Share

Bab 137

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-20 16:28:16

Mentari tahu Tara akan mendatanginya. Ia hanya tidak tahu kapan.

Dan pagi itu, saat ia sedang menjemur pakaian di halaman belakang, bayangan pria itu jatuh di sampingnya.

“Foto yang ada di artikel itu, kamu yang mengambilnya kan?” tanya Tara tanpa basa-basi.

Tangan Mentari yang sedang menjepit baju berhenti sejenak. Lalu ia melanjutkannya dengan pura-pura tenang.

“Itu foto lama, Mas,” jawabnya tanpa menoleh. “Aku kirim sebelum Mas bicara sama aku malam itu. Sumpah.”

Tara menatapnya lama. Mentar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 150

    Waktu seolah berhenti.Di dalam gudang itu, tidak ada yang bergerak. Hanya suara ombak yang memukul dermaga di luar sana, dan napas Luna yang tersengal di balik lakban.Ujung pistol itu menekan pelipis Luna. Dingin. Begitu dingin hingga seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali.Luna menatap Tara. Pria itu berdiri hanya empat langkah darinya. Begitu dekat. Tapi rasanya begitu jauh.“Lepaskan dia, Hardiman,” ucap Tara pelan. Kedua tangannya terangkat sedikit, menunjukkan ia tidak membawa apa-apa. “Kamu mau aku, kan? Aku di sini. Ambil aku saja.”“Diam!” bentak Hardiman. Tangannya yang memegang pistol bergetar. “Kamu sudah menghancurkan semuanya! Dua puluh tahun aku membangun hidupku, dan kamu menghancurkannya dalam satu malam!”Dari sudut matanya, Tara melihat Gilang bergeser perlahan ke samping. Sangat pelan. Mendekati Hardiman dari sisi kiri yang gelap.Tara harus mengulur waktu. Ia harus membuat Hardiman menatapnya. Hanya dirinya.“Larasati,” ucap Tara tiba-tiba.Hardiman tersentak. M

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 149

    Pukul dua belas kurang lima menit, mobil yang Tara kendarai berhenti di depan Gedung tua dekat dengan dermaga.Dermaga itu gelap dan sunyi. Hanya ada suara ombak yang memukul tiang-tiang kayu di bawah dermaga, dan angin laut yang berembus dingin membawa bau garam.Tara turun dari mobil. Ia tidak lagi memakai kaus polos dan celana kain seperti biasanya. Malam ini ia mengenakan kemeja hitam dan jas gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia berdiri sebagai Askara.Di balik jasnya, rompi antipeluru melekat erat di tubuhnya. Dan di telinganya, sebuah alat komunikasi kecil yang hampir tidak terlihat.“Aku sudah di depan,” bisik Tara.“Kami sudah di posisi,” jawab suara Gilang di telinganya, nyaris tenggelam oleh debur ombak. “Di bawah dermaga belakang. Tunggu sinyalmu.”Tara menarik napas dalam-dalam. Lalu ia berjalan menuju pintu gudang.Dua pria bertubuh besar menghadangnya. Salah satu dari mereka menggeledah tubuh Tar

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 148

    Luna terbangun dengan kepala berdenyut hebat.Udara di sekitarnya dingin dan lembap. Bau karat, oli, dan air laut menusuk hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi tali kasar mengikat pergelangannya erat di belakang sandaran kursi. Mulutnya masih tertutup lakban.Perlahan, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan.Ia berada di sebuah gudang besar. Dinding-dindingnya terbuat dari seng berkarat dengan beberapa lubang kecil yang membiarkan cahaya senja masuk. Di sudut ruangan, tumpukan peti kayu tua menjulang tinggi. Dari kejauhan terdengar debur ombak.Pelabuhan.Luna menelan ludah. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Langkah kaki terdengar mendekat. Pelan dan teratur.Hardiman muncul dari balik tumpukan peti. Ia masih mengenakan setelan jas rapi, seolah baru saja keluar dari rapat penting, bukan dari tempat penyekapan. Di belakangnya, dua pria bertubuh besar berdiri dengan senjata terselip di pinggang.Hardiman menarik sebuah kursi dan duduk di depan

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 147

    Ambulans datang dua puluh menit kemudian. Om Deden dan Mbak Sarti dibawa ke rumah sakit terdekat. Luka di kepala Om Deden harus dijahit, sementara Mbak Sarti mengalami memar dan syok berat.Sebelum dimasukkan ke ambulans, Mbak Sarti sempat menggenggam tangan Tara erat-erat.“Mas, Tara tolong selamatkan Nona Luna.”Tara hanya bisa mengangguk. Tenggorokannya terlalu tercekat untuk bicara.Sekarang ia berdiri sendirian di ruang tengah yang berantakan. Pecahan vas bunga masih berserakan di lantai. Bercak darah Mbak Sarti di kaki meja sudah mulai mengering. Dan sandal biru muda itu masih ada di tangannya.Tara menatap sandal itu. Tangannya gemetar. Ia sudah berjanji. Ia sudah berjanji pada Luna, pada Alvin, pada dirinya sendiri. Ia tidak akan gagal.Tapi ia gagal.Ia meninggalkan Luna. Hanya lima belas menit. Hanya dua ratus meter. Dan dalam waktu sesingkat itu, mereka berhasil membawa Luna pergi.Tara menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia membungkuk, kedua siku bertumpu di lutut, dan menutup w

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 146

    Pagi ini Mbak Sarti tampak sibuk menyiapkan nasi goreng di dapur, sementara Om Deden menyapu halaman depan sambil bersenandung lagu lama. Sejak tidak ada Mentari, Om Deden membantu pekerjaan Mbak Sarti membersihkan rumah utama.Luna turun untuk sarapan dengan wajah yang jauh lebih segar dari beberapa hari terakhir. Ia bahkan sempat tertawa saat Tara salah menuangkan garam ke dalam tehnya.“Kamu ngelamun terus dari tadi. Kayak apa rasa tehnya itu,” goda Luna.Tara tersenyum kecil, lalu mengganti tehnya dengan yang baru. Tapi Luna benar. Sejak semalam, perasaannya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang menggantung di udara, menunggu untuk jatuh.Gilang sudah melapor pagi tadi. Van putih itu tidak terlihat lagi sejak kemarin sore. Orang-orang WB grup yang biasa berjaga juga menghilang.Bukannya lega, Tara justru semakin gelisah. Ketenangan seperti ini biasanya datang sebelum badai.Sekitar pukul sepuluh, Om Deden pamit keluar sebentar. “Mau ke warung depan kompleks, Mas. Beli rokok sama gu

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 145

    Dua hari kemudian…Alvin kembali datang ke rumah Luna. Sejak pagi ia ingin menemui Luna. Ia tidak tahu setelah ini bisa menemui Luna lagi dengan status yang sama yaitu suami gadis itu atau sudah berubah status.Kali ini ia datang sendiri, tanpa sopir pribadinya. Di tangannya ada sebuah map biru tua. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi ada ketenangan di sana yang tidak pernah Luna lihat sebelumnya. Seolah beban berat yang selama ini ia pikul perlahan mulai ia letakkan.Mereka duduk berhadapan di ruang tengah. Mbak Sarti menyajikan dua cangkir teh, lalu buru-buru kembali ke dapur.“Ini berkas gugatan cerainya,” ucap Alvin sambil menyodorkan map itu. “Pengacaraku sudah mengurus semuanya. Sidang pertama akan digelar bulan depan. Prosesnya tertutup, tanpa media yang meliputnya.”Luna menerima map itu. Ekspresi wajah Luna sangat tenang.“Dan ini,” Alvin mengeluarkan selembar kertas lain. “Surat pengalihan kepemilikan rumah ini. Rumah ini sudah atas namamu. Dari awal aku membeli rumah ini me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status