เข้าสู่ระบบ"Papa, jika terjadi sesuatu pada Mama karena tendanganku tadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri!" "Diam, Camelia! Jangan membuat Papa semakin gila! Sudah tahu ibumu belakangan ini sering kelelahan, kenapa kau masih saja keras kepala mengajaknya bertarung jarak dekat?!" "Tapi Papa sendiri yang tadi bersorak menyemangati Mama! Kenapa sekarang Papa malah menyalahkanku?!" "Karena aku suaminya, Camelia! Tugas utamaku adalah mencemaskan ibumu!" Rendra dan beberapa pengawal yang berdiri di sepanjang lorong rumah sakit eksklusif itu hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani bernapas terlalu keras. Koridor VVIP itu mendadak terasa seperti medan perang karena Edward dan Camelia terus mondar-mandir dengan wajah pucat pasi, saling melempar argumen frustrasi akibat kepanikan yang teramat sangat sejak Marlina pingsan di ruang latihan dua jam lalu. Cklek Pintu ruang rawat akhirnya terbuka. Belum sempat perawat yang keluar dari dalam membuka mulut untuk memberikan penjelasa
"Mama, jika hari ini aku berhasil mendaratkan satu saja pukulan di wajah cantikmu, Papa harus mengizinkanku membawa mobil sport baru itu ke sekolah besok!" seru Camelia, suaranya yang melengking jernih memecah keheningan ruang latihan taktis bawah tanah kediaman Mahesa. Marlina, yang berdiri dengan posisi kuda-kuda sempurna di tengah matras hitam, hanya mengulas senyuman tipis yang teramat meremehkan. "Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang bahkan belum bisa menyentuh ujung helai rambutku, Camelia Andreas." "Lihat saja nanti, Ma!" Camelia yang kini telah genap berusia tujuh belas tahun melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Gadis itu tumbuh menjadi sosok yang luar biasa cantik, dengan mata elang yang diwarisi dari ayahnya, namun memiliki ketangkasan fisik yang sangat mematikan hasil didikan keras sang kakek, David Andreas, selama bertahun-tahun. Ia pandai bertarung, ahli menggunakan pisau taktis, dan seorang penembak jitu yang disegani di lingkup internal pengawal.
"Edward, kau tidak bisa terus-menerus menyembunyikan semua koleksi senjatamu di brankas bawah tanah jika Cami selalu tahu cara meretas kodenya," ujar Marlina sembari menyisir rambut panjangnya yang kini berkilau indah di depan cermin rias, matanya melirik Edward dari pantulan kaca. Edward yang sedang bersandar di kepala ranjang dengan sebuah tablet bisnis di tangannya langsung mendongak, mengembuskan napas pendek yang terdengar frustrasi. "Dia tidak meretasnya, antik. Anak itu memoleskan bubuk bedak tipis di tombol numerik untuk melacak sidik jariku. Siapa sebenarnya yang mengajari bocah sepuluh tahun taktik detektif seperti itu, hmm?" Marlina memutar tubuhnya, berjalan mendekati ranjang dengan senyuman tipis yang sarat akan makna. "Bukan aku, jika itu yang kau tuduhkan. Tapi darah Andreas di dalam tubuhnya tidak bisa berbohong, Edward. Ketertarikannya pada senjata api dan taktik militer semakin menjadi-jadi belakangan ini. Kemarin, Rendra melapor padaku kalau Cami hampir saja membo
"Bagaimana dengan Camelia Andreas?" ucap Marlina dengan senyuman manis. "Tunggu dulu! Apa?! Andreas?!" Kakek Hendra langsung memotong, wajah tuanya berkerut tidak setuju sembari mengacungkan tongkat peraknya ke udara. "Marlina, sayang, Kakek tidak salah dengar, kan? Mengapa tidak ada nama Mahesa di sana? Dia adalah darah daging Edward, penerus sah dari seluruh imperium bisnis Mahesa Corp! Setidaknya taruh nama Mahesa di tengah atau di belakang!" David Andreas langsung berdiri tegak, menatap tajam sang patriark Mahesa dengan senyuman kemenangan yang kentara. "Hendra, putriku sudah menjatuhkan keputusan. Singkirkan egomu itu. Nama Andreas sangat cocok untuk putri kecil yang cantik ini." "Kau hanya memanfaatkan situasi, Andreas!" gerutu Kakek Hendra kesal. Ia menoleh pada Edward, berharap cucunya akan ikut memprotes. "Edward! Katakan sesuatu! Kenapa kau diam saja melihat nama belakang keluargamu tersingkir?" Edward hanya mengembuskan napas pendek, jemarinya masih mengusap lembut pung
"Mana?! Di mana cicitku yang cantik?! Cepat beri jalan untuk Kakek!" Suara Kakek Hendra memecah ketegangan yang baru saja surut di ruang bersalin, disusul dengan derap langkah tergesa-gesa dari David Andreas yang langsung merangsek masuk begitu pintu sterilisasi dibuka oleh perawat. Kedua pria besar itu mengabaikan Edward yang masih duduk di lantai dengan wajah linglung, pandangan mereka langsung terkunci lurus pada makhluk mungil yang berada di dalam dekapan Marlina. "Astaga... dia benar-benar sangat cantik, Marlina," bisik David Andreas, matanya yang terbiasa menatap dingin target operasi kini berkaca-kaca dipenuhi kelembutan yang teramat dalam saat melihat jemari kecil putrinya menggenggam kain selimut. "Tentu saja dia cantik, Andreas! Lihat garis hidungnya, itu jelas-jelas warisan dari gen unggul keluarga Mahesa!" sahut Kakek Hendra heboh, ia mendekatkan wajah tuanya dengan binar mata yang begitu bersemangat. "Halo, cicitku sayang... Ini Kakek buyut yang akan memberikanmu selur
"Edward, sakit... Hhh... ini benar-benar sakit, Keparat!" jerit Marlina, seluruh tubuhnya gemetar hebat di atas brankar rumah sakit yang sedang didorong cepat membelah koridor instalasi gawat darurat. Jemari lentiknya mencengkeram kerah kemeja putih Edward dengan cengkeraman yang begitu kuat, hingga kancing teratas kemeja suaminya itu terlepas putus entah ke mana. "Iya, sayang, aku di sini! Tahan sebentar, kumohon tahan!" suara Edward bergetar hebat, wajah tampannya yang biasa tenang dan berwibawa kini pucat pasi dipenuhi keringat dingin. Ia ikut berlari di samping brankar, membiarkan lehernya ditarik kasar oleh sang istri. "Rendra! Mana dokternya?! Kenapa koridor ini begitu panjang, hah?!" "Dokter spesialis sudah menunggu di dalam ruang persalinan, Tuan!" sahut Rendra yang ikut berlari di belakang bersama belasan pengawal yang membuat barikade steril di sepanjang koridor rumah sakit milik keluarga Mahesa tersebut. Di belakang mereka, derap langkah kaki yang heboh ikut menggema. Ka
"Bodoh. Kau benar-benar bodoh," gumamnya pada pantulan di cermin yang retak di sudut kamar. Kevin terduduk di tepi tempat tidur, menyugar rambut pendeknya dengan frustrasi. Pesta lelang di Grand Diamond bukan sekadar acara biasa, itu adalah kandang singa tempat ayahnya, David Andreas, berkuasa. A
"Kau pikir, menjadi kaya saja cukup untuk bertahan di kursi ini, Kevin?"Suara Edward memecah keheningan di beranda, sesaat setelah ia mematikan ponselnya. Ia menyesap sisa wine merah di gelasnya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan tempat Kevin baru saja bertaruh nyawa.Kevin, yang masih
"Berhenti di sana, atau peluru ini akan bersarang di tulang belakangmu sebelum kau sempat melangkah lagi." Suara Kevin terdengar setajam silet yang mengiris kesunyian hutan belakang mansion. Ia berdiri kokoh dengan kuda-kuda sempurna, kedua tangannya menggenggam Glock-19 dengan presisi yang menaku
"Kau tahu kenapa aku membayarmu begitu mahal, Kevin?" Suara Edward memecah keheningan di dalam kabin Rolls Royce Phantom berlapis baja yang kedap suara itu. Ia duduk bersandar dengan sangat elegan, kakinya menyilang, sementara matanya menatap tajam ke luar jendela. Di luar sana, deretan gedung pe







