แชร์

4. Batasan

ผู้เขียน: rindiyoon
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-15 05:21:28

"Maaf Nyonya, saya hanya pengawal, jadi saya berdiri di sini saja," ucap Reyhan.

Dengan tubuh kekar dan berdiri tegak, Reyhan memang terlihat seperti prajurit, tapi ia hanya seorang bodyguard.

"Baiklah." Mona tidak ingin protes lagi.

Mona membuka laptop yang ada di atas meja dan menyalakannya. Sesekali Mona memergoki Reyhan yang sedang mengamati situasi di ruangan. Mona menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jordan memang tidak salah pilih memilih seorang bodyguard. Reyhan memang kaku dan sangat profesional. Namun, apakah sikap profesional akan selalu diterapkan oleh Reyhan jika majikannya seperti Mona?

Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.

"Saya harus meeting online, kau bisa keluar dari ruangan jika merasa bosan," kata Mona.

"Saya bisa di sini sampai Nyonya selesai."

"Hm." Mona hanya berdehem.

Suasana di ruangan kembali hening dan tidak ada pembicaraan apapun. Mona mulai melakukan meeting online melalui laptop, dan Reyhan hanya bisa menatap serta mendengarkannya.

Reyhan menatap wajah Mona yang terlihat serius, wajah yang selalu Reyhan lihat ketika menjadi bodyguard Jordan.

**

Pukul 7 malam. Reyhan dan Mona tiba di sebuah rumah mewah, rumah mewah milik Henderson.

Mona melangkahkan kakinya terlebih dahulu diikuti oleh Reyhan dibelakangnya. Reyhan menenteng dua paper bag ditangan kanan dan kiri.

Apakah Mona berbelanja? Ya, Mona memang sering berbelanja. Pastinya Mona bingung uang sebanyak itu harus dibelikan apa.

Berbeda dengan Reyhan yang berbelanja jika dibutuhkan, apalagi berbelanja pakaian.

Reyhan adalah pria miskin, tapi tekadnya memiliki banyak uang tidak padam, ia juga harus tetap semangat bekerja untuk mendapatkan uang.

"Mami kenapa lama sekali!"

Gadis kecil mulai berlarian menghampiri Mona. Mona tersenyum lebar melihat gadis itu, gadis yang selalu membawa boneka kecil.

"Maafkan Mami, Mami sibuk," ucap Mona.

Mona sedikit berjongkok untuk mengimbangi tinggi gadis kecil itu, gadis kecil yang bernama Cindy Putri Henderson, anak Mona bersama Jordan.

"Selamat malam Nona muda," sapa Reyhan.

"Malam, Paman!" Cindy tersenyum lebar dengan menampilkan gigi putihnya yang sangat rapih.

Posisi Mona jongkok di lantai marmer. "E ... Eh." Ia hampir terjatuh.

Namun, dengan cepat Reyhan menahan tangan Mona.

"Terima kasih."

"Sama-sama, Nyonya."

Entah kenapa hari ini Mona sering terjatuh. Apakah ini hanya akting Mona supaya mendapatkan sentuhan dari Reyhan? Ah, itu tidak mungkin.

"Sudah pulang?"

Suara bariton membuat Reyhan langsung melepaskan tangannya yang menahan tangan Mona.

Reyhan segera membenarkan posisinya saat melihat Jordan sudah didepannya.

"Selamat malam, Tuan," sapa Reyhan dengan membungkuk sopan.

Jordan hanya mengangguk pelan, wajahnya terlihat lelah, dan sedikit menyeramkan.

Tatapan Jordan seperti mengatakan. 'INGAT BATASAN!' kira-kira seperti itulah, menyeramkan.

"Sudah," jawab Mona.

Mona langsung berdiri disamping Jordan. Mona mulai bergelayut manja, dan ia memang seperti itu tanpa melihat situasi.

Reyhan mengalihkan pandangannya. Bukan pertama kalinya Reyhan melihat pemandangan seperti itu, sudah terlalu sering ia melihatnya.

Menurut Reyhan itu adalah hal yang wajar bagi pasangan suami istri.

"Reyhan, kau bisa menitipkan itu pada Bi Ane," kata Jordan.

Jordan menatap paper bag yang dijinjing Reyhan.

"Baik, Tuan."

"Setelah itu, kau bisa beristirahat."

"Baik."

Reyhan pamit, ia melangkahkan kaki besarnya ke dalam rumah mewah itu, rumah mewah yang sudah ditempatinya selama menjadi bodyguard.

Di dalam rumah. Reyhan melihat seorang wanita yang baru saja selesai menyajikan menu makan malam di sebuah ruangan.

"Bi Ane, ini belanjaan Nyonya," ucap Reyhan.

Reyhan menyodorkan satu paper bag pada wanita itu, wanita yang bernama Ane.

Ane mengambilnya. "Baik."

Ane adalah pembantu di rumah keluarga Henderson, ia sudah bekerja sangat lama, ia sudah dipercaya oleh Mona maupun Jordan.

"Jangan lupa makan malam, Reyhan!" Ane selalu mengingatkan.

Reyhan tersenyum sangat tipis, bahkan tidak terlihat. "Baik, terima kasih atas perhatiannya."

"Sama-sama." Ane menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia selalu lupa makan," gumamnya.

Reyhan melangkah pergi menuju paviliun yang ada dibelakang rumah besar itu. Paviliun bagi para pekerja di rumah keluarga Henderson. Para pekerja yang sudah sangat dipercaya oleh keluarga konglomerat itu.

Mona menatap tubuh kekar Reyhan yang lama-lama hilang dari pandangannya. Mona merasa sepi ketika Reyhan meninggalkannya.

Entah kenapa Mona merasakan sesuatu yang berbeda pada Reyhan.

"Sepertinya dia memang menarik perhatian para wanita," gumam Mona.

Sampai di paviliun. Reyhan ingin membuka pintu kamarnya, tapi tidak jadi karena ada seseorang yang menghampirinya.

"Saya pikir kau dipecat."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   Part Special - Selamanya

    Matahari sore melukis langit dengan warna keemasan yang lembut, persis seperti bertahun-tahun lalu saat perjalanan ini bermula. Namun kali ini, tidak ada pelukan yang disembunyikan, tidak ada bisik-bisik yang penuh ketakutan, dan tidak ada pintu yang tertutup rapat. Semuanya terbuka, terang, dan damai. Reyhan duduk di beranda rumah itu, menatap ke arah halaman yang kini terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Di sana, Cindy yang kini tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan berani sedang mengajari adik laki-lakinya berlari di antara bunga-bunga yang ditanam Mona sendiri. Tawa mereka terdengar jernih, memantul di udara yang bersih dan bebas dari segala beban masa lalu. Mona keluar membawa teh hangat, duduk di samping Reyhan seperti yang selalu dilakukan setiap sore. Wajahnya berseri, tidak lagi pucat atau penuh kekhawatiran. Garis halus di sudut matanya bukanlah tanda penuaan, melainkan jejak senyum yang tak pernah berhenti

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   60. Bahagia Itu

    Beberapa tahun berlalu. Matahari pagi menyinari halaman rumah kecil itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Reyhan berdiri di beranda, memandang pemandangan di depannya dengan hati yang penuh syukur. Di halaman, Cindy yang kini sudah lebih besar berlari mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang tumbuh subur. Tawanya terdengar jernih dan riang, bebas dari segala beban yang dulu sempat menghantui masa kecilnya. Di sampingnya, berjalan seorang anak laki-laki yang tegap dan ceria, putra mereka, yang kini sudah bisa berlari dan berbicara dengan lantang. Wajahnya memancarkan ketegasan dan kelembutan sekaligus, persis seperti kedua orang tuanya. Mona keluar dari pintu rumah, membawa nampan berisi minuman dan buah-buahan segar. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, bukan karena perhiasan atau gaun mewah, melainkan karena pancaran kedamaian dan kebahagiaan yang tulus bersinar dari wajahnya. Tidak ad

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   59. Rumah Baru

    Mobil melaju meninggalkan kota, menjauh dari gedung-gedung tinggi dan kemewahan yang dulu menjadi dunia Mona. Reyhan menyetir dengan tenang, namun di dalam dadanya terasa penuh harapan sekaligus tanggung jawab yang besar. Di kursi belakang, Mona duduk di tengah, memeluk bayi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya digenggam erat oleh Cindy. Tak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Namun keheningan itu bukan lagi penuh ketakutan seperti dulu. Keheningan ini penuh kedamaian dan kepastian. Mereka bergerak bukan untuk lari dari bahaya, melainkan menuju kehidupan yang benar-benar milik mereka sendiri. Tujuan akhir perjalanan adalah sebuah rumah kecil namun nyaman, terletak di pinggiran kota yang tenang. Dikelilingi pepohonan hijau dan udara yang bersih. Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan dari tetangga, tidak ada pengawal yang berpatroli, dan tidak ada tatapan curiga atau penuh keben

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   58. Pilihan Itu

    Surat itu tergeletak di atas meja kayu ruang tengah. Amplop putih rapi dengan segel resmi keluarga besar. Isinya jelas dan tegas, Mona harus memilih, meninggalkan Reyhan dan tetap memegang seluruh hak waris serta kedudukan, atau memilih Reyhan dan kehilangan segalanya. Reyhan berdiri di dekat jendela, menatap ke luar tanpa bergerak. Ia mendengar suara langkah kaki Mona mendekat, lalu keheningan yang panjang. Wanita itu pasti sudah membaca semuanya. Pilihan itu begitu kejam, memaksa Mona memilih antara cinta dan kesejahteraan masa depan kedua anaknya. "Reyhan..." panggil Mona pelan. Suaranya tidak terdengar menangis, namun penuh beban yang berat. "Mereka memaksa saya memilih, antara kamu dan segalanya." Reyhan berbalik perlahan. Ia melihat Mona berdiri di dekat meja, tangan wanita itu memegang kertas itu erat-erat. Wajahnya tidak bingung, namun terlihat sedih karena harus dihadapkan pada pilihan yang seharusnya tid

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   57. Langkah Tegas

    Hari-hari berikutnya, tekanan dari keluarga besar semakin terasa. Reyhan tidak lagi diusir secara fisik, namun keberadaannya selalu dibatasi. Tak ada yang berbicara kepadanya dengan ramah. Setiap pergerakan Reyhan selalu diawasi. Kadang ada orang yang datang menanyai Mona, berusaha memancing perdebatan, atau menekan wanita itu agar mengirim Reyhan pergi demi nama baik keluarga. Namun Mona tidak pernah goyah. Setiap kali tekanan datang, Mona justru semakin mendekatkan diri pada Reyhan. Wanita itu berbicara dengan tenang namun tegas, menyatakan bahwa Reyhan adalah bagian dari hidupnya dan tidak akan diusir. Keteguhan hati Mona perlahan membuat beberapa orang mulai ragu. Suatu sore, saat Cindy sedang bermain di halaman depan, seorang kerabat jauh Jordan datang mendekati anak itu. Pria itu berbisik sesuatu di telinga Cindy, sambil sesekali melirik ke arah Reyhan dengan tatapan s

  • Bodyguard Kesayangan Nyonya Muda   56. Tantangan Itu

    Suasana di dalam ruangan berubah seketika. Duka yang sempat menyelimuti ruang itu kini tergeser oleh ketegangan yang dingin. Beberapa orang yang berdiri di ambang pintu melangkah masuk dengan langkah mantap. Tatapan mata mereka tajam, meneliti setiap sudut ruangan, terutama jatuh pada Mona, bayi yang baru lahir, dan sosok Reyhan yang berdiri tegak di depan mereka. Seorang pria paruh baya dengan wajah kaku dan berwibawa melangkah paling depan. Ia adalah paman Jordan, orang yang selama ini dikenal memiliki pengaruh besar dalam keluarga dan perusahaan. Pria itu menatap tajam ke arah Reyhan seakan keberadaan pria itu adalah noda yang tak pantas ada di sana. "Siapa yang mengizinkan orang asing masuk ke rumah ini di saat seperti ini?" tanya pria itu dengan suara berat dan dingin. Matanya menatap Mona dengan tatapan yang penuh tuduhan. "Dan kau, Nyonya Mona... kau pergi tanpa pamrih, membawa sesua

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status