Share

Bab 25

Author: Nabila Ara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-29 17:19:45

Tara mematikan keran, mengeringkan tangannya perlahan, lalu berbalik menghadap Luna yang masih enggan melepaskan pelukan.

"Aku cuma minta satu hal," lanjut Luna, mendongak menatap wajah Tara. "Kalau suatu hari kamu harus pergi dari sini, kasih tahu aku duluan. Jangan tiba-tiba pergi, apalagi pergi tanpa kabar, dan meninggalkan luka serta kekosongan yang…"

Tara langsung menyela. "Kenapa? Nona takut kalau saya pergi tiba-tiba?"

"Iya! Aku takut banget bangun pagi terus kamu udah nggak ada," jawab
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 27

    Tangan Luna mencengkeram bahu Tara erat-erat, kukunya sedikit menancap di kulit pria itu setiap kali sensasi yang dia rasakan semakin memuncak."Tara, peluk aku," pinta Luna di sela napasnya yang memburu.Tara langsung merengkuh punggung Luna erat, membawa tubuh mereka semakin rapat tanpa memutus gerakan yang sudah berlangsung.Bibirnya turun menyusuri leher Luna, meninggalkan jejak kecil di sana yang membuat Luna semakin mendesah tak terkendali, kepalanya mendongak memberi akses lebih luas untuk bibir Tara.Ranjang berderit pelan mengikuti ritme mereka, suara napas yang saling bersahutan memenuhi kamar yang hanya diterangi cahaya remang itu.Tara menahan pinggang Luna lebih erat, membantu menuntun gerakan yang semakin lama semakin sulit dikendalikan oleh Luna sendiri karena gelombang kenikmatan yang terus menghantamnya.Sesekali Tara mengangkat kepalanya, menatap wajah Luna yang sudah memerah sempurna, bibirnya setengah terbuka menahan desahan yang terus keluar tanpa bisa dia kendali

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 26

    Kalimat Luna terhenti di tengah, matanya menerawang mencari kata yang tepat. "Aduh, gimana ya, lanjutannya.""Coba lagi, Non. Pelan-pelan aja."Luna mengulang lagi dari awal, kali ini dengan kalimat yang berbeda, tapi tetap saja terhenti di bagian tengah, seolah setiap kali dia mencoba menjelaskan soal anak, ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya.Tara menunggu dengan sabar setiap kali itu terjadi, tidak pernah menyela atau buru-buru menawarkan jawaban, membiarkan Luna menemukan sendiri kata-katanya.Setelah beberapa kali percobaan, Luna akhirnya berhenti total, bahunya seketika melorot lemas. Ekspresinya juga berubah."Tara, kenapa ya, aku masih aja bertahan di pernikahan ini? Padahal Mas Alvin udah enam bulan nggak pulang dan lebih memilih Mbak Clarissa sebagai istri pertama. Aku… aku… aku kayak istri yang terbuang gitu."Pertanyaan itu keluar begitu saja, terdengar seperti pertanyaan yang sudah lama dia simpan tapi baru berani diucapkan malam itu.Luna menunduk, menatap kedu

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 25

    Tara mematikan keran, mengeringkan tangannya perlahan, lalu berbalik menghadap Luna yang masih enggan melepaskan pelukan."Aku cuma minta satu hal," lanjut Luna, mendongak menatap wajah Tara. "Kalau suatu hari kamu harus pergi dari sini, kasih tahu aku duluan. Jangan tiba-tiba pergi, apalagi pergi tanpa kabar, dan meninggalkan luka serta kekosongan yang…"Tara langsung menyela. "Kenapa? Nona takut kalau saya pergi tiba-tiba?""Iya! Aku takut banget bangun pagi terus kamu udah nggak ada," jawab Luna jujur, suaranya bergetar sedikit di akhir kalimat."Nona ini kenapa tiba-tiba jadi manja gini?" Tara menatapnya dengan senyum tipis, sengaja menggoda meski di dalam hati justru dia sendiri yang tersentuh mendengar pengakuan itu."Berisik! Kalau nggak mau jawab pertanyaanku ya udah, aku masuk kamar aja." Luna pura-pura ngambek, tapi tangannya tetap tidak melepaskan kemeja Tara.Tara menatap wajah Luna cukup lama sebelum akhirnya menjawab pelan, "Saya nggak akan pergi tanpa pamit, Non, tenang

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 24

    Semalaman Luna tidak bisa tidur nyenyak.Setiap kali matanya mulai terpejam, pikirannya kembali pada apa yang ia lihat tadi tentang Tara dan pria remaja yang ia lihat di artikel itu.Luna kembali membuka folder itu, membaca ulang artikel yang sama seolah ada detail baru yang akan muncul kalau dibaca sekali lagi.Namun setelah ia beberapa kali membacanya tetap saja Luna tidak menemukan jawaban dari banyaknya pertanyaan yang bersarang di pikirannya.Dan sampai pukul empat pagi, akhirnya Luna menyerah dan mematikan laptopnya, lalu duduk di tepi jendela sambil menghitung ikan-ikan yang masih berenang di kolam meski lampu taman sudah meredup.Paginya, dia turun dengan mata bengkak dan kantong hitam yang sulit disembunyikan meski sudah dipoles bedak tipis."Nona kenapa matanya bengkak gitu?" tanya Tara begitu melihat Luna duduk lesu di meja makan."Nggak apa-apa kok, cuma semalem begadang nonton drama sampai kelewatan episode." Luna buru-buru mengalihkan pandangan ke gelas air di depannya,

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 23

    Tara kemudian mengangguk karena… entah kenapa, setiap kali Luna minta bantuan, Tara selalu senang mendengarnya. "Bantuin apa, Non?""Nanem bunga ini, tanahnya masih kosong dari kemarin." Luna menyodorkan satu sekop lagi ke arah Tara tanpa menoleh, sibuk mengaduk-aduk tanah di pot terdekat."Nona yakin nih pupuknya segini takarannya?" tanya Tara sambil menimbang-nimbang segenggam pupuk di tangannya."Yakin dong, aku kan udah baca di internet.""Ini kebanyakan, Non. Nanti akarnya malah kebakar.""Ih, sotoy. Kamu tahu apa soal berkebun? Kerjaan kamu kan jagain aku, bukan jagain bunga.""Kalau bunga mati gara-gara pupuk kebanyakan, yang repot juga Nona sendiri."Luna mencibir, tapi tetap mengurangi separuh pupuk di tangannya sambil menggerutu pelan kalau Tara sok tahu. Perdebatan kecil itu berakhir dengan tangan mereka berdua sama-sama kotor kena tanah."Eh, tanganku belepotan nih." Luna mengangkat kedua tangannya yang penuh tanah, lalu tanpa aba-aba mengusapkannya ke lengan Tara sambil t

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 22

    Pertanyaan itu masih menggantung di kepala Tara ketika dia akhirnya melepas kemeja yang kancingnya tinggal separuh, lalu menyampirkannya asal di sandaran kursi meja kerjanya.Ponsel di tangannya masih menyala, menampilkan pesan satu baris dari Gilang yang sudah dia baca tiga kali tanpa ada tambahan informasi apa pun selain jam dan nama penerima telepon.Sambungan telepon tersambung setelah dua kali dering."Tara, akhirnya kamu telepon balik," ucap Gilang, suaranya masih terdengar buru-buru, jauh dari nada santai yang biasa dia pakai kalau menelepon soal urusan sepele."Ada apa sampai empat belas kali telepon, Gilang?""Semalam Pak Sudirja telepon ke kantor pusat. Dia tanya langsung ke resepsionis, apa benar putra tunggal keluarga Askara lagi ada di kota."Tara menekan-nekan pagar besi dengan telapak tangannya, memastikan tidak ada bagian yang berkarat sekaligus menahan dirinya supaya suaranya tetap datar meski dadanya mulai berdebar tidak karuan."Terus, resepsionis jawab apa?""Untun

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status