Home / Fantasi / Blue Flame / 5. Kemampuan Baru

Share

5. Kemampuan Baru

Author: Vya Kim
last update Last Updated: 2025-12-04 18:21:27

Pertanyaan Raven juga justru mengganggu pikiran Dean. Pekikkan suara kuda yang begitu nyaring, hentakkan sepatu kuda, semua bercampur dengan desiran suara angin. Pergerakan orang-orang di sekitarnya begitu jelas terbaca walau hanya dari suara yang di timbulkan.

Bahkan suara nafas Raven di sampingnya terdengar begitu jelas. Perubahan dalam dirinya begitu drastis tak ia mengerti.

Raven menepuk bahunya, menyadarkannya dari hal yang membingungkan. Raven mengajaknya pulang menunggangi satu kuda.

Hari sudah pagi, banyak orang semakin padat berlalu lalang. Tempat pasar malam kini telah bersih berganti dengan hiruk pikuk kendaraan kereta kuda.

Dean sangat ingin duduk di kereta kuda sekarang, karena satu kuda ini di tunggangi dirinya dan Raven serasa sempit, mau tak mau Dean jadi harus menempel pada punggung Raven. Namun apa daya, Raven hanya mampu membeli satu kuda saat ini

Dilihatnya keranjang belanjaan yang tampak penuh di genggamannya, ia duduk di belakang kemudi Raven dengan tak nyaman, keadaan ini harus ia tahan sampai ke tengah hutan.

“Paman, apa kerja kerasmu memburu Vampir hanya di bayar sekedarnya begini?”

“Ya, aku tak mematok harga untuk mereka. Bahkan aku melakukannya suka rela, jika mereka memberi uang, tentu aku terima. Jika tidak, aku tak memintanya.”

“Wah bagaimana bisa begitu? Resiko paman sangat besar!”

“Walikota sempat menawariku gaji untuk memburu Vampir di kota ini, tapi aku tolak. Ini bukan hanya masalah uang, tapi kebebasan. Aku memburu Vampir karena aku ingin. Untuk menutupi biaya sehari-hari akan kulakukan pekerjaan apa saja, termasuk jual beli senjata perak yang kita punya.”

Dean mengangguk-angguk, “Ya, aku paham maksud Paman. Kau tidak ingin dikekang peraturan 'kan?”

“Ya begitulah,” jawab Raven singkat sembari fokus mengemudi kuda. Dean diam tak membahas lagi tentang itu, yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana membantu keuangan Raven

Dari kejauhan suara derap kaki seseorang terdengar berlari dengan tergesa, benturan sebuah benda logam bergemericik, bergesekan dengan sebuah kain. Dean mengerutkan dahi dan menatap ke sebuah perempatan jalan, ia terus memperhatikan jalan di sebelah kanannya.

Suara itu jelas dari sana, dan semakin dekat kemari, rupanya ada satu suara kaki lagi, mereka nampaknya saling berkejaran.

Ketika kuda sampai di perempatan, seorang lelaki berlari cepat tanpa memperhatikan adanya kuda Raven yang hendak melintas, lelaki muda itu terkejut dan hendak terjatuh di depan kuda Raven hingga sebuah kantung kain ikut melayang ke udara dan menumpahkan biji-biji perak dari dalamnya.

Dengan jelas Dean dapat melihat biji-biji perak itu berterbangan ke udara, dalam penglihatan ini serasa lambat, ia dengan cepat memungutnya sebelum sampai jatuh ke tanah.

Raven bahkan tak sempat berkedip, tapi kantung perak itu sudah kembali terkumpul dalam sebuah kantung kain.

Sementara kuda Raven memekik terkejut mengangkat kaki depannya, Raven berusaha mengendalikan kuda agar tetap tenang.

Lalu Dean hendak menolong lelaki yang melintas tadi tapi terdengar teriakkan satu laki-laki lagi yang berlari menghampiri ke arah Dean berada.

“Pencuri!” teriaknya.

Dean menoleh dengan cepat pada lelaki muda yang hendak ia tolong ini, namun Dean malah di dorong dengan keras dan si pria muda ini hendak berlari.

Seharusnya gerakan lelaki itu sangat cepat ketika mendorong dada Dean lalu kabur, namun dalam penglihatan Dean semuanya terasa lambat.

Dengan mudah Dean menangkap lelaki yang di panggil pencuri ini dengan satu tangannya, anehnya lelaki ini malah tersungkur ke tanah karena Dean berhasil menahannya. Menurut Dean ia sama sekali tak memakai tenaga, tapi anehnya lelaki ini terjatuh dengan mudah hanya dengan sentuhan kecilnya.

Di lihatnya Raven melongo dan warga yang lalu lalang memberikannya tepuk tangan.

“Terima kasih Tuan, kau telah menangkap pencuri toko perhiasanku!” ujar lelaki yang terengah-engah mengejar pemuda dalam cengkraman Dean ini.

“Tak masalah Paman.”

“Cepat sekali, bagaimana gerakanmu bahkan hampir tak terlihat? Siapa sebenarnya dirimu?” tanya lelaki pemilik perak.

Para warga yang menyaksikan keanehan dari Dean juga saling berbisik dan terheran-heran. Dean juga kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Apa maksud Paman?” Suara Dean nyaris tak terdengar, ditatapnya juga Raven yang masih duduk di atas kuda. Biasanya ia pasti ikut turun tangan. Namun Dean sudah melakukannya dengan kecepatan di luar nalar hingga Raven tak sempat turun dari kudanya.

“Bagaimana mungkin manusia biasa bisa secepat itu?”

Bisik-bisik para warga mulai terdengar di sekelilingnya, Dean bisa mendengar semua orang yang menyaksikan dirinya tadi. Bagaimana mungkin hal sederhana yang ia lakukan dapat menarik perhatian banyak orang, pikirnya.

“Aku … Pemburu Vampir!” jawab Dean akhirnya.

Lelaki pemilik toko perhiasan itu terkejut bercampur senang, dia bahkan melepaskan cengkramannya pada si pencuri dan fokus pada Dean dan Raven. Tak peduli si pencuri telah kabur.

“Kalian berdua Pemburu Vampir yang di rumorkan itu?” tanya lelaki ini memastikan.

Raven tak punya pilihan selain mengakuinya, apalagi Dean. Jiwa mudanya bergejolak ingin menunjukkan siapa dirinya.

Kejadian semalam di pasar saja sudah tersebar dengan cepat, itu menjadi topik hangat di pagi hari, semua warga membicarakannya dan ingin di lindungi dari Vampir seperti Olea.

“Tolonglah aku! Aku juga memilik anak perempuan yang bekerja sampai larut malam! Aku sangat khawatir dia jadi incaran Vampir!” pinta lelaki itu.

Dean tersenyum simpul, lalu menatap Raven dan tersenyum lebar, pandangan matanya berbinar ketika ia menoleh pada lelaki yang memohon di hadapannya ini.

Dean malah terdiam seperti orang yang sedang mempertimbangkan sesuatu, namun suara salah seorang wanita di tengah kerumunan juga terdengar lantang meminta perlindungan dari Dean.

Di susul warga lainnya yang saling bersahutan agar di lindungi.

Dean tersenyum smirk, “Baiklah, tapi jasa kami tidak gratis, Vampir takut dengan perak, jadi kami butuh senjata dari perak. Bayar kami dengan perak agar pekerjaan kami lancar, bagaimana?”

“Dean!” Raven terdengar keberatan, tapi Dean mengisyaratkannya untuk tetap tenang.

“Tentu! Apa pun akan ku berikan!”

Dean tersenyum puas, ‘Baguslah, kami juga perlu bertahan hidup bukan?’ batin Dean.

**

Seekor kelelawar bertengger di salah satu bangunan gelap terbengkalai di kota, tepat di seberang perempatan jalan di mana orang-orang sedang berkumpul meminta perlindungan Dean.

Ia kemudian terbang mencari lubang yang telah di gerogoti tikus di bawah lantai kayu dan masuk ke lubang.

Ia terbang jauh ke bawah tanah, perjalanannya begitu panjang hingga sampai di suatu tempat yang terisolasi, sebuah pemukiman di mana tembok besar berlapis perak di dirikan.

Sang kelelawar keluar dari lubang di tanah, dalam rumah lain yang begitu gelap juga terbengkalai. Sang kelelawar kemudian keluar rumah tersebut mengitari seluruh pemukiman sambil berdecit nyaring seolah memanggil kawanannya.

Namun yang keluar adalah makhluk lain yang menyeringai berlindung dalam kegelapan, pagi yang mendung ini kesempatan bagi mereka untuk berkumpul tanpa terbakar matahari.

Sang kelelawar kemudian bertengger di atap rumah yang lebih besar dari rumah-rumah pemukim lainnya. Dari sana keluarlah sesosok pria berkulit pucat, dengan rambut pirang yang begitu rapi. Bajunya terlihat lebih kuno dari era ini.

Ia menyeringai mengeluarkan geraman di depan rumahnya, seolah sedang memanggil kawanan yang lain.

Dan makhluk-makhluk lainnya pun keluar satu persatu dari rumah-rumah terbengkalai.

Mereka berkumpul di depan rumah pria berambut pirang itu, lalu menyeringai bersamaan seolah menjawab panggilan Tuannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Blue Flame   54. Reinkarnasi

    Sejak hari pertama mereka bertemu di pasar, kebiasaan Stayrus tak pernah berubah.Setiap kali Vivian muncul dengan keranjang belanjaan yang selalu terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil, Stayrus akan tiba entah dari mana, seolah angin pagi membawa sosoknya turun dari langit.“Biar aku bantu,” katanya sambil meraih keranjang belanja Vivian.Vivian tersenyum tipis, pucat tapi tetap manis. “Kamu ini selalu pas muncul ya? Apa pekerjaanmu sebenernya?” tanyanya sambil berjalan pelan menyusuri jalan desa.“Ada urusan di sekitar sini,” jawab Stayrus dengan nada santai. “kebetulan lewat lalu bertemu kamu.”“Hmm, selalu kebetulan, ya?” Vivian tertawa kecil, batuk sedikit, lalu menunduk.Senyumnya tetap dipaksa cerah padahal matanya terlihat capek.Hari demi hari, pola itu terus berulang.Stayrus menemani Vivian belanja, ngobrol di jalan pulang, kadang hanya jalan di samping tanpa banyak kata. Untuk Stayrus, kedekatan kecil itu seperti hadiah, bahkan kalau itu hanya lima menit.Tapi keadaan Viv

  • Blue Flame   53. Skylume

    Di langit tertinggi, jauh di atas batas pandang manusia, berdirilah Skylume, sebuah negeri di atas awan. Awan-awan tipis melayang seperti sutra putih, memantulkan semburat keemasan yang tak pernah pudar.Sungai-sungai cahaya mengalir tenang di antara jembatan kristal, menciptakan gemericik lembut seperti denting piano. Di sana, para dewa berjalan sibuk lalu lalang mengemban tugas-tugasnya.Di puncak Skylum, pada sebuah menara yang berputar perlahan mengikuti alur waktu, tinggal seorang dewa yang tak pernah benar-benar beristirahat: Stayrus, sang Seer, penjaga takdir seluruh jiwa di bumi.Penglihatannya menembus lebih jauh dibanding siapa pun. Setiap benang takdir manusia berpendar di hadapannya, mengalir seperti ratusan ribu helai cahaya. Namun, ada satu benang, satu cahaya yang selalu membuatnya berhenti.Benang seorang gadis.Gadis itu hidup di bumi, di sebuah desa kecil yang terpencil. Ia hidup bersama keluarga angkatnya, keluarga yang seharusnya memberi kasih, namun justru membeba

  • Blue Flame   52. Penyelamat Misterius

    Rohana merasa seperti mengalami kelumpuhan tidur. Tubuhnya menolak bergerak, sementara sesak mencengkeram dadanya, seolah ada sesuatu yang menekan paru-parunya dari dalam. Napasnya terengah pendek dan dangkal, dan pandangannya mulai mengabur.Di balik kesadarannya yang menipis, matanya menangkap sesuatu, pintu kamar perlahan berderit terbuka, mengeluarkan suara lirih yang nyaris tak terdengar.Di ambang pintu berdiri sosok kecil yang sangat ia kenali. Samar-samar, cahaya redup berdenyut dari telapak tangannya, memancarkan sinar hangat yang menenangkan, menerangi ruang di sekitarnya dengan lembut.Rohana tak bisa bergerak, tetapi tatapannya terpaku pada makhluk kecil itu, berusaha memastikan apakah ini hanya mimpi atau kenyataan.Lalu, tepat di depan matanya, sesuatu yang luar biasa terjadi.Sosok kecil itu mulai berubah. Cahaya di tangannya menyebar ke seluruh tubuhnya, semakin terang hingga sepenuhnya menutupi bentuk aslinya.Dalam sekejap, sosok mungil itu menjelma menjadi seorang p

  • Blue Flame   51. Jebakan

    Langit tampak kelabu saat Rohana berjalan kembali ke penginapan, wajahnya tertutup keresahan yang sunyi. Setiap langkah terasa semakin berat, seakan pikirannya dipenuhi bayangan yang tak bisa ia singkirkan, kenangan yang melekat seperti bayang-bayang, mengikutinya dari gerbang istana hingga ke depan pintu penginapan.Begitu ia melangkah masuk, Stayrus mengangkat kepala dari tempatnya di dekat perapian. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya tertahan lebih lama dari biasanya, tajam dan menyelidik, seolah mencoba melihat menembus permukaan.Ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang lebih gelap melingkupi kehadiran Rohana seperti kabut. Tangan kecilnya mengepal perlahan, sebuah sumpah diam-diam untuk bertindak jika kegelapan itu benar-benar menampakkan wujudnya.Rohana, tanpa menyadari alarm sunyi yang telah ia picu, menaiki tangga sempit menuju kamar lotengnya. Gerakannya mekanis, seolah hanya mengikuti kebiasaan, bukan kesadaran. Ia merapikan bar

  • Blue Flame   50. Kisah Masa Lalu

    Beberapa tahun yang lalu.Pada malam ketika bulan purnama menggantung terang di langit, cahayanya menyelimuti bumi seperti selendang perak yang membelai lembut dedaunan, Rohana, yang saat itu masih sangat kecil, terbangun dari tidurnya.Ia bahkan belum genap lima tahun. Dunia baginya masih penuh misteri.Malam itu, ia tidak terbangun karena mimpi buruk.Melainkan karena sebuah suara aneh.Suara lolongan panjang, pilu, yang mengguncang jiwanya.Suara itu menembus sunyi malam, melengking seakan merobek langit, memohon agar kegelapan segera berlalu. Terasa dekat, namun juga jauh, seperti makhluk yang merindukan sesuatu yang tak pernah bisa ia gapai.Rohana hanya bisa duduk di ranjang besarnya, mata kecilnya membelalak dalam gelap.Ia menoleh ke arah jendela. Cahaya bulan menyelinap melalui tirai tipis yang berayun pelan.Rasa takut merambat ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, namun tubuh mungilnya terlalu lemah untuk mencari sumber suara itu. Ia hanya menarik selimut sampai ke dagun

  • Blue Flame   49. Moon

    Rohana menelan ludahnya sendiri, gerakan kecil yang terasa sangat berat di udara yang mendadak kaku. Tenggorokannya kering, seolah setiap tetes kelembapan menguap di bawah tekanan yang bahkan tak ia pahami sepenuhnya. Ia sampai bisa mendengar suara tegukan air liurnya sendiri, seakan dunia di sekelilingnya hening hanya untuk mendengarkannya.Dengan tangan gemetar, ia meraih ke arah pahanya. Di sana, terikat rapat pada kulitnya, belati Elf yang ia sembunyikan sejak pagi. Jemarinya menelusuri permukaan kulitnya, nyaris tak menyentuh sarung bilah itu, gerakannya begitu halus hingga hampir tak terlihat.Ia hanya ingin memastikan. Bahwa satu-satunya alat pertahanannya masih ada, masih dalam jangkauan jika situasi berubah berbahaya. Namun detak jantungnya yang liar memecah fokusnya, membuat tiap napas terasa seperti pertempuran.Rohana menunduk, berusaha menstabilkan suaranya di tengah badai di dadanya.“Maafkan saya, Yang Mulia,” ujarnya lembut, hati-hati. “ini pertama kalinya kita bertemu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status