salah satu telinga kucing pada helm itu patah seketika. Helm tersebut kemudian masih sempat menggelinding beberapa kali di atas paving sebelum akhirnya berhenti tepat di ujung sepatu Vino.Vino menatapnya nanar. Helm dengan telinga ku
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







