Se connecterTanpa menoleh, Reyhan mengatakan. "Saya tidak ada tenaga untuk berdebat dengan anda!" Suaranya sangat tegas.
"Bukankah mengawal Nyonya banyak waktu istirahat? Tidak seperti mengawal Tuan," sindirnya. Reyhan mengepalkan tangannya. "Baru hari pertama sudah terlihat lelah, sebenarnya kau mengantar Nyonya ke mana? Ke hotel?" Suaranya mulai pelan. Reyhan langsung membalikkan tubuhnya, bahkan paper bag yang ia bawa mulai terjatuh di lantai. "Anton, bisakah kau berhenti mencari masalah dengan saya!" Reyhan menarik kerah baju pria yang ada didepannya. Pria yang sejak tadi sudah memancing amarahnya. Pria yang bernama Anton mulai takut, wajahnya pucat, tapi bibirnya tersenyum miring. "Kalau tidak pergi ke hotel, kenapa marah?" Anton tidak jera bahkan tatapannya melirik pada paper bag. "Lihat, baru hari pertama sudah dibelikan banyak barang-barang." Reyhan sudah tidak bisa menahan emosinya. Reyhan hampir saja menghajar Anton, tapi untung saja ada Ane yang menengahi mereka. "Ya ampun, kalian ini kenapa, sih!" Suara Ane bergema. Reyhan mengontrol emosinya dan mengambil paper bag tadi, ia segera masuk begitu saja ke dalam kamarnya. Reyhan segera mengunci pintu kamarnya. Reyhan melemparkan paper bag tadi ke sofa. Reyhan ingin berteriak, tapi tidak bisa, ia harus menahan segalanya di sini. "Andai membunuh tidak masuk penjara," gerutu Reyhan. Anton memang pria menyebalkan, ia adalah musuh Reyhan di rumah mewah ini, musuh yang sangat manipulatif. Reyhan sangat benci jika berhadapan dengan Anton. Anton adalah supir, ia sudah bekerja cukup lama daripada Reyhan. Sebelumnya Reyhan biasa saja dengan sikap iri dengki yang dimilki Anton, tapi lama-lama membuatnya kesal. *** Keesokan harinya. Pukul 8 malam. Mona tiba di sebuah rumah mewah bersama Reyhan. Rumah mewah yang terlihat seperti istana. Rumah itu adalah milik rekan sosialita Mona yang mengundangnya hadir dalam acara ulang tahun. Mona pergi dengan Reyhan karena Jordan sibuk meeting dengan proyek barunya, jadi Mona memilih membawa Reyhan pada acara tersebut. "Saya akan tunggu di sini," kata Reyhan. Reyhan berdiri tepat di dekat pintu. Reyhan benar-benar seperti penjaga pintu. Mona sedikit tertawa. "Baiklah." Mona tidak bisa memaksa, ia juga harus tahu batasan. Mona mulai menghampiri rekan-rekan sosialitanya. Reyhan hanya bisa memantau Mona dari jauh, dan tidak lama kemudian pelayan wanita menawarkan minuman. "Maaf, saya tidak minum." Reyhan menolak dengan sopan. "Oke." Wanita itu tersenyum manis. Dari jarak yang agak jauh Mona melihat adegan itu, adegan yang membuat hatinya terasa panas. Mona geleng-geleng kepalanya. Ia tidak ingin memiliki perasaan aneh seperti ini, karena semenjak Reyhan menjadi pengawalnya membuat dirinya selalu hilang akal. ** Pukul 10 malam. Reyhan panik saat melihat Mona tidak sadarkan diri. Beberapa menit yang lalu Reyhan dipanggil oleh pemilik acara. "Mona pingsan!" teriaknya. Reyhan segera pergi ke sebuah kamar yang ditunjukkan oleh pemilik acara. Kamar di mana Mona sudah berbaring lemas di atas ranjang. Reyhan terdiam saat melihat Mona memejamkan matanya. Reyhan menelan salivanya dengan susah payah, ia tak kuasa melihat wajah cantik Mona dan tubuhnya yang begitu sempurna. "Astaga, apa yang kau pikirkan!" Reyhan memukul kepalanya sendiri. Reyhan menyadarkan dirinya sendiri dari pikiran aneh. "Nyonya, bangun!" Karena tidak ada pilihan lain. Reyhan menyentuh lengan Mona. Reyhan sangat khawatir dengan Mona karena tidak biasanya Mona pingsan seperti ini. Namun, tiba-tiba saja Mona membuka matanya, lalu tangannya hampir melepaskan gaunnya. "Nyo ... Nyonya, jangan seperti ini!" Reyhan panik. Reyhan melirik sekitar, ia takut ada orang lain di dalam kamar. Tapi ternyata tidak, hanya ada Reyhan dan Mona saja. "Panas!" Mona berteriak. Reyhan mengernyit. Reyhan menatap AC yang menempel di dinding kamar. AC itu menyala. Reyhan merasa suhu di ruangan cukup dingin. Reyhan mulai mencari remote AC. "AC nya sudah enam belas, Nyonya." "Masih panas, panas sekali!" Mona kembali berteriak. Reyhan memperhatikan gerak-gerik Mona yang cukup berbeda. Sepertinya ada seseorang yang memberikan minuman aneh pada Mona, pikirnya. "Nyonya tadi minum apa?" tanya Reyhan yang mulai menyelidiki. Mona bangun dari baringnya. Mona tidak menjawab, tapi tangannya kembali membuka gaunnya sendiri. "Nyonya!" Reyhan meninggikan suaranya. Reyhan menahan tangan Mona guna Mona tidak melepaskan gaun. "Panas, Reyhan!" Suara Mona seperti menahan sesuatu. "Ya sudah ayo sekarang pulang!" Karena tidak ada pilihan lain, Reyhan memutuskan akan membawa Mona pulang ke rumah dengan menggenggam lengan Mona. Reyhan melangkah terlebih dahulu, tapi kaki Mona tidak ikut melangkah. Saat Reyhan menoleh kebelakang, Mona langsung menarik tangan Reyhan dengan kasar dan mendorong tubuh besar itu hingga jatuh ke ranjang. "Nyo ... Nyonya!" Reyhan membelalakkan matanya saat melihat Mona sudah duduk diatas tubuhnya. Tidak hanya duduk diatas tubuh besar itu, tapi Mona langsung...Matahari sore melukis langit dengan warna keemasan yang lembut, persis seperti bertahun-tahun lalu saat perjalanan ini bermula. Namun kali ini, tidak ada pelukan yang disembunyikan, tidak ada bisik-bisik yang penuh ketakutan, dan tidak ada pintu yang tertutup rapat. Semuanya terbuka, terang, dan damai. Reyhan duduk di beranda rumah itu, menatap ke arah halaman yang kini terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Di sana, Cindy yang kini tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan berani sedang mengajari adik laki-lakinya berlari di antara bunga-bunga yang ditanam Mona sendiri. Tawa mereka terdengar jernih, memantul di udara yang bersih dan bebas dari segala beban masa lalu. Mona keluar membawa teh hangat, duduk di samping Reyhan seperti yang selalu dilakukan setiap sore. Wajahnya berseri, tidak lagi pucat atau penuh kekhawatiran. Garis halus di sudut matanya bukanlah tanda penuaan, melainkan jejak senyum yang tak pernah berhenti
Beberapa tahun berlalu. Matahari pagi menyinari halaman rumah kecil itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Reyhan berdiri di beranda, memandang pemandangan di depannya dengan hati yang penuh syukur. Di halaman, Cindy yang kini sudah lebih besar berlari mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang tumbuh subur. Tawanya terdengar jernih dan riang, bebas dari segala beban yang dulu sempat menghantui masa kecilnya. Di sampingnya, berjalan seorang anak laki-laki yang tegap dan ceria, putra mereka, yang kini sudah bisa berlari dan berbicara dengan lantang. Wajahnya memancarkan ketegasan dan kelembutan sekaligus, persis seperti kedua orang tuanya. Mona keluar dari pintu rumah, membawa nampan berisi minuman dan buah-buahan segar. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, bukan karena perhiasan atau gaun mewah, melainkan karena pancaran kedamaian dan kebahagiaan yang tulus bersinar dari wajahnya. Tidak ad
Mobil melaju meninggalkan kota, menjauh dari gedung-gedung tinggi dan kemewahan yang dulu menjadi dunia Mona. Reyhan menyetir dengan tenang, namun di dalam dadanya terasa penuh harapan sekaligus tanggung jawab yang besar. Di kursi belakang, Mona duduk di tengah, memeluk bayi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya digenggam erat oleh Cindy. Tak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Namun keheningan itu bukan lagi penuh ketakutan seperti dulu. Keheningan ini penuh kedamaian dan kepastian. Mereka bergerak bukan untuk lari dari bahaya, melainkan menuju kehidupan yang benar-benar milik mereka sendiri. Tujuan akhir perjalanan adalah sebuah rumah kecil namun nyaman, terletak di pinggiran kota yang tenang. Dikelilingi pepohonan hijau dan udara yang bersih. Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan dari tetangga, tidak ada pengawal yang berpatroli, dan tidak ada tatapan curiga atau penuh keben
Surat itu tergeletak di atas meja kayu ruang tengah. Amplop putih rapi dengan segel resmi keluarga besar. Isinya jelas dan tegas, Mona harus memilih, meninggalkan Reyhan dan tetap memegang seluruh hak waris serta kedudukan, atau memilih Reyhan dan kehilangan segalanya. Reyhan berdiri di dekat jendela, menatap ke luar tanpa bergerak. Ia mendengar suara langkah kaki Mona mendekat, lalu keheningan yang panjang. Wanita itu pasti sudah membaca semuanya. Pilihan itu begitu kejam, memaksa Mona memilih antara cinta dan kesejahteraan masa depan kedua anaknya. "Reyhan..." panggil Mona pelan. Suaranya tidak terdengar menangis, namun penuh beban yang berat. "Mereka memaksa saya memilih, antara kamu dan segalanya." Reyhan berbalik perlahan. Ia melihat Mona berdiri di dekat meja, tangan wanita itu memegang kertas itu erat-erat. Wajahnya tidak bingung, namun terlihat sedih karena harus dihadapkan pada pilihan yang seharusnya tid
Hari-hari berikutnya, tekanan dari keluarga besar semakin terasa. Reyhan tidak lagi diusir secara fisik, namun keberadaannya selalu dibatasi. Tak ada yang berbicara kepadanya dengan ramah. Setiap pergerakan Reyhan selalu diawasi. Kadang ada orang yang datang menanyai Mona, berusaha memancing perdebatan, atau menekan wanita itu agar mengirim Reyhan pergi demi nama baik keluarga. Namun Mona tidak pernah goyah. Setiap kali tekanan datang, Mona justru semakin mendekatkan diri pada Reyhan. Wanita itu berbicara dengan tenang namun tegas, menyatakan bahwa Reyhan adalah bagian dari hidupnya dan tidak akan diusir. Keteguhan hati Mona perlahan membuat beberapa orang mulai ragu. Suatu sore, saat Cindy sedang bermain di halaman depan, seorang kerabat jauh Jordan datang mendekati anak itu. Pria itu berbisik sesuatu di telinga Cindy, sambil sesekali melirik ke arah Reyhan dengan tatapan s
Suasana di dalam ruangan berubah seketika. Duka yang sempat menyelimuti ruang itu kini tergeser oleh ketegangan yang dingin. Beberapa orang yang berdiri di ambang pintu melangkah masuk dengan langkah mantap. Tatapan mata mereka tajam, meneliti setiap sudut ruangan, terutama jatuh pada Mona, bayi yang baru lahir, dan sosok Reyhan yang berdiri tegak di depan mereka. Seorang pria paruh baya dengan wajah kaku dan berwibawa melangkah paling depan. Ia adalah paman Jordan, orang yang selama ini dikenal memiliki pengaruh besar dalam keluarga dan perusahaan. Pria itu menatap tajam ke arah Reyhan seakan keberadaan pria itu adalah noda yang tak pantas ada di sana. "Siapa yang mengizinkan orang asing masuk ke rumah ini di saat seperti ini?" tanya pria itu dengan suara berat dan dingin. Matanya menatap Mona dengan tatapan yang penuh tuduhan. "Dan kau, Nyonya Mona... kau pergi tanpa pamrih, membawa sesua







