LOGINPerjalanan menuju London dimulai sejak pagi buta. Bita tiba di bandara bersama Aksa dan Vino dengan koper masing-masing. Karena penerbangan mereka cukup panjang, ketiganya sudah sepakat untuk datang lebih awal agar tidak terburu-buru saat proses check-in.
Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka menuju area keberangkatan. Bita berjalan di samping Vino sambil memperhatikan Aksa yang sejak tadi sibuk memastikan segala sesuatunya aman. Boarding pass dan paspor mereka kembali diperiTak lama kemudian, lift berhenti di lantai delapan. Pintu terbuka, dan mereka bertiga keluar sambil membawa barang masing-masing. Khusus Bita, kopernya bergantian dibawa Vino dan Aksa.Aksa berjalan beberapa langkah di depan, lalu berhenti di sebuah pintu kamar. “Ini kamar kamu, Ta.” Ia menunjuk pintu di hadapannya, kemudian menggeser pandangan ke pintu di sebelahnya. “Kalau kamar Mas sama Vino yang itu.”Aksa kemudian menyerahkan kartu akses kamar kepada Bita. “Nih, simpan baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung bilang Mas atau Vino, ya.”Bita menerima kartu itu, tetapi wajahnya masih tampak lesu. “Ini aku beneran tidur sendirian?”Vino memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lembut. “Yaudah, ayo. Aku sama Mas Aksa antar kamu masuk dulu.” Ia menoleh kepada Aksa. “Ayo, Mas. Kita antar putri kecil yang takut bobok sendiri padahal udah gede ini ke kamarnya.”“Jangan ngejek aku!” seru Bita pura-pura kesal. Dengan wajah sumri
Perjalanan menuju London dimulai sejak pagi buta. Bita tiba di bandara bersama Aksa dan Vino dengan koper masing-masing. Karena penerbangan mereka cukup panjang, ketiganya sudah sepakat untuk datang lebih awal agar tidak terburu-buru saat proses check-in.Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka menuju area keberangkatan. Bita berjalan di samping Vino sambil memperhatikan Aksa yang sejak tadi sibuk memastikan segala sesuatunya aman. Boarding pass dan paspor mereka kembali diperiksa satu per satu, begitu pula tas dan barang bawaan, seolah laki-laki itu takut ada sesuatu yang tertinggal.Vino yang melihatnya akhirnya merangkul bahu Aksa. "Udah, Mas. Tenangin diri. Semuanya aman terkendali. Nggak ada yang ketinggalan."Aksa menoleh dengan tatapan datar. "Kamu nggak lupa bawa charger?"Vino seketika membulatkan mata dan langsung menepuk dahinya. "Oh iya! Mas lupa!" Lalu terkekeh kikuk. "Nanti pinjem charger Mas, ya?"Aksa mengembuskan na
Hari-hari berganti hingga tanpa terasa, tinggal seminggu lagi sebelum pernikahan Meta digelar. Jemari Bita saling meremas gelisah di atas pangkuannya. Di sampingnya, Bram duduk dengan tenang di sofa ruang keluarga, sementara di hadapan mereka duduk Aksa. Bita sudah tahu tujuan kedatangan laki-laki itu. Tadi pagi, Vino sudah memberitahunya bahwa Aksa akan datang untuk meminta izin kepada Bram membawanya ke London menghadiri pernikahan Meta. Aksa duduk dengan sikap tenang, meski jemarinya sesekali saling bertaut di atas paha. Setelah beberapa saat, ia membuka percakapan lebih dulu. "Proyek Om yang kemarin gimana? Udah selesai?" Bram mengangguk. "Sudah. Tinggal serah terima sama beberapa bagian kecil." "Wah, cepat juga, Om." "Kalau sesuai jadwal memang harusnya begitu. Tapi namanya proyek, pasti ada aja kendalanya." Bram terkekeh kecil. "Kadang material telat, tenaga kerja kurang, belum lagi kala
Setelah hari ketika Bita bertemu Jesika, wanita itu tak pernah lagi muncul. Hidup Bita kembali seperti semula tanpa gangguan.Yang berbeda hanya satu: Vino.Seolah ingin membuktikan bahwa ia layak untuk Bita, bahwa ia mampu menjaga dan membahagiakannya, laki-laki itu mulai mengubah kebiasaannya.Kalau biasanya pagi-pagi Vino sudah mandi lalu nongkrong di depan rumah Bita sambil meminta sarapan, kini ia mulai rutin lari pagi. Tak hanya itu, ia bahkan mendaftarkan diri menjadi member gym.Waktu istirahat yang biasanya laki-laki itu habiskan dengan nongkrong di gazebo sambil bercanda bersama Martin dan teman-temannya, kini mulai ia gunakan untuk belajar di perpustakaan. Perubahan itu membuat Bita senang bukan main karena ia jadi bisa membaca novel sambil menemani Vino belajar.Vino juga mulai belajar berinvestasi meski masih dalam jumlah kecil. Seolah sedang menata masa depannya dan tentu saja, masa depan yang ingin ia bangun bersama Bita.
Suara dering ponsel kembali terdengar di dalam mobil Toyota Yaris milik Sasha. Gadis itu melirik sekilas ke layar ponsel yang tergeletak di pangkuan Bita. Nama Vino kembali tertera di sana.Sasha mengangkat pandangan. Bita masih menghadap ke jendela samping, menatap keluar dengan tatapan kosong.Sejak mereka meninggalkan tempat futsal, nama yang sama terus muncul di layar ponsel Bita. Sudah lebih dari dua puluh panggilan, tetapi satu pun tak diangkat. Entah berapa panggilan lagi sampai akhirnya Bita mau mengangkatnya.Sasha kembali memusatkan pandangan ke jalan.Sejujurnya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tadi Bita bilang dirinya baik-baik saja. Bahkan sempat tersenyum dan meyakinkannya agar tidak perlu khawatir. Namun begitu masuk ke mobil, gadis itu nyaris tidak berbicara sama sekali.Ketika panggilan pertama masuk, Bita hanya melirik layar sebentar sebelum membiarkannya berdering hingga mati. Setelah itu, setiap kali nama Vino
Bagaimana mungkin hati seorang perempuan tidak hancur ketika mengetahui pacarnya, meski hubungan mereka masih terhalang restu, ternyata pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Terlebih ketika perempuan itu datang dengan penampilan yang begitu mencolok seperti Jesika. Martin sempat mengira Bita akan menunjukkan tanda-tanda terluka. Bahkan Sasha sudah bersiap merangkulnya jika gadis itu sampai menangis. Namun, dugaan mereka meleset. Bita justru tertawa. Tawanya membuat Martin, Sasha, bahkan Jesika terdiam. Senyum pongah di wajah Jesika pun perlahan memudar. “Oh, jadi kamu Jesika?” Bita akhirnya bersuara setelah tawanya mereda. “Maaf, tadi aku nggak ngenalin. Vino nggak pernah nyebutin ciri-ciri kamu. Dia cuma bilang, kamu itu cewek yang dulu secara sukarela dia jadikan pelampiasan.” “Vino cerita sama lo, Ta?” tanya Martin, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bita meng
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







