LOGINGudang tua di pinggir kota itu berbau karat, debu, dan anyir darah yang menyengat. Suara musik diskotik semalam telah digantikan oleh suara daging yang dihantam benda tumpul dan rintihan yang menyayat.Bugh! Bugh!"Ampun... ampun, Kak! Akh!" teriakan itu menggelegar, memantul di dinding-dinding seng yang berkarat.Axel tidak berhenti. Napasnya memburu, matanya memerah seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka. Ia tidak menggunakan senjata; ia menggunakan kepalan tangannya sendiri untuk menghancurkan wajah pria yang malang itu. Dua pemuda lainnya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai semen yang dingin, tubuh mereka bengkok tak beraturan. Dua sisanya masih terikat di kursi kayu dengan mata melotot ketakutan, gemetar hebat melihat rekan mereka dihancurkan satu per satu.Di sudut gudang, teman-teman Axel—Kevin, Drean, Guen, dan Leon—berdiri menyandar ke tumpukan peti kayu, memperhatikan tontonan brutal di depan mereka."Sepert
Sinar matahari pagi mulai menyerobos masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan aroma obat-obatan yang tajam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar detak ritmis dari mesin pemantau jantung dan desah napas halus Alana yang masih terlelap. Nero duduk di sisi ranjang, matanya merah dan wajahnya tampak kuyu. Ia tidak beranjak sedikit pun sejak semalam, seolah sedetik saja ia berpaling, Alana akan menghilang.Ponsel Nero yang tergeletak di atas nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan telepon dan pesan dari Axel yang dipenuhi amarah."DI MANA DIA, NERO?!""JANGAN SEMBUNYIKAN ALANA DARIKU. KATAKAN DI MANA RUMAH SAKITNYA!""AKU AKAN MENGOBRAK-ABRIK SELURUH RUMAH SAKIT DI KOTA INI KALAU KAU TIDAK MENJAWAB!"Nero hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin. Jangankan membalas, menyentuhnya pun ia enggan. Ia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada tangan mungil Alana
Mesin mobil sport milik Nero menderu membelah aspal jalanan kota yang masih padat. Dalam kabin yang biasanya hening dan tenang, kini hanya terdengar suara napas Alana yang berat dan tersengal-sengal, sebuah bunyi yang menyayat hati Nero setiap kali mendengarnya. Alana bersandar di kursi penumpang, wajahnya yang biasanya cerah kini pucat pasi dengan bintik-bintik merah alergi yang mulai merambat ke lehernya.Sekitar 30 menit dari lokasi club, terdapat sebuah rumah sakit swasta elit milik rekan sejawatnya. Nero menekan layar tab di dasbor mobilnya, melakukan panggilan darurat."Halo?" suara seorang perempuan, Dokter Clarissa, terdengar di ujung sana.Belum sempat sapaan itu berlanjut, Nero langsung memotong dengan nada suara yang rendah namun sarat akan perintah yang tak bisa dibantah. "Siapkan ruang gawat darurat sekarang. Pasien perempuan, usia sekitar 20 tahun, alergi alkohol akut. Keadaannya tak sadarkan diri, napasnya mulai pendek dan dangkal. Aku akan sampai
Deru mesin motor Axel membelah keheningan malam dengan beringas. Di balik helmnya, rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Melalui earphone yang terpasang di telinganya, suara seorang pria terdengar di sela desis angin."Bisakah kau menjaganya untukku? Jangan sampai dia terluka atau ada yang mendekatinya sedikit pun," desis Axel, suaranya parau."Aku tidak bisa menjamin akan terus mengawasi adikmu setiap saat di tempat sekacau ini, tapi akan aku usahakan," jawab suara di seberang sana."Aku akan memberikanmu imbalan apa pun kalau dia bisa aman di sana sampai aku sampai. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya!" Axel menekankan setiap kata sebelum memutus sambungan telepon. Ia memutar gas lebih dalam, membuat motornya melesat bak peluru di antara kerumunan kendaraan.Sementara itu, di dalam club, Alana merasa dunia di sekelilingnya mulai berputar. Kebisingan musik EDM yang memekakkan telinga dan aroma alkohol yang menusuk membuatnya muak. Ia berd
Mobil mewah Reina akhirnya berhenti di depan sebuah gedung dengan lampu neon yang berkedip-kedip mencolok. Suara dentuman musik bass bahkan sudah terdengar sampai ke parkiran, menggetarkan kaca mobil dan juga ulu hati Alana."Ayo, Lana! Turun, kita sudah sampai!" Welda berseru antusias sambil menepuk-nepuk bahu Alana yang masih mematung di kursi belakang.Alana menatap bangunan itu dengan keraguan yang sangat besar. "Wel, ini tempatnya? Bukankah ini terlalu... jauh dari rumah?""Justru itu serunya! Ini kan club paling hits di tengah kota, Lana. Jangan jadi anak rumahan terus, ayo!" Welda menarik tangan Alana, memaksanya keluar dari zona nyaman yang kini terasa sangat jauh.Begitu pintu masuk dibuka, aroma alkohol yang bercampur dengan asap rokok dan parfum menyengat langsung menyerbu indra penciuman Alana. Ia mengernyitkan hidung, tangannya refleks menutupi mulut. Di dalam, kerumunan orang bergoyang mengikuti irama musik yang memekakkan telinga. Lampu strobe yang berkedip cepat membua
Malam merayap semakin pekat saat mobil mewah milik Reina membelah jalanan kota yang masih padat. Di dalam kabin yang beraroma parfum mahal nan menyengat, Alana duduk dengan perasaan yang tidak karuan. Seharusnya, ia duduk di kursi belakang mobil operasional rumah dengan supir pribadi keluarga Graves yang menjamin keamanannya. Namun, rengekan Welda yang terus-menerus memaksa agar mereka "berangkat bersama seperti sahabat sejati" membuatnya tak berkutik.Welda duduk di samping Alana, bibirnya tak henti-henti mengoceh tentang gosip terbaru di kampus. "Lana, kamu tahu nggak? Dosen Killer Pak Broto itu ternyata ketahuan punya koleksi tanaman hias di ruangannya, lucu banget kan? Terus si Sarah, kamu ingat Sarah? Dia baru saja jadian sama anak hukum yang ganteng itu!"Alana mencoba tersenyum, sesekali mengangguk agar Welda tidak merasa diabaikan. Namun, matanya tetap waspada, menatap tengkuk Reina yang sedang menyetir di depan dengan sikap dingin yang kontras dengan keceriaan Welda."Kamu den
Brak!Pintu kamar Alana terbanting keras hingga gema suaranya memantul ke seluruh ruangan. Gadis itu tersentak, tubuhnya terhuyung ke belakang. Buku yang tadi digenggamnya terlepas, jatuh menimbulkan suara berdebam kecil di lantai.“Kak A–Axel?!” seru Alana panik, menatap sosok laki-laki yang kini
“Aku udah siap, Kak!”Suara Alana menggema dari atas tangga. Nero yang sedang menunggu di ruang tengah pun menoleh. Matanya sedikit membelalak saat melihat Alana perlahan-lahan turun.Gadis itu mengenakan gaun hitam sederhana tanpa lengan, dengan tali spaghetti yang menonjolkan tulang selangkanya y
Pagi ini rumah begitu sepi. Alana sudah selesai sarapan, piring dan gelas sudah ia cuci. Sunyi terasa asing, karena biasanya ada suara mama yang sibuk bersiap, atau suara papa bercanda kecil dengan Nero. Tapi hari ini, mereka semua sudah pergi lebih dulu.Alana menenteng tasnya, bersiap berangkat k
Siang itu, udara kampus terasa hangat. Di halaman menuju kantin, Alana berjalan berdampingan dengan Welda.Sesekali mereka bercanda kecil, menertawakan hal-hal receh yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Bagi Alana, momen sederhana bersama Welda seperti ini menjadi penyegar, menenangkan piki







