Share

Bab 84

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-05 23:57:35

Tara buru-buru membalikkan majalah di tangannya. Gambar model di sampul depan yang tadi tampak jungkir balik kini kembali tegak, dan wajah Tara terasa panas seketika karena rasa malu.

Pegawai yang menegur Tara tadi hanya tersenyum tipis, tetapi Tara tahu jika pegawai itu berusahan menahan tawanya. Terlihat jelas pada ekspresi wajahnya. Lalu pegawai itu pun meninggalkan Tara masih dengan rasa malunya.

"Bisa-bisanya," gumam Tara sambil memijat keningnya. "Pasti dia mengira aku aneh," batin Tara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 92

    “Itu seperti bayangan pria,” ucap Luna pelan.Ia ikut mencondongkan tubuh ke arah layar, matanya menyipit mengikuti titik yang diperbesar oleh Tara.Tara kembali mendekatkan wajahnya ke laptop. Ia memperbesar gambar sedikit lagi sampai piksel-pikselnya mulai pecah dan terlihat kasar.Di sela dedaunan dan bayangan pohon, memang ada sesosok tubuh yang berdiri diam, tegak, tidak bergerak sedikit pun. Bahunya cukup lebar, postur tubuhnya tinggi, dan caranya berdiri tidak seperti orang yang sedang kebetulan lewat. Luna benar. Itu seorang pria.“Wajahnya nggak jelas,” ucap Gilang sambil menggeser kursinya agar bisa melihat lebih dekat.“Ya. Posisinya terlalu jauh dari kamera,” jawab Tara.Suaranya datar, tetapi tatapannya tidak lepas dari bayangan itu seolah ia sedang berusaha menembus piksel-piksel buram tersebut dengan matanya saja.“Gilang, kamu sudah buat salinan video ini?”“Sudah. Aku salin ke beberapa tempat sekaligus, supaya kalau terjadi sesuatu pada satu salinan, kita masih punya

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 91

    “Gilang, mana videonya?” tanya Tara to the point.“Baru juga kalian sampai, Tara,” Gilang terkekeh, berusaha mencairkan suasana.Sejak tadi ia sibuk menjahili sahabatnya, dan tatapan Tara jelas tidak bersahabat. Sementara itu Luna hanya berdiri di antara mereka, memandang Gilang dan Tara bergantian seolah sedang menonton perdebatan dua sahabat itu.“Videonya, Gilang.”“Iya, iya, sabar. Aduh.” Gilang menoleh pada Luna dan memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. “Nona, bodyguardmu ini belum sarapan ya? Pagi-pagi moodnya sudah jelek begini.”“Tadi kami sudah sarapan kok,” jawab Luna dengan polosnya.“Maksudku sarapan yang lain.”Luna mengerutkan kening. “Sarapan lain? Memangnya ada sarapan selain yang tadi? Aku makan roti sama telur, Tara makan semangka.”“Gilang!”Suara Tara terdengar rendah dan penuh peringatan. Ia kembali menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam yang biasanya cukup untuk membuat orang lain mundur teratur. Tapi Gilang hanya cengengesan, lalu mengangkat kedua tangann

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 90

    Keesokan paginya, Luna terbangun lebih dulu dari Tara.Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai, jatuh tepat di pipinya dan membuatnya mengerjap pelan.Beberapa detik ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar hotel, mencoba mengingat di mana ia berada.Lalu semuanya kembali satu per satu: spa, pantai, pelukan di tepi air, dan janjinya semalam untuk ikut menemui Gilang.Ia menoleh ke samping, Tara masih terlelap dengan satu lengan terlipat di bawah kepala, napasnya teratur, dan rambutnya berantakan menutupi sebagian dahi.Wajah laki-laki itu tampak begitu tenang, jauh berbeda dari Tara yang biasanya selalu waspada. Luna menahan senyum, lalu dengan iseng menjulurkan jari dan menusuk pelan pipinya."Hm..." Tara hanya menggumam tanpa membuka mata."Bangun, Tara. Matahari sudah tinggi. Kita ada janji pagi ini.""Lima menit lagi.""Katanya mau ketemu Gilang pagi-pagi."Mata Tara langsung terbuka. Ia menatap langit-langit sebentar, seperti baru ingat sesuatu yang penting, lalu bangk

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 89

    Tara dan Luna akhirnya tiba di hotel setelah mereka selesai makan malam. Begitu selesai makan malam, mereka memang langsung memutuskan untuk pulang ke hotel. "Makasih ya Tara," ucap Luna tiba-tiba saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar."Makasih? Untuk?""Semuanya. Nggak hanya untuk hari ini saja tapi yang sebelum-sebelumnya juga. Pokoknya terima kasih untuk semuanya. Kamu benar-benar hadir di saat aku sudah mulai putus asa dengan semuanya.""Aku ada di dekat kamu juga karena suamimu Luna.""Ya meski bermula dari Mas Alvin, tapi kalau saat itu kamu menolak permintaan Mas Alvin, semuanya juga tidak akan terjadi Tara."Tara hanya mengangguk saja. Benar yang dikatakan Alvin saat itu jika permintaannya memang banyak menguntungkan untuknya. Tapi bukan itu yang membuat Tara menyetujui permintaan Alvin melainkan karena istri kedua Alvin adalah Luna dan misi yang sedang ia jalankan.Jika istri kedua Alvin bukan Luna, Tara tentu akan menolaknya dan menjalankan tugas bodyguard pada umumnya

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 88

    "Kamu selalu saja membuatku puas, Sayang.""Tentu saja, tidak seperti suamimu itu," ucap Hardiman.Ya, sepasang anak manusia yang baru saja meraup nikmatnya surga dunia itu adalah Clarissa dan Hardiman. Seolah tidak puas dengan hubungan mereka semalam di ruang kerja Alvin, kini mereka melakukannya lagi di salah satu apartemen milik Hardiman yang merupakan tempat mereka sering bertemu dikala ingin menyalurkan gairah terlarang yang sudah lama terjalin diam-diam di belakang Alvin, jauh sebelum Alvin menikah dengan Luna.Clarissa tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya di dada Hardiman. Jemarinya bermain pelan di sana, menggambar lingkaran-lingkaran tak beraturan seperti kebiasaannya setiap kali merasa nyaman. Napasnya perlahan menjadi teratur, dan kelopak matanya mulai terasa berat.Di apartemen ini ia tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu memasang wajah istri yang sabar atau menantu yang penurut.Di sini ia bisa menjadi dirinya sendiri, perempuan yang selama bertahun-tahun merasa dih

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 87

    "Mau makan malam dimana?" tanya Tara begitu mereka sudah dalam perjalanan pulang dari pantai.Mereka baru pulang dari pantai sudah menjelang malam karena ketika Tara mengajak gadis itu untuk pulang tetapi Luna menolak karena masih betah berada di sana.Hari ini Tara akan melakukan apapun yang Luna inginkan.Tidak banyak yang mereka lakukan hanya duduk sambil mengobrol ringan sambil menikmati pemandangan laut yang begitu menenangkan dan diiringi suara deburan ombak.Andai di pantai itu ada penginapan, mungkin Luna akan mengajak Tara untuk menginap di sana. Bahkan di sana hanya ada tampak satu warung saja dan tadi saat mereka di sana warung itu tutup.Memang pantai yang mereka datangi tadi masih tampak begitu asri, masih belum tersentuh oleh pembangunan apapun. Pantainya juga termasuk yang panjang dengan air laut yang bersih meski tidak begitu bening. "Bebas deh Tara.""Mau makan nasi atau yang berkuah?" tanya Tara lagi."Hmmm... Tadi kita sudah makan nasi.""Itu kan makan siang, sekar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status