MasukSepeninggal Zea yang berjalan dengan hentakan kaki kesal menuju toilet, Daren berdiri seorang diri di dekat pilar aula utama. Baru beberapa detik pria itu mencoba menenangkan pikiran, gelombang panas yang aneh tiba-tiba menghantam sekujur tubuhnya tanpa peringatan. Daren menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menjernihkan penglihatan yang mendadak kabur dan berbayang. Napasnya mulai memburu, sementara keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia melonggarkan simpul dasinya dan membuka dua kancing atas kemejanya demi mencari udara segar. "Sial..." Pria itu sadar ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan minuman yang baru saja ia teguk habis. Tanpa membuang waktu, Daren melangkah cepat meninggalkan kerumunan tamu, menerobos keributan pesta menuju area koridor sepi di sisi gedung demi mencari ruangan kosong untuk menenangkan diri. Sambil meremas ponsel di tangannya, Daren langsung mencari kontak asisten pribadinya dan menekan tombol pa
Lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula memantulkan cahaya berkilau, menerangi lautan manusia berbusana formal yang saling bertegur sapa. Di tengah keramaian itu, Daren Elvano melangkah tegap sambil mempertahankan rengkuhan posesif di pinggang istrinya. Zea berjalan anggun di sisi suaminya, melempar senyuman ramah kepada setiap tamu penting yang berpapasan dengan mereka.Sejumlah petinggi korporasi dan mitra bisnis langsung mendekat begitu melihat kehadiran Daren. Mereka membungkuk hormat, memberikan gestur takzim kepada salah satu pengusaha paling berpengaruh di kota itu."Selamat malam, Tuan Elvano. Suatu kehormatan besar bisa melihat Anda hadir di gala ini," sapa seorang direktur bank terkemuka dengan senyuman lebar, lalu mengalihkan pandangannya ke samping. "Dan selamat malam juga untuk Nyonya Elvano. Anda tampak luar biasa memukau malam ini."Zea hendak membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, namun Daren be
Di dalam kabin mobil mewah yang melaju membelah jalanan malam, suasana terasa begitu kontras. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, namun wajah Daren yang duduk di kursi penumpang belakang benar-benar ditekuk dalam. Pria itu menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan di dada, menatap lurus ke depan dengan bibir yang mengerucut sebal.Di sampingnya, Zea tidak bisa menahan tawa. Suara terkekeh renyahnya memenuhi kabin mobil, membuat pengemudi di depan hanya bisa tersenyum tipis tanpa berani menoleh."Daren, astaga, mukamu jelek sekali kalau sedang cemberut begitu," ejek Zea sambil mencubit pelan kemeja jas yang dikenakan suaminya.Daren menoleh lambat, menatap Zea dari atas sampai bawah dengan pandangan tidak rela yang sangat jelas. Pria itu menghela napas berat untuk kesekian kalinya malam ini."Bagaimana aku tidak cemberut, Zea?" gerutu Daren dengan nada bersungut-sungut. "Lihat dirimu sekarang. Kau mengenakan gaun tanpa lengan
Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai kamar utama kediaman Elvano, memantul lembut di atas lantai marmer yang mengilap. Udara pagi terasa begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk rumah sakit yang menyesakkan. Zea mengerjap perlahan, meluruskan lengan dan meregangkan otot-otoh tubuhnya yang terasa sangat segar setelah tidur nyenyak di atas ranjang empuk miliknya sendiri."Dimana dia?"Di sebelah kanannya, sisi tempat tidur sudah kosong. Namun, aroma khas maskulin yang melekat kuat di bantal sebelah masih menyisakan kehangatan keberadaan Daren di sana. Zea tersenyum tipis, merapikan piyama tidurnya lalu mendudukkan diri di tepi ranjang sambil mengumpulkan kesadarannya.Belum sempat Zea beranjak dari tempat tidur, pintu kamar bergeser pelan. Daren muncul dari arah pintu penghubung ruang ganti dengan mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu terang yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu membawa sebuah nampan kayu kecil
Matahari pagi hari merayap masuk lewat celah tirai kamar tidur utama, menyinari sudut-sudut ruangan dengan hangat. Di atas tempat tidur berukuran besar, Zea mengerjap pelan, meluruskan lengan ke atas sambil meregangkan otot-otoh tubuhnya yang terasa jauh lebih bugar dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.Pintu kamar mandi bergeser terbuka, menampilkan sosok Daren yang keluar dengan handuk kecil melingkar di lehernya serta kemeja kerja yang belum dikancingkan sempurna. Pria itu menatap istrinya dengan senyuman tipis, lalu melangkah mendekat untuk mengecup puncak kepala Zea penuh kasih."Selamat pagi, sayang. Tidurmu nyenyak?" sapa Daren lembut, merapikan selimut yang melorot di pinggang istrinya.Zea mengerucutkan bibirnya, mendongak menatap suaminya dengan ekspresi cemberut yang dibuat-buat. Wanita itu menyilangkan tangan di dada, menatap tajam ke arah nampan di atas nakas yang sudah diisi oleh segelas susu cokelat hangat."Jangan tanyakan tidurku
Malam semakin larut. Keheningan merayap perlahan di dalam kamar utama kediaman Elvano. Di atas ranjang berukuran besar, Zea sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Selimut tebal membungkus tubuhnya yang tampak begitu rapuh di bawah temaram lampu tidur.Daren masih setia berbaring di samping istrinya. Jemari pria itu bergerak lembut, mengelus rambut panjang Zea dengan sapuan yang sangat hati-hati. Tatapan matanya sarat akan rasa cinta, namun terpancar jelas kelelahan dan pergolakan batin yang amat luar biasa di dalam manik hitamnya.Setelah memastikan Zea benar-benar terlelap, Daren mengecup kening istrinya pelan. Ia menarik selimut hingga sebatas dada Zea, lalu beranjak turun Suara langkah kaki Daren bergema halus saat ia menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Suasana rumah terasa sepi, hanya ada derap ringan yang menuntunnya ke arah area dapur. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok Ethan berdiri di dekat meja bar dapur sambil memegang







