LOGINDeru mesin motor Axel membelah keheningan malam dengan beringas. Di balik helmnya, rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Melalui earphone yang terpasang di telinganya, suara seorang pria terdengar di sela desis angin."Bisakah kau menjaganya untukku? Jangan sampai dia terluka atau ada yang mendekatinya sedikit pun," desis Axel, suaranya parau."Aku tidak bisa menjamin akan terus mengawasi adikmu setiap saat di tempat sekacau ini, tapi akan aku usahakan," jawab suara di seberang sana."Aku akan memberikanmu imbalan apa pun kalau dia bisa aman di sana sampai aku sampai. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya!" Axel menekankan setiap kata sebelum memutus sambungan telepon. Ia memutar gas lebih dalam, membuat motornya melesat bak peluru di antara kerumunan kendaraan.Sementara itu, di dalam club, Alana merasa dunia di sekelilingnya mulai berputar. Kebisingan musik EDM yang memekakkan telinga dan aroma alkohol yang menusuk membuatnya muak. Ia berd
Mobil mewah Reina akhirnya berhenti di depan sebuah gedung dengan lampu neon yang berkedip-kedip mencolok. Suara dentuman musik bass bahkan sudah terdengar sampai ke parkiran, menggetarkan kaca mobil dan juga ulu hati Alana."Ayo, Lana! Turun, kita sudah sampai!" Welda berseru antusias sambil menepuk-nepuk bahu Alana yang masih mematung di kursi belakang.Alana menatap bangunan itu dengan keraguan yang sangat besar. "Wel, ini tempatnya? Bukankah ini terlalu... jauh dari rumah?""Justru itu serunya! Ini kan club paling hits di tengah kota, Lana. Jangan jadi anak rumahan terus, ayo!" Welda menarik tangan Alana, memaksanya keluar dari zona nyaman yang kini terasa sangat jauh.Begitu pintu masuk dibuka, aroma alkohol yang bercampur dengan asap rokok dan parfum menyengat langsung menyerbu indra penciuman Alana. Ia mengernyitkan hidung, tangannya refleks menutupi mulut. Di dalam, kerumunan orang bergoyang mengikuti irama musik yang memekakkan telinga. Lampu strobe yang berkedip cepat membua
Malam merayap semakin pekat saat mobil mewah milik Reina membelah jalanan kota yang masih padat. Di dalam kabin yang beraroma parfum mahal nan menyengat, Alana duduk dengan perasaan yang tidak karuan. Seharusnya, ia duduk di kursi belakang mobil operasional rumah dengan supir pribadi keluarga Graves yang menjamin keamanannya. Namun, rengekan Welda yang terus-menerus memaksa agar mereka "berangkat bersama seperti sahabat sejati" membuatnya tak berkutik.Welda duduk di samping Alana, bibirnya tak henti-henti mengoceh tentang gosip terbaru di kampus. "Lana, kamu tahu nggak? Dosen Killer Pak Broto itu ternyata ketahuan punya koleksi tanaman hias di ruangannya, lucu banget kan? Terus si Sarah, kamu ingat Sarah? Dia baru saja jadian sama anak hukum yang ganteng itu!"Alana mencoba tersenyum, sesekali mengangguk agar Welda tidak merasa diabaikan. Namun, matanya tetap waspada, menatap tengkuk Reina yang sedang menyetir di depan dengan sikap dingin yang kontras dengan keceriaan Welda."Kamu den
Sore itu, suasana kediaman Graves yang biasanya tenang mendadak pecah oleh kegaduhan di depan gerbang. Alana, yang baru saja menutup laptopnya setelah sesi kuliah online yang melelahkan, mengernyitkan dahi. Ia menuruni tangga dengan langkah perlahan, merasakan sisa pegal di tubuhnya yang mengingatkannya pada kejadian dengan Nero dan Axel beberapa hari terakhir."Bi, ada apa di luar? Berisik sekali," tanya Alana pada salah satu pelayan yang tampak bingung."Itu, Nona... ada tamu yang mengaku teman Nona ingin masuk. Tapi satpam tidak mengizinkan karena Tuan Nero sudah memberi perintah tegas: tidak boleh ada tamu tak diundang yang masuk ke area rumah," jelas pelayan itu.Alana merasa heran. Ia tidak merasa membuat janji dengan siapa pun. Dengan rasa penasaran, ia melangkah menuju teras dan mendekati gerbang besi tinggi yang menjulang. Jantungnya nyaris berhenti saat ia mengenali dua sosok di sana.Reina—mantan kekasih Axel yang masih sering merasa seperti bagian dari keluarga Graves karen
Sore hari merangkak masuk melalui celah gorden kamar Nero yang mewah, membawa semburat jingga yang kontras dengan suasana kelam di dalam ruangan itu. Alana mengerjapkan matanya, merasakan berat yang luar biasa menghimpit kelopak matanya. Saat ia mencoba bergerak sedikit saja, rasa ngilu yang tajam menjalar dari pangkal pahanya hingga ke pinggang.Ia menoleh ke samping. Nero masih terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak. Suara dengkuran halusnya terdengar ritmis di tengah kesunyian kamar. Alana terpaku menatap punggung tegap pria itu; kulitnya yang sewarna perunggu kini dihiasi banyak sekali goresan merah panjang—jejak-jejak kuku Alana yang tanpa sadar mencengkeramnya saat ia berteriak meminta ampun tadi.Alana menunduk melihat tubuhnya sendiri. Ia jauh lebih parah. Bekas kemerahan, gigitan, dan lebam keunguan menghiasi leher, bahu, hingga dadanya. Nero benar-benar menghajarnya. Setelah ronde pertama yang panas, pria itu seolah kerasukan. Ia menuntut lebih, menghujam Alana tanpa ampun
Di dalam kamar yang tertutup rapat itu, waktu seolah berhenti berputar. Alana merasa dunianya menyempit, hanya menyisakan dirinya dan Nero di atas sofa kulit yang dingin. Ia bisa merasakan kerasnya otot paha Nero di bawahnya. Napas Nero yang panas menerpa wajah Alana, aroma alkohol yang samar bercampur dengan wangi maskulin yang tajam membuat kepala Alana pening."Cium atau aku berubah pikiran, Alana. Sekarang," bisik Nero, suaranya parau namun penuh otoritas.Alana menelan ludah dengan susah payah. Matanya tertuju pada bibir tipis Nero yang biasanya mengeluarkan kata-kata tajam. Dengan tangan gemetar, Alana mendekatkan wajahnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Nero yang terasa membara karena sisa demam.Awalnya hanya sentuhan ragu, namun Alana mulai menggerakkan bibirnya pelan. Ia mencoba mengingat bagaimana Axel biasanya memperlakukannya—bagaimana hisapan dan lumatan itu bisa mengubah ketakutan menjadi gairah yang me
Pagi ini rumah begitu sepi. Alana sudah selesai sarapan, piring dan gelas sudah ia cuci. Sunyi terasa asing, karena biasanya ada suara mama yang sibuk bersiap, atau suara papa bercanda kecil dengan Nero. Tapi hari ini, mereka semua sudah pergi lebih dulu.Alana menenteng tasnya, bersiap berangkat k
Tring!Dering alarm ponsel Alana membuatnya terbangun. Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya lemas seperti habis berlari jauh. Ia mendapati dirinya sudah berada di kamarnya sendiri. Seketika, ingatan semalam menyeruak—Axel, tatapan matanya, sentuhannya, dan… Alana menjerit kecil, buru-buru menarik
Malam itu udara kamar Axel terasa lain. Alana melangkah masuk dengan ragu, jantungnya berdegup seperti hendak pecah. Kamar itu remang, hanya diterangi cahaya lampu meja dan sorot tipis dari balkon yang terbuka.Ia tidak langsung melihat Axel.Kosong.Tapi langkahnya terhenti ketika pintu balkon ber
Malam sudah begitu hening ketika Alana menutup laptopnya. Tugas yang sejak sore menumpuk akhirnya rampung, meski matanya terasa berat.Ia sudah ingin rebah saja di ranjang, ketika bunyi notifikasi email masuk membuatnya menoleh kembali. Satu pesan baru.Dari pengirim yang sama.Black Jack.Alana se







