Masuk"Corby, katakan cepat apa yang jadi masalah. Perempuan itu menungguku di ranjang, hmm!" geram Brocklyn Hanson kesal karena kesenangannya diinterupsi tiba-tiba.
Salah satu pentolan di klan Hawk King itu berdehem lalu mengatakan dengan lugas persoalan besar yang dia dapat dari informan. "Tuan, Joe Leopard menjajakan barang kita di pesta Bradley Lawrence. Sialnya, ada polisi yang menyamar di acara penuh selebritis dan kaum jetsetter itu!" lapor Corby Killians. "BRAK!" Tinju kepalan Brocklyn menghantam meja kayu sehingga menimbulkan ketegangan di antara para bawahannya yang menghadapnya malam itu. "Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya Ernest Young, lawyer klan mafia yang dipimpin oleh Brocklyn. Brocklyn berpikir keras, dia merasa konyol saja membiarkan barang dagangannya yang berharga terbuang sia-sia disita oleh pihak kepolisian. Akan tetapi, bila dia menyuruh anak buahnya justru membahayakan mereka karena bersinggungan dengan aparat penegak hukum di luar dunia bawah tanah tempat kekuasaannya. Maka dia pun berkata, "Corby, tempatkan mata-mata agar barang kita tetap terpantau di mana lokasinya. Dan ... Ernest, pastikan pria tolol bernama Joe Leopard itu tidak menuntut ganti rugi Angel Dust yang telah dia pasarkan sendiri dengan sembarangan lalu disita polisi!" "Siap, Mr. Hanson. Joe telah menanda tangani surat perjanjian pertukaran Angel Dust dengan pelayanan istrinya untuk Anda malam ini seharusnya dia tidak mencari gara-gara!" sahut Ernest Young. "Ohh ... yeah, amankan posisiku agar Joe tidak menyeret namaku karena narkotika yang dia dapatkan dariku, Ernest. Satu lagi, aku ingin kau membuat surat perceraian Joe dan Starla secepatnya lalu aku ingin menikahi wanita itu secara legal. Urus dengan teliti, aku tak mau ada kesalahan sekecil apa pun, paham?!" titah Brocklyn dengan tatapan mata sekeras granit. Pengacara muda itu mengendurkan ikatan simpul dasinya karena terasa mencekik. "Saya mengerti keinginan Anda, Tuan. Berikan saya waktu untuk mengurus segalanya dengan sempurna!" jawab Ernest. "Apa ada lagi yang ingin kalian katakan? Waktuku tak banyak dan jangan menggangguku lagi dengan urusan apa pun. Mau dunia kiamat, aku hanya ingin bercinta dengan Starla Cassidy malam ini!" ujar Brocklyn tak sabar lagi menahan hasratnya yang tak tersalurkan tadi. Belum sempat Brocklyn meninggalkan ruang kerjanya di mansion, pintu diketok jamak seolah-olah tamunya tak sabar untuk bertemu. "Ya, masuklah!" seru pentolan mafia itu dengan nada gusar terganggu. Ketika pintu terayun, sosok Joe Leopard memasuki ruangan itu. Dengan suaranya yang melengking, Joe menghampiri meja Brocklyn dengan berkata, "Hey, Bos. Naas sekali aku malam ini, sekoper Angel Dust pemberianmu jatuh ke tangan polisi. Apa bisa kau memberikan sedikit kompensasi untuk kerugianku itu? Toh, Starla masih ada di rumahmu ini. Ka–kau bisa menahannya di sini lebih dari semalam sampai kau puas, Mr. Hanson!" Telapak tangan Brocklyn mengepal hingga jari-jarinya memutih karena menahan amarah. 'Kalau kau mendengar sendiri suami keparatmu ini menjualmu seperti pelacur, Starla. Apa kau masih ingin kembali kepadanya nanti, hmm?!' batinnya kesal. "Ehm ... tawaran yang menarik, Joe. Berapa yang kau minta kalau aku ingin Starla menjadi milikku dan ...," Brocklyn memutar-mutar telapak tangannya di udara, "kalian bercerai saja, huhh?" Mata Joe melotot seperti baru saja menelan kelereng, dia tak menyangka bos mafia itu sangat menyukai Starla. Padahal baginya, Starla hanya sekadar sapi perahnya yang menghasilkan banyak uang. Dia sejak awal tak pernah menyukai wanita itu karena kesombongannya, menyentuhnya saja tidak sudi! "Bukankah, harga Angel Dust itu menjadi terlalu mahal bagiku, Mr. Hanson? Starla sangat berarti di hidupku yang mengenaskan ini!" ujar Joe, sok menganggap Starla berharga. Matanya berkilat oleh ketamakan yang nampak jelas di hadapan Brocklyn. "Katakan saja, berapa? Aku kurang suka negosiasi yang bertele-tele, Joe. Jangan sampai aku menarik pelatuk pistol kesayanganku ke arah kepalamu itu!" ancam Brocklyn dengan nada lembut mematikan. Seisi ruangan seperti membeku mendengar kata-kata Brocklyn. Anak buahnya tidak meragukan kekejaman yang bisa dilakukan oleh bos mafia itu. Siapa pula Joe Leopard ini? Tak lebih bak lalat sampah yang mengganggu saja. "T–tolong jangan gegabah, Tuan. Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" sergah Joe yang merasakan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya karena dicekam ketakutan. "Jadi, katakan saja apa yang kau mau, berapa?" ucap Brocklyn dengan malas-malasan menatap Joe sembari menyandarkan punggungnya di kursi putar. Joe menelan ludah lalu berdehem-dehem. "Lima kilo Angel Dust akan cukup untuk seorang Starla, Mr. Hanson. Apa Anda bisa memenuhi permintaanku?" Anak buah Brocklyn Hanson mendesis dan mengumpat mendengar harga yang ditentukan pria bedebah itu untuk menukar istrinya. Tatapan mata Ernest memicing tak suka, dia pengacara urusan legal organisasi mafia pimpinan Brocklyn. Jauh lebih baik bosnya menarik pistol dan menghabisi Joe saja, pikir Ernest kesal. "Hahaha. Kau bersikap seperti germo, tak pantas rasanya kau menjadi suami Starla yang sangat berharga!" kecam Brocklyn disertai kebencian tersirat. Namun, dia pada akhirnya mengambil selembar kertas kosong lalu menuliskan perintahnya. Di akhir surat yang ditulis itu dicap dengan embos lambang klan Hawk King yaitu rajawali emas. "Bawa ini besok ke Bar Uptown Margarita dan serahkan ke Harold Singh, kau akan mendapatkan barang yang kau inginkan sepadan dengan Starla. Jangan lupa tanda tangani surat perceraian kalian, Mr. Ernest Young akan menyiapkan dokumennya besok!" Brocklyn menyelesaikan urusan dengan suami Starla agar pria bajingan itu tak lagi merecoki hubungannya ke depan. "Ohh ... jangan kuatir, Tuan. Segalanya pasti beres. Selamat bersenang-senang dengan mantan istriku. Dia istimewa, masih murni tak seperti yang dipikirkan orang-orang!" ujar Joe Leopard dengan raut wajah mesum. Dia menyimpan surat berharga pemberian Brocklyn ke saku jasnya lalu melenggang ke luar ruangan kantor mansion sembari bersiul-siul riang. Setelah pintu menutup, Brocklyn mengumpat keras, "DAMN IT!!" Anak buahnya memejamkan mata dengan napas tercekat gugup. Corby pun angkat bicara, "Tuan, apa perlu kami membereskan lelaki tak berguna itu setelah dia menanda tangani surat cerai?" "Hmm ... itu terlalu enak untuknya. Berikan informasi kepemilikan narkotika atas diri Joe Leopard ke polisi. Mereka pasti akan menjebloskannya ke sel tahanan sampai dia membusuk di penjara!" jawab Brocklyn. Kemudian pria itu bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan ruang kantornya, dia berpesan untuk terakhir kalinya, "Jangan ada yang menggangguku lagi malam ini!" "Baik, Tuan. Kami paham!" sahut Corby lalu melepas kepergian big bossnya yang menyusuri lorong mansion yang remang-remang. Brocklyn merasa bersalah telah meninggalkan Starla sendirian dalam keadaan tanpa busana di kamar bermain pribadinya. Hasrat menyeruak dari dalam diri Brocklyn, dia akan membuat Starla tak akan mungkin melupakan malam ini bersamanya. Pintu itu dia buka dengan anak kunci dari saku celananya lalu Brocklyn mencari sosok Starla di dalam ruangan. Cahaya lampu penerang sisi luar mansion menyinari tubuh molek Starla sehingga berpendar keemasan. "Hello, Starla!" sapanya sembari melangkah perlahan menuju ke ranjang di mana wanita berpenutup mata itu terikat ke tiang dipan."Tunggu!" seru Starla sebelum Brocklyn berlaku kurang ajar dan semena-mena seperti biasanya."Yes, Darling. Ada apa?" Sebersit senyuman mengejek terukir di bibir tebal pria mafia itu.Starla membulatkan tekadnya, dia harus setidaknya keluar dari mansion milik Brocklyn Hanson hidup-hidup dan melapor ke polisi atas penculikan dirinya. "Tentang kesepakatan kita tadi ... kuharap kau tidak akan melanggarnya. Setelah ini izinkan saya menghubungi managerku, Fanny!" ujar Starla, menyembunyikan ketakutannya."Alright, hanya itu? Kalau sudah tak ada yang ingin kau katakan, biarkan aku menyelesaikan apa yang telah kita mulai malam ini, Darling!" balas Brocklyn seolah-olah permintaan Starla bukan hal penting baginya.Wanita berambut panjang hitam legam bergelombang itu memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Brocklyn kepadanya. Kecupan-kecupan basah nan lapar bagaikan menelan Starla bulat-bulat. Brocklyn tak melewatkan seinchi pun kulit mulus Starla."Ukkh ... mmhh!" Starla mengg
"Kumohon berhenti!" rengek Starla dengan bokong memerah dan kebas karena dipukuli telapak tangan lebar Brocklyn."Berjanjilah, jangan melawanku lagi dan jaga lidahmu!" tuntut Brocklyn dengan nada dominan seperti biasanya.Starla mengangguk-anggukkan kepalanya, dia membiarkan pria mafia kejam itu memeluknya di dalam air. Rambut panjang hitam Starla dibelai penuh kelembutan oleh tangan yang sama dengan yang membuat bokongnya kesakitan saat ini."Aku akan merawatmu setelah ini, tenang saja!" ucap Brocklyn ringan tanpa merasa bersalah. Sementara Starla merasa muak karena dijadikan boneka yang dimainkan sekehendak hati Brocklyn. 'Apa maunya? Menyakitiku lalu merawatku. Sebenarnya apa dia punya gangguan jiwa? Aku harus kabur dari tempat terkutuk ini sebelum ikut menjadi gila!' gerutunya dalam hati.Tangan nakal Brocklyn menyusuri punggung Starla hingga berhenti di bokong wanita itu. "Apa kau sakit?" tanyanya."Hmm ... menurutmu? Setelah selusin pukulan keras di bokongku, apa aku akan meras
"Huhh ... pria itu membuatku seperti Rapunzel yang disekap di menara tinggi. Bagaimana aku bisa kabur dari sini tanpa risiko mematahkan kakiku sendiri?!" gerutu Starla disertai helaan napas dramatis. Dia sudah bosan terkurung di kamar tidur tanpa ada kesempatan kabur sama sekali.Starla mulai berpikir serius tentang cara dia bisa meninggalkan mansion mafia kejam itu. Banyak yang mengganggu benaknya, termasuk salah satunya, Joe Leopard yang keenakan di luar sana menggunakan fasilitas miliknya padahal pria brengsek itu telah menjualnya lengkap beserta status pernikahan mereka."Ceklek!" Bunyi anak kunci diputar membuat Starla yang duduk bersandar di ranjang melayangkan pandangan penuh kewaspadaan ke arah pintu.'Ahh ... aku sampai lupa waktu karena kebanyakan melamun. Ini sudah petang, pantas saja pria mafia itu mendatangiku. Jangan bilang dia akan memaksaku berbuat yang aneh-aneh lagi!' cicit Starla dalam hatinya.Brocklyn melangkah perlahan dengan kesan dominan penguasa yang terasa be
"Okay, yang harus dilakukan sekarang hanya makan menu bernutrisi dan cukup istirahat, Nyonya!" ujar Dokter Jake Paltrow sembari membereskan peralatan medisnya ke tas dokter.Starla hanya tersenyum tipis, dia ingin pulang ke rumahnya bukan bersantai dan menyamankan diri di mansion mafia mesum itu. Setelah semalam dia dipaksa terus membuka pahanya lebar-lebar, pagi ini masih disergap di bawah shower. Ada amarah menggelegak yang dia tahan di dalam dadanya. 'Sialan, Joe. Kau menjadikanku alat barter untuk lima kilo narkotika, di mana otakmu?!' rutuk Starla. Dia membatin saja tanpa bersuara seraya berbaring miring membelakangi para pria yang masih mengobrol berdiskusi tentang kondisinya.Bunyi pintu ditutup menyisakan langkah kaki berat mendekat ke arah ranjang. Starla masih merasa risau akan apa yang akan dia alami lagi di bawah atap mansion milik Brocklyn Hanson. Bobot badan Brocklyn terasa jelas di sisi pinggang Starla. Dia mengulurkan tangan menarik bahu wanita itu agar menghadap ke
Suara burung liar di pagi hari membangunkan Starla. Dia terlelap karena kelelahan melayani napsu biadab pria mafia yang masih berbaring memejamkan mata tanpa busana di bawah selimut yang sama dengannya.Bias sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kamar membuat Starla melihat wajah Brocklyn secara jelas. Cambang subur berwarna coklat gelap menghiasi fitur tulang rahang tegas pria itu. Tulang pipinya menonjol dipadu tulang hidung yang kokoh begitu mancung membuat Brocklyn terlihat sempurna.Starla teringat warna iris mata pria itu biru kehijauan bak permata Amazonite. Dia menghela napas perlahan lalu beringsut bangkit dari ranjang yang berantakan bagaikan kapal dihantam topan badai di lautan."Ouch!" desis Starla saat berusaha melangkahkan kakinya. Gesekan paha membuat dia merasa perih di bagian area intimnya. Dia duduk di kloset lalu berkemih sebelum memutuskan mandi air dingin di shower box. Bekas sentuhan sang mafia semalam di tubuhnya masih terekam jelas di benak Starla. Di
"Tuan ... please, lepaskan aku. A–aku kedinginan!" ucap Starla putus asa dengan suara yang terdengar parau.Brocklyn tersenyum miring seraya mengangkat dagu Starla. "Aku bisa menghangatkanmu sekarang. Patuhi perintahku, Darling!" balasnya lalu mulai melepaskan lagi semua pakaiannya dan membiarkan kain itu teronggok di lantai.Starla menajamkan telinganya, dia mendengar bunyi gesekan kain yang dilepas. Dengan kasar Starla menelan ludah, nampaknya sudah tiba waktunya bagi dia menyerahkan diri kepada pria mafia itu.Kain yang mengikat pergelangan tangan Starla ke tiang dipan dilepaskan lalu Brocklyn mendorong bahu wanita tawanannya hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Seketika kasur melesak karena bobot badan pria bertubuh kekar tersebut yang menindih Starla.Sebuah ciuman yang dipaksakan membuat bibir Starla terbuka untuk menerima lidah yang menyeruak liar ke dalam rongga mulutnya. Jantung Starla berpacu cepat saat bentukan panjang nan keras menekan bagian intimnya. 'Oh God, aku ta







