MasukLuna masih belum tahu tentang berita yang sedang menghebohkan seluruh kota pagi ini.Tadi, setelah perawat membantunya makan dan ia menangis sampai dadanya terasa sesak, Luna akhirnya tertidur. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Sejak semalam ia tidak memejamkan mata sedetik pun, terus berdiri di depan kaca ICU dan menangis tanpa henti.Kali ini tidurnya tidak tenang. Dalam mimpinya, ia kembali ke gudang tua itu. Suara tembakan. Tubuh Tara yang jatuh menimpanya. Darah hangat yang merembes ke bajunya.Luna tersentak bangun dengan napas memburu.Ia langsung duduk di ranjangnya. Matanya menyapu ruangan dengan panik, sebelum akhirnya sadar ia masih berada di ruang perawatan rumah sakit. Bukan di gudang itu.Luna menoleh ke jam dinding. Pukul sebelas siang.Ia sudah tidur hampir lima jam.Rasa bersalah langsung menyergapnya. Lima jam ia tertidur, sementara Tara masih terbaring di ICU. Bagaimana kalau terjadi sesuatu selama ia tidur? Bagaimana kalau Tara mencarinya?Luna hendak turun dari ranjan
Pagi ini seluruh kota di hebohkan oleh video yang membuat para warga terkejut.Di layar-layar televisi rumah makan, di ponsel orang-orang yang berdesakan di halte bus, hingga di layar raksasa yang terpasang di persimpangan jalan protokol, wajah seorang pembawa berita muncul dengan ekspresi serius.“Pemirsa, pagi ini kami menghadirkan kabar yang mengejutkan. Kasus kecelakaan yang menewaskan pasangan suami istri pendiri Askara grup, Adiwangsa Askara dan Kirana Askara, dua puluh tahun lalu, ternyata bukan kecelakaan biasa. Bukti terbaru mengungkap bahwa peristiwa itu adalah pembunuhan berencana.”Orang-orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing perlahan berhenti melangkah. Seorang tukang ojek mematikan mesin motornya. Para pegawai kantoran yang menunggu lampu hijau mendongak ke arah layar raksasa itu.Layar berganti menampilkan rekaman CCTV yang buram dan bergetar. Sebuah jalan tol di malam hari, basah oleh sisa hujan. Sebuah sedan putih melaju di lajur kiri.Di bahu jalan, tid
“Luna, istirahat dulu ya,” bujuk Gilang.Luna masih terus berdiri di depan ruang ICU. Pandangannya tidak beralih dari sana. Bahkan sejak tadi Gilang terus membujuknya untuk mengganti baju atau sekadar duduk, Luna tidak mengindahkannya.Gilang menghela napas panjang karena Luna begitu keras kepala. Ia bingung harus membujuk Luna dengan cara apa lagi. Ia tidak kenal dengan teman dekat Luna maupun siapa pun yang dekat dengan gadis itu.Akhirnya Gilang menjauh dari Luna karena ia ingin menghubungi orang kepercayaannya yang mengurus Hardiman dan orang-orang Hardiman yang sudah diamankan oleh pihak kepolisian.Hardiman dan orang-orangnya memang sudah diamankan oleh polisi, dan Gilang mempercayakan urusan itu pada orang kepercayaannya.Gilang mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Kiano.“Tuan, Hardiman dan orang-orangnya sudah di kantor polisi,” terdengar suara Kiano dari seberang sana.“Kamu terus pantau mereka di sana. Aku belum bisa ke sana karena harus mengurus Tuan Tara di rumah sak
Tubuh Luna masih gemetar. Bajunya penuh dengan darah Tara. Air matanya tidak bisa berhenti sejak tadi. Tatapannya tidak beralih dari pintu ruang pemeriksaan.Di dalam sana, Tara masih diperiksa oleh para dokter.Tadi begitu ambulans datang, Tara langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Luna sama sekali tidak mau jauh dari Tara. Ia ikut masuk ke dalam ambulans yang membawa pria itu.Gilang tidak ikut dalam ambulans, tetapi ia menyusul dengan mobilnya.“Tuhan, tolong selamatkan Tara,” batin Luna.Sudah tiga puluh menit Tara berada di ruang pemeriksaan, tetapi dokter belum keluar sama sekali.Saat ini ia sangat takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada Tara.Di depan ruang pemeriksaan itu hanya ada Luna dan Gilang.Luna duduk di kursi tunggu yang dingin. Kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Darah Tara yang mengering di sela jemarinya terasa kaku dan lengket. Ia tidak berani membersihkannya. Seolah kalau darah itu hilang, Tara juga akan ikut hilang.Di dalam ambulans tadi, Luna te
Waktu seolah berhenti.Di dalam gudang itu, tidak ada yang bergerak. Hanya suara ombak yang memukul dermaga di luar sana, dan napas Luna yang tersengal di balik lakban.Ujung pistol itu menekan pelipis Luna. Dingin. Begitu dingin hingga seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali.Luna menatap Tara. Pria itu berdiri hanya empat langkah darinya. Begitu dekat. Tapi rasanya begitu jauh.“Lepaskan dia, Hardiman,” ucap Tara pelan. Kedua tangannya terangkat sedikit, menunjukkan ia tidak membawa apa-apa. “Kamu mau aku, kan? Aku di sini. Ambil aku saja.”“Diam!” bentak Hardiman. Tangannya yang memegang pistol bergetar. “Kamu sudah menghancurkan semuanya! Dua puluh tahun aku membangun hidupku, dan kamu menghancurkannya dalam satu malam!”Dari sudut matanya, Tara melihat Gilang bergeser perlahan ke samping. Sangat pelan. Mendekati Hardiman dari sisi kiri yang gelap.Tara harus mengulur waktu. Ia harus membuat Hardiman menatapnya. Hanya dirinya.“Larasati,” ucap Tara tiba-tiba.Hardiman tersentak. M
Pukul dua belas kurang lima menit, mobil yang Tara kendarai berhenti di depan Gedung tua dekat dengan dermaga.Dermaga itu gelap dan sunyi. Hanya ada suara ombak yang memukul tiang-tiang kayu di bawah dermaga, dan angin laut yang berembus dingin membawa bau garam.Tara turun dari mobil. Ia tidak lagi memakai kaus polos dan celana kain seperti biasanya. Malam ini ia mengenakan kemeja hitam dan jas gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia berdiri sebagai Askara.Di balik jasnya, rompi antipeluru melekat erat di tubuhnya. Dan di telinganya, sebuah alat komunikasi kecil yang hampir tidak terlihat.“Aku sudah di depan,” bisik Tara.“Kami sudah di posisi,” jawab suara Gilang di telinganya, nyaris tenggelam oleh debur ombak. “Di bawah dermaga belakang. Tunggu sinyalmu.”Tara menarik napas dalam-dalam. Lalu ia berjalan menuju pintu gudang.Dua pria bertubuh besar menghadangnya. Salah satu dari mereka menggeledah tubuh Tar







