공유

Bab 41

작가: macaroonie
last update 게시일: 2026-06-06 13:04:01

"Akhirnya setelah dihajar habis-habisan selama seminggu ini, aku kembali hidup dan bernyawa!"

Sasha terpingkal mendengar teriakan dramatis Bita saat mereka keluar dari ruang presentasi.

Bita meraup udara sebanyak-banyaknya. merasakan hembusan angin sepoy-sepoy yang menyejukkan. Untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, dadanya terasa ringan.

Tidak ada presentasi. Tidak ada revisi slide. Tidak ada laporan observasi yang harus dikumpulkan sebelum pukul dua belas malam.

Semuanya selesai.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 82

    "Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 81

    "Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 80

    "Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 79

    Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 78

    Bita turun dari motor ojek online tepat di depan gerbang rumah. Di tangannya tergenggam segelas matcha mint latte ukuran sedang yang dibelinya dalam perjalanan pulang.Gelas plastik bening itu masih dingin. Butiran embun menempel di permukaannya, sementara warna hijau pucat minuman di dalamnya tampak kontras dengan tutup transparan yang membungkus bagian atas.Bita menatap minuman tersebut beberapa detik. Kemudian menatap rumah di seberang. Lebih tepatnya pada mobil toyota sedan yang sudah terparkir di teras. Niat Bita ingin memberikan minuman ini untuk Vino supaya mereka bisa berdamai. Meski jelas dengan Vino terlebih dulu mengirimnya pesan membuktikan bahwa laki-laki itu tidak lagi memendam amarah, namun tetap saja Bita kesulitan menyingkirkan rasa canggung yang mengganjal di dadanya.Bagaimanapun juga, mereka baru saja melalui perang dingin tersengit setelah percakapan yang berakhir tidak menyenangkan di basement kampus. Banyak dari ucapan Bit

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 77

    "Kak Bita baru selesai kelas?"Fero menghampirinya di depan gedung fakultas yang sudah lumayan sepi. Bita yang baru akan memesan ojek online sontak menatap was-was sekitar sebelum sadar Vino sudah pulang dari siang tadi. Setelah lebih dari satu jam menganggurkan pesannya, Vino akhirnya membalasnya dengan mengatakan ia tidak jadi menemuinya di gazebo, dan meminta maaf karena tidak bisa mengantarnya pulang seperti janjinya. Ada urusan dengan Martin, katanya.Bita mengangguk. "Kamu ada kelas sore juga?"Fero meringis canggung. Gerakan tangannya yang mengusap leher terlihat kikuk. "Nggak ada sih Kak. Cuma ... ada yang mau aku omongin sama Kak Bita."Genggaman tangan Bita di ponsel tanpa sadar mengencang. "Kenapa nggak lewat chat aja? Atau telpon? Daripada nunggu lama. Mana kamu nungguin sendirian, kan?"Bita sangat berharap sesuatu yang sedang akan dibicarakan Fero bukan tentang perasaannya.Sebab, akan lebih mudah bagi Bita mengatakan penolakan lewat sambungan telepon. Daripada Bita ha

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 46

    "Iya. Soalnya Bita tiba-tiba aja ambis. Pasti terinspirasi dari cowok yang dia suka." Bita menghela lagi disela kunyahannya. Apa tidak ada topik menarik selain siapa pria yang ia taksir? Sungguh menyedot habis napsu makan Bita. Namun sayangnya makanan sudah terlanjur ia pesan. Mubadzir sekali jika

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 45

    "Baik, kalau tidak ada pertanyaan lagi, pertemuan hari ini kita akhiri sampai di sini." Suara kursi yang bergeser mulai memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswa terlihat sudah bersiap memasukkan laptop dan buku ke dalam tas termasuk Bita. Namun dosen mereka kembali angkat bicara. "Oh iya, satu lagi.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 44

    Disela hembusan napasnya yang berhamburan riuh di udara, panas tubuh yang belum juga reda, dan keringat yang mengalir dari pelipis lalu membasahi pipi, Bita memerhatikan Vino yang bertumpu lutut di atas kasur dan sedang membenahi handuknya yang tersingkap.Vino mematrikan pandangan tepat di mata Bi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 43

    "Kenapa bangun?" Bita mengedikkan bahu bingung. "Aku ngerasa ada yang memerhatikan aku. Terus waktu bangun aku lihat kamu ada disini," ungkapnya lalu menggeser badannya yang menghalangi pintu. "Ayo, masuk." "Lo nggak ngatuk?" Vino memastikan dengan bertanya, melihat sudah dua kali Bita mengua

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status